Senin, 26 September 2016

Camat Mariso: Gereja Toraja Bonto Marannu Sudah Kantongi IMB Sejak 2014

Camat Mariso: Gereja Toraja Bonto Marannu Sudah Kantongi IMB Sejak 2014

MAKASSAR - Tudingan Front Pembela Islam (FPI) yang menyebut pembangunan Gereja Toraja Bonto Marannu di jalan Cendrawasih III tak mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dibantah oleh Camat Mariso, Harun Rani.

Ditegaskan, pembangunan rumah ibadah itu telah mengantongi memiliki IMB dan telah mendapat rekomendasi dari pihak kecamatan dan lurah setempat.

"Permohonan tersebut sejak 2014, namun proses pembangunannya baru sekarang. IMB pun telah dikeluarkan melalui kajian Dinas Tata Bangunan," ucap Camat Mariso, Harun Rani, Sabtu (24/9/2016).

Ia mengakui, proses pembangunan tersebut dihentikan sementara atas permintaan FPI hingga ada kejelasan tentang perizinan tersebut. Namun, proses ibadah tetap berjalan seperti biasanya.

"Inilah yang akan dikomunikasikan lagi, karena sudah jelas izin sudah ada," tegasnya.

Untuk menghindari permasalahan semakin panjang atau membesar, pihak kecamatan berjanji akan mengawal permasalahan ini hingga selesai.

"Kami juga mengimbau masyarakat dan segenap tokoh masyarakat, yang berada di sekitar wilayah gereja untuk memberikan pemahaman kepada warga untuk tidak terpancing bila ada provokasi dari luar, karena semua masalah bisa diselesaikan dengan musyawarah," tegasnya.

Sebelumnya, warga muslim bersama FPI melakukan protes pembangunan Gereja Toraja yang berada di Kompleks Patompo. Itu terjadi pada Jumat (23/9/2016) sekitar pukul 13.30 WITA. Warga muslim bersikeras jika pembangunan Gereja Toraja tersebut tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Warga muslim dan FPI menolak pembangunan gereja tersebut dengan cara membentangkan spanduk yang tertuliskan "stop pembangunan gereja tanpa izin warga".

Baca SelengkapnyaCamat Mariso: Gereja Toraja Bonto Marannu Sudah Kantongi IMB Sejak 2014

Minggu, 25 September 2016

Objek Wisata Patung Yesus Mulai Dikembangkan di Berbagai Daerah

Objek Wisata Patung Yesus Mulai Dikembangkan di Berbagai Daerah

Dari sekian banyak objek wisata buatan, salah satu yang cukup marak belakangan ini adalah pembangunan Patung Yesus. Banyak daerah mayoritas Kristen yang ramai-ramai membuat destinasi wisata buatan ini. Selain menambah pendapatan daerah melalui wisata rohani, pembangunan Patung Yesus ini juga berfungsi sebagai ikon dari sebuah wilayah, yang mana akan menarik banyak orang untuk berkunjung.

Setelah objek wisata patung Yesus di Manado, Tana Toraja, Talaud dan berbagai daerah lain selesai dibangun, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara juga tak mau kalah. Dari sekian banyak objek wisata di Kabupaten Kepulauan Sitaro, salah satu yang sedang dikembangkan adalah Patung Yesus di Kampung Balirangeng Kecamatan Siau Timur Selatan (Sitimsel).

Objek wisata religi tersebut berdekatan dengan sejumlah lokasi wisata bahari serta Bandar udara (Bandara) di Pihise. Meskipun menarik perhatian pengunjung, namun pengelolaan dan penataan menurut warga masih perlu dilakukan.

“Sebenarnya lokasi wisata ini sangat menarik. Bukan hanya dari sisi patungnya tapi juga lokasi yang tepat berada di seputaran objek wisata bahari. Pemandangannya membuat kami ingin tetap berada di lokasi ini,” tutur Marlin, salah satu pengunjung dari Siau.

Apalagi, lanjut para pengunjung, lokasi tersebut sudah menjadi kewenangan pemerintah daerah. Jadi lebih mudah dalam mengembangkan.

“Sebagai warga kami mendukung. Apalagi lokasi itu kan sudah menjadi kewenangan pemerintah sebagaimana info yang kami dengar selama ini. Jadi tidak masalah dikembangluaskan termasuk membangun jalan serta sarana-sarana lainnya,” tambah Yones, pengunjung lain.

Mereka menantang pemerintah daerah, khususnya instansi terkait untuk memacu pengembangan objek wisata religi tersebut.

Hal serupa turut disampaikan Jeky Makanoneng warga Siau. Menurutnya upaya yang dilakukan pemerintah daerah melalui instansi terkait sudah efektif. Terutama dalam pembangunan objek wisata religi tersebut.

“Hanya saja pembangunan patung dan sarana yang ada saat ini sudah beberapa tahun lalu. Kalau bisa ada penambahan fasilitas dalam menunjang kebutuhan pengunjung,” tukas keduanya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sitaro Dra SW Katiandago mengatakan sejak 2014 lalu sudah ada anggaran hampir sebesar Rp2 miliar untuk pembangunan pengembangan objek wisata tersebut. Namun, masih terkendala dengan permasalahan tanah.

“Sehingga hal ini masih dalam proses penyelesaian. Sudah berapa kali kami menghadap tapi kedua belah pihak keluarga mengaku memiliki hak milik dari tanah tersebut. Jadi sementara waktu anggaran tersebut dialihkan ke objek tempat wisata lainnya,” terangnya.

Baca SelengkapnyaObjek Wisata Patung Yesus Mulai Dikembangkan di Berbagai Daerah

Sabtu, 24 September 2016

Sudah Punya IMB, Warga Muslim Tetap Segel Gereja Toraja

Sudah Punya IMB, Warga Muslim Tetap Segel Gereja Toraja

MAKASSAR – Warga Muslim Jalan Cendrawasih III melakukan protes pembangunan Gereja Toraja yang berada di Kompleks Patompo. Itu terjadi sejak Jumat (23/9/2016) sekitar pukul 13.30 WITA. Warga muslim setempat bersikeras jika pembangunan Gereja Toraja tersebut tidak memiliki Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

Warga muslim menolak pembangunan gereja tersebut dengan cara membentangkan spanduk yang tertuliskan "stop pembangunan gereja tanpa izin warga". Tampak pula beberapa warga setempat masih berjaga-jaga di sekitar Gereja Toraja, yang berada di Kelurahan Panambungan Kecamatan Mariso.

“Pembangunannya tidak dilengkapi dengan IMB sejak 2014 lalu. Memang pernah ada peletakan batu pertama, akan tetapi Walikota tidak memastikan adanya izin pembangunan gereja,” Kata Roel, salah seorang warga saat dikonfirmasi di lokasi.

Ia menambahkan, warga muslim melakukan aksi lantaran pembangunan Gereja tersebut tidak sesuai dengan jumlah umat Kristen yang bermukim di kompleks Patompo. Mereka (umat Muslim) merasa tidak dihargai sebagai warga.

“Warga merasa tidak pernah didatangi untuk melakukan pembangunan Gereja tersebut. Pembangunannya melanggar perjanjian kesepakatan yang dibuat pada rapat di kelurahan, untuk menghentikan pembangunan,” imbuhnya.


Sudah Punya IMB, Warga Muslim Tetap Segel Gereja Toraja

Gereja Toraja Sudah Punya IMB yang Sah

Menurut Pendeta Gereja Toraja, Daur Sanpe Rurun, pihaknya sudah mengantongi surat izin dari dinas tata kelola kota Makassar, sejak diresmikan pada tanggal 17 Juli 2015 lalu oleh Walikota Makassar.

"Sudah ada izin dari pemerintah kota Makassar. Sejak peletakan batu pertama, walikota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto yang datang kesini dan meresmikan," kata Daur Sanpe Rurun

Pendeta Daur pun heran, padahal surat dan kelengkapan izin Gereja Toraja sudah lengkap dan sah tapi warga tetap bersikeras jika izinnya bodong.

“Kami sudah melengkapi surat-surat dan kelengkapan izinnya di Dinas Tata Ruang Kota. Akan tetapi warga setempat menilai pembangunan gereja ini IMB nya bodong,” kata Daur, saat ditemuinya di gereja.

Pihaknya selaku pengelola, ungkap Daur, sempat membeli sepetak tanah yang berada di belakang Gereja untuk dibangun lantai tiga, dan rencananya lantai dasar akan dijadikan lahan parkir Gereja.

“Karena keterbatasan lahan, kami akan jadikan lantai dasar untuk parkir dan rencana lantai tiga difokuskan untuk tempat peribadatan. Akan tetapi ada warga yang mengaku tidak dimintai izin,” ucapnya.

Sumber: http://makassarterkini.com/warga-cendrawasih-segel-gereja-yang-diduga-tidak-memiliki-izin/

Baca juga:
Baca SelengkapnyaSudah Punya IMB, Warga Muslim Tetap Segel Gereja Toraja

Jumat, 23 September 2016

Toleransi Palsu: Warga Tanahlaut Bersihkan Gereja yang Dihentikan Pembangunannya

Toleransi Palsu: Warga Tanahlaut Bersihkan Gereja yang Dihentikan Pembangunannya

PELAIHARI - Ingin desanya dianggap sebagai 'Desa Toleran', Kepala Polsek Batuampar, AKP Tatang Hidayat mengajak peran serta anggotanya dan masyarakat di Desa Damit, Batuampar, Tanahlaut, bergotong-royong membersihkan tempat ibadah. Di desa Damit ada dua tempat ibadah yang berdekatan, yaitu masjid dan gereja.

Saat ini renovasi pembangunan Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Damit sedang dihentikan oleh pemerintah kabupaten Tanahlaut. Penghentian pembangunan tempat ibadah umat kristen itu hingga kini sedang diproses dan dicarikan solusinya karena menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai.

Menurut AKP Tatang Hidayat, dengan aksi gotong-royong warga membersihkan dua tempat ibadah berdekatan itu membuktikan jika warga Desa Damit memiliki rasa toleransi antarumat beragama.

"Dugaan intoleransi itu nothing," kata AKP Tatang Hidayat, Rabu (21/9/2016).

Kepala Desa Damit, Agus Susilo mengaku polemik pemugaran bangunan gereja di desanya itu terjadi sejak 2015 lalu.

"Kami ini sebenarnya tidak mempermasalahkan. Warga kami aman, damai dan sentosa. Cuma, oleh pemerintah kabupaten Tanahlaut yang menghentikan pembangunan renovasi gereja itu hingga kini," katanya.


=======

Klaim sebagai 'desa toleransi' oleh warga Desa Damit dan Kapolsek Batu Ampar justru bertolak belakang dengan fakta di lapangan dimana warga desa Damit sendirilah yang memaksa pembangunan gereja dihentikan dengan alasan letak gereja sangat dekat dengan masjid.

Seorang jemaat gereja tersebut menuliskan kronologi penolakan renovasi pembangunan gereja melalui website laporpresiden.id. Berikut kutipannya:

Toleransi Palsu: Warga Tanahlaut Bersihkan Gereja yang Dihentikan Pembangunannya


Gereja Kalimantan Evangelis Damit. Gereja kami berdiri sejak 1985 sejak saat itu belum pernah direnovasi.

Gereja kami terdiri dari 14 kepala keluarga. terletak di Kalimantan Selatan, Kabupaten Tanah Laut, Kecamatan Batu Ampar, Dusun Bangun Sari Rt 19 DAMIT. Sekitar 2 setengah jam dari Kota Banjarmasin.

Dan pada awal tahun 2015 panitia pembangunan mulai merenovasi Gereja kami. Setelah Gereja kami direnovasi, ternyata banyak sekali orang yang tidak setuju dengan pembangunan Gereja kami. Mereka melapor keFKUB setempat atas ketidak setujuan mereka. Mereka bilang Gereja kami menggangu TPA padahal kami hanya memakai Gereja kami pada hari minggu, dan jika ada acara Gerejawi. Dan jarak TPA dengan Gereja kami kurang lebih 500m. Karena alasan itu tidak masuk akal maka mereka kembali mencari cara untuk menghambat pembangunan Gereja kami. Mereka mengundang majelis GKE Damit agar datang kesebuah pertemuan yang dihadiri kepala kecamatan, pemuka agama, kepolisian dan 2 majelis dari kami. Itu tidak membuah kan hasil, malah itu menghambat pembangunan Gereja kami. Mereka mengundang mengatas namakan seluruh umat muslim yang ada diwilayah Damit. Jadi sebagian orang muslim yang melihat itu, kecewa, karna pada dasarnya mereka tidak keberatan dengan pembangunan Gereja kami.

Setelah berbulan bulan masalah kami belum juga selesai. Kami sudah mencoba mendatangi pemerintah kabupaten tanah laut tapi tidak ada hasil. Dan pada pertengahan bulan februari Gereja kami dihentikan oleh satpol pp. Mereka memaksa menandatangani surat, dan mereka memasang sebuah kertas yang ditempel di gedung gereja bertuliskan "pembangunan dihentikan".

Kami mohon kepada Bapak. kami mohon ketegasannya Pak dalam menghadapi masalah ini. Supaya kami dapat melanjutkan pembangunan Gereja kami. Kami cuma mau ibadah dengan tenang. Jadi kami mohon dengan sangat keadilannya. Terimakasih atas perhatian bapak. Salam sejahtera.

Sumber: https://www.laporpresiden.id/13928/pembangunan-gereja-kami-dihentikan 

=======

Apakah dengan bergotong-royong membersihkan gereja yang pembangunannya sudah dihentikan oleh mereka sendiri, lantas membuat Desa Damit menjadi desa yang menjunjung tinggi toleransi?
Baca SelengkapnyaToleransi Palsu: Warga Tanahlaut Bersihkan Gereja yang Dihentikan Pembangunannya

Kamis, 22 September 2016

Uskup Sanggau Minta Seluruh Umat Katolik Memiliki, Membaca dan Mewartakan Kitab Suci

Uskup Sanggau Minta Seluruh Umat Katolik Memiliki, Membaca dan Mewartakan Kitab Suci
Lepas balon - Uskup Keuskupan Sanggau Mgr. Yulius Mencucini didampingi Bupati Sekadau Rupinus, Wakil Bupati Sekadau Aloysius, Ketua DPRD Kabupaten Sekadau Albertus Pinu melepasa balon ke udara, tanda dibukanya kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) di Betang Youth Center Kawasan Pasar Baru, Kota Sekadau, Senin (19/9/2016).

SEKADAU - Uskup Keuskupan Sanggau Mgr. Yulius Mencucini CP, didampingi Bupati Sekadau Rupinus, Wakil Bupati Sekadau Aloysius, Ketua DPRD Kabupaten Sekadau Albertus Pinus resmi membuka kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) di Betang Youth Center Kawasan Pasar Baru, Kota Sekadau, pada Senin (19/9/2016).

Kegiatan yang dibuka sekitar pukul 13:00 WIB itu resmi dibuka ditandai dengan pelepasan balon ke uadara.

Uskup Keuskupan Sanggau Mrg Yulius Mencucini CP mengingatkan kepada umat tujuan BKSN agar seluruh umat katolik memiliki buku kitab suci, membaca kitab suci, menghormati dan mewartakan kitab suci dalam setiap kegiatan baik pribadi maupun berkelompok.

"Hendaknya mengambil bagian yang bertujuan untuk membangun semangat untuk mencintai kitab suci," ujarnya.

Kitab, kata Uskup, merupakan sarana untuk berjumpa dengan Tuhan secara pribadi. Ia pun mengatakan, antusiasme umat begitu tinggi terbukti dengan hadirnya umat katolik yang hadir pada
pelaksanaan pembukaan kegiatan BKSN.

"Pawai ini merupakan pembuktian bahwa umat menghormati dan menjunjung tinggi serta memperkenalkan kitab suci. Kitab suci harus menjadi panutan dan pedoman dan pelita yang terang dan doa paling indah. Kehadiran umat begitu ramai dan penuh antusias dan ini adalah jawaban jika umat Paroki Santo Petrus dan Paulus Sekadau menghormati dan merenungkan sabda Tuhan," jelasnya.

Ketua Panitia Kegiatan BKSN Martinus Ridi menuturkan, kegiatan BKSN rutin dilaksanakan setiap tahunnya setiap bulan September. Untuk itu, diharapkan agar umat katolik mampu menghayati dan menerapkan kitab suci dalam kegiatan sehari-hari.

"Kegiatan dilaksanakan pada 19 hingga 24 September yang diikuti yaitu umat katolik, stasi dan kring yang ada dilingkungan Paroki Santo Petrus dan Paulus Sekadau," ujarnya.

Ia mengatakan, adapun kegiatan BKSN ada yang telah terlebih dahulu dilaksanakan dan ada yang saat ini sedang berlangsung. Untuk dana, kata Ridi, bersumber pada dana hibah pemda Sekadau dan dari para donatur.

"Terimakasih kami sampaikan dengan tulus kepada pemerintah daerah Kabupaten Sekadau. Mudah-mudahan melalui kegiatan ini bisa membangun sumber daya manusia khususnya di bidang kerohanian," ucapnya.
Baca SelengkapnyaUskup Sanggau Minta Seluruh Umat Katolik Memiliki, Membaca dan Mewartakan Kitab Suci

Rabu, 21 September 2016

Pembangunan Patung Tuhan Yesus Memberkati di Talaud Hampir Rampung

Pembangunan Patung Tuhan Yesus Memberkati di Talaud Hampir Rampung
DIPACU: Pembangunan Patung Tuhan Yesus Memberkati terus digenjot. Pekerjaan sudah hampir rampung.

Pembangunan destinasi wisata buatan Patung Tuhan Yesus Memberkati, hampir rampung. Patung yang berdiri kokoh tampak menawan dipandang.

"Ini identitas masyarakat Talaud. Dalam artian, setiap tamu yang berkungjung ke Talaud, tanpa diberi tahu dapat langsung mengenal ini daerah mayoritas Kristen," ujar Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip, Minggu kemarin (18/9).

Manalip mengatakan, sektor pariwisata merupakan salah satu bidang yang serius ditanganinya. Sebab bidang pariwisata mampu menopang pertumbuhan satu daerah termasuk kabupaten pemekaran seperti Kabupaten Talaud.

“Yang pasti komitmen dan gagasan cemerlang dari pemerintah provinsi dalam bidang pariwisata harus ditindaklanjuti dengan maksimal oleh 15 kota kabupaten di Sulut, sesuai dengan potensi dan kearifan lokal daerah masing-masing,” ucapnya.

Lanjutnya, khusus di wilayah Talaud, pembangunan kepariwisataan dilakukan berjalan seimbang dengan pembangunan sarana dan prasarana infrastrtuktur. Khususnya menuju destinasi pariwisata sebagai kantong perekonomian di daerah ini.

“Pembangunan bidang pariwisata kami lakukan dengan memaksimalkan keberadaan sarana dan prasarana pendukung di lokasi objek wisata. Pemerintah daerah akan terus membangun sinergitas dengan pihak legislatif dan forkopimda serta stakeholder untuk membangun dan menuju Kabupaten Talaud yang lebih baik lagi. Serta memaksimalkan kordinasi dan konsultasi dengan Pemprov Sulut," kata Manalip.

Asisten Administrasi Umum Yohanis Kamagi menambahkan, terobosan, gagasan dan komitmen Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw dalam bidang pariwisata patut diapresiasi dan didukung sepenuhnya.

“Pada prinsipnya Pemkab Talaud siap sejalan. Gagasan brilian dari gubernur pasti kami dukung. Saat ini bupati lagi serius lakukan pembenahan dan pembangunan kepariwisataan lewat sejumlah strategi dan gagasan dengan meningkatkan partisipasi publik,”ungkap Kamagi, belum lama ini.

Seperti daerah lain di Sulut, Talaud juga memiliki sejumlah potensi pariwisata yang bernilai ekonomi tinggi.

“Baik destinasi buatan maupun kawasan wisata bawah laut. Salah satu situs wisata buatan yang sementara dalam penyelesaian adalah Monumen Patung Tuhan Yesus Memberkati, serta sejumlah situs budaya yang bernilai sejarah, religius serta potret potensi wisata yang bernilai kearifan budaya lokal,” tandas mantan Kadis PU ini.

Baca SelengkapnyaPembangunan Patung Tuhan Yesus Memberkati di Talaud Hampir Rampung

Selasa, 20 September 2016

Jika Mengalami Gangguan Jiwa, Remaja Pembakar Gereja di Bombana Bebas dari Proses Hukum

Jika Mengalami Gangguan Jiwa, Remaja Pembakar Gereja di Bombana Bebas dari Proses Hukum
Meja dalam gereja yang nyaris hangus dibakar seorang pemuda.

BOMBANA - Kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara hampir saja terusik, Minggu (18/9/2016). Gereja Jemaat Maranata di Kelurahan Lameroro Kecamatan Rumbia, Bombana, nyaris terbakar akibat percobaan pembakaran oleh seseorang sekitar pukul 20.00 Wita.

Untungnya aksi ini lekas diketahui, sehingga tidak menimbulkan kebakaran hebat. Kendati begitu, api sempat berkobar dan beberapa inventaris gereja seperti meja, kursi panjang dan mimbar tampak hitam bekas dilalap api.

Pendeta (Pdt) Welhelmus Hinadonu, Salah seorang saksi menuturkan, upaya percobaan pembakaran itu diketahui dari dua anaknya. Mereka sedang bermain di samping gereja kala itu. Tiba-tiba melihat seseorang masuk ke dalam gereja dengan membawa sebuah jerigen.

Menaruh curiga atas ulah orang yang tidak dikenalnya itu, keduanya masing-masing Lana (7) dan Idion (8) mengintip di bilik jendela Gereja. Betapa terkejut keduanya, sebab orang tersebut menyiram minyak tanah ke meja dan kursi serta mimbar lalu membakarnya.

Spontan saja mereka lari dan memberitahukan kepada orang tuanya yang tinggal di samping gereja.

"Saat kejadian saya lagi nonton. Tiba-tiba dua anak saya berteriak kalau ada yang membakar gereja. Saya langsung keluar rumah, menuju gereja untuk memadamkan api. Bahkan sempat bertemu dengan pelaku di depan pintu masuk gereja," tutur Pdt Welhelmus Hinadonu.

Aksi ini langsung menghebohkan warga setempat. Pelaku sempat didapat dan dibawa ke kantor Polres Bombana untuk diamankan.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Bombana, AKP Basri menjelaskan pelaku sudah diidentifikasi bernama Ahmad Jumadil (19), warga dusun Talabente Kelurahan Lameroro.

Belum diketahui apa motif dibalik kejadian ini, namun kata Basri, pelaku kemungkinan mengidap kelainan jiwa. Saat menjalani pemeriksaan, Ahmad memperlihatkan gelagat aneh. Kadang murung, namun tiba-tiba senyum dan tertawa sendiri.

Meski begitu, kata Basri, pihaknya akan segera melakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) guna membuktikan dugaan kelainan jiwa itu. Jika terbukti mederita kelainan jiwa, pelaku bisa bebas dari proses hukum.

"Kita akan lakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. Kalau kemudian dia terbukti mengalami gangguan jiwa, maka dia (Ahmad Jumadil) bisa saja bebas dari proses hukum. Namun apabila ternyata masih sehat, maka proses hukum dalam kasus ini akan terus berjalan," ungkapnya.

Di tempat terpisah, Ketua Gereja Maranata Lameroro Clasis Bombana, Pdt Martinus menyayangkan aksi tidak terpuji yang dilakukan Ahmad Jumadil tersebut.

Terlebih ketika upaya percobaan pembakaran rumah ibadah Kristiani itu merupakan kali pertama sejak Kabupaten Bombana terbentuk 2003 silam.

"Saya tidak tau apa motifnya. Mudah-mudahan polisi bisa mengungkapnya, karena oknum yang diduga pelakunya sudah ditangkap dan diserahkan ke polisi," ungkapnya.

Martinus berharap kejadian ini tidak membuat suasana keruh. "Mengenai perkara ini, kami serahkan kepada aparat keamanan untuk mengusutnya. Kami percaya pihak kepolisian akan profesional menyelesaikan masalah ini dan kami berharap situasi tetap aman dan kondusif tanpa ada gangguan Kamtibmas," tukasnya.

Baca SelengkapnyaJika Mengalami Gangguan Jiwa, Remaja Pembakar Gereja di Bombana Bebas dari Proses Hukum

Senin, 19 September 2016

Remaja 19 Tahun Bakar Gereja di Bombana, Sulawesi Tenggara

Remaja 19 Tahun Bakar Gereja di Bombana, Sulawesi Utara

KENDARI - Kepolisiaan Resor (Polres) Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), menangkap seorang remaja berinisial AJ (19) karena kedapatan membakar sebuah gereja di daerah Hombis, Kecamatan Rumbia pada Minggu (18/9/2016) sekitar pukul 19.00 Wita.

Polisi belum mengetahui secara pasti motif aksi nekat yang dilakukan pemuda pengganguran tersebut. Namun, di lokasi kejadian, api sempat menghanguskan beberapa fasilitas dalam gereja, di antaranya satu kardus berisi dokumen dan satu unit meja biro.

Wakapolres Bombana, Kompol Agung Basuki menuturkan, pelaku menyiram beberapa ruangan gereja dengan minyak tanah yang tersimpan dalam jeriken, lalu membakar kertas putih yang diletakkan di atas meja gereja.

"Setelah selesai menyirami kertas tersebut, AJ langsung menyalakan korek api dan membakar kertas tersebut. Api sempat menyala, namun warga sekitar gereja yang melihat kobaran api langsung mengejar pelaku yang lari karena sadar ketahuan warga,” kata Agung Basuki dikonfirmasi di Kendari, Senin (19/9/2016).

Setelah menangkap pelaku pembakaran, warga kemudian menyerahkannya ke Polres Bombana untuk diproses hukum.

"Kita langsung ke gereja tersebut dan melakukan olah TKP. Beberapa warga yang melihat peristiwa itu juga kita akan minta keteranganya," ungkapnya.

Untuk pelaku pembakaran, tim psikologi dari Polda Sultra turun ke Bombana guna memeriksa kejiwaan AJ untuk mengetahui motif aksi pembakaran rumah ibadah tersebut.

Pelaku merupakan warga lingkungan Tangkelari, Kelurahan Lameroro, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana. Agung melanjutkan, saat kejadian, pengurus atau penjaga gereja tidak berada di lokasi.

Baca SelengkapnyaRemaja 19 Tahun Bakar Gereja di Bombana, Sulawesi Tenggara

Minggu, 18 September 2016

Walau Dilarang Uskup, Pastor Rantinus Tetap Gunakan Gelar 'Pastor' di Pilkada Tapteng

Walau Dilarang Uskup, Pastor Rantinus Tetap Gunakan Gelar 'Pastor' di Pilkada Tapteng

Uskup Keuskupan Sibolga, Mgr. Ludovicus Simanullang, secara resmi mengeluarkan larangan kepada Pastor Rantinus Simanalu untuk menggunakan gelar kepastorannya dalam pencalonannya di Pilkada Tapanuli Tengah 2017.

Larangan itu ditegaskan dengan dikeluarkannya Dekrit Penarikan Yuridiksi dari Tugas Imamat P. Rantinus Manalu, Pr bernomor: 15/KS-SK/2016, tertanggal 16 Agustus 2016.

Dekrit itu sebagaimana diterima dari salah seorang jemaat Katolik di bawah Keuskupan Sibolga. “Sudah, sudah diedarkan, tembusannya juga banyak itu, semua warga Katolik di Keuskupan Sibolga mendapat tembusan itu,” kata seorang jemaat yang meminta agar namanya tidak disebutkan, Sabtu (27/8).

Dekrit tersebut berisikan 9 poin keputusan dan ketetapan. Dimana dalam poin 6, ayat a hingga d, ditegaskan tentang pelarangan penggunaan gelar Pastor itu. Isinya yakni:

(6) Sebagai konsekuensi lanjutan dari penarikan Yuridiksi tersebut, P. Rantinus Manalu, Pr dalam seluruh kegiatan dan proses perpolitikan sejak pemberlakuan surat ini dikenai juga larangan;

(a) Menyebut diri sebagai Pastor, karena sebutan itu melekat pada Imam tertahbis dalam Gereja Katolik.

(b) Memakai singkatan PAUS (Pastor-Ustadz), karena dengan demikian tetap dipakai sebutan atau panggilan untuk Imam Katolik (Pastor), yang bertentangan dengan poin (a) diatas, dan karena Paus adalah jabatan tertinggi pemimpin Gereja Katolik.

(c) Memakai atribut Pastor, seperti: jubah, baju berkolar klerikus.

(d) Menggunakan fasilitas-fasilitas keuskupan/gereja.

Walau Dilarang Uskup, Pastor Rantinus Tetap Gunakan Gelar 'Pastor' di Pilkada Tapteng
Pastor Rantinus Simanalu, Pr

Pastor Rantinus Tolak Poin dalam Dekrit Uskup Sibolga

Pastor Rantinus Simanalu, Pr dengan tegas menolak poin dalam Dekrit Uskup Keuskupan Sibolga yang melarang dirinya menggunakan gelar Pastor di Pilkada Tapteng.

“Saya nanti akan mengirim juga (jawaban) ke pihak Keuskupan, saya menolak poin yang mengatakan bahwa tidak boleh memakai Pastor,” ujar Pastor Rantinus saat dikonfirmasi melalui telepon di Sibolga, Sabtu (27/8).

Pastor Rantinus menegaskan bahwa penolakan dirinya itu dengan alasan substansial. Menurut ia, tahbisan Imamat kepada dirinya masih sah dan berlaku.

“Tahbisan saya masih sah dan saya belum pernah meminta untuk keluar (dari Imamat) ke Tahta Suci di Roma. Karena tahbisan itu sah, makanya saya masih sah dan belum dibatalkan pentahbisan saya,” terangnya.

Disinggung apakah penolakan itu mengartikan bahwa Uskup Sibolga sebenarnya tak memiliki kewenangan mencabut gelar itu, Pastor Rantinus membantahnya. Ia menjelaskan, bahwa penolakan yang ia lakukan adalah upaya melindungi Imamat yang diberikan kepadanya.

“Kan mereka punya kuasa sepenuhnya, Uskup itu memiliki kuasa Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif. Tak bisa kita katakan tidak boleh. Yang kita katakan adalah, bahwa kita ingin melindungi Imamat kita,” terangnya.

Diketahui, Pastor Rantinus Simanalu beberapa waktu lalu telah mendeklarasikan diri untuk maju sebagai calon bupati Tapanuli Tengah melalui jalur perseorangan. Pastor Rantinus berpasangan dengan Ustadz M. Sodikin Lubis dengan sebutan pasangan ‘PAUS’ (Pastor-Ustadz).

Pasangan itu telah menyerahkan berkas syarat dukungan, dimana saat ini KPU Tapanuli Tengah melaksanakan Verifikasi Faktual terhadap dukungan bakal pasangan calon.

Berikut Dekrit Penarikan Yuridiksi dari Tugas Imamat P. Rantinus Manalu, Pr

Walau Dilarang Uskup, Pastor Rantinus Tetap Gunakan Gelar 'Pastor' di Pilkada Tapteng

Walau Dilarang Uskup, Pastor Rantinus Tetap Gunakan Gelar 'Pastor' di Pilkada Tapteng

Sumber:
Baca SelengkapnyaWalau Dilarang Uskup, Pastor Rantinus Tetap Gunakan Gelar 'Pastor' di Pilkada Tapteng

Sabtu, 17 September 2016

Diserang Bertubi-tubi, ISIS Makin Terdesak dan Umumkan Keadaan Darurat

Diserang Bertubi-tubi, ISIS Makin Terdesak dan Umumkan Keadaan Darurat

MOSUL - Kelompok Islamic State atau ISIS dilaporkan telah mengumumkan keadaan darurat setelah basis mereka di Mosul, Irak utara, diserang koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) secara bertubi-tubi. Selain, itu ISIS juga dilaporkan panik setelah gelombang pembunuhan melanda Mosul.

Kota Mosul memiliki populasi sekitar 2,5 juta jiwa sebelum ISIS menguasai kota itu pada 2014. Namun, sebelum ISIS tiba di Mosul sekitar 500 ribu warga sipil berhasil melarikan diri.

Sedangkan sisanya, sekitar 2 juta jiwa telah menjadi sasaran teror, di mana ISIS membunuh dan mengasingkan hingga 70 ribu warga Kristen dan menjual perempuan Yazidi lokal sebagai budak seks.

Laporan bahwa ISIS telah mengumumkan keadaan darurat dipublikasikan Iraq News, Jumat (16/9/2016), yang mengutip sumber di Mosul. “Serangan udara koalisi internasional menghancurkan pertemuan dan markas ISIS di kawasan hutan di Mosul,” kata sumber itu.

”ISIS telah panik setelah gelombang pembunuhan dan mulai memotong jalan utama ke lingkungan perumahan, setelah menyatakan keadaan darurat,” lanjut sumber tersebut.

ISIS telah terguncang setelah terjadi serentetan pembunuhan pejabat tingginya di beberapa distrik di Irak seperti di Qayyarah, Sharqat dan Bashiqa.

Koalisi yang dipimpin AS telah melatih pejuang suku Sunni untuk melawan dan mengusir ISIS dari Mosul. Pemerintah Irak sendiri bertekad merebut kembali kota itu dari ISIS pada akhir tahun ini.


Baca juga:
Baca SelengkapnyaDiserang Bertubi-tubi, ISIS Makin Terdesak dan Umumkan Keadaan Darurat

Rabu, 14 September 2016

Muslim Antigonish Kanada Lakukan Salat Idul Adha di Gereja Katolik

Muslim Antigonish Kanada Lakukan Salat Idul Adha di Gereja Katolik

Sejumlah umat Muslim yang ada di St. Francis Xavier University, Antigonish Kanada melaksanakan shalat Idul Adha di sebuah gereja Katolik. Gereja tersebut  berada di lingkungan kampus. 

Seorang warga negara Indonesia yang sedang menjalani studi di Kampus St. Francis Xavier University, Anwar Razak mengatakan ada sekitar 50 jamaah yang melaksanakan shalat Idul Adha di dalam gereja tersebut. Mereka berasal dari Timur Tengah, Asia dan Afrika yang hadir pada perayaan hari besar Islam ini, Senin (12/9) lalu.

"Rata-rata mereka adalah mahasiswa dan dosen yang ada di universitas ini. Sebagian lagi adalah pengungsi Syria yang tinggal di kota kecil itu," ujar Anwar.

Kordinator Divisi Advokasi Kinerja Keuangan Daerah Kopel Indonesia ini mengaku pertama kalinya dia melaksanakan shalat di dalam gereja. Dia mengataka pihak universitas memang menyediakan tempat ini khusus untuk ibadah umat Islam saat lebaran dan hari Jumat.

Menurut Anwar, gereja Katolik tersebut masih aktif digunakan. Namun pada saat Jumat tiba, gereja tersebut tidak digunakan. Sehingga ruangan gereja itu bisa dimanfaatkan warga Muslim di sana untuk melaksanakan shalat Jumat.

Anwar menceritakan, menurut penuturan beberapa orang warga di Antigonish, mereka menghormati warga dan pendatang meskipun berbeda agama. Mereka sudah melakukan ritual keagamaan tanpa saling menganggu karena warga sangat paham dengan perbedaan dan pentingnya perdamaian dan penghargaan.

Baca SelengkapnyaMuslim Antigonish Kanada Lakukan Salat Idul Adha di Gereja Katolik

Senin, 12 September 2016

KPAI Minta Pelaku Teror Bom Gereja Santo Yosep Diperlakukan Layaknya 'Anak-anak'

KPAI Minta Pelaku Teror Bom Gereja Santo Yosep Diperlakukan Layaknya 'Anak-anak'

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumatera Utara mengingatkan polisi bahwa IAH, tersangka pelaku teror bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Medan, belum berusia 18 tahun. Maka dia masih tergolong anak di bawah umur sehingga harus diadili menurut sistem peradilan anak.

Ketua Kelompok Kerja Pengaduan dan Fasilitasi Pelayanan KPAID Sumatera Utara, Muslim Harahap, menjelaskan bahwa IAH kini berusia 17 tahun 10 bulan. Dia genap berusia 18 tahun pada Oktober 2016.

“Apa pun ceritanya, pelaku ini anak di bawah umur," kata Muslim pada Rabu, 31 Agustus 2016.

Sesuai amanat Undang Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Peradilan Anak, proses hukum terhadap anak-anak pelaku tindak kriminal harus berdasarkan sistem peradilan anak, bukan sistem peradilan umum.

Muslim mengharapkan upaya hukum khusus terhadap IAH. Soalnya, pelaku masih anak-anak yang harus mendapatkan pembinaan, bukan hukuman secara formil.

"Makanya akan kami dampingi dengan berkoordinasi dengan Polresta Medan dan keluarga IAH. Untuk keluarga, sudah saya telepon. Untuk di Polres belum ada koordinasi, kita hargai dulu proses penyidikan sementara ini. Baru kami masuk untuk melakukan pendampingan," katanya.

IAH melakukan aksi teror bom di Gereja Santo Yosep pada Minggu pagi, 28 Agustus 2016. Ia diketahui membawa ransel berisi bom rakitan.

Saat kejadian, bom yang dibawa IAH gagal meledak. Tasnya hanya mengeluarkan percikan api. IAH pun mengeluarkan senjata tajam dan menyerang pastor Albert Pandingan di dalam gereja itu.

Baca SelengkapnyaKPAI Minta Pelaku Teror Bom Gereja Santo Yosep Diperlakukan Layaknya 'Anak-anak'
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...