Jumat, 24 Maret 2017

Lindungi Gereja Santa Clara, Ratusan Polisi Dilempari Batu oleh Ormas Islam

Lindungi Gereja Santa Clara, Ratusan Polisi Dilempari Batu oleh Ormas Islam

Ratusan orang yang tergabung dalam sejumlah ormas Islam terlibat kericuhan dengan dengan personel kepolisian yang menjaga Gereja Katolik Santa Clara, Jalan Raya Kaliabang, Bekasi Utara. Gas air mata ditembakkan ke arah demonstran.

Kericuhan terjadi karena massa yang mendesak masuk ke dalam gereja, namun dihalangi oleh kepolisian sekitar pukul 14.00 WIB. Sebagian orang juga mulai melempar botol minuman, bebatuan ke arah aparat kepolisian yang berjumlah sekitar 500 personel.

Karena kericuhan terjadi, aparat kepolisian mulai menembakkan gas air mata dan membuat suasana semakin memanas. Aparat keamanan yang awalnya ada di dalam gereja ikut keluar untuk membantu aparat yang menghalagi para demonstran masuk ke gereja

Saat ini, Jalan Raya Kaliabang Tengah ke arah kawasan Duta Harapan ditutup. Sejumlah personel kepolisian dari Polda Metro Bekasi Kota dan Brimob memang ditempatkan di sejumlah titik di sekitar gereja, seperti di dalam dan di luar gereja.

Tak hanya itu, personel Lalu Lintas juga dikerahkan untuk mengatur arus lalu lintas di Jalan Raya Kaliabang yang mulai padat imbas dari rencana aksi tersebut.

Sementara itu, ratusan orang yang akan menggelar aksi juga telah terlihat memadati jalan di depan Gereja Katolik Santa Clara. Mereka terlihat membawa sejumlah bendera berlafaz arab dan spanduk berisi penolakan pembangunan gereja tersebut.

Sebelumnya, pembangunan Gereja Katolik Santa Clara yang berdiri di atas lahan 5 ribu meter persegi tersebut mendapat penolakan dari sejumlah ormas Islam. Mereka menilai, izin pembangunan gereja tersebut menyalahi aturan dan mendesak Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mencabut izin bangunan tersebut.

Baca SelengkapnyaLindungi Gereja Santa Clara, Ratusan Polisi Dilempari Batu oleh Ormas Islam

Jumat, 10 Maret 2017

Pemkab Bogor: 3 Gereja di Parung Panjang 'Status Quo', Tidak Boleh Ada Aktivitas Apapun

Pemkab Bogor: 3 Gereja di Parung Panjang 'Status Quo', Tidak Boleh Ada Aktivitas Apapun

Pemerintah Kabupaten Bogor Jawa Barat memutuskan tiga gereja di Griya Parung Panjang dalam kondisi status quo, atau tidak boleh ada aktivitas keagamaan apapun di sana.

Tiga gereja itu adalah Gereja Katolik, Gereja Methodist Indonesia dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bogor mewakili umat Kristen, Febriyanto mengatakan keputusan itu diambil pemerintah Kabupaten Bogor sampai ada keputusan final yang akan diambil akhir Maret ini.

Febriyanto menyesalkan putusan itu, karena dalam pertemuan itu tidak ada jaminan ibadah untuk para jemaah. Meski ada usulan relokasi, namun ibadah Minggu jemaah seharusnya bisa tetap dilaksanakan.

"Teman-teman itu tidak memberikan solusi. Maksudnya, sementara mereka bisa beribadah dimana. Misalnya di sarana fasilitas umum, atau gedung pemerintah. Makanya kemarin itu, saya secara pribadi terus mendesak, agar kalau rumah tinggal itu ditutup, mereka tetap bisa beribadah. Apalagi ini kan perayaan pra-Paskah, perayaan umat kita," kata Febriyanto kepada KBR, Rabu (8/3/2017).

Pada Kamis (9/3/2017) besok, kata Febriyanto, akan ada pertemuan FKUB dengan tiga gereja itu. Rencananya, FKUB akan mendampingi untuk memastikan adanya jaminan ibadah tersebut. FKUB juga sudah meminta Kantor Urusan Agama (KUA) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi mediator.

"Besok (Kamis) ketemu, camat akan menyampaikan hasil (keputusan) kemarin. Saya harap kehadiran di sana juga bisa menjadi solusi," tambah Febriyanto.

Sebelumnya, tiga gereja itu nyaris disegel kelompok tertentu yang mengatasnamakan Kelompok 11. Ibadah sekitar 800 jemaat di 3 gereja tersebut diwarnai intimidasi. Kelompok tersebut mengajak masyarakat dengan pengeras suara masjid untuk berkumpul dan menyegel tiga gereja itu.

Bupati Bogor Nurhayanti berkilah kebijakan Camat Parung Panjang yang akan menyegel tiga gereja untuk menjaga keamanan di wilayahnya. Meski demikian, Nurhayanti berjanji mempercepat proses pengurusan izin ketiga gereja. Termasuk meminta pengurus RT/RW mempermudah perizinannya.


Baca SelengkapnyaPemkab Bogor: 3 Gereja di Parung Panjang 'Status Quo', Tidak Boleh Ada Aktivitas Apapun

Rabu, 08 Maret 2017

Urus IMB Tak Diberi, Warga Muslim Tolak 3 Gereja di Parung Panjang


Urus IMB Tak Diberi, Warga Muslim Tolak 3 Gereja di Parung Panjang

Tiga gereja di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menerima intimidasi dari Kelompok 11 yang mengancam akan menyegel gereja tersebut. Ketiga gereja tersebut yaitu Gereja Katolik, Gereja Methodhist Indonesia, dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan.

Pengurus Gereja Methodhist Parung Panjang, Efendi Hutabarat mengatakan, kelompok tersebut mengajak masyarakat dengan pengeras suara masjid untuk berkumpul dan menyegel 3 gereja itu. Efendi kemudian meminta bantuan ke TNI-Polri dan Satpol PP untuk menjaga ibadah mereka hari ini.

"Tetapi beribadah, tetapi dijaga oleh polisi dan Koramil. Karena kita bilang sama polisi dan Koramil kami akan jalan, kalian tidak boleh larang. Karena apa, karena bukan solusi. Karena apa, bapak datang kepada kami untuk berbicara harusnya bapak sebagai mediator untuk berbicara kepada mereka. Kok bapak malah maksa, bukan kami yang bapak mediasi. Orang-orang yang menyatakan itu Kelompok 11 dari warga sekitar sini dan termasuk Ketua RT dan RW. Kita tadi dijaga polisi dan itu tadi standby semua," jelas Pendeta Efendi Hutabarat kepada KBR, Minggu (5/3/2017).

Efendi Hutabarat menambahkan, tiga gereja tersebut nyaris ditutup Satpol PP Kabupaten Bogor dengan alasan tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB). Namun, kata dia, ketiga pihak gereja sebenarnya sudah berusaha mengajukan izin dari tingkat RT, RW hingga kelurahan sejak tahun 2000. Namun, perizinan selalu kandas karena ada aturan SKB 2 menteri.

"Kita sudah lama berdiri hanya tanpa IMB. Kita sudah 17 tahun sejak tahun 2000. Dilakukan pengurusan izin tetap mentok karena SK 2 menteri, RT RW," ujarnya.

Kata dia, pihaknya sudah mengajukan izin ke Pemkab Bogor dan mendapatkan respon positif. Menurutnya, Pemkab Bogor mempersilakan beribadah selagi pengurusan izin diproses.

"Kita sudah dapat surat pada November, setelah kita menghadap Sekda dan Kesbang. Mereka mengatakan lanjutkan saja dulu ibadah, sambil suratnya diproses. Kita urus ke RT, RW dan Kelurahan selalu mentok. Saling membalikkan. Alasan mereka karena gereja berada di perumahan," ungkapnya.

Efendi menjelaskan, tiga gereja tersebut berada di area terbuka dan tidak berada tepat dalam pemukiman penduduk sekitar.

"Lokasi kita bukan berada di rumah yang berhadap-hadapan, di depan gereja kita ada jalan besar dan lahan kosong. Jadi bukan berada di depan rumah warga, karena di belakang perumahan," ujarnya. 

Bertemu Pemkab Bogor, Ini Usulan Solusi 3 Gereja di Parung Panjang

Perwakilan tiga gereja di Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat akan menyampaikan usulan solusi dalam pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) hari ini. Salah satunya, menurut pengurus Gereja Methodhist Parung Panjang, Efendi Hutabarat, adalah permintaan kemudahan pemberian izin oleh perangkat desa setempat. Sebab pasalnya, seluruh syarat pengajuan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) sudah berusaha diproses.

"Janjinya Pak Sekda kan kami mau diberikan izin, tapi kan balik ke izin RT dan RW. Jadi kami akan kesulitan mendapatkan itu, meminta persetujuan mereka. Padahal semua sudah," papar Efendi kepada KBR, Senin (6/3/2017).

"Harapannya bagaimana Pemkab mempermudah pengurusan izin. Karena dia juga mengeluarkan izin yang perduatahunan. Dan lokasinya sama, terdaftar di Pemkab ditembuskan ke Kanwil dan lainnya," tambahnya lagi.

Efendi menganggap, pemberian izin menjadi jalan tengah solusi. Sebab opsi relokasi justru akan menimbulkan masalah.

"Lokasi gereja kami itu kan tidak berhadapan dengan rumah, ini di depannya adalah tahan kosong, jalan besar yang tidak ada apa-apa. Dibilang bikin ribut tidak, karena ruangan full-ac (jadi kedap). Kami juga ibadah hanya menggunakan piano dan organ. Sehingga (pindah lokasi) itu tidak solusi," tutur Efendi.

Dia pun meyakinkan, lokasi masing-masing gereja saat ini dianggap paling tepat. Karena jauh dari permukiman.

"Jadi sudah tiga kali mereka berpindah-pindah."

Baca SelengkapnyaUrus IMB Tak Diberi, Warga Muslim Tolak 3 Gereja di Parung Panjang

Selasa, 07 Maret 2017

Raja Salman Terkagum-Kagum Ketika Disambut Pastor Katolik yang Lihai Berbahasa Arab

Raja Salman Terkagum-Kagum Ketika Disambut Pastor Katolik yang Lihai Berbahasa Arab

Raja Salman akhirnya menginjakkan kaki di pulau Dewata. Setibanya di Bandara Ngurah Rai, Raja Salman disambut sejumlah tokoh agama dan masyarakat di Bali. Seorang di antaranya adalah imam Katolik Pastor Eventius Dewantara, Pr.

Peristiwa menarik terjadi ketika pastor yang akrab disapa Romo Venus bersalaman dengan Raja Salman. Keduanya terlibat dalam obrolan singkat dalam bahasa Arab. Raja Salman pun kagum dan heran, ada seorang pastor Katolik di Bali yang fasih berbahasa Arab.

Ditemui di Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Puja Mandala, Nusa Dua-Bali, Minggu (5/3/2017) Romo Venus menuturkan pengalamannya saat bertemu Raja Salman.

Waktu bertemu langsung menyapa dengan bahasa Arab. Romo Venus menyapa Raja Salman dengan ucapan ahlan wa sahlan (selamat datang).

Mendengar ucapan tersebut Raja Salman langsung membalas dengan ucapan masihiyun (Anda seorang Katolik?) dengan mimik bertanya.

Tidak berhenti sampai di situ, Raja Salman kemudian menghampiri Romo Venus.

"Raja Salman sempat menyentuh jubah saya di bagian dada dengan lembut sambil tersenyum," kata Romo Venus.

Menurut dia, Raja Salman adalah sosok yang bijaksana karena mau datang ke Bali yang mayoritas warganya memeluk agama Hindu. Hal ini menunjukkan Raja mau membuka diri menyambut yang lain.

"Raja Salman menurut saya sosok yang bijaksana, mau merangkul yang lain di tengah situasi politik Indonesia yang cenderung saling meniadakan," kata Romo Venus.

Romo Venus adalah, imam Katolik kelahiran Larantuka-Flores, Nusa Tenggara Timur, 2 Mei 1969.

Setelah menjadi imam Katolik, Romo Venus Mendalami Studi Islamologi di univ institut Dar Comboni for Arabic Studies Cairo bidang Bahasa Arab pada tahun 2002-3003, kemudian dilanjutkan dengan studi islamologi di Pontificio Instituto di Studi Arabi E D’Islamistica (PISAI) Roma pada Tahun 2003-2005.

Romo Venus mempelajari berbagai materi tentang keislaman. Baik Islam Klasik maupun kontemporer. Selama menjalani studi Islamologi Romo Venus sekaligus mendalami bahasa Arab karena bahasa yang digunakan saat perkuliahan adalah bahasa Arab.

"Saat studi setiap hari berbahasa Arab khususnya saat perkuliahan, berdoa juga pakai bahasa Arab," kata pengagum Gus Dur tersebut.

Media Saudi Beritakan Pujian Pastor Katolik ke Raja Salman

Media Saudi ikut memberitakan kunjungan Raja Salman ke Bali. Salah satu yang menarik perhatian yakni pujian Pastor Katolik di Bali terhadap Raja Salman.

Media Saudi Al-Arabiya mengutip bagaimana Pastor Katolik menyebut Raja Salman sebagai wajah Islam damai yang sebenarnya.

"Raja Salman datang bersama disertai dengan ketenangan dari Islam dan memimpin dengan teladan, untuk mengatasi gejolak agama yang kita saksikan di negara ini. Mari kita lihat raja ini yang merangkul semua agama lainnya," ujar Romo Venus Dewantara itu.

Sumber:
Baca SelengkapnyaRaja Salman Terkagum-Kagum Ketika Disambut Pastor Katolik yang Lihai Berbahasa Arab

Rabu, 01 Maret 2017

Belasan Alquran Berserakan di Halaman Gereja, Polisi Turun Tangan

Belasan Alquran Berserakan di Halaman Gereja, Polisi Turun Tangan

Petugas gabungan dari Polsek Pesantren, Kota Kediri bersama anggota TNI mengamankan 13 kitab Al Quran yang berserakan di halaman Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kediri Pepanthan di Lingkungan Majekan, Kelurahan Pesantren. Belasan kitab suci umat Islam tersebut diduga sengaja ditaruh oleh seseorang untuk membuat geger.

Penemuan Al Quran di tempat ibadah umat Kristen ini kali pertama diketahui oleh anak-anak yang berangkat ke sekolah di pagi hari.

"Ya itu mas, kita tidak tahu. Anak anak kecil itu lapor saya kalau ada kitab Al Quran di gereja, kebetulan rumah saya paling dekat," kata Dewi Setiyorini yang juga salah satu jemaat, Rabu (1/3/2017).

Dewi melihat belasan kitab Al Quran tersebut berada di halaman gereja. Sebanyak 12 kitab dalam keadaan berserakan, sementara satu kitab posisinya berdiri bersandar pada pintu.

Dewi kemudian melaporkan kejadian itu kepada pengurus GKJW Sarmono. Selanjutnya, pengurus gereja melapor ke Polsek Pesantren. Petugas gabungan yang datang akhirnya mengamankan seluruh Al Quran itu.

Kapolsek Pesantren Kompol Sucipto mengaku, masih memintai keterangan pengurus gereja dan juga saksi. Menurutnya, ada yang sempat melihat dua orang datang ke GKJW. Mereka ditengarai adalah orang yang meletakkan belasan kitab itu.


Baca juga:
Baca SelengkapnyaBelasan Alquran Berserakan di Halaman Gereja, Polisi Turun Tangan

Selasa, 28 Februari 2017

Komunis Tiongkok Larang Aktivitas Semua Gereja di Xinjiang, 80 Orang Ditangkap

Komunis Tiongkok Larang Aktivitas Semua Gereja di Xinjiang, 80 Orang Ditangkap

Radio Free Asia dalam pemberitaannya Kamis (23/2/2017) menyebutkan bahwa Partai Komunis Tiongkok (PKT) belum lama ini telah mengeluarkan peraturan yang melarang seluruh gereja baik Katolik, Protestan dan rumah-rumah ibadah mengadakan kegiatan apapun di Xinjiang. Sejak tahun baru Imlek, sudah sekitar 80 orang ditangkap.

RFA mengutip ungkapan dari seorang anggota rumah ibadah di Xayar County, Xinjiang melaporkan bahwa, sejumlah rumah ibadah di kota Aksu, Korla dan lainnya sudah mendapatkan peringatan dari PKT agar segera menghentikan ibadah gereja dalam rumah dan mengancam akan menahan semua orang yang terlibat dalam ibadah bila kegiatan itu masih berlanjut. Juga akan menuntut mereka dengan hukuman karena melakukan kegiatan berkumpul secara ilegal.

Seorang anggota rumah ibadah di Daerah Otonomi Kazakh Ili, Tacheng mengungkapkan bahwa sekitar 70 – 80 orang peserta ibadah di Urumqi, Kuytun dan Shawan County ditangkap polisi.

Sebulan lalu, sebuah rumah ibadah di kota Wusu telah diserbu oleh belasan orang yang terdiri dari anggota polisi dan petugas Departemen Agama. 6 orang dibawa kemudian ditahan mereka.

Salah seorang yang ikut ditahan itu, bernama Chen Xiangyan mengatakan petugas dari kepolisian melakukan penggeledahan paksa, menyita sejumlah kitab suci dan perlengkapan ibadah. Selain itu dikurung dalam tahanan, mereka juga dipaksa membayar denda uang masing-masing orang RMB. 1.000,-

Seorang wanita bermarga Zhu yang merupakan peserta ibadah yang sudah dibebaskan mengatakan bahwa berkumpul itu sama sekali tidak melanggar hukum. Pihak polisi menghendaki mereka melakukan ibadah di gereja resmi yang diasuh ‘Three-Self Patriotic Movement’, namun telah ditolak.

Selain itu, 2 rumah ibadah di Korla Yulin County telah digerebek petugas keamanan dari 31T.Nes Xinjiang pada 19 Februari. 21 orang peserta ibadah yang sedang berada di dalam digiring ke kantor polisi untuk diinterogasi. Bahkan aliran listrik dan air rumah salah satu orang dari mereka telah diputus.

Organisasi HAM untuk Kristiani ‘Chinaaid’ yang bermarkas di Texas, AS dalam sebuah pernyataannya menyebutkan, pihaknya terkejut dan marah atas perlakuan PKT terhadap orang Kristiani di Xinjiang dan meminta PKT untuk segera menghentikan penganiayaan.

Menjelang Dwi Konferensi, PKT telah menaikkan tingkat pengawasan terhadap Xinjiang. Baru-baru ini, pemerintah daerah telah mengharuskan semua kendaraan yang berlalu lalang di Daerah Otonomi Bayingolin Mongol mengguna sistem navigasi satelit Beidou (BDS sama seperti GPS).

Bila tidak maka kendaraan tersebut tidak diijinkan untuk mengisi bahan bakar dan menambah angin ban roda. kendaraan tersebut juga tidak dapat dijualbelikan. Kendaraan bekas yang dibeli harus dibaliknama sesuai dengan identitas pemilik barunya.

Tekanan PKT menimbulkan ketidakpuasan masyarakat, sehingga insiden kekerasan terus terjadi di sana.

Baca SelengkapnyaKomunis Tiongkok Larang Aktivitas Semua Gereja di Xinjiang, 80 Orang Ditangkap

Senin, 27 Februari 2017

Diserang ISIS, Warga Kristen Koptik Mesir Mengungsi

Diserang ISIS, Warga Kristen Koptik Mesir Mengungsi

KAIRO - Puluhan keluarga Kristen Koptik di Provinsi Sinai Utara Mesir, melarikan diri menyusul terjadinya sejumlah pembunuhan dalam beberapa pekan terakhir yang diduga dilakukan kalangan militan Islam.

Sebagian dari mereka mengungsi di Gereja Evangelis di kota Ismailiya, terusan Suez. Gereja Koptik mengutuk serangan yang mereka sebut bertujuan untuk memecah belah Mesir.

Pada hari Minggu pekan lalu, militan yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS merilis sebuah video, yang mengancam untuk melancarakan lagi serangan terhadap minoritas Kristen Mesir. ISIS telah bersumpah untuk meningkatkan serangan terhadap minoritas Kristen di Sinai.

"Mereka ingin mengirim pesan bahwa tidak ada yang aman," kata Mina Thabet, yang bekerja dengan Komisi untuk Hak dan Kebebasan Mesir dan yang membantu dengan upaya darurat di Ismailia seperti dikutip dari New York Times, Sabtu (25/2/2017).

Kaum Koptik yang meliputi sekitar 10% dari 90 juta penduduk Mesir, sering menjadi sasaran kelompok Islam radikal dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagian besar serangan militan Islamis dari tahun-tahun terakhir difokuskan di semenanjung Sinai, tempat aktifnya sebuah kelompok jihad terkait ISIS, namun ibukota Kairo juga telah menderita serangkaian serangan dalam dua tahun terakhir.

Sekitar 250 orang warga Kristen dengan barang-barang bawaan mereka sekarang ditamung di gereja Ismailiya ini, kata diakon Nabil Shukrallah, Jumat (24/2/2017).

"Mereka datang mengungsi bersama anak-anak mereka. Ini situasi yang sangat sulit. Kami memperkirakan jumlahnya 50 atau 60 lebih," katanya kepada kantor berita AFP.

Sementara itu, para pengungsi mengatakan mereka sekarang 'takut pada bayangan kami,' dan bahwa mereka 'sedang jadi sasaran dengan cara yang mengerikan.'

Banyak dari mereka berasal dari kota El-Arish, yang mencatat setidaknya tujuh orang Kristen tewas.

Gelombang serangan oleh militan Islam di Mesir marak sejak 2013, setelah militer menggulingkan Presiden Mohammed Morsi, pemimpin terpilih yang berasal dari Ikhwanul Muslimin. Setelah mengambil alih kekuasaan, militer meluncurkan tindakan keras terhadap kalangan Islamis.

Apa Gerangan Kristen Koptik itu?

Gereja Ortodoks Koptik adalah Gereja Kristen utama di Mesir. Sebagian besar penganut Koptik tinggal di Mesir, sementara penganutnya di luar negeri berjumlah sekitar satu juta orang.

Koptik percaya bahwa Gereja mereka terbentuk sekitar 50 Masehi, saat Rasul Markus dikisahkan mengunjungi Mesir. Markus dianggap sebagai Paus Iskandariyah -kepala gereja mereka- yang pertama.

Peristiwa itu menandai pembentukan kelompok Kristen di luar Tanah Suci Yerusalem yang pertama.

Pada Konsili Khalsedon (451 M) gereja ini dipisahkan dari kelompok Kristen lainnya terkait perselisihan mengenai sifat manusia dan keilahian Yesus Kristus.

Gereja awal menderita penindasan di bawah Kekaisaran Romawi, dan mengalami juga pasang surut penganiayaan setelah Mesir menjadi negara Islam. Banyak yang meyakini keadaannya akan berlangsung terus seperti ini.

Baca SelengkapnyaDiserang ISIS, Warga Kristen Koptik Mesir Mengungsi

Sabtu, 25 Februari 2017

Murid-murid Muslim Kunjungi Gereja Katolik Menuai Pujian

Murid-murid Muslim Kunjungi Gereja Katolik Menuai Pujian

Kamis (16/2) lalu, terlihat sebuah pemandangan yang unik di Gereja St Antonius Kotabaru Jogja. Tampak murid-murid dari SD Budi Mulia memenuhi ruangan. Bahkan peserta kegiatan itu ada juga yang berhijab.

Ternyata pihak gereja menjelaskan jika mereka memang terbuka bagi siapapun juga untuk dikunjungi, seperti yang dikutip dari akun Facebook Paroki Kotabaru Jogja, Minggu (19/2). Tak hanya sekali, Gereja St Antonius juga mendapat kunjungan serupa dari sekolah TK/Raudhatul Athfal Beniso, Karangkajen pada Sabtu (18/2) kemarin.

Kegiatan ini memang terbilang unik, tujuan dari kunjungan mereka ternyata adalah dalam rangka pengenalan tentang keberagaman di Indonesia.

Pertanyaan yang diajukan oleh anak-anak itu pun beragam, seperti misalnya, ada anak yang bertanya, "Romo, orang yang tangannya dipalang di atas itu siapa?" atau "Romo, itu bunga untuk apa?" bahkan ada juga yang bertanya, "Kalau aku masuk di gereja, aku harus ngapain?"

Ada juga anak yang berkomentar "Mas, itu ada gambar", sambil menunjuk lukisan kisah Yesus yang membangkitkan Lazarus.

Sontak saja pemandangan unik yang menunjukkan indahnya keberagaman dalam beragama yang diunggah oleh pihak gereja dalam akun facebooknya Paroki Kotabaru Jogja ini menuai pujian dari netizen.

Seperti akun Ariyantie Puul menuliskan komentar "Sangat bagus untuk menanamkan sikap toleransi antar umat beragama pada anak..."

"Toleransi beragama memang harus ditanamkan sedari kecil..." tulis akun Utoro 'uthe' Heriyawan

"Indahnya toleransi dan kebersamaan antar umat.." tulis Nicolaus Novandi.

Baca SelengkapnyaMurid-murid Muslim Kunjungi Gereja Katolik Menuai Pujian

Jumat, 17 Februari 2017

Jemaat Yasmin Tagih Janji Walikota Bogor 'Bangun Gereja di Sebelah Masjid'

Jemaat Yasmin Tagih Janji Walkot Bogor 'Bangun Gereja di Sebelah Masjid'

Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin menagih janji Wali Kota Bogor, Bima Arya yang akan membahas teknis pembangunan gereja yang berdampingan dengan masjid di Kawasan Taman Yasmin. Menurut juru bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging, wacana tersebut sudah disampaikan Bima Arya pada Natal 2016 lalu. Namun, sampai sekarang kata dia, tim yang dijanjikan untuk membahas hal tersebut belum juga terwujud.

"Namun sampai dengan sekarang Pak Bima belum  memulai perbincangan teknis itu, sehingga sampai sekarang kita masih belum dapat masuk ke gereja dan menggunakan rumah ibadah kita yang sah," kata Bona kepada KBR di sebrang Istana Negara, Minggu (22/01/17).

Ia berharap Bima Arya akan merealisasikan wacana tersebut paling lambat pada awal Februari mendatang.

"Kita berharap dalam sisa januari ini atau awal februari Pak Bima akan memulai langkah kongkritnya melaksanakan deklarasi yang sudah ia sampaikan," tambahnya.

Ia juga meminta Presiden Joko Widodo ikut mengawal penyelesaian pembangunan Gereja GKI Yasmin di Bogor dan penyelesaian masalah Gereja HKBP Filadelfia di Bekasi. Menurutnya, Jokowi berkewajiban memastikan Wali Kota Bogor dan Bupati Bekasi patuh terhadap konstitusi. Jemaat kedua gereja ini berharap Jokowi mewujudkan kerja nyata dengan melindungi warganya beribadah.

"Kita belum bisa menikmati gereja sebagai tempat peribadatan," ujar Bona.

Sebelumnya pada perayaan Natal kemarin, Bima Arya menyambangi ratusan jemaat GKI Yasmin dan menyampaikan gagasan Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan berencana membangun gereja di lahan tersebut berdampingan dengan masjid. Ia menegaskan komitmennya akan membangun rumah ibadah bagi umat kristen dan muslim.

“Kasus GKI Yasmin harus diselesaikan dengan baik dengan memelihara keberagaman Indonesia,” kata Bima didampingi Kapolres Kota Bogor AKBP Suyudi Ario Seto.

Bima berharap bila gagasan Bhinneka Tunggal Ika ini terwujud, Kota Bogor akan menjadi simbol keberagaman, kebinekaan dan perdamaian antarumat beragama.

Baca SelengkapnyaJemaat Yasmin Tagih Janji Walikota Bogor 'Bangun Gereja di Sebelah Masjid'

Kamis, 16 Februari 2017

HIDUP-TV Diusulkan Jadi Televisi Gereja Katolik Indonesia

HIDUP-TV Diusulkan Jadi Televisi Gereja Katolik Indonesia

MUNTILAN - HIDUP-TV yang diluncurkan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 1 Februari 2017 lalu, diusulkan  menjadi Televisi Gereja Katolik Indonesia. Usulan itu disampaikan Ketua Komisi Komsos KAJ, Romo Harry Sulistyo, dalam rapat anggota Signis Indonesia di Muntilan, Jawa Tengah, Senin (13/2).

Anggota Signis Indonesia yang tengah mengadakan pertemuan anggota di Muntilan, Jawa Tengah 11-16 Februari 2017, menyambut usulan tersebut dan mempertimbangkan untuk memanfaatkan peluang berpastoral lewat media televisi itu.

Menurut Romo Harry, HIDUP-TV sejak diluncurkan telah mengadakan siaran lewat streaming. Selanjutnya siaran akan dipancarkan lewat frekuensi Q-Band, yakni satelit yang bisa diterima dengan parabola di seluruh wilayah Indonesia.

Acara yang sudah ditampilkan adalah Renungan Harian (Oase Rohani Katolik), Embun Kehidupan (renungan rohani dilengkapi dengan fragmen kehidupan), Mutiara Hati (acara rohani anak-anak) dan Sosialisasi Ardas (Arah Dasar KAJ).

Setiap hari HIDUP-TV mengadakan siaran sekitar tiga jam. Dalam waktu dekat siaran ditingkatkan menjadi delapan jam.

Anggota Signis Indonesia terutama Komsos dari sejumlah keuskupan, berharap  karya audio-visual yang mereka produksi bisa disiarkan oleh media komunikasi  itu. Anggota Signis juga akan memanfaatkan televisi tersebut sebagai media pastoral bagi umat di keuskupan mereka masing-masing.

Signis Indonesia adalah asosiasi lembaga dan Komisi Komsos keuskupan-keuskupan yang memiliki kegiatan produksi dan pelatihan di bidang audio visual. Signis Indonesia merupakan anggota dari Signis Internasional, yang merupakan gerakan profesional di bidang media komunikasi dari Gereja Katolik untuk radio, televisi, film, video, pendidikan media, internet dan teknologi maju. Asosiasi dunia bidang media komunikasi itu kini telah menyebar di 100-an negara.

Menanggapi tawaran untuk mengembangkan Televisi Gereja Katolik Indonesia, Ketua Signis Indonesia, Romo Frans de Sales, menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing anggota. “Sebab sifat keanggotaan mereka adalah independen,” katanya.

Apabila anggota mau menyambut peluang itu, dipersilahkan karena Signis tidak bisa mengatasnamakan setiap anggota.

Romo Frans de Sales menambahkan, dengan adanya Televisi Gereja Katolik Indonesia yang diprakarsai oleh Komisi Komsos KAJ itu, diharapkan banyak produksi dari anggota Signis bisa disiarkan.

Dalam sidang pleno Signis Indonesia itu, Romo Harry Sulistyo menawarkan agar segenap anggota Signis dan Komisi Komsos keuskupan-keuskupan bersedia mengirimkan berbagai produksi audio-visual untuk disiarkan di televisi yang sedang dirintisnya.

“Dengan adanya televisi yang berskala nasional, kreativitas anggota Signis Indonesia akan terpacu untuk berkarya dan berproduksi,” kata Romo Frans de Sales.

Dia mengharapkan agar setiap anggota secara sendiri-sendiri menanggapi tawaran memanfaatkan media komunikasi itu untuk berpastoral. Mengingat jangkauan wilayah Indonesia yang luas, diharapkan televisi itu bisa melayani kebutuhan keuskupan-keuskupan di berbagai daerah.

“Pagi-pagi sekali, misalnya, televisi itu bisa siaran bagi penonton di Jayapura atau Papua karena di sana sudah mulai siang,” katanya.

Sedang Romo Harry Sulistyo menyatakan siap menggelar siaran secara nasional. Namun diakui masih ada proses yang mesti dilalui,  terutama hal-hal yang berkaitan dengan perizinan dan frekuensi. “Secara teknis, bisa dilakukan siaran percobaan,” katanya. Kebetulan siaran itu kini sudah bisa dinikmati penonton lewat streaming.
Baca SelengkapnyaHIDUP-TV Diusulkan Jadi Televisi Gereja Katolik Indonesia

Rabu, 08 Februari 2017

Hasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik

Hasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik
Camat Pajangan Yulius Suharta sempat ditolak sejumlah warga 'dengan alasan' ia beragama Katolik sementara mayoritas warga di kecamatan yang ia pimpin beragama Islam.

Bupati Bantul, Yogyakarta, akhirnya memutuskan untuk mempertahankan Yulius Suharta sebagai camat Pajangan setelah menyimpulkan penolakan yang sempat disuarakan sejumlah warga 'tidak mewakili seluruh masyarakat' Kecamatan Pajangan.

"Tidak ada alasan untuk memutasinya," kata Bupati Suharsono, Rabu (07/02).

Ia menjelaskan pihaknya melakukan survei dengan mendatangi secara langsung tiga desa yang secara adminsitratif berada di Kecamatan Pajangan, yakni Desa Sendangsari, Desa Guwosari, dan Desa Triwidadi.

Survei dilakukan secara acak dengan bertanya langsung kepada masyarakat apakah benar masyarakat menolak Yulius Suharta sebagai camat Pajangan karena memeluk Katolik.

Hasilnya, kata Suharsono, masyarakat tidak tahu adanya penolakan tersebut dan tidak mempersamasalahkan Yulius sebagai camat Pajangan. "Jadi tiga orang yang menolak (Yulius) itu tidak mewakili masyarakat," kata Suhartono.

Setelah melakukan survei, Suhartono mengumpulkan sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Pajangan. Ada 65 orang diundang Suhartono untuk melakukan kordinasi dan musyawarah. Suhartono juga mengundang tiga orang yang melakukan penolakan terhadap Yulius.

Namun pertemuan hanya dihadiri sekitar 60-an orang, karena tiga orang yang menolak Yulius sebagai camat Pajangan tidak hadir walau kehadirannya mereka sangat diharapkan untuk mengetahui alasan penolakan, seperti dilaporkan wartawan di Yogyakarta, Yaya Ulya, untuk BBC Indonesia.

Hasil musyawarah memutuskan, hampir 100% tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir menyetujui keputusan Suhartono dalam mengangkat Yulius sebagai Camat Pajangan dan tidak mempermasalahkan perbedaan agama.

"Kesimpulannya, mendukung keputusan saya," katanya. "Tokoh masyarakat dan tokoh agama yang mewakili masyarakat setuju dengan keputusan saya."

Suhartono menambahkan, sebelum menetapkan Yulius sebagai camat Pajangan pada Desember 2016, dirinya sudah melakukan penilian dan pengujian yang mendalam, ditambah dengan tes psikologi. "Jadi saya tidak ngawur, sudah sesuai prosedur," imbuhnya.

Pengangkatan Yulius sebagai camat di Bantul menjadi pembicaraan nasional setelah sejumlah warga mengakukan keberatan dengan alasan mayoritas warga di Kecamatan Pajangan adalah Muslim sementara Yulius adalah pemeluk Katolik. Para pemrotes mendesak bupati memindahkan Yulius ke kecamatan lain di Bantul.


Semua Fraksi DPRD Menolak Camat Katolik, Hanya PDI Perjuangan yang Mendukung

Keberatan disuarakan saat mendatangi kantor DPRD Bantul pada Jumat (06/01). Tiga hari kemudian, warga yang menolak Yulius bersama anggota DPRD Bantul dari Fraksi PKS, PPP, Golkar, PKB, PAN, dan Gerindra, mendatangi bupati untuk menyampaikan keberatan terhadap camat beragama Katolik.

Menanggapi keputusan bupati untuk tetap mempertahankan camat Pajangan, Suwandi, wakil ketua Komisi A DPRD Bantul dari Fraksi PPP, mengaku belum tahu. Ia mengatakan Komisi A akan membicarakan persoalan ini, karena yang menerima keluhan warga adalah Komisi A.

"Nanti akan kami bicarakan lebih lanjut," katanya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bantul, Timbul Harjana, menyatakan mendukung penuh keputusan bupati untuk tetap menetapkan Yulius sebagai camat Pajangan.

"Pancasila harga mati, Undang-Undang Dasar 1945 harga mati, kami sudah tidak mau diskusi lagi tentang itu. Pemimpin itu tidak memimpin golongan tertentu tapi memimpin semua yang ada di situ," jelasnya.

"Itu (penetapan Yulius sebagai Camat Pajangan) sudah benar, dan kami mendukung keputusan Bupati Bantul," katanya.

Camat Pajangan, Yulius, yang menjadi pusat polemik, saat dihubungi mengatakan tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. "Jadi sampai saat ini saya masih sebagai Camat Pajangan," katanya.

Bupati Bantul berharap masyarakat memahami keputusan pengangkatan Yulius berdasarkan uji kelayakan dan uji kompetensi, bukan berdasarkan agama.

Baca SelengkapnyaHasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...