Jumat, 17 Februari 2017

Jemaat Yasmin Tagih Janji Walikota Bogor 'Bangun Gereja di Sebelah Masjid'

Jemaat Yasmin Tagih Janji Walkot Bogor 'Bangun Gereja di Sebelah Masjid'

Jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin menagih janji Wali Kota Bogor, Bima Arya yang akan membahas teknis pembangunan gereja yang berdampingan dengan masjid di Kawasan Taman Yasmin. Menurut juru bicara GKI Yasmin, Bona Sigalingging, wacana tersebut sudah disampaikan Bima Arya pada Natal 2016 lalu. Namun, sampai sekarang kata dia, tim yang dijanjikan untuk membahas hal tersebut belum juga terwujud.

"Namun sampai dengan sekarang Pak Bima belum  memulai perbincangan teknis itu, sehingga sampai sekarang kita masih belum dapat masuk ke gereja dan menggunakan rumah ibadah kita yang sah," kata Bona kepada KBR di sebrang Istana Negara, Minggu (22/01/17).

Ia berharap Bima Arya akan merealisasikan wacana tersebut paling lambat pada awal Februari mendatang.

"Kita berharap dalam sisa januari ini atau awal februari Pak Bima akan memulai langkah kongkritnya melaksanakan deklarasi yang sudah ia sampaikan," tambahnya.

Ia juga meminta Presiden Joko Widodo ikut mengawal penyelesaian pembangunan Gereja GKI Yasmin di Bogor dan penyelesaian masalah Gereja HKBP Filadelfia di Bekasi. Menurutnya, Jokowi berkewajiban memastikan Wali Kota Bogor dan Bupati Bekasi patuh terhadap konstitusi. Jemaat kedua gereja ini berharap Jokowi mewujudkan kerja nyata dengan melindungi warganya beribadah.

"Kita belum bisa menikmati gereja sebagai tempat peribadatan," ujar Bona.

Sebelumnya pada perayaan Natal kemarin, Bima Arya menyambangi ratusan jemaat GKI Yasmin dan menyampaikan gagasan Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan berencana membangun gereja di lahan tersebut berdampingan dengan masjid. Ia menegaskan komitmennya akan membangun rumah ibadah bagi umat kristen dan muslim.

“Kasus GKI Yasmin harus diselesaikan dengan baik dengan memelihara keberagaman Indonesia,” kata Bima didampingi Kapolres Kota Bogor AKBP Suyudi Ario Seto.

Bima berharap bila gagasan Bhinneka Tunggal Ika ini terwujud, Kota Bogor akan menjadi simbol keberagaman, kebinekaan dan perdamaian antarumat beragama.

Baca SelengkapnyaJemaat Yasmin Tagih Janji Walikota Bogor 'Bangun Gereja di Sebelah Masjid'

Kamis, 16 Februari 2017

HIDUP-TV Diusulkan Jadi Televisi Gereja Katolik Indonesia

HIDUP-TV Diusulkan Jadi Televisi Gereja Katolik Indonesia

MUNTILAN - HIDUP-TV yang diluncurkan Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) 1 Februari 2017 lalu, diusulkan  menjadi Televisi Gereja Katolik Indonesia. Usulan itu disampaikan Ketua Komisi Komsos KAJ, Romo Harry Sulistyo, dalam rapat anggota Signis Indonesia di Muntilan, Jawa Tengah, Senin (13/2).

Anggota Signis Indonesia yang tengah mengadakan pertemuan anggota di Muntilan, Jawa Tengah 11-16 Februari 2017, menyambut usulan tersebut dan mempertimbangkan untuk memanfaatkan peluang berpastoral lewat media televisi itu.

Menurut Romo Harry, HIDUP-TV sejak diluncurkan telah mengadakan siaran lewat streaming. Selanjutnya siaran akan dipancarkan lewat frekuensi Q-Band, yakni satelit yang bisa diterima dengan parabola di seluruh wilayah Indonesia.

Acara yang sudah ditampilkan adalah Renungan Harian (Oase Rohani Katolik), Embun Kehidupan (renungan rohani dilengkapi dengan fragmen kehidupan), Mutiara Hati (acara rohani anak-anak) dan Sosialisasi Ardas (Arah Dasar KAJ).

Setiap hari HIDUP-TV mengadakan siaran sekitar tiga jam. Dalam waktu dekat siaran ditingkatkan menjadi delapan jam.

Anggota Signis Indonesia terutama Komsos dari sejumlah keuskupan, berharap  karya audio-visual yang mereka produksi bisa disiarkan oleh media komunikasi  itu. Anggota Signis juga akan memanfaatkan televisi tersebut sebagai media pastoral bagi umat di keuskupan mereka masing-masing.

Signis Indonesia adalah asosiasi lembaga dan Komisi Komsos keuskupan-keuskupan yang memiliki kegiatan produksi dan pelatihan di bidang audio visual. Signis Indonesia merupakan anggota dari Signis Internasional, yang merupakan gerakan profesional di bidang media komunikasi dari Gereja Katolik untuk radio, televisi, film, video, pendidikan media, internet dan teknologi maju. Asosiasi dunia bidang media komunikasi itu kini telah menyebar di 100-an negara.

Menanggapi tawaran untuk mengembangkan Televisi Gereja Katolik Indonesia, Ketua Signis Indonesia, Romo Frans de Sales, menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing anggota. “Sebab sifat keanggotaan mereka adalah independen,” katanya.

Apabila anggota mau menyambut peluang itu, dipersilahkan karena Signis tidak bisa mengatasnamakan setiap anggota.

Romo Frans de Sales menambahkan, dengan adanya Televisi Gereja Katolik Indonesia yang diprakarsai oleh Komisi Komsos KAJ itu, diharapkan banyak produksi dari anggota Signis bisa disiarkan.

Dalam sidang pleno Signis Indonesia itu, Romo Harry Sulistyo menawarkan agar segenap anggota Signis dan Komisi Komsos keuskupan-keuskupan bersedia mengirimkan berbagai produksi audio-visual untuk disiarkan di televisi yang sedang dirintisnya.

“Dengan adanya televisi yang berskala nasional, kreativitas anggota Signis Indonesia akan terpacu untuk berkarya dan berproduksi,” kata Romo Frans de Sales.

Dia mengharapkan agar setiap anggota secara sendiri-sendiri menanggapi tawaran memanfaatkan media komunikasi itu untuk berpastoral. Mengingat jangkauan wilayah Indonesia yang luas, diharapkan televisi itu bisa melayani kebutuhan keuskupan-keuskupan di berbagai daerah.

“Pagi-pagi sekali, misalnya, televisi itu bisa siaran bagi penonton di Jayapura atau Papua karena di sana sudah mulai siang,” katanya.

Sedang Romo Harry Sulistyo menyatakan siap menggelar siaran secara nasional. Namun diakui masih ada proses yang mesti dilalui,  terutama hal-hal yang berkaitan dengan perizinan dan frekuensi. “Secara teknis, bisa dilakukan siaran percobaan,” katanya. Kebetulan siaran itu kini sudah bisa dinikmati penonton lewat streaming.
Baca SelengkapnyaHIDUP-TV Diusulkan Jadi Televisi Gereja Katolik Indonesia

Rabu, 08 Februari 2017

Hasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik

Hasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik
Camat Pajangan Yulius Suharta sempat ditolak sejumlah warga 'dengan alasan' ia beragama Katolik sementara mayoritas warga di kecamatan yang ia pimpin beragama Islam.

Bupati Bantul, Yogyakarta, akhirnya memutuskan untuk mempertahankan Yulius Suharta sebagai camat Pajangan setelah menyimpulkan penolakan yang sempat disuarakan sejumlah warga 'tidak mewakili seluruh masyarakat' Kecamatan Pajangan.

"Tidak ada alasan untuk memutasinya," kata Bupati Suharsono, Rabu (07/02).

Ia menjelaskan pihaknya melakukan survei dengan mendatangi secara langsung tiga desa yang secara adminsitratif berada di Kecamatan Pajangan, yakni Desa Sendangsari, Desa Guwosari, dan Desa Triwidadi.

Survei dilakukan secara acak dengan bertanya langsung kepada masyarakat apakah benar masyarakat menolak Yulius Suharta sebagai camat Pajangan karena memeluk Katolik.

Hasilnya, kata Suharsono, masyarakat tidak tahu adanya penolakan tersebut dan tidak mempersamasalahkan Yulius sebagai camat Pajangan. "Jadi tiga orang yang menolak (Yulius) itu tidak mewakili masyarakat," kata Suhartono.

Setelah melakukan survei, Suhartono mengumpulkan sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Pajangan. Ada 65 orang diundang Suhartono untuk melakukan kordinasi dan musyawarah. Suhartono juga mengundang tiga orang yang melakukan penolakan terhadap Yulius.

Namun pertemuan hanya dihadiri sekitar 60-an orang, karena tiga orang yang menolak Yulius sebagai camat Pajangan tidak hadir walau kehadirannya mereka sangat diharapkan untuk mengetahui alasan penolakan, seperti dilaporkan wartawan di Yogyakarta, Yaya Ulya, untuk BBC Indonesia.

Hasil musyawarah memutuskan, hampir 100% tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir menyetujui keputusan Suhartono dalam mengangkat Yulius sebagai Camat Pajangan dan tidak mempermasalahkan perbedaan agama.

"Kesimpulannya, mendukung keputusan saya," katanya. "Tokoh masyarakat dan tokoh agama yang mewakili masyarakat setuju dengan keputusan saya."

Suhartono menambahkan, sebelum menetapkan Yulius sebagai camat Pajangan pada Desember 2016, dirinya sudah melakukan penilian dan pengujian yang mendalam, ditambah dengan tes psikologi. "Jadi saya tidak ngawur, sudah sesuai prosedur," imbuhnya.

Pengangkatan Yulius sebagai camat di Bantul menjadi pembicaraan nasional setelah sejumlah warga mengakukan keberatan dengan alasan mayoritas warga di Kecamatan Pajangan adalah Muslim sementara Yulius adalah pemeluk Katolik. Para pemrotes mendesak bupati memindahkan Yulius ke kecamatan lain di Bantul.


Semua Fraksi DPRD Menolak Camat Katolik, Hanya PDI Perjuangan yang Mendukung

Keberatan disuarakan saat mendatangi kantor DPRD Bantul pada Jumat (06/01). Tiga hari kemudian, warga yang menolak Yulius bersama anggota DPRD Bantul dari Fraksi PKS, PPP, Golkar, PKB, PAN, dan Gerindra, mendatangi bupati untuk menyampaikan keberatan terhadap camat beragama Katolik.

Menanggapi keputusan bupati untuk tetap mempertahankan camat Pajangan, Suwandi, wakil ketua Komisi A DPRD Bantul dari Fraksi PPP, mengaku belum tahu. Ia mengatakan Komisi A akan membicarakan persoalan ini, karena yang menerima keluhan warga adalah Komisi A.

"Nanti akan kami bicarakan lebih lanjut," katanya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bantul, Timbul Harjana, menyatakan mendukung penuh keputusan bupati untuk tetap menetapkan Yulius sebagai camat Pajangan.

"Pancasila harga mati, Undang-Undang Dasar 1945 harga mati, kami sudah tidak mau diskusi lagi tentang itu. Pemimpin itu tidak memimpin golongan tertentu tapi memimpin semua yang ada di situ," jelasnya.

"Itu (penetapan Yulius sebagai Camat Pajangan) sudah benar, dan kami mendukung keputusan Bupati Bantul," katanya.

Camat Pajangan, Yulius, yang menjadi pusat polemik, saat dihubungi mengatakan tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. "Jadi sampai saat ini saya masih sebagai Camat Pajangan," katanya.

Bupati Bantul berharap masyarakat memahami keputusan pengangkatan Yulius berdasarkan uji kelayakan dan uji kompetensi, bukan berdasarkan agama.

Baca SelengkapnyaHasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik

Selasa, 17 Januari 2017

Banser NU Bantu Perbaiki Gereja Katolik yang Terbakar

Banser NU Bantu Perbaiki Gereja Katolik yang Terbakar

MENGKENDEK - Anggota Banser Toraja Raya membantu perbaikan Gereja Katolik Santo Stefanus Sampean yang terbakar pada Minggu (8/1/17), di Desa Ke'oe Tinoring, Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja.

"Seluruh pemuda Banser Toraja Raya diturunkan bantu perbaikan Gereja Katolik yang terbakar ini, sebagai wujud kekeluargaan dan simpati Banser Toraja Raya," kata Ketua Pemuda Banser Toraja Raya, Shidik, saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (10/1/2017) siang.

Bantuan berupa atap seng, juga bahan makanan bagi para orang yang sedang memperbaiki Gereja ini.

"Bantuan tenaga berupa anggota Banser yang mahir dalam membangun kita kerahkan, dan semuanya dilakukan dengan ikhlas", tambah Shidik.

Peristiwa kebakaran itu terjadi begitu cepat di gereja ini, Minggu (8/1/2017) siang.

Api berawal dari atas plafon kemudian merambat ke sejumlah bagian. Angin kencang menyebabkan api dengan cepat membakar seluruh isi gereja. Hampir seluruh isi gereja ludes terbakar.

Petugas pemadam kebakaran yang diturunkan untuk memadamkan kobaran api kesulitan akibat besarnya kobaran api yang begitu cepat menghaguskan gereja tersebut. Kerugian materil mencapai Rp 500 juta. Jemaat gereja ini ada 500 jemaat.

Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2017/01/10/pemuda-ansor-bantu-rehabilitasi-gereja-katolik-di-tana-toraja

Baca juga:
Baca SelengkapnyaBanser NU Bantu Perbaiki Gereja Katolik yang Terbakar

Sabtu, 14 Januari 2017

Diminta Ganti Camat Katolik, Bupati Bantul: Saya Tolak Mentah-Mentah

Diminta Ganti Camat Katolik, Bupati Bantul: Saya Tolak Mentah-Mentah

Bupati Kabupaten Bantul Suharsono, Provinsi DI Yogyakarta, menegaskan dirinya memilih Yulius Suharta sebagai camat Pajangan karena yang bersangkutan lolos uji kelayakan dan kepantasan, serta tidak melihat latar belakang agamanya.

Hal itu ditegaskan Suharsono setelah sekelompok orang yang mengaku warga Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY Yogyakarta, memaksa dirinya untuk mengganti Yulius. Mereka mengklaim mayoritas warga di kecamatan itu menolak dipimpin seorang camat beragama Katolik.

Suharsono juga menegaskan bahwa dirinya tidak bisa ditekan oleh orang atau kelompok lain yang memaksa dirinya untuk mengganti Yulius Suharta karena beragama Katolik.

Yulius Suharta telah dilantik sebagai camat Pajangan, di Pendopo Kabupaten Bantul, pada 30 Desember 2016. Yulius juga mengikuti acara serah terima jabatan dari camat lama, 6 Januari lalu.

"Saya tidak mau diatur orang lain. Saya ingin menetapkan sesuai dengan peraturan, menegakkan UUD 1945 dan Kebhinekaan Tunggal Ika, bahwa kita tidak boleh mengkotak-kotak dari agama satu dengan agama lainnya," kata Suharsono dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (12/01) siang.

Berikut petikan wawancara dengan Bupati Suharsono:

Anda mengatakan akan melakukan semacam survei ke warga Kecamatan Pajangan setelah muncul tuntutan sekelompok orang agar Anda mengganti Camat Yulius Suharta karena beragama Katolik. Apa hasil sementara temuan Anda?

Apa yang saya lakukan sudah sesuai prosedur mulai uji kelayakan dan kepatutan. Jadi saya melihat diterima karena memiliki kompetensi. Jadi, saya tidak melihat dari segi agama. Tapi (tiba-tiba) ada desakan segelintir orang (agar saya mengganti Yulius Suharta) yang beraudiensi di ruangan saya. Ya, saya (mengatakan kepada mereka) belum bisa mengambil kesimpulan. Saya minta waktu. Saya mulai survei (ke masyarakat) secara diam-diam. (Untuk menanyakan apakah) Betul-betul dari aspirasi rakyat atau hanya sekelompok orang yang tidak suka.

Jadi kalau nanti (hasil survei menunjukkan) hanya sekelompok kecil yang menentang (Camat Yulius Suharta), tidak akan saya perhatikan. Saya tetap berpegang teguh pada prinsip saya. Saya seperti itu. Walaupun kemarin mendesak saya untuk diganti, saya tolak mentah-mentah.

Saya tidak mau diatur orang lain. Saya ingin menetapkan sesuai dengan peraturan, menegakkan UUD 1945 dan Kebhinekaan Tunggal Ika, bahwa kita tidak boleh mengkotak-kotak dari agama satu dengan agama lainnya. Saya menginginkan kerukunan antar umat beragama di wilayah saya.

Kalau tadi dikatakan penunjukkan Yulius Suharta sepenuhnya alasan profesional, kenapa Anda harus meminta waktu untuk melakukan survei terkait tuntutan sekelompok orang itu. Kenapa tidak bersikukuh untuk tetap mempertahankan Yulius?

Kita harus lihat budaya yang ada di wilayah saya, khususnya di Bantul. Tidak bisa bersikeras seperti di Jakarta. Kalau di Jakarta harus tegas. Kalau saya harus berdasarkan bukti-bukti yang bisa mendukung (keputusan saya memilih Yulius Suharta). Makanya, saya tidak langsung mengiyakan permintaan itu. Tapi yang penting dasarnya saya ada. Kalau hasil survei kuat, tetap saya pertahankan (camat Yulius Suharta).

Pertanyaannya, kalau hasil survei itu menunjukkan mayoritas warga di Kecamatan Pajangan menolak Yulius, apakah Anda akan meralat putusan Anda sendiri?

Oh, tidak. Ada waktunya. Tidak akan langsung (diganti dan dipindahkan ke wilayah lain di Kabupaten Bantul), tapi akan saya coba dulu.

Pokoknya, tenang saja. Saya tidak akan membikin resah masyarakat di sini. Tapi itu bahan evaluasi saya, coba ini diterima dulu apa yang menjadi keputusan saya. Ini saya pikir adalah kompetensi. Jadi ini soal kemampuan pak camat yang baru. Saya tidak melihat agamanya.

Tapi, saya akan memberi pengertian (kepada warga Kecamatan Pajangan). Kalau perlu saya adakan pengajian akbar, dengan tokoh agama yang kondang dari Jateng, dari Solo, misalnya. Saya akan sosialisasi, kenapa saya pilih dia.

Apakah Anda sudah melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat setelah muncul penolakan terhadap Camat Pajangan yang baru?

Saya enggak perlu sampai ke pusat, wong itu keputusan saya kok, dan saya tidak melakukan pelanggaran. Kecuali kalau saya melakukan pelanggaran, saya akan konsultasi dengan pemerintah pusat.

Jadi istilahnya, seperti anak dalam keluarga, saya tidak akan berbuat cengeng. Kalau ada apa-apa, saya laporan ke pusat. Tidak. Saya akan tangani sendiri. 

Seperti kasus-kasus agama (yang baru saya tangani), sudah 10 tahun tidak selesai. Saya tangani sendiri - saat saya menjabat - dalam tiga bulan langsung selesai. Dalam kasus agama, saya dua kali didemo oleh Front Pembela Islam (FPI), saya hadapi sendiri. Alhamdulillah, semuanya tidak ada masalah.

Yang penting, yang saya lakukan sudah sesuai prosedur, sesuai peraturan perundang-undangan. Saya bekerja dengan aturan, jadi saya tunjukkan manakala ada orang yang tidak puas dengan kebijakan saya.

Jadi, hasil survei perihal camat Pajangan akan diumumkan awal bulan Februari ini?

Ya, saya (melakukan survei) secara diam-diam, saya teliti sendiri. Seperti yang saya lakukan waktu kampanye atau sosialisasi. Lawan saya dulu berat sekali. Saya tidak diprediksi, (tapi) saya menang. Saya punya strategi sendiri. Saya kerja sendiri, tidak melibatkan orang lain. Tidak punya tim pemenangan atau tim sukses, tapi sejak dulu saya melakukan survei. Jadi saya bilang awal bulan Februari akan ada kesimpulannya. Jadi saya minta waktu untuk langsung ke lapangan.

Dengan demikian, survei itu untuk memastikan apakah warga mayoritas di kecamatan itu menolak atau menerima Camat Yulius Suharta?

Ya, dan dari tiga kelurahan, kemarin saya baru sempat melakukan survei di satu kelurahan. Kebanyakan mereka tidak tahu ada kasus Camat Yulius. Pak lurahnya juga tetap mendukung kebijakan saya.

Mereka banyak yang tidak tahu, berarti yang komplain kepada saya itu hanya kelompok Islam fanatik, dan tidak banyak pendukungnya. Jadi misalnya saya lepas pun, belum tentu mereka bisa menggerakkan masyarakat di sini. Nanti malam (Kamis, 12 Januari), saya survei sendiri, naik motor. Tidak semua orang tahu bahwa saya bupati Bantul. Kebanyakan tidak tahu, mereka hanya tahu nama saya.

Baca SelengkapnyaDiminta Ganti Camat Katolik, Bupati Bantul: Saya Tolak Mentah-Mentah

Rabu, 04 Januari 2017

H Agus Salim: Alhamdulillah, Adik Saya Punya Agama Baru, Katolik

H Agus Salim: Alhamdulillah, Adik Saya Punya Agama Baru, Katolik

Heboh-heboh berita murtadnya aktor pemeran KH Achmad Dahlan, Lukman Sardi, dari Islam menjadi Kristen, ternyata tak hanya dialami saat ini saja.

Jauh sebelumnya, Pahlawan Nasional yang juga ahli Agama Islam, H Agus Salim, mengucapkan Alhmadulillah saat ditanyakan tentang adiknya, Chalid Salim, memeluk agama Katolik, keluar dari Islam. Sebelumnya, Chalid merupakan Atheis sejati.

Ceritanya, sekali waktu, seorang Belanda pernah bertanya kepada Haji Agus Salim, “Zeg Salim, bagaimana itu, adik Anda masuk agama Katolik?”

“God zij dank, Alhamdullilah, ia sekarang lebih dekat dengan saya,” jawabnya santai.

“Mengapa Anda malah berterima kasih kepada Tuhan?” tanya orang Belanda itu semakin keheranan.

“Dia dulu orang komunis, tidak percaya Tuhan, sekarang dia percaya Tuhan,” tukasnya kembali.

Adik Haji Agus Salim dimaksud orang Belanda itu adalah Chalid Salim. Selama 15 tahun, Chalid menjadi Digulis (istilah bagi yang dibuang ke Digul, Papua), karena dituduh komunis.

Chalid dijatuhi hukuman pembuangan ke Digul karena tulisannya yang tajam di Pewarta Deli, atas sikap polisi kolonial dalam menumpas pemberontakan komunis tahun 1926 di Sawalunto, Sumatera Barat dan di beberapa kota di Pulau Jawa.

Sebelum di Pewarta Deli, Chalid memulai karir jurnalistiknya dari mingguan Halilintar Hindia di Pontianak, yang banyak mengadopsi asas PKI. Lalu pindah ke majalah Proletar di Surabaya yang juga "merah."

Pada Juli 1928, vonis dijatuhkan kepada Chalid, “Sebagai orang yang ‘berbahaya bagi ketenteraman dan ketertiban negeri’ maka saya dibuang ke Digul sebagai nomor 925,” seperti ditulisnya dalam memoar Lima Belas Tahun Digul.

Meski ayahnya, Sutan Mohammad Salim yang bekerja sebagai anggota Landraad (pengadilan negeri) Medan berupaya membebaskannya, Chalid tetap dibuang.

Selama di Digul, paman dari Emil Salim ini mulai meninggalkan sikap ateisnya. Mulanya dia menggandrungi ajaran teosofi, dengan membaca karya Annie Besant, Krishnamurti dan W.C. Leadbeater.

Namun kemudian tertarik pada Katolik, sebab kedekatannya dengan Soekardjo Prawirojoedo, Digulis yang terlibat peristiwa kapal Zeven Provincien, sudah lebih dulu dibaptis dalam Katolik Roma.

Chalid akhirnya berkenalan dengan pastor Mauwese. Dia pun mulai mengakrabi aktivitas gereja. Keyakinannya semakin kuat untuk memeluk agama Katolik.

Ia pun meminta Mauwese mengajarkan langkah untuk masuk Katolik. Namun Mauwese tak mau begitu saja meluluskan permintaan Chalid beralih iman.

“Tidak sadarkah Anda, tuan Salim, konsekuensi dari ini? Ada kemungkinan anak-keluarga Anda yang menganut Islam akan memutuskan segala hubungan kekeluargaan,” tanya Mauwese.

Chalid pun langsung menjelaskan, ia telah berpikir matang. Ia pun mulai belajar katekismus. Mauwese juga menghadiahinya buku karangan Thomas A. Kempis yang berjudul Imitatione Christi, sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Maka, pada 26 Desember 1942, Chalid dibaptis oleh pastor Mauwese. Namanya pun bertambah menjadi Ignatius Fransiscus Michael Chalid Salim.

Langkah Chalid ini ternyata didukung oleh sanak keluarganya. Saat Haji Agus Salim menemuinya di Belanda, Agus Salim justru senang mendengar Chalid memeluk Katolik.

Baca SelengkapnyaH Agus Salim: Alhamdulillah, Adik Saya Punya Agama Baru, Katolik

Jumat, 30 Desember 2016

PMKRI: Kalau Habib Rizieq Tak Paham, Jangan Bicara Soal Yesus

PMKRI: Kalau Habib Rizieq Tak Paham, Jangan Bicara Soal Yesus

Kali ini PMKRI mulai terusik dengan ucapan si Rizieq. Organisasi kemahasiswaan ini telah lama berdiri sejak tahun 1947 seangkatan dengan HMI, GMNI, GMKI, PMII atau lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Perhimpunan Mahasiswa Katolik melahirkan banyak alumni yang menjadi pemimpin di Republik ini serta berperan terlibat dalam sejarah perkembangan Negara Republik Indonesia.

Jarang sekali organisasi kemahasiswaan sekelas ini mau membahas hal-hal teknis terutama yang berkaitan dengan keagamaan dan keimanan seseorang. Karena urusan agama adalah urusan masing-masing pribadi kepada Sang Penciptanya.

Tapi jika berkaitan dengan politik kebangsaan, kebhinekaan, negara kesatuan. Maka PMKRI tampil melalui kader-kadernya, untuk selalu memberi pencerahan tentang politik kebangsaan di Republik ini.

Tapi dalam kasus ini, seperti apa yang telah dilaporkan oleh Ketua Umum PP PMKRI, Angelo Wake Kako, seorang mahasiswa yang berasal dari Flores, dimana Flores mayoritas penduduknya beragama Katolik. Justru mereka telah melaporkan seorang Rizieq karena diduga telah melecehkan umat Kristen melalui isi ceramahnya di Pondok Kelapa, Jakarta Timur.

"Kita wajib menghargai perbedaan itu dengan tidak mencampur terlalu jauh apa yang telah menjadi ruang privat agama orang lain. Terkait dengan keimanan kristiani itu, yang tahu hanya orang kristiani, yang tahu hanya orang Katolik. Siapapun dia, kalau tidak tahu mendingan diam," tegas Angelo.

Tentu sikap ini, artinya menunjukkan bahwa tingkat kesabaran seorang Ketua PP PMKRI telah mulai gregetan diambang batas karena melihat pola tingkah si Rizieq yang semakin kebablasan yaitu membahas keimanan di luar ranahnya. Tidak hanya membahas, tapi justru sudah menghina Ketuhanan Yesus.

Menurutnya, umat kristen merasa tersakiti dengan ucapan Imam Besar FPI Rizieq Shihab terkait Tuhan tidak beranak dan diperanakkan dan dinilai telah menistakan keyakinannya. Oleh sebab itu Angelo merasa memiliki kewajiban untuk melaporkan itu ke pihak kepolisian. PMKRI juga melaporkan sejumlah orang yang mengunggah ceramah itu di Twitter dan Instagram.

“Ucapan Rizieq sudah jelas menistakan agama kami dan sudah dikonsumsi publik, saya dapatnya dari Instagram. Kami tak masalah jika mereka (FPI) mau lapor balik. Karena ini berkaitan dengan iman saya.” tegas Angelo.

Kita tahu bahwa melecehkan, menyerang iman Kristiani adalah bukan hal baru, mulai sejak dulu seperti pembahasan perdebatan Injil Yudas, sampai ke film Davinci code dan sebagainya. Bahkan sampai terakhir ceramah-ceramah yang mempertanyakan kelahiran Yesus, merupakan hal biasa.

Karena iman seorang Kristen sudah kebal atas serangan-serangan model seperti itu. Apalah kalau hanya sekadar untuk memancing, memprovokasi murahan seolah mencoba membangkitkan agar umat menjadi emosi.

Jadi janganlah khawatir, tidak akan pernah terjadi adanya demo-demo besar dari orang Kristen yang akan menuduh seseorang itu telah melakukan penistaan agama. Serta rasanya juga tidak akan mungkin terjadi bahwa pastor-pastor Kristen akan berteriak-teriak kesana-kemari seolah agar memaksakan kehendaknya supaya si penista segera diadili.

Lalu bagaimana dengan gugatan PMKRI, ya sebagai warganegara yang Katolik yang terhimpun dalam Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Tentu boleh-boleh saja menggugat warga negara lainnya secara pribadi atas perilaku ucapan atau mulut seseorang yang telah mempertanyakan atau dianggap telah menistakan sebagian dari iman kepercayaan mereka.

Harapannya sebagaimana Ahok yang berjiwa besar, menghadapi panggilan polisi, lalu memenuhi panggilan pengadilan dengan kepala tegak. Nah untuk kasus yang satu ini sebaiknya bersifatlah gentlemen. Hadapilah gugatan dengan gentlemen pula. Jangan sampai berteriak paling kencang kepada Ahok sebagai penista Agama. Tapi diri sendiri yang jelas dan nyata terekam oleh video ada ucapan yang disampaikan, tapi masih saja mencoba berkelit mencari pembenaran diri.

Sekali lagi melalui tulisan ini dihimbau marilah sikap gentlemen "Berani berkata, maka berani pula mempertanggung-jawabkan ucapannya. Berani menuduh orang lain menista, maka harus berani juga mengakui ucapan dan perilakunya sendiri."

Jangan sembunyi, seperti mau tiarap, sambil mencoba memutar balikkan logika seolah menghindari atau bahkan tidak mengakui akan ucapkan tersebut sambil mencari dalil-dalil pembenaran. Bahkan kabarnya seolah malah justru mau menuntut balik melaporkan para pimpinan PP PMKRI.

Baca SelengkapnyaPMKRI: Kalau Habib Rizieq Tak Paham, Jangan Bicara Soal Yesus

Kamis, 29 Desember 2016

Setelah PMKRI, Kini Giliran Mahasiswa Muslim Laporkan Habib Rizieq ke Polisi

Setelah PMKRI, Kini Giliran Mahasiswa Muslim Laporkan Habib Rizieq ke Polisi

Sebelumnya, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) telah dilaporkan oleh Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) karena dianggap telah menistakan agama. Hari Selasa (28/12/2016), Habib Rizieq kembali dilaporkan ke polisi karena dituduh melakukan ujaran kebencian yang dapat memecah belah kerukunan antar umat beragama.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Student Peace Institute melaporkan Rizieq berdasarkan rekaman video yang menyebar di media sosial.

“Kami melaporkan saudara Habib Rizieq Shihab atas tuduhan telah menyebarkan di depan publik ujaran-ujaran kebencian yang kemudian berpotensi memecah belah kerukunan beragama,” ujar Doddy Abdallah, selaku pihak pelapor, saat ditemui di Polda Metro Jaya, Jakarta.

Menurut Direktur Eksekutif Student Peace Institute tersebut, Habib Rizieq tidak sepatutnya mengucapkan kalimat tersebut. Ia menganggap pernyataan yang dilontarkan ke jamaahnya itu adalah bentuk mencampuri agama orang lain.

“Dia (Rizieq) sangat tidak pantas dianggap sebagai representasi umat Muslim, kemudian mengaku sebagai ulama bersorban, berbaju Muslim, mengucapkan kata-kata yang menyinggung agama lain. Dari pihak Muslim sendiri merasa tersinggung,” ujarnya.

Ia menegaskan jika laporannya kali ini berbeda dengan yang dilaporkan oleh PMKRI sebelumnya. Pada laporan kali ini berfokus pada ujaran kebencian.

“Ini beda. Yang mendatangi kemarin itu dari PMKRI. Kami fokus pada ujaran kebencian. Disitu ia jelas mengolok ajaran agama lain. Disitu ia mengatakan kalau tuhan beranak siapa yang jadi bidannya?” jelas Doddy.

Ia juga menegaskan jika pernyataan yang dikeluarkan oleh Habib Rizieq bukanlah representasi umat muslim secara keseluruhan.


“Kami datang sebagai mahasiswa Muslim. Kami putuskan untuk ikut melaporkan Rizieq agar dia tidak dianggap representasi umat Islam. Kami dari pihak Muslim sendiri tersinggung,” kata Doddy.

Pihak kepolisian sendiri telah mengkonfirmasi adanya laporan tersebut.

“Kita lakukan penyelidikan, apakah itu nanti akan memeriksa beberapa saksi-saksi. Saksi ahli IT, saksi ahli pidana, dan sebagainya. Kita mengumpulkan semuanya, baru kita lakukan gelar perkara,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jl Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Ketika ditanya wartawan mengenai proses tentang kasus ini akan dilakukan gelar perkara secara terbuka atau tidak, Argo tidak bisa memastikannya.

“Kita tunggu saja bagaimana nanti akan kita lakukan,” katanya.

Laporan tersebut diterima oleh petugas Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu dengan nomor LP/6367/XII/2016/PMJ/Ditreskrimsus.

Baca SelengkapnyaSetelah PMKRI, Kini Giliran Mahasiswa Muslim Laporkan Habib Rizieq ke Polisi

Rabu, 28 Desember 2016

Ketika Tuhan Yesus Dihina Habis-habisan oleh Habib Rizieq

Ketika Tuhan Yesus Dihina Habis-habisan oleh Habib Rizieq

Saya mendapat transkrip lengkap ceramah ketua FPI Muhammad Rizieq Shihab berdurasi 4:32 yang dilaporkan oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Dalam laporannya ke Bareskrim, PMKRI menuduh Rizieq menistakan agama melalui media elektronik dengan Pasal 156 dan 156a KUHP serta UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE. Tambah PMKRI, pihaknya merasa terhina, merasa tersakiti oleh ucapan Rizieq Shihab dalam ceramahnya di Pondok Kelapa pada hari Minggu (25/12/2016). Penggalan kalimat yang membuat PMKRI tersinggung adalah "kalau Tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?"

Transkrip yang saya dapatkan telah saya verifikasi berulang kali termasuk pembetulan redaksi. Pemakaian huruf kapital berdasarkan kebiasaan. Jikapun ada kata-kata yang tidak jelas, dipastikan itu tidak mengurangi makna pernyataan Rizieq. Karena saya bukan Buni Yani hehehe..

Tujuan transkrip ini dibuat adalah untuk referensi apakah tuduhan penistaan agama terhadap ketua FPI itu benar atau tidak, seperti halnya tuduhan penistaan agama terhadap Ahok.

Transkrip yang saya buat adalah semata untuk membuat terang segalanya, untuk kebaikan sesama dalam semangat kebhinekaan. Transkrip ini dibuat agar semua pihak berfikir jernih, mempertahankan netralitas dan tidak dibakar amarah dalam menyikapi perkembangan terbaru ini.

========================================


TRANSKRIP CERAMAH KETUA FPI. DURASI 4.32. PENGUNGGAH DIMAS COKRO PAMUNGKAS. LINK : https://www.youtube.com/watch?v=aeto5tWOcSc .
HR = Habibs Rizieq. A = Audience

HR : Soal.. soal apa namanya.. Natal.. Saudara begitu juga sampaikan kepada mereka kalau kita ketemu.. Kalau mereka dateng mengucapkan.. Ustad atau Habib Selamat Natal ya.. Langsung aja kita sampaikan, Maaf, saya ini orang Islam gak boleh ikut merayakan Natal. Kalian silahkan merayakan Natal. Silahkan bahagia. Silahkan senang-senang. Tapi jangan ajak umat Islam merayakan Natal. Betul?

A : Betul..!!

HR : Kalau ini kita jelaskan, orang Kristen yang gak tau jadi tahu.. saudara.. Jangan dikit-dikit merasa gak enak dikit-dikit merasa gak enak.. gak ada .. kasih aja sudah.. Nah kalau sudah dikasih tahu juga masih bandel.. saudara...

A : Bakar..!!!

HR : Hush...tukangnya (tidak jelas) bakar-bakar.. dipikir jagung.. (audience tertawa) Saudara, kalau masih dia tanya.. kenapa sih gak boleh.. saudare sampaikan saja.. itukan ritual agama anda.. Lakumdinukum Waliyadin..gak ngerti juga.. dikasih tahu juga.. itukan Natal itukan dalam terminologi artinya kan hari lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan.. Jadi kalau anda mengucapkan Selamat Natal kepada saya berarti selamat hari lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan.. itu yang saya tidak boleh saya jawab.. Gak boleh saya benarkan akidah tersebut. Karena bagi kami Yesus Kristus atau Nabi Isa Allahisalam itu adalah hamba Allah. Utusan Allah. Bukan Anak Tuhan. Betul??

A : Betul..!!

HR : Betul... Masih bandel juga..

A : Bakar...!!!

HR : Hush.. (tidak jelas).. cuma bakar-bakar aja lu.. Kalau masih bandel juga tetep ngotot.. Habib Selamat Natal.. saya jawab Lam yalid walam yulad.. (audience tertawa).. begitu jawabnya.. setuju?

A : Setuju..!!

HR : Setuju ?? (audience : setuju) Lho kenapa dijawab begitu..kan dia mengatakan Habib Selamat Natal.. artinya Selamat hari lahir Yesus Kristus sebagai anak Tuhan.. saya jawab Lam yalid walam yulad.. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan... betul.. (audience tertawa) setuju ga??

A : Setuju..!!!

HR : Setuju gak??

A : Setuju..!!

HR : Ada yang protes, Habib jangan begitu nanti ini kan mengganggu keharmonisan antar umat beragama.. hiyeee, kadal kebon!

A : tertawa...

HR : Ada lagi yang ngomong Habieb jangan begitu nanti mereka tersinggung.. hiyeee, cacing pasir!

A : tertawa..

HR : Jawab jangan?

A : Jawab...

HR : Eh, mustinya yang tersinggung itu saya bukan dia. Dia mengucapkan kepada saya Habib Rizieq Selamat Natal. Saya tau artinya selamat hari lahir Yesus Kristus Anak Tuhan. Sebagai Anak Tuhan. Mustinya saya tersinggung dong. Untung gue ga kepret. Lhaa, kalo kita tersinggung kan mustinya kita kepret. Betul?

A : Betul.. tertawa..

HR : Kurang ajar lu, Anak Tuhan dari mana? Kalo Yesus Anak Tuhan bidannya siapa?

A : Tertawa
(Video sepertinya diedit)

HR : Kira-kira paham gak?

A : Paham...

HR : Ayo umat Islam boleh ikut Natal gak?

A : Gak..

HR : Boleh ikut Natal gak?

A : Gak..

HR : Tapi kita juga gak boleh ganggu mereka Natal.. betul?

A : Betul..

HR : Boleh ganggu mereka Natal??

A : Gak..

HR : Boleh terror mereka Natal??

A : Gak..

HR : Boleh ancam mereka Natal??

A : Gak..

HR : Gak boleh.. jangan teror, jangan ancam, jangan ganggu. Tapi ingat, tidak boleh kita ikut mengucapkan Selamat Natal, apalagi ikut merayakan dengan mereka di Gereja. Nauzubillah min zalik.. Baik.. setelah saya sampaikan begini.. kira-kira semua jelas tidak?

A : Jelas..

HR : Paham tidak??

A : Paham!!

HR : Siap bangkit? Siap melawan media-media musuh Islam?

A : Siap...

HR : Betul??

A : Betul..

HR : nah, karena itu doakan,, kami dari FPI sedang merintis untuk membangun kekuatan media.. kami akan membangun aplikasi FPI yang serba guna yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat se Indonesia.. Dan kami sedang mempersiapkan server sendiri dan tidak mau numpang server di tempat orang sudah.. bahkan kalau program ini berhasil dengan izin Allah, Insya Allah dalam 5 atau 10 tahun kalau perlu kita umat Islam punya satelit sendiri saudara.

A : Amin...

HR : Takbir..!!

A : Allahu Akbar...

Baca SelengkapnyaKetika Tuhan Yesus Dihina Habis-habisan oleh Habib Rizieq
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...