Sabtu, 28 Januari 2012

Bersatu dengan Yesus dalam Gereja Katolik

KOMUNI KUDUS: BERSATU DENGAN YESUS KRISTUS SERTA SAUDARI DAN SAUDARA KITA


Misa adalah serentak, dan tidak terpisahkan, kenangan kurban di mana kurban salib hidup terus untuk selama-lamanya perjamuan komuni kudus dengan tubuh dan darah Tuhan. Upacara kurban Ekaristi diarahkan seluruhnya kepada persatuan erat dengan Kristus melalui komuni. Menerima komuni berarti menerima Kristus sendiri, yang telah menyerahkan diri untuk kita (KATEKISMUS GEREJA KATOLIK [KGK], 1382).

Dalam Perayaan Ekaristi, pada saat komuni, kita menyambut hosti yang sudah dikonsekrasikan – yang kita imani sebagai Tubuh Kristus. Paus Santo Leo Agung [+ 461] yang juga seorang pujangga Gereja, pernah menulis: “Keiikutsertaan kita dalam tubuh dan darah Kristus hanya cenderung untuk membuat kita menjadi apa yang kita makan” (Sermon 12 tentang Sengsara Kristus). Sebagaimana kita akan lihat dalam uraian di bawah, pandangan Paus Santo Leo Agung ini meneguhkan pendapat dari Santo Augustinus [354-430].

Dalam komuni, kita menjadi satu roh dengan Yesus.
Sebuah kebenaran seperti ini membawa kita kepada suatu kesimpulan penting: Tidak ada suatu saat atau pengalaman pun dalam kehidupan Kristus yang tidak dapat kita hidupkan kembali dan syeringkan dalam komuni kudus; pada kenyataannya, keseluruhan hidup-Nya hadir dan diberikan dalam tubuh dan darah-Nya. Tergantung pada disposisi kita atau kebutuhan sementara kita, maka kita dapat berdiri di samping Yesus yang sedang berdoa, Yesus yang sedang digoda Iblis, Yesus yang sedang letih-lelah, Yesus yang mati di kayu salib, dan Yesus yang bangkit dari antara orang mati – bukan sebagai dalih mental, melainkan karena Yesus yang sama tetap eksis dan hidup dalam Roh.


Kebenarannya adalah, bahwa persekutuan (Latin: Communio) Ekaristis melampaui segala kemampuan pemikiran manusia untuk membuat perbandingan. Berikut ini tentunya adalah kesatuan yang sangat erat; pokok anggur dan ranting-rantingnya berbagi/syering kehidupan yang sama. Namun, karena bersifat tak bernyawa, baik pokok anggur maupun ranting-rantingnya tidak menyadari adanya kesatuan ini! Kadang-kadang digunakan contoh pasangan suami-istri yang membentuk “satu daging.” Akan tetapi hal ini adalah pada suatu tataran yang berbeda – yaitu dalam tingkat daging dan bukan tingkat roh. Sepasang suami-istri dapat membentuk satu daging (Kej 2:24), namun tidak dapat membentuk satu roh. Santo Paulus menulis, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia” (1Kor 6:17). Kekuatan dari persekutuan Ekaristis tepatnya adalah bahwa kita menjadi satu roh dengan Yesus, dan “satu roh” ini pada akhirnya berarti Roh Kudus!

Dalam komentarnya atas satu ayat dari Kitab Kidung Agung, Santo Ambrosius [c.334-397] menulis, “Pada kenyataannya, setiap kali anda minum [darah Kristus], …… anda menjadi dimabukkan secara spiritual. Santo Paulus mengingatkan kita, ‘Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh’ (Ef 5:18); siapa saja yang menjadi mabuk anggur akan berjalan terhuyung-huyung (sempoyongan) dan menjadi tidak mantap, akan tetapi siapa saja yang dipenuhi dengan Roh berakar pada Kristus. ‘Kuduslah pemabukan ini yang membawa ketenangan hati’” (Tentang Sakramen-sakramen V,17).

Dalam hal mabuk yang disebabkan oleh anggur atau obat-obatan, seorang manusia dibuat menjadi hidup “di bawah” tingkat rasional, hampir sama dengan binatang saja. Sebaliknya mabuk secara spiritual membuat dia menjadi hidup melampaui akal budi, pada horison Allah. Setiap komuni harus berakhir pada suatu ekstase. Bukan ekstase dalam rupa fenomena luarbiasa yang kadang-kadang dialami oleh para mistikus, melainkan secara sederhana “keluar” dari diri kita, kenyataan – seperti ditulis oleh Santo Paulus – bahwa “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20).


Perendahan diri Tuhan Yesus.
Komuni membuka beberapa pintu secara berturut-turut bagi kita. Pertama-tama kita semua masuk ke dalam hati Kristus, lalu melalui Dia, ke dalam hati Trinitas sendiri (Allah Tritunggal Mahakudus). Namun begitu kita merefleksikan kebaikan Allah kepada kita semua, kita dapat dilanda dengan rasa sedih yang mendalam. Apa yang telah kita lakukan terhadap tubuh Kristus? Bukankah aku pun turut ambil bagian dalam melakukan kekerasan terhadap Allah? Kita melakukan kekerasan terhadap-Nya dengan melecehkan janji yang telah mengikat dia untuk datang ke atas altar dan ke dalam hati kita. Setiap hari kita “mewajibkan” Dia untuk melakukan tindakan cintakasih agung ini, namun kita tidak memiliki kasih. Betapa baik hati kita harus memperlakukan seorang anak kecil yang tidak dapat membela dirinya sendiri; namun kita memperlakukan Yesus dengan tidak hormat, Dia yang dalam  misteri-Nya tidak dapat membela diri-Nya dari ulah kita.

Santo Fransiskus dari Assisi dalam “Petuah-petuah”-nya menulis: “Lihatlah, setiap hari Ia merendahkan diri, seperti tatkala Ia turun dari takhta kerajaan ke dalam rahim Perawan. Setiap hari Ia datang kepada kita, kelihatan rendah; setiap hari Ia turun dari pangkuan Bapa ke atas altar di dalam tangan imam. Seperti dahulu Ia tampak pada para rasul dalam daging yang sejati, demikian juga kini Ia tampak pada kita dalam roti kudus” (Pth I:16-19). Dalam “Surat kepada Seluruh Ordo”, orang kudus ini juga menulis: “Kalau Santa Perawan begitu dihormati – dan hal itu memang pantas – karena ia telah mengandung Yesus di dalam rahimnya yang tersuci; kalau Santo Yohanes Pembaptis gemetar dan tidak berani menjamah ubun-ubun kudus Allah; kalau makam, tempat Ia dibaringkan selama beberapa waktu begitu dihormati: betapa harus suci, benar dan pantaslah orang yang dengan tangannya menjamah-Nya, dengan hati dan mulut menyambut-Nya, serta memberikan-Nya kepada orang lain untuk disambut” (SurOr 21-22). Hal ini mengingatkan kita pada apa yang ditulis dalam Didakhe pada awal sejarah Gereja berkaitan dengan saat menyambut komuni: “Bila ada orang yang kudus, hendaklah ia datang! Tetapi yang tidak, biarlah bertobat! Maranatha. Amin” (Didache X:6).



Menolak Saudari dan Saudaraku berarti menolak Kristus sendiri.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus menulis: “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:16-17). Kita sudah terbiasa untuk menafsirkan kata-kata Paulus tadi sebagai partisipasi dalam keseluruhan diri Kristus melalui bagian-bagian yang membentuk diri Kristus termaksud: tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya dan keilahian-Nya. Ide seperti ini berdasarkan pada filsafat Yunani yang biasa membagi manusia ke dalam tubuh, jiwa, dan roh. Akan tetapi, dalam bahasa alkitabiah kata “tubuh” dan “darah” mengindikasikan hidup Kristus secara keseluruhan, atau lebih baik lagi … kehidupan dan kematian-Nya.

Dalam petikan bacaan di atas, kata “tubuh” juga muncul dua kali; yang pertama menunjuk kepada tubuh sesungguhnya dari Kristus, dan yang kedua kalinya menunjuk kepada “tubuh mistik-Nya”, yaitu Gereja. Santo Augustinus menulis, “Setelah menanggung sengsara-Nya, Tuhan memberikan kepada kita tubuh-Nya dan darah-Nya dalam sakramen, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi hal-hal ini. Pada kenyataannya kita adalah tubuh-Nya dan melalui belas kasih-Nya kita adalah apa yang kita terima” (Sermon Denis 6). Kita menjadi apa yang kita terima, Yesus Kristus, sang Anak Domba Allah!


Para bapak Konsili Vatikan II menyatakan: “Dengan ikut serta dalam kurban Ekaristi, sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani, mereka mempersembahkan Anak Domba ilahi dan diri sendiri bersama dengan-Nya kepada Allah; demikianlah semua menjalankan peranannya sendiri dalam perayaan liturgis, baik dalam persembahan maupun dalam komuni suci, bukan dengan campur baur, melainkan masing-masing dengan caranya sendiri. Kemudian, sesudah memperoleh kekuatan dari tubuh Kristus dalam perjamuan suci, mereka secara konkret menampilkan kesatuan Umat Allah, yang oleh sakramen mahaluhur itu dilambangkan dengan tepat dan diwujudkan secara mengagumkan” (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 11). Dengan perkataan lain, apa yang dilambangkan secara kelihatan oleh roti dan anggur – melalui persatuan banyak bulir gandum dan buah anggur – adalah kenyataan bahwa sakramen Ekaristi mencapai tingkat interior dan spiritual. Tercapainya itu tidaklah secara otomatis, melainkan bersama serta seiring dengan komitmen kita. Artinya: “Apabila aku menerima Ekaristi, maka aku tidak boleh lagi bersikap tidak peduli dengan para saudari-saudaraku; aku tidak dapat menolak mereka tanpa aku menolak Yesus sendiri.”

Orang yang berpura-pura penuh gairah akan Kristus pada waktu menerima Komuni Kudus, padahal dia baru saja menyakiti hati seorang saudari atau saudaranya tanpa memohon maaf, atau berniat untuk memohon maaf, adalah seperti seseorang yang bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa; merangkulnya erat-erat, menicumnya dengan penuh afeksi tetapi tidak menyadari dia menginjak kaki temannya itu keras-keras dengan sepatu yang alasnya berpaku-paku! Kaki-kaki Kristus adalah anggota tubuh-Nya juga, teristimewa orang-orang yang paling miskin, paling dina, “wong cilik”. Kristus sangat mengasihi “kaki-kaki” itu dan pantas berteriak, “Engkau menghormati-Ku dengan sia-sia!”


Kristus yang kuterima dalam komuni adalah Kristus yang tak terbagi-bagi. Dan Kristus yang diterima saudari atau saudara yang berbaris di depan atau di belakangku adalah juga Kristus yang tak terbagi-bagi. Kristus yang kuterima adalah Kristus yang sama dengan yang diterima oleh saudari atau saudaraku. Dengan demikian Kristus mempersatukan kita satu sama lain sementara Dia mempersatukan semua umat dengan diri-Nya. Para anggota Gereja perdana merasa satu dalam Kristus: “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2:42).

Santo Augustinus mengingatkan kita bahwa tidak ada roti apabila bulir-bulir gandum tidak digiling terlebih dahulu sehingga menjadi tepung gandum. Bagi kita kiranya tidak ada yang lebih baik daripada “kasih persaudaraan” sebagai “penggiling” kita, teristimewa apabila kita adalah anggota-anggota suatu komunitas tertentu – saling membantu, saling mendukung, saling menegur dalam kasih, dll. dalam semangat persaudaraan sejati, walaupun masing-masing berbeda dalam watak pribadi, asal-usul daerah, latar belakang pendidikan dlsb. Dengan berjalannya waktu, alat penggiling itu akan menghaluskan kekerasan yang ada dalam hati kita masing-masing.

Persiapan untuk menyambut Komuni Suci.
Konsekrasi adalah saat penting dalam Perayaan Ekaristi, karena pada saat itu karya keselamatan Kristus dihadirkan secara sakramental. Komuni juga merupakan saat penting, karena saat itu kita menerima misteri keselamatan Kristus. Sejak doa “Bapa Kami” persiapan komuni menjadi semakin intensif. Teks-teks liturgis semakin jelas mengungkapkan apa itu komuni. Yang terpenting adalah bahwa kita memahami maksud Kristus, maksud diadakannya Sakramen Mahakudus, dan tujuan perintah-Nya: “Ambillah dan makanlah”. Kita tahu bahwa menyambut komuni saja belumlah cukup, belum menjawab harapan Kristus.

Apakah yang diharapkan oleh Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini terkandung dalam sebuah doa sebelum komuni, tetapi sayang, dalam aturan dikatakan bahwa doa itu diucapkan “dalam batin” imam saja, padahal dalam doa itu maksud terdalam komuni dirumuskan dengan jelas: “Ya Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, karena kehendak Bapa dan kerjasama Roh Kudus, dunia telah Kauhidupkan dengan kematian-Mu; bebaskanlah kami dari segala kejahatan dan dosa dengan Tubuh dan Darah-Mu yang mahakudus ini; buatlah kami selalu setia kepada perintah-perintah-Mu dan janganlah kami Kauizinkan terpisah dari-Mu” (A. Lukasik SCJ, hal. 114). Doa ini dihaturkan langsung kepada Tuhan Yesus Kristus. Imam memohon agar Kristus yang karena kehendak Allah dan kerjasama Roh Kudus, melalui penderitaan sengsara dan maut, memberi hidup baru kepada dunia, sudi memberi kepada kita juga umat yang berkumpul di sekeliling altar, hidup yang baru itu. Dalam doa itu imam juga memohon agar matilah manusia lama dalam diri kita dan tidak akan pernah terjadi perpisahan dengan diri-Nya, supaya hidup baru itu bertahan, dan kita semua dikuatkan oleh Tubuh dan Darah Kristus serta dilindungi oleh perintah-perintah-Nya.

Dengan demikian, yang menjadi arti dan tujuan terdalam komuni adalah agar kita meniru hidup Kristus, mengikuti jalan salib-Nya dan karena jasa-jasa kematian-Nya kita dapat turut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya mengapa sehabis doa ini imam berlutut dengan hormat di hadapan Sakramen Mahakudus, dan dengan mengangkat hosti dia berkata: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya.” Dalam kalimat itu imam mengucapkan doa, memperlihatkan kepada umat bahwa dalam hosti yang sebentar lagi akan disambut, Yesus Kristus sungguh hadir. Bagian pertama kalimat itu diambil dari ucapan Santo Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29). Bagian kedua kalimat itu diambil dari Kitab Wahyu tentang perjamuan kawin Anak Domba: “Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba” (Why 19:9). Kalimat keseluruhan yang diucapkan imam mengungkapkan bahwa kekuatan kurban Putera Allah mampu menghapus dosa dunia, dan mampu memasukkan orang ke dalam Kerajaan Allah sekarang ini, di dunia ini, dalam Perayaan Ekaristi.


Berkata “Amin” pada waktu kita menerima Tubuh Kristus.
 Pada waktu memberikan komuni suci, seorang imam, diakon, biarawan-biarawati atau prodiakon berkata: “Tubuh Kristus!” Umat yang menerima komuni akan menjawab: “Amin!” Pada saat itu Allah datang kepada manusia. Di sisi lain, manusia – karena percaya akan hal itu – mengakui dan meneguhkan bahwa sungguh demikianlah halnya. Kata “amin” berasal dari bahasa Ibrani dan berarti kurang lebih “demikianlah hendaknya”. Kata ini dalam ibadat Yahudi sudah dipakai untuk “mengamini”, menyetujui, kemudian diambil alih oleh umat Kristiani. Ketika mengatakan “amin” pada waktu menerima hosti dari pemberi komuni, berarti seseorang menyatakan: “saya percaya, saya setuju, ini memang tubuh Kristus bagi saya” (lihat Tom Jacobs, hal. 102). Jadi, kata “amin” adalah sebuah penegasan! Saya percaya, saya menyambut Engkau, ya Tuhan Yesus!

Kita berkata “amin” kepada tubuh tersuci Yesus yang dilahirkan dari Santa Perawan Maria, yang wafat dan bangkit kembali bagi kita. Di sisi lain kita juga berkata “amin” kepada tubuh mistik Kristus, Gereja, teristimewa mereka yang berada dekat dengan kita pada meja Ekaristi. Kita tidak dapat memisahkan dua tubuh itu, apalagi dengan menerima yang satu tanpa mau menerima yang lain (Raniero Cantalamessa, hal. 37). Tanpa harus bertentangan dengan apa yang ditulis oleh Pater Cantalamessa ini, Pater Erasto J. Fernandez merinci arti “tubuh Kristus” menjadi tiga, bukan dua: (1) Tubuh Kristus yang berdimensi sakramental dalam rupa roti/hosti; (2) imam dan setiap umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi itu; (3) Keseluruhan komunitas yang dinamakan Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Romo ini mengatakan bahwa dua pernyataan ini: “Tubuh Kristus” dan “Amin” sungguh mengandung arti mendalam, karena makna yang dimaksudkan dengan “Tubuh Kristus” justru tidak terbatas pada arti yang pertama (lihat Erasto J. Fernandez, hal 143).

Kepada kebanyakan dari saudari dan saudara kita, tidak susahlah bagi kita untuk mengatakan “Amin”: saya menyambut engkau! Akan tetapi selalu saja ada di antara mereka satu-dua orang yang telah menyebabkan hidup kita menderita dan susah, melawan kita dengan cara-cara yang curang, mengkritisi kita secara negatif, berbicara buruk tentang diri kita dlsb. Dalam kasus seperti ini memang lebih sulitlah untuk mengatakan “Amin”, namun ada rahmat tersembunyi di sini. Apabila kita menginginkan suatu persekutuan (communio) yang lebih intim dengan Yesus, maka inilah cara untuk memperolehnya: Menyambut Yesus dalam komuni bersama dengan saudari atau saudara tersebut. Kita misalnya dapat mengatakan: “Tuhan Yesus, aku menerima Engkau pada hari ini bersama dengan saudariku (atau saudaraku) ini ke dalam hatiku; aku akan menjadi berbahagia apabila engkau membawa dia bersama dengan-Mu” (Raniero Cantalamessa, hal. 37-38). Tindakan kecil ini sangat menyenangkan Yesus karena Dia tahu bahwa tindakan tersebut menyebabkan kita mati terhadap diri kita sendiri, walaupun sedikit saja.

Catatan akhir. Perjamuan bersama – teristimewa apabila makanan yang dihidangkan itu sama bagi semua peserta perjamuan – mempunyai fungsi sosial, yaitu rasa persatuan antara para peserta diperlihatkan dan dipererat. Dalam perayaan Ekaristi umat makan bersama dan makanannya itu sama bagi semua yang hadir: tubuh dan darah Yesus sendiri. Jadi, persatuan antara umat yang hadir dirayakan dan diperdalam, demikian pula persatuan umat dengan/dalam Yesus.
Persatuan itu, yaitu dengan Kristus dan sesama, barulah sempurna pada akhir zaman. Namun Perayaan Ekaristi sudah menampakkannya dan merayakannya, serta ikut mengerjakan pelaksanaannya yang penuh pada akhir zaman itu (lihat Kursus Kader Katolik, hal. 56).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...