Minggu, 18 Maret 2012

Menjawab HOAX Media Islam: Benarkah Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam?

Menjawab HOAX Media Islam: Benarkah Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam?

Beberapa waktu lalu sejumlah media antara lain Republika, www.voa-islam.com, dan lain-lain memberitakan peristiwa “kepala suku Asmat masuk Islam” pada 29 Februari 2012. Tak pelak, berita ini langsung membuat heboh media sosial. Media-media bernuansa islami langsung mengutip berita tersebut tanpa kroscek kebenarannya terlebih dahulu. Lantas benarkah kepala suku Asmat masuk Islam?

Simak! www.voa-islam.com dengan judul berita “Kepala Suku Asmat Masuk Islam, Akan Diikuti Banyak Kaumnya” misalnya, mendeskripsikan begini: Semua mata terpaku pada sosok lelaki berkulit hitam legam dan berperawakan tinggi besar. Dia adalah Kepala Suku Asmat Besar yang Ahad (19/2) kemarin mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Darussalam, Komplek Perumahan Tamansari Persada Raya, Jatibening, Jakarta Timur, pukul 09 pagi. Suasana haru biru jamaah yang hadir menyaksikan moment bersejarah itu, terlihat saat Kepala Suku beserta istri dan anaknya itu mengucapkan syahadat. Takbir pun bergema.

Setelah melakukan penyelidikan administratif secara cermat, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Uskup Keuskupan Agats (Pemimpin Gereja Katolik Agats-Asmat) pada 9 Maret melakukan klarifikasi melalui surat berjudul “Klarifikasi Uskup Keuskupan Agats-Asmat” dengan nomer 49.020.00.05.

Tulis Uskup Aloysius Murwito, mungkin ada benarnya bahwa ada orang Asmat dari Kampung Peer bersama keluarganya sebagaimana diberitakan masuk Islam, tetapi bahwa dia adalah seorang kepala suku besar Asmat sungguh suatu kekeliruan atau kesalahan. Pemberitaan sensasional yang keliru atau salah ini langsung maupun tidak langsung memiliki dampak religius, sosial dan kultural dalam kehidupan bersama di Asmat.

Uskup menjelaskan, pengakuan atau gelar Kepala Suku Besar Asmat yang diberikan kepada Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) tidak benar. Pernyataan atau pemberitaan itu adalah sebuah kebohongan publik karena tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada dalam kebudayaan suku Asmat sampai dengan saat ini. Gelar kepala suku hanya diberikan, berlaku dan terbatas dalam satu rumpun saja.

Kepala suku ini pun bersifat warisan – diturunkan dari leluhur – ayah pada garis lurus dan langsung. Yang diakui secara struktural adat atau budaya Asmat adalah Kepala Perang dan bukan Kepala Suku apalagi Kepala Suku Besar Asmat. Kepala suku itu ada tetapi bersifat lokal dan terbatas; artinya tidak diakui dan berlaku untuk seluruh Asmat.

Untuk saudara Sinansius, ia adalah warga biasa seperti saudara dan saudari lain yang ditinggal di kampung Peer, Distrik Agats. Dalam struktur sosial dan budaya atau adat, dia tidak memiliki posisi, kedudukan atau pun jabatan (kekuasaan) apa pun.

Lanjut Uskup, setelah mencermati dengan saksama dan berdasarkan dokumen resmi gereja Katolik Keuskupan Agats – Asmat, saudara Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) adalah warga biasa yang lahir di Peer tanggal 13 Desember 1962 dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada tanggal 31 Januari 1963 di Peer oleh Pastor Miller, OSC. Sebagai saksi pembaptisan waktu itu adalah bapak Mikael Apakci. Data kelahiran dan baptisan ini tercatat dalam buku Baptis Paroki Ewer No. LB. IV. 5988, tahun 1963.

Untuk itu Uskup Aloysius meminta kepada semua pihak untuk tetap menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama dan masyarakat di Asmat dengan menyampaikan, menyiarkan, mengajarkan, memberitakan segala sesuatu dan khususnya berkaitan dengan agama atau iman kepercayaan yang bersentuhan dengan agama atau kepercayaan lain secara objektif dan akurat. “Jangan kita hanya menyebarkan berita bersifat isapan jempol, sensasional dan tendensius yang bisa berdampak pada disharmonitas dan konflik sosial di kalangan masyarakat Asmat dan Papua pada umumnya,” tulis Aloysius.

Klarifikasi tersebut ia kirimkan kepada Pimpinan Majelis Ulama Islam Asmat, Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kabupaten Asmat Di Agats – Asmat dengan tembusan ke Bupati Kabupaten Asmat di Agats, Sekda Kab. Asmat di Agats,Ketua DPRD Kabupaten Asmat di Agats, Kepala Kantor Kementrian Agama Asmat di Agats, Kepala Kantor Kesbang Asmat di Agats, Ketua LMAA di Agats, Kapolres Asmat di Agats, Periwira Penghubung Kodim Asmat di Agats, Umat Paroki Ewer (Ewer, Yepem, Peer, Uwus), Gereja-gereja Kristen di Asmat, Para Pastor se-Keuskupan Agats-Asmat di Agats.

Kasus pembohongan publik ini bukan kali pertama terjadi, sebelumnya Steven Indra mengaku-ngaku sebagai mualaf mantan frater. Setelah diselidiki lebih dalam, ternyata dia mengaku menjadi frater sejak usia 19 tahun dan sudah memimpin misa. Tentu saja syarat menjadi frater sudah tidak memenuhi, apalagi bisa memimpin misa.

Selain itu ada juga Hj. Irena Handono yang mengaku-ngaku sebagai mualaf mantan biarawati. Padahal setelah diselidiki, ia tidak lebih dari 2 tahun berada dalam biara dan keluar dalam kondisi awam alias belum dilantik menjadi biarawati.

Jadi pertanyaannya adalah: Apakah agama Islam harus dibesarkan dengan cara Taqiyya? Apakah baik jika menarik simpati umat tapi dengan sebuah kebohongan? Jika kebenaran terkuak, itu hanya akan mempermalukan golongannya.

1 komentar:

  1. Terus terang, kenapa media islam selalu identik dengan kebohongan? Anehnya, sama sekali tidak ada reaksi dari otoritas tertinggi islam di Indonesia (MUI).

    Bila saya baca sejarah islam, terlihat bahwa Muhammad juga melakukan kebohongan. Al quran juga banyak memuat kebohongan, namun karena sudah disakralkan maka kebohongan itu jadi suci.

    Maka pertanyaan saya, apakah kebohongan-kebohongan yang terjadi sekarang ini karena mengikuti teladan sang nabi?

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...