Kamis, 26 April 2012

Garin: Film “Soegija” bukan dogma agama

Kendati film bertajuk Soegija mengangkat sosok kenamaan dari Gereja Katolik, Mgr Albertus Soegijapranata SJ, Garin Nugroho selaku sutradaranya menjelaskan bahwa film ini lebih menekankan perjuangan serta sikap humanisme tokoh tersebut.

“Film ini bukan dogma, lebih pada kepemimpinan di tengah masa perang dan bagaimana seorang. Uskup sekaligus seorang warga negara mengelola cita-cita berbangsa itu,” kata sutradara senior tersebut saat ditemui SH di sela-sela “Dialog Film Soegija” di gedung KWI, Jakarta, belum lama ini.

Soegija merupakan film drama epik sejarah berformat film perjuangan dengan mengutip cerita dari catatan harian tokoh Pahlawan Nasional Mgr Soegijapranata, yang juga merupakan uskup agung pribumi pertama.

Film Soegija mengambil setting masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia (1940-1949), mengangkat kisah Mgr Soegijapranata yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional. Posisinya sebagai pemimpin Gereja Katolik saat itu tidak menghalanginya berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Misalnya, dalam perang 5 hari di Semarang, uskup agung yang dikenal dengan kalimat “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia” ini berhasil melakukan negosiasi dengan Jepang dan sekutu di gereja Gedangan, tempat ia tinggal, untuk membuat gencatan senjata.

“Mengalami kepemimpinan di masa lampau itu tidak gampang. Soegija berhasil dengan silent diplomacy dan kemanusiaannya. Soegija berhasil menunjukkan bahwa dasar dari seluruh nasionalisme adalah humanisme. Dan humanisme berdasar pada dialog antar multikultur,” kata Garin Nugroho, yang didaulat untuk menjadi sutradara film kolosal Soegija.

Menurutnya, isu tentang multikulturalisme penting untuk terus dimunculkan, di tengah aneka konflik di tanah air terkait persoalan kebangsaan. Ditambah lagi dengan krisis kepemimpinan yang saat ini menjadi kegundahan sebagian besar masyarakat.

“Yang menarik dari sosok Soegija adalah dia menggabungkan kemampuan diplomasi “diam-diam”-nya, pelayanannya, dengan sifat keras, ketegasan untuk mencapai cita-cita. Jadi gabungan antara tiga itu,” tutur Garin.

Di sisi lain, Garin menyadari bahwa saat ini banyak sekali film yang mengedepankan kalangan tertentu, misalnya umat Islam, dalam film Sang Pencerah. Ia menilai bahwa film seperti itu memiliki esensi yang sangat baik. Oleh karena itu, ia pun merasa harus membuat film-film dari tokoh agama lain mulai dari Islam, Hindu, Buddha, Kristen, dan Katolik.

Namun, jika pembuatan film-film tersebut dianggap sebagai upaya mendoktrin agama tertentu, ia menilai bahwa masyarakat sedang mengalami kemunduran dalam demokratisasi. Menurutnya keberadaan film-film seperti itu justru dapat menjadi sebuah panduan multikultur bagi mayarakat Indonesia yang heterogen.

Dengan demikian, katanya, masyarakat dapat mengalami berbagai jenis kepemimpinan dan bisa memetik nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. “Jadi kalau saya justru merasa wajib (membuat) hukumnya, selama film-film itu menuju kembali pada aspek-aspek berbangsa,” ucapnya.

Lebih lanjut Garin menuturkan, masyarakat harus punya “kedewasaan multikultur”. Multikultur tidak selalu diartikan menonjolkan berbagai macam agama dan budaya sekaligus dalam sebuah karya. Justru, masyarakat harus bisa menerima ketika ada film atau karya apa pun yang hanya mengedepankan salah satu kalangan. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...