Senin, 30 April 2012

Kisah Hidup dan Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus dan BundaNya Serta Misteri-Misteri Perjanjian Lama (bagian 2)


Kisah Hidup dan Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus dan BundaNya Serta Misteri-Misteri Perjanjian Lama (bagian 2)
Meditasi B. Anna Katharina Emmerick mistikus, stigmatis, visionaris (1774 - 1824)

Kronologi
Buku I
Penciptaan :
Bab 1 Jatuhnya Para Malaikat
Bab 2 Penciptaan Bumi
Bab 3 Adam dan Hawa
Bab 4 Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan

DOSA DAN KONSEKWENSINYA
Bab 1 Jatuh Dalam Dosa
Bab 2 Janji Akan Penebus
Bab 3 Adam dan Hawa Dihalau dari Firdaus
Bab 4 Keluarga Adam
Bab 5 Kain. Anak-anak Allah. Raksasa-raksasa
Bab 6 Nuh dan Keturunannya. Hom dan Dsemschid, Para Pemimpin Bangsa
Bab 7 Menara Babel
Bab 8 Derketo
Bab 9 Semiramis

Ibu Semiramis dilahirkan di wilayah Niniwe. Secara lahiriah ia seorang yang tenang, namun sesungguhnya ia seorang yang keji dan amoral. Ayah Semiramis berasal dari Syria dan, seperti ibu Semiramis, tenggelam dalam pemujaan berhala yang paling menjijikkan. Ia dibunuh sesudah kelahiran Semiramis, pembunuhannya ini ada hubungannya dengan, atau sebagai konsekwensi dari pendewaan mereka. Semiramis dilahirkan jauh di Ascalon, di Palestina, dan lalu dibawa oleh para imam kafir kepada para gembala di padang belantara. Semasa kanak-kanak, ia melewatkan sebagian besar waktunya seorang diri di atas sebuah gunung. Aku melihat ibunya dan para imam kafir berbelok, dalam ekspedisi berburu mereka, untuk mengunjunginya. Aku melihat juga iblis dalam berbagai rupa bermain bersamanya, seperti Yohanes di padang gurun bersama malaikat-malaikat. Aku melihat dekat Semiramis burung-burung dengan bulu-bulu berwarna cerah. Burung-burung itu membawakan baginya berbagai macam mainan yang ganjil. Aku tak ingat semua yang berhubungan dengannya, tetapi sungguh pemujaan berhala yang paling ngeri. Ia seorang yang cantik jelita, cerdas dan penuh daya pikat; segalanya berhasil dengannya. Dalam ketaatan pada berhala-berhala, ia menjadi isteri salah seorang pemimpin gembala dari Raja Babilonia, dan di kemudian hari ia menikah dengan sang raja sendiri. Raja ini telah menaklukkan sebuah bangsa jauh di utara, dan menyeret sebagian penduduknya ke negerinya sendiri sebagai budak. Beberapa waktu sesudahnya, ketika Semiramis sendiri bertahta, banyak dari mereka ditindas olehnya dan dipaksa bekerja dalam pengerjaan bangunan-bangunannya yang amat besar. Semiramis dipandang sebagai seorang dewi oleh bangsanya.

Ekspedisi-ekspedisi berburu yang dilakukan oleh ibu Semiramis lebih ganas dari yang dilakukan Semiramis. Ibunya berkelana dengan sepasukan kecil bala tentara dengan menunggang unta, keledai yang bergaris-garis, dan kuda. Sekali waktu aku melihat mereka di Arabia dekat Laut Merah, dalam suatu perburuan besar, pada masa ketika Ayub tinggal di kotanya di sana. Para perempuan pemburu itu amat tangkas dan mereka duduk di atas punggung kuda seperti lelaki. Mereka berpakain tertutup hingga ke lutut, di bawahnya kedua kaki dililit tali-temali. Kaki mereka mengenakan sol dengan dua hak tinggi, di atasnya terdapat figur-figur berwarna. Mereka mengenakan jaket pendek yang ketat terbuat dari bulu-bulu halus dari beragam warna dan pola. Sekeliling lengan dan dada terdapat tali-temali berhias bulu-bulu. Pundak ditutup dengan sebuah mantol tanpa lengan, juga dari bulu-bulu, berhiaskan mutiara dan bebatuan yang gemerlap. Di atas kepala, mereka mengenakan semacam topi dari sutera atau wol merah. Pada wajah mereka terjuntai sebuah kerudung yang terbelah dua, masing-masing dapat digunakan sebagai pelindung terhadap angin dan debu. Sehelai mantol pendek melengkapi kostum mereka. Peralatan berburu mereka terdiri dari tombak, busur dan anak panah; di sisi mereka tergantung sebuah perisai. Binatang-binatang buas telah berlipat ganda secara mencengangkan. Para pemburu menghalau mereka dari segala bagian wilayah yang luas dan membantainya. Mereka juga menggali selokan-selokan dan menimbuninya sebagai perangkap. Apabila binatang-binatang buas terperosok ke dalamnya, mereka segera dibantai dengan kapak dan pentung. Aku melihat ibu Semiramis memburu binatang yang digambarkan oleh Ayub sebagai kuda nil, juga harimau, singa, dan lain-lain. Aku tidak melihat kera pada masa-masa awal itu. Aku melihat perburuan serupa di atas air, di mana berhala dan banyak kejijikan biasa dilakukan. Sang ibu secara lahiriah tidak seamoral Semiramis, tetapi ia memiliki sifat iblis dengan kekuatan dan keberanian yang menakjubkan. Betapa sungguh ngeri, menceburkan diri ke dalam laut dalam pertarungannya dengan monster yang kuat itu! (Seekor kuda nil.) Dengan mengendarai seekor unta berpunuk satu, ia mengejar binatang itu, hingga unta dan penunggangnya tercebur ke dalam gelombang-gelombang laut. Ia dihormati sebagai dewi berburu dan penolong umat manusia.

Semiramis sepulang dari Afrika sesudah suatu ekspedisi berburu atau militer, pergi ke Mesir. Kerajaan ini dibangun oleh Mesraim, cucu Ham, yang pada saat kedatangannya mendapati di sana telah ada beberapa suku yang terpencar-pencar dari bangsa-bangsa sekitar yang merosot akhlaknya. Mesir dihuni oleh beberapa bangsa dan diperintah terkadang oleh satu, terkadang oleh yang lain. Ketika Semiramis pergi ke Mesir sudah ada empat kota. Yang tertua adalah Tebes di mana juga tinggal suatu bangsa yang lebih terang kulitnya, lebih ramping dan cekatan daripada yang di kota Memphis, yang penduduknya pendek dan gempal. Kota itu terletak di sisi kiri Sungai Nil, di mana terdapat sebuah jembatan panjang. Di sisi kanan adalah tempat di mana, pada masa Musa, puteri Firaun tinggal. Penduduk yang kulitnya lebih gelap dengan rambut keriting bahkan pada abad-abad pertama itu adalah kaum budak dan mereka tidak pernah memerintah di Mesir. Mereka yang pertama-tama datang ke sana dan membangun Thebes, aku pikir, berasal dari Afrika; yang lain berasal dari atas Laut Merah dan dari mana bangsa Israel masuk. Kota ketiga bernama Chume, di kemudian hari Heliopolis. Kota itu terhampar ke utara di bawah Thebes.

Ketika Maria dan Yosef mengungsi ke Mesir bersama Yesus, aku melihat bangunan-bangunan yang luar biasa besar masih ada di kota ini. Di sebelah bawah Memphis, tak jauh dari laut, terbentang kota Sais. Aku pikir kota ini masih lebih tua dari Memphis. Masing-masing dari keempat kota ini mempunyai rajanya sendiri.

Semiramis amat dihormati di Mesir di mana, dengan tipu muslihat dan ilmu neraka, ia amat berjasa dalam menyebarluaskan pemujaan berhala. Aku melihatnya di Memphis, di mana lazim dipersembahkan kurban manusia, merancang dan mempraktekkan ilmu magis dan perbintangan. Pada masa ini aku tidak melihat sapi jantan Apis, tetapi aku melihat berhala-berhala dengan ekor-ekor dan sebuah kepala seperti matahari. Semiramislah yang di sini merancang piramid pertama, yang dibangun di tepi timur Nil, tak jauh dari Memphis. Seluruh negeri harus mengerahkan tenaga dalam pembangunannya. Ketika pembangunan selesai, aku melihat Semiramis pergi lagi ke sana dengan sekitar duaratus pengikut untuk pentakdisan bangunan. Semiramis dihormati nyaris bagai seorang dewi.

Piramid dibangun di atas permukaan yang berawa; sebagai konsekwensinya suatu pondasi dari pilar-pilar raksasa dibangun untuk itu, yang menyerupai sebuah jembatan yang sangat lebar. Piramid berdiri di atasnya. Orang dapat berjalan-jalan di bawahnya, seolah ke dalam suatu kuil yang sangat besar yang terdiri dari kolom-kolom. Bangunan bawah itu dibagi dalam kamar-kamar, ruang-ruang bawah tanah dan aula-aula luas yang tak terhitung banyaknya. Piramid itu sendiri hingga ke puncaknya juga terdiri dari banyak apartemen, besar dan kecil, dengan lobang-lobang seperti jendela dari mana aku melihat bendera-bendera kain tergantung dan melambai-lambai. Sekeliling piramid terdapat tempat-tempat pemandian dan taman-taman. Bangunan ini merupakan pusat sesungguhnya dari pemujaan berhala, astrologi, ilmu magis dan kejijikan Mesir yang ngeri. Di sini anak-anak dan orang-orang lanjut usia dipersembahkan sebagai kurban. Ahli perbintangan dan ahli nujum tinggal di piramid dan di sana mendapatkan penglihatan-penglihatan dari neraka. Dekat tempat-tempat pemandian terdapat mesin-mesin yang amat besar untuk menjernihkan air Sungai Nil yang berlumpur. Tempat-tempat pemandian itu menjadi saksi atas aib yang paling ngeri dari pemujaan berhala. Aku melihat di kemudian hari kaum perempuan Mesir mempraktekkan kejijikan paling ngeri di dalamnya. Piramid ini tak berdiri lama, tetapi hancur.

Negeri itu sangat tunduk pada takhayul. Para imam kafir ada dalam kegelapan yang begitu hebat dan begitu condong pada kedewaan hingga di Heliopolis, bahkan mimpi penduduk dihimpun, dicatat dan dihubungkan dengan bintang-bintang. Banyak ahli nujum muncul yang, dalam penglihatan-penglihatan neraka mereka, mencampur-adukkan yang benar dan yang sesat. Menurut penglihatan-penglihatan mereka, penyembahan berhala dirumuskan, dan bahkan siklus-siklus waktu dihitung. Aku melihat bahwa berhala-berhala Isis dan Osiris tak lain adalah Yusuf dan Asenet yang kedatangannya ke Mesir telah diramalkan oleh para ahli perbintangan dalam penglihatan-penglihatan neraka mereka. Oleh karena itu mereka memasukkan Yusuf dan Asenet ke dalam agama mereka. Ketika keduanya sungguh datang, mereka dihormati sebagai dewa dan dewi. Aku melihat Asenet menangisi kejijikan yang demikian, dan menulis untuk menentangnya.

Para ilmuwan dari masa sekarang yang menulis mengenai Mesir salah besar. Mereka menerima begitu banyak hal mengenai Mesir sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan, yang meski begitu tak memiliki dasar, selain dari astrologi dan penglihatan-penglihatan sesat. Bahwa suatu bangsa dapat tetap sebodoh dan sejahat Mesir merupakan bukti darinya. Tetapi para ilmuwan ini menolak inspirasi dan praktek-praktek neraka yang demikian sebagai mustahil. Mereka menilai Mesir lebih kuno dari yang sebenarnya, sebab pada masa-masa awal itu mereka tampaknya memiliki pengetahuan yang begitu rupa mengenai hal-hal yang rahasia dan sulit dimengerti.

Tetapi aku melihat bahwa bahkan pada waktu kedatangan Semiramis ke Memphis, orang-orang ini, dalam kesombongan mereka telah bermaksud mengacaukan penanggalan mereka. Ambisi mereka adalah mendahului segala bangsa lain dalam hal waktu. Dengan tujuan ini dalam gagasan, mereka menyusun sejumlah penanggalan dan silsilah kerajaan yang rumit. Dengan ini dan perubahan yang berkali-kali dalam perhitungan mereka, urutan dan kronologi yang benar menjadi lenyap. Agar pengacauan ini dapat dicanangkan dengan kuat, mereka mengabadikan setiap kekeliruan dengan prasasti-prasasti dan pendirian bangunan-bangunan besar. Untuk jangka waktu yang lama mereka mereka-reka usia ayah dan anak, seolah tanggal kematian ayah adalah tanggal kelahiran anak. Raja-raja, yang terus-menerus bertikai dengan para imam dalam hal kronologi, menyelipkan di antara leluhur mereka nama-nama orang yang tak pernah ada. Dengan demikian keempat raja dengan nama yang sama yang memerintah secara serempak di Tebes, Heliopolis, Memphis dan Sais, seturut rancangan ini dihitung satu sesudah yang lain. Aku melihat juga bahwa suatu ketika mereka menghitung sembilanratus tujuhpuluh hari menjadi satu tahun, dan lagi, tahun-tahun dihitung sebagai bulan-bulan. Aku melihat seorang imam kafir menyusun suatu daftar kronologis di mana untuk setiap limaratus tahun, dituliskan seribu seratus tahun.

Aku melihat perhitungan sesat para imam kafir pada saat yang sama aku melihat Yesus sedang mengajar pada hari Sabat di Aruma. Yesus berbicara di hadapan kaum Farisi mengenai Panggilan Abraham dan perjalanannya ke Mesir, menyingkapkan kesalahan-kesalahan penanggalan Mesir. Ia mengatakan kepada mereka bahwa dunia sekarang telah berumur 4028 tahun. Ketika aku mendengar Yesus mengatakan ini. Ia Sendiri berumur 31 tahun.

Aku melihat pada masa itu juga, suatu bangsa yang menghormati Set sebagai dewa. Mereka melakukan perjalanan-perjalanan yang jauh dan penuh bahaya ke Arab di mana mereka anggap kuburnya berada. Tampak olehku bahwa keturunan bangsa ini masih ada, dan bahwa bangsa Turki mempersulit mereka lewat secara bebas melalui wilayah Turki dalam ziarah mereka ke makam.

sumber : “The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich”

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net

In Spiritu Domini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...