Rabu, 02 Mei 2012

Bagaimana Gereja Katolik Mendapatkan Namanya?

Bagaimana Gereja Katolik Mendapatkan Namanya?
"Kristen adalah nama saya, tetapi Katolik adalah nama belakang saya. Yang pertama memberikan saya sebuah nama, yang terakhir membedakan saya. Oleh yang satu saya diterima, oleh yang lainnya saya ditandai."
~ St. Pacianus (310-391)

Kredo (Syahadat Para Rasul / Pengakuan Iman) yang kita daraskan pada Hari Minggu dan hari-hari gerejawi lainnya, berbicara mengenai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Sebagaimana semua orang tahu, bagaimana pun, Gereja yang dimaksud dalam Kredo ini lebih sering hanya disebut Gereja Katolik. Bahkan tidak tepat jika disebut Gereja Katolik Roma, tapi cukup Gereja Katolik.

Gereja sendiri tidak menggunakan istilah Katolik Roma; istilah itu relatif modern dan terlebih, terbatas terutama untuk Bahasa Inggris. Pada kenyataannya, para uskup yang berbahasa Inggris pada Konsili Vatikan I tahun 1870, justru melakukan kampanye besar-besaran yang sukses guna memastikan bahwa istilah Katolik Roma tidak tercantum di bagian mana pun dari setiap dokumen resmi Konsili yang berbicara mengenai Gereja itu sendiri, dan istilah ini akhirnya tidak dimasukkan.

Demikian pula, kita tidak akan dapat menemukan istilah Katolik Roma dalam 16 dokumen Konsili Vatikan II. Paus Paulus VI menandatangani semua dokumen-dokumen Konsili Vatikan II sebagai "saya, Paulus. Uskup Gereja Katolik." Cukup Gereja Katolik. Memang terdapat referensi misalnya Kuria Roma, Misa Roma, Ritus Roma, namun ketika kata sifat Roma disandingkan dengan Gereja itu sendiri, akan mengacu pada Keuskupan Roma!

Sebagai contoh, para kardinal disebut kardinal dari Gereja Roma yang Suci, namun penyebutan ini berarti bahwa ketika mereka diangkat menjadi kardinal, mereka karenanya menjadi klerus kehormatan dari keuskupan tempat Bapa Suci, Keuskupan Roma. Setiap kardinal diberikan sebuah gereja tituler di Roma, dan ketika para kardinal ini berpartisipasi dalam pemilihan seorang Paus yang baru, mereka sedang berpartisipasi dalam sebuah proses yang pada zaman dahulu dilakukan oleh kaum klerus dari Keuskupan Roma.

 Meskipun Keuskupan Roma merupakan pusat dari Gereja Katolik, hal ini tidak berarti bahwa Ritus Roma atau, yang kadang dikatakan, Ritus Latin, adalah co-terminus [berbatasan, berdampingan -red] dengan Gereja secara keseluruhan; hal itu akan berarti pengabaian Bizantium, Kaldea, Maronit atau ritus-ritus Oriental lainnya yang semuanya sungguh bagian dari Gereja Katolik dewasa ini, sebagaimana di masa lalu.

Saat ini, penekanan yang jauh lebih besar telah diberikan kepada ritus-ritus "bukan-Roma" dari Gereja Katolik ini. Konsili Vatikan II mempersembahkan sebuah dokumen khusus, Orientalium Ecclesiarum (Dekrit tentang Gereja-gereja Katolik Timur), kepada ritus-ritus Timur yang termasuk ke dalam Gereja Katolik, dan Katekismus Gereja Katolik yang baru juga memberikan perhatian yang besar pada tradisi-tradisi dan spritualitas yang istimewa dari ritus-ritus Timur ini.

Jadi nama yang tepat untuk Gereja universal ini bukanlah Gereja Katolik Roma. Jauh dari itu. Istilah itu pada umumnya terdengar di negara-negara yang berbahasa Inggris karena dipromosikan oleh Anglikan, pendukung dari "teori percabangan" (branch theory) Gereja, yakni bahwa Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik di Kredo seharusnya terdiri dari tiga cabang utama: Anglikan, Ortodoks, dan apa yang disebut Katolik Roma. Guna menghindari penafsiran jenis itu, para uskup yang berbahasa Inggris pada Vatikan I berhasil memperingatkan Gereja agar menjauh dari penggunaan istilah tersebut secara resmi sebab hal itu bisa sangat mudah disalahpahami.

Dewasa ini dalam era di mana perbedaan pendapat meluas di dalam Gereja, dan di mana kebingungan sama meluasnya berkaitan dengan terdiri dari apa identitas Katolik yang otentik itu seharusnya, banyak orang-orang Katolik yang setia telah menggunakan istilah Katolik Roma belakangan ini untuk menegaskan pemahaman mereka bahwa Gereja Katolik di Kredo Mingguan adalah Gereja yang sama bersatu dengan Wakil Kristus di Roma, Paus. Pemahaman mereka ini benar, namun orang-orang Katolik semacam itu, bagaimanapun juga, harus berhati-hati menggunakan istilah tersebut, bukan hanya karena asal-usulnya dalam lingkaran Anglikan yang meragukan yang bermaksud untuk memberi kesan bahwa mungkin saja ada Gereja Katolik yang lain di sebuah tempat selain yang di Roma; tetapi juga karena istilah itu masih sering digunakan untuk memberi kesan bahwa Gereja Katolik Roma adalah sesuatu yang lain dan lebih kecil daripada Gereja Katolik di Kredo. Hal itu umumnya digunakan oleh beberapa teologian yang menolak; sebagai contoh, mereka tampil untuk mencoba mengkategorikan Gereja Katolik Roma hanya sebagai "denominasi Kristen" kontemporer yang lain – bukan Tubuh yang identik dengan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik di Kredo.

Bagaimana Gereja Katolik Mendapatkan Namanya?
"Nama itu, yakni Katolik, yang bukannya tanpa alasan, dengan dikelilingi begitu banyak bidaah, telah digunakan oleh Gereja; dengan demikian, meskipun semua kaum bidaah ingin disebut Katolik, namun jika ada orang asing bertanya dimanakah jemaat Katolik berkumpul, maka tak satupun kaum bidaah yang berani menunjuk kapel atau rumahnya sendiri."
~ St . Augustinus (354–430)

Maka nama yang tepat dari Gereja adalah Gereja Katolik. Bahkan Gereja tidak pernah disebut "Gereja Kristen". Meskipun Oxford University Press (Penerbit Universitas Oxford) yang prestisius itu baru-baru ini menerbitkan sebuah buku referensi pembelajaran yang lumayan berguna, berjudul "The Oxford Book of the Christian Church" (Buku Oxford mengenai Gereja Kristen), namun kenyataannya tidak pernah ada suatu entitas besar dalam sejarah yang dipanggil dengan nama itu; Penerbit Universitas Oxford telah mengadopsi sebuah nama yang keliru, karena Gereja Kristus tidak pernah disebut Gereja Kristen.

Tentu saja terdapat sebuah denominasi Protestan di Amerika Serikat yang menyebut dirinya sendiri dengan nama itu, namun denominasi partikular tersebut mustahil yang ada di pikiran Penerbit Universitas Oxford saat memberikan judul pada buku referensinya itu. Pemberian judul ini yang dimaksud ini nampaknya telah menjadi satu metode lain, dari begitu banyak metode yang ada di sepanjang sejarah, yang menolak untuk mengakui bahwa pada kenyataannya ada satu – dan hanya satu – entitas yang eksis di dunia dewasa ini, yang kepadanya sebutan "Gereja Katolik" dalam Kredo paling mungkin dialamatkan.

Entitas yang dimaksud ini, tentu saja, hanyalah: Gereja Katolik yang sangat kelihatan dan tersebar di seluruh dunia, yang mana penerus ke-263 [saat tulisan ini dibuat -red] dari Rasul Petrus, Paus Yohanes Paulus II, mengajar, memimpin dan menyucikan, bersama dengan sekitar 3000 uskup lainnya di seluruh dunia, yang merupakan penerus Para Rasul Yesus Kristus.

Sebagaimana disebutkan dalam Kisah Para Rasul, adalah benar bahwa para pengikut Kristus mula-mula dikenal sebagai "orang-orang Kristen" (bdk. Kis 11:26). Namun bagaimanapun, kata Kristen tidak pernah dikenakan secara umum pada Gereja itu sendiri. Dalam Perjanjian Baru sendiri, Gereja hanya disebut "Gereja". Saat itu hanya ada satu. Saat masa-masa awal itu, belum ada satupun tubuh yang tercerai-berai yang cukup substansial untuk menjadi rival yang mampu mengklaim nama itu, yang darinya Gereja mungkin harus membedakan dirinya sendiri.

Namun bagaimanapun, dalam masa-masa post-apostolic yang sangat awal, Gereja membutuhkan sebuah nama yang layak dan secara tepat membedakan dirinya dengan tubuh rival yang saat itu sudah mulai terbentuk. Nama yang Gereja butuhkan ketika hal itu menjadi perlu baginya untuk memiliki sebuah nama yang tepat, adalah nama yang olehnya Gereja telah dikenal sejak lama: Gereja Katolik.

Nama itu muncul dalam literatur Kristen untuk pertama kalinya sekitar akhir abad pertama. Pada waktu dituliskan, nama itu tentu sudah digunakan. Indikasinya adalah setiap orang mengerti dengan persis apa yang dimaksud oleh nama itu saat dituliskan.

Sekitar tahun 107 Masehi, seorang uskup, St. Ignasius dari Antiokhia, di Timur Dekat, ditangkap dan dibawa ke Roma oleh pengawal bersenjatan dan akhirnya dimartir di sana di arena. Dalam sebuah surat perpisahan yang uskup dan martir perdana ini tuliskan untuk para pengikutnya, orang-orang Kristen di Smyrna (seakrang Izmir di Turki modern), beliau membuat sebutan tertulis pertama dalam sejarah "Gereja Katolik". Beliau menulis, "Where the bishop is present, there is the Catholic Church" – "Di mana uskup hadir, di situ ada Gereja Katolik" (To the Smyrnaeans – Kepada orang-orang Smyrna 8:2). Dengan demikian, saat abad kedua kekristenan dimulai, nama Gereja Katolik sudah digunakan.

Sejak itu, penyebutan nama tersebut menjadi lebih dan lebih sering digunakan dalam catatan tertulis. Nama itu muncul dalam laporan tertulis yang tertua yang kita miliki di luar Perjanjian Baru mengenai kemartiran seorang Kristen karena imannya, "Kemartiran St. Polikarpus", uskup dari Gereja Smyrna yang sama yang kepadanya St. Ignasius dari Antiokhia telah menulis. St. Polikarpus wafat sebagai martir sekitar tahun 155, dan laporan mengenai penderitaannya bertanggal waktu kejadian itu. Sang narator [penulis laporan itu -red] menginformasikan kepada kita bahwa dalam doa terakhirnya sebelum menyerahkan hidupnya kepada Kristus, St. Polikarpus "mengingat semua yang pernah bertemu dengannya kapan saja, baik orang kecil maupun orang besar, baik mereka yang dengan kemasyhuran maupun mereka yang tidak, dan Gereja Katolik secara keseluruhan di seluruh dunia."

Kita tahu bahwa St. Polikarpus, pada waktu wafatnya di tahun 155, telah menjadi seorang Kristen selama 86 tahun. Karenanya, beliau tidak mungkin lahir jauh setelah tahun 69 atau 70. Namun nampaknya telah menjadi bagian yang normal dari kosa kata seseorang dari masa itu untuk mampu berbicara mengenai "Gereja Katolik secara keseluruhan di seluruh dunia".

Nama tersebut telah menjadi populer, dan tanpa keraguan untuk alasan-alasan yang layak.

Istilah "Katolik" sederhananya berarti "universal", dan ketika digunakan pada hari-hari perdana itu, St. Ignasius dari Antiokhia dan St. Polikarpus dari Smyrna sedang mengacu kepada Gereja yang sudah "ada di mana-mana", guna membedakannya dari sekte-sekte, skisma-skisma atau kelompok-kelompok sempalan apa pun yang telah tumbuh di sana-sini yang berseberangan dengan Gereja Katolik.

Istilah tersebut telah dipahami saat itu, bahkan kelak menjadi sebuah nama yang terlebih sesuai karena Gereja Katolik adalah untuk semua orang, bukan hanya untuk para ahli, para penggemar atau yang dimulai secara khusus oleh mereka yang mungkin telah tertarik kepadanya.

Sekali lagi, hal itu telah dipahami bahwa Gereja adalah "katolik" karena – guna mengadopsi sebuah ungkapan modern – Gereja memiliki kepenuhan sarana keselamatan. Gereja juga sudah ditentukan untuk menjadi "universal" dalam waktu dan ruang, dan kepadanya berlaku janji Kristus kepada Petrus dan Para Rasul lainnya bahwa "alam maut tidak akan menguasainya " (Mat 16:18).

Katekismus Gereja Katolik di zaman kita telah menyimpulkan secara ringkas semua alasan mengapa nama Gereja Kristus menjadi Gereja Katolik: "Gereja itu katolik," demikian Katekismus mengajarkan, "[karena] ia mewartakan seluruh iman; ia mempunyai dan membagi-bagikan kepenuhan sarana keselamatan; ia diutus kepada semua bangsa; ia berpaling kepada semua manusia; ia merangkum segala waktu; ia adalah 'misionaris menurut hakikatnya'" (Artikel 868).

Jadi nama tersebut dilekatkan kepada Gereja untuk selamanya. Pada masa konsili ekumenis Gereja yang pertama yang berlangsung di Nicea di Asia Kecil pada tahun 325 Masehi, para uskup dari konsili itu mengundangkan secara cukup alamiah atas nama Tubuh Universal yang mereka sebut dalam dokumen-dokumen resmi Konsili Nicea sebagai "Gereja Katolik". Dan sebagaimana banyak orang tahu bahwa konsili yang sama itulah yang telah merumuskan Kredo dasar yang di dalamnya istilah "katolik" dipertahankan sebagai salah satu dari empat tanda dari Gereja Kristus yang sejati. Dan nama ini adalah nama yang sama yang ditemukan dalam semua 16 dokumen konsili ekumenis Gereja yang ke-21, Konsili Vatikan II.

Masih kembali ke abad ke-4 di mana St. Sirilus dari Yerusalem menulis secara tepat, "Inquire not simply where the Lord's house is, for the sects of the profane also make an attempt to call their own dens the houses of the Lord; nor inquire merely where the church is, but where the Catholic Church is. For this is the peculiar name of this Holy Body, the Mother of all, which is the Spouse of Our Lord Jesus Christ " – "Bertanya bukan hanya di mana rumah Tuhan, karena sekte-sekte kaum profan juga berupaya menyebut sarang-sarang mereka rumah-rumah Tuhan; jangan pula cuma bertanya di mana gereja, melainkan di mana Gereja Katolik. Karena inilah nama yang khas dari Tubuh Suci ini, Bunda dari semua, yang adalah Mempelai dari Tuhan kita Yesus Kristus" (Cathecheses – Katekese, xviii, 26).

Pertanyaan yang sama ini perlu dilakukan dengan cara yang sama persis dewasa ini, karena nama dari Gereja Kristus yang sejati sama sekali tidak berubah. Tidak dapat dihindari bahwa Katekismus Gereja Katolik akan mengadopsi nama yang sama dewasa ini yang mana Gereja telah memilikinya di sepanjang keseluruhan sejarahnya yang teramat panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...