Sabtu, 05 Mei 2012

Ikonoklasme pada masa Reformasi Prostestan abad ke-16


Ikonoklasme (Yunani: eikonomakhia, “tindakan memerangi atau menghancurkan gambar/ikon”) adalah suatu tindakan menghancurkan gambar-gambar, ikon-ikon, atau patung-patung, atau simbol-simbol dan monumen-monumen lain, baik yang bermakna religius maupun yang bermakna politis, karena motif-motif keagamaan ataupun politis di dalam suatu kebudayaan.

Meskipun para Reformator Protestan bersepakat mengkritik ikon dan patung para santo, namun mereka berbeda pendapat mengenai bagaimana menangani banyak karya seni yang mengisi bangunan-bangunan gereja.

Martin Luther, yang semula memusuhi penggunaan ikon dan patung, belakangan berubah pandangan ketika dia menyatakan bahwa orang Kristen hendaklah bebas menggunakan ikon dan patung keagamaan sejauh mereka tidak menyembah ikon/patung itu sebagai Allah.

Di antara para Reformator, Yohannes Calvin mengambil sikap yang paling radikal terhadap karya-karya seni, dan dia menuntut semua orang Kristen harus tidak membuat gambar Allah dalam bentuk dan wujud apapun. Kalangan ikonoklast yang dengan keras menghancurkan karya-karya seni di seluruh Belanda utara dalam tahun 1566 dan membersihkan gereja-gereja dari atas ke bawah membenarkan tindakan mereka dengan mengacu ke doktrin yang dibangun Yohannes Calvin. Tindakan melenyapkan semua karya seni ini menjelaskan mengapa ada hanya sangat sedikit lukisan sejak sebelum 1566 yang bertahan di Belanda.

Yang juga agak radikal adalah Andreas Bodenstein von Karlstadt (c. 1480-1541). Setelah para penguasa kotapraja Wittenberg mengeluarkan sebuah “Tata-tertib kota Wittenberg”, 24 Januari 1522, yang mengharuskan semua ikon dan patung dikeluarkan dari gereja-gereja, hanya tiga hari kemudian Karlstadt mengeluarkan sebuah traktat mengenai “penyingkiran gambar-gambar”. Di dalam traktat ini, dia mengeluh bahwa, setelah tiga hari penuh dekrit itu dikeluarkan, karya-karya seni masih belum disingkirkan. Keadaan ini menimbulkan Kerusuhan Ikonoklastis pada awal Februari dalam gereja Wittenberg di mana “ikon-ikon dalam bentuk lukisan” diturunkan dan dirobek-robek oleh Karlstadt dan para pendukungnya.

Kerusuhan di Wittenberg disusul oleh banyak serangan yang serupa terhadap karya-karya seni di tempat-tempat lain, seperti sudah ditulis di atas, terutama di Zurich dalam bulan September 1523. Di sana Reformator Leo Jud (1482-1542) berpidato tentang penyingkiran patung-patung, yang sesudahnya lukisan-lukisan altar, salib-salib dan patung-patung para santo, dihancurkan, dan air suci dicemooh.

Meskipun Zwingli bersepakat ikon dan patung harus disingkirkan, namun dia bereaksi keras terhadap penggunaan kekerasan dalam bentuk apapun. Dia mengusulkan patung-patung dalam gereja-gereja cukup diselubungi dengan kain, dan altar-altar yang bersayap ditutup, seperti biasa dilakukan selama Lente. Dengan demikian, bagian-bagian dalam altar yang lebih detail, yang menimbulkan perlawanan, tetap tak terlihat. Zwingli juga menegaskan bahwa gambar-gambar harus tidak dicemooh. Atas dasar ini, Zwingli meminta semua ikonoklast dijatuhi hukuman. Dalam bulan Oktober 1523 di Zurich, Misa Kurban ditiadakan, dan penyingkiran semua ikon disetujui. Selanjutnya, semua karya seni dan relik di Zurich disingkirkan dari gereja-gereja dengan cara-cara yang tertib. Belakangan, Zwingli mentolerir gambar-gambar artistik, sejauh tidak disembah atau dipuja, tetapi dibaca sebagai narasi-narasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...