Selasa, 12 Juni 2012

Film “Soegija” yang Tidak Mengungkap Soegija


Dari ukuran keseriusan membuat film yang menggambarkan era 40-an, film ini top punya. Suasana latar gedung-gedung, properti hingga kostum benar-benar membawa kita kembali ke era itu.

Film ini misalnya, jauh melebihi trilogi film “Merah Putih” yang disutradarai Yadi Sugandi. Di  Merah Putih, pasukan Indonesia terlihat ganteng-ganteng, rapih jali,  bersih,  dengan seragam tidak kotor, dan persenjataan seperti pasukan yang sudah mapan.  Nahh, di  Soegija, para laskar ini benar-benar mengambarkan tentara dari negara yang baru seumur jagung. Mereka berkaos compang-camping, dekil, kumuh, telanjang kaki. Sangat pas dengan gambaran tentara Indonesia masa itu.

Sayang, keunggulan film ini, buat saya hanya di situ. Cuma sampai membangun nuansa dan  suasana 40-an.
Tetapi dari segi cerita, terus terang saya tidak menikmati film ini.  Seperti sayur yang terlalu banyak bumbu, begitulah kesan saya soal Soegija.

Ceritanya terlalu terpencar dan tidak fokus. Terlalu banyak tokoh yang ditonjolkan, dan terlalu banyak pesan yang ingin disampaikan melalui tokoh-tokoh tersebut. 

Kita bakal bertemu dengan cerita Ling-Ling dan ibunya yang terpisah karena perang. Kita juga bakal melihat Suzuki Komandan Jepang yang mudah tersentuh hatinya jika mengingat anaknya. Juga akan bertemu dengan Hendrik wartawan Belanda dan Mariem gadis pribumi Katolik, juga akan bertemu sosok Lantip pemuda Katolik yang mengangkat senjata memimpin pasukan. Dia selalu meminta nasehat Soegija. Selain itu, ada juga Robert serdadu Belanda yang gila perang, tetapi menjadi melo saat menemukan seorang bayi korban perang.

Untuk semua tokoh itu ada adegan-adegannya sendiri yang terlalu dipaksakan untuk membawa sebuah pesan ke penonton. Misalnya,  Ling-Ling yang Tionghoa dengan adegannya bertanya kepada Soegija soal mengapa orang Tionghoa selalu menjadi korban penjarahan.

Meski film berjudul Soegija, tokoh Soegija malah tampak bukan menjadi yang utama. Terbagi dengan karakter-karakter fiktif yang terlalu banyak diceritakan.

Dalam film ini, saya tidak mendapat gambaran soal bagaimana sosok Soegija pada masa itu, peran pentingnya, pengorbanan pribadi yang harus dilakukannya sebagai pemimpin umat di negara yang tengah bergejolak. Dilema-dilema yang harus dihadapinya sebagai uskup dan juga sebagai pendukung republik.

Misalnya adegan dia berunding dengan pemimpin tentara Jepang dan Sekutu terjadi begitu saja. Sebagaimana juga adegan dia bertemu wakil Vatikan dan Presiden Soekarno terasa hambar saja. Padahal alangkah lebih baiknya diungkap lebih dramatis  bagaimana perjuangan Soegija mengusahakan dukungan Vatikan, sehingga negara itu menjadi negara eropa  yang pertama mengakui kedaulatan Indonesia.

Menurut saya, lebih bagus jika film ini hanya terfokus pada sosok Soegija saja. Sebagaimana film-film tentang kisah hidup orang yang inspiratif. Misalnya seperti  film tentang musisi Ray Charles Robinson, Muhammad Alie atau Nelson Mandella. Bahkan saya lebih puas menonton film The Rise of  Evil yang menceritakan  kisah hidup Pemimpin Nazi Adolfi Hitler,  mulai dari lahir sampai kematiannya.  Buat saya, penggambaran karakter di film-film tersebut sangat kuat. Di The Rise of Evil contohnya, penonton diajak memahami bagaimana pengalaman hidup, lingkungan, yang akhirnya membentuk Hitler jadi seorang tiran.

Ekspektasi saya, sebenarnya Soegija dibuat seperti film-film bertema biografi seperti itu. Penyampaian pesan-pesan pluralisme, kemanusiaan, kebangsaan, 100 persen katolik dan 100 persen Indonesia, saya kira bakal bisa lebih lugas digambarkan hanya melalui kisah seorang Soegija saja. Tidak perlu lagi menaruh banyak karakter fiktif yang malah seperti dipaksakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...