Sabtu, 01 September 2012

Solo, Kota Kecil Jadi Magnet Publik


SOLO, KOMPAS.com -- Dalam kurun waktu enam tahun terakhir nama Solo benar-benar meluncur bagai roket. Kolaborasi antara pemangku kepentingan (stakeholder) dan masyarakat membawa Solo dikenal, baik di kancah nasional maupun internasional. Tak hanya menjadi kota yang nyaman dan tenteram, saat ini posisi Solo bagaikan magnet yang menarik perhatian publik.

Mulai dari keberhasilan menata kota dan pedagang kaki lima secara humanis, perlahan Solo mengukuhkan diri sebagai kota industri kreatif yang melahirkan berbagai karya inovasi. Tak hanya menjadi rujukan daerah-daerah di Tanah Air, berbagai penghargaan pun mengalir ke kota ini.

Solo bahkan berulang kali jadi tuan rumah kegiatan skala nasional dan internasional. Pemerintah dan masyarakat Solo juga berkolaborasi menyelenggarakan berbagai kegiatan. Beberapa tahun terakhir, di Solo diselenggarakan pergelaran seni yang menyedot ribuan pengunjung seperti Solo International Etnic Music, Solo International Performing Arts, serta Solo Batik Carnival yang mengangkat potensi batik.

Kota Solo di bawah duet kepemimpinan Wali Kota Joko Widodo dan Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo juga melahirkan Program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS) dan Program Bantuan Pendidikan Masyarakat Kota Solo bagi masyarakat tak mampu, serta membangun perekonomian, pariwisata, seni, dan budaya. Salah satu gebrakan yang menyita perhatian nasional, yakni mengusung mobil Esemka, karya siswa SMK di Solo, sebagai produk dalam negeri.

Seiring nama Solo mendapat tempat di panggung nasional, berbagai peristiwa mewarnai perjalanan kota ini. Selain berupaya mengubah anggapan orang tentang Solo sebagai daerah ”sumbu pendek”, masyarakat Solo dalam beberapa tahun terakhir juga tampil secara dewasa menghadapi berbagai peristiwa yang terjadi di Solo, seperti penangkapan tersangka teroris, ledakan bom di gereja, serta konflik antarwarga.

Kembali diuji
Kini, warga Solo kembali diuji dengan rangkaian teror penembakan dan ledakan di pos pengamanan Lebaran yang dijaga polisi pada 17 dan 18 Agustus lalu. Terakhir, teror penembakan di pos polisi yang menewaskan seorang polisi. Tiga peristiwa itu sasarannya memang kepolisian dan secara fisik tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat Solo. Namun, secara psikologis kejadian beruntun ini mulai mengusik warga Solo.

”Pada satu sisi, kami menganggap ini masuk ranah hukum, tapi di sisi lain kami tidak rela jika Solo yang sudah nyaman dan tenteram diobok-obok seperti ini,” ujar Sumartono, salah seorang penggagas gerakan Solo Bersama Selamanya dan salah seorang Ketua Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).

Berbagai pertanyaan muncul. Mengapa Solo yang menjadi sasaran teror? Pengamat hukum dari Universitas Sebelas Maret Solo, M Jamin, menilai, teror beruntun tersebut sasarannya sama, yakni kepolisian. Meski belum mengganggu kegiatan publik, ia menduga motif di balik teror tersebut untuk menciptakan kesan bahwa aparat keamanan (polisi) tidak berfungsi.

”Tapi ini secara psikologis mulai menciptakan keresahan pada masyarakat karena tampaknya kejadian beruntun ini belum terungkap sama sekali. Orang mulai bertanya ada apa lagi dan di mana,” kata Jamin. Karena itu, agar masyarakat tak terusik dan terus bertanya, polisi harus secepatnya mengungkap kasus itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...