Kamis, 17 Januari 2013

Hagia Sophia, Saksi Kisah Dramatis Jatuhnya Konstantinopel

Gereja Katedral Hagia Sophia

Hagia Sophia atau orang Turki menyebutnya Aya Sofya adalah landmark Istanbul. Saya yang sebelumnya tidak tertarik membaca sejarah bangunan megah itu, menjadi sangat ingin mengetahuinya lebih jauh. Hagia Sophia adalah sebuah bangunan penuh sejarah, menjadi saksi dari sekian banyak kisah. Kisah paling dramatis adalah saat Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani.
 
Hagia Sophia berasal dari bahasa Yunani Aγια Σοφία yang berarti Kebijaksanaan Suci. Digunakan sebagai gereja selama 916 tahun sejak dibangun tahun 537 dan beralih fungsi sebagai masjid selama 481 tahun. Dirancang oleh para ilmuwan Yunani yaitu Isidorus seorang Fisikawan dan Anthemius yang seorang ahli Matematika. Atas perintah Kaisar Justinian Bizantium bangunan gereja itu berdiri. Kubah bangunan ini memiliki tinggi 55,6 meter dan dianggap sebagai lambang arsitektur Bizantium dan juga menjadi katedral terbesar di dunia selama hampir 1000 tahun. Sebenarnya pada tahun 360, Kaisar Constantine pernah membangun sebuah bangunan besar bernama Megalo Ekklesia (the Great Church) di tempat Hagia Sophia berdiri saat ini, namun terbakar pada tahun 404, lalu baru pada tahun 537 dibangun Hagia Sophia.
 
Sejarah Berdirinya Konstantinopel
 
Konstantinopel, merupakan ibukota Kekaisaran Romawi Timur. Dalam sejarahnya, ibukota Romawi Timur sebelumnya adalah Nikomedia di Anatolia lalu sejak tahun 330 berpindah ke Byzantium dan akhirnya berganti nama menjadi Konstantinopel. Romawi Timur merupakan kekuatan terbesar ekonomi, budaya dan militer di Eropa. Wilayah kekuasaannya membentang dari Armenia (sebelah barat Turki) sampai ke Calabria di Italia Selatan juga sebagian Afrika termasuk Mesir. Kekaisaran Romawi terbagi menjadi barat dan timur pada sekitar tahun 395 setelah kematian Theodosius I yang merupakan kaisar yang memerintah seluruh Romawi. Pembagian ini cukup penting karena di dasari oleh persamaan bahasa, di Romawi Barat penduduknya menggunakan bahasa Latin sedangkan Romawi Timur menggunakan bahasa Yunani. Tapi ternyata pemisahan ini menggerogoti persatuan kekaisaran Romawi saat itu.
  
Semenanjung Tanduk Emas (http://imageshack.us)
Konstatinopel yang merupakan ibukota Romawi Timur merupakan wilayah strategis bagi jalur perdagangan bangsa-bangsa Eropa. Letaknya yang berada di jalur darat dari Eropa ke Asia serta jalur laut dari laut Hitam ke Laut Mediterania. Kota ini juga memiliki pelabuhan terbesar yang dijuluki sebagai Tanduk Emas karena bentuk semenanjung yang menyerupai tanduk. Karena letak geografisnya yang strategis ini hampir selama abad pertengahan Konstatinopel menjadi kota terbesar dan termakmur di Eropa. Kota ini didirikan oleh Kaisar Konstantinus I pada tahun 330 (sebelumnya bernama Bizantium). Didesain untuk menjadi sebuah kota metropolis seperti kota Roma, fasilitas-fasilitas umum dibangun seperti alun-alun, jalan raya, saluran air, bahkan hipodromos (tempat pacuan kuda) yang menampung hingga 80.000 penonton dibangun di kota ini.
   
Jatuhnya Konstantinopel
 
http://id.wikipedia.
Pada tahun 1450, ketika wilayah kekuasaan Turki Usmani semakin meluas di wilayah Balkan, posisi Romawi Timur hanya tersisa di Konstantinopel. Posisi yang tidak menguntungkan sebenarnya karena terjepit di Barat dan Timur, namun karena letak Konstantinopel yang strategis, maka Kaisar Constantine XI bersikeras mempertahankannya. Sultan Mehmet II yang saat itu berusia 21 tahun naik tahta menggantikan ayahnya Sultan Beyazid I mencoba memberikan tawaran pada sang Kaisar Romawi untuk menyerahkan Konstatinopel. Sang Kaisar akan diberikan wilayah kekuasaan menjadi gubernur di Yunani dengan membawa seluruh harta kekayaannya serta dijamin keselamatannya asalkan mau meninggalkan Konstantinopel. Namun tawaran itu ditolak mentah-mentah oleh sang Kaisar.
 
Penolakan itu serta merta mengakibatkan perang besar di kota ini pada tahun 1453. Diawali dengan pengepungan Konstantinopel pada 6 April 1453 di segala penjuru. Sang Sultan Mehmet II menggunakan meriam raksasa, senjata yang relatif baru pada masa itu untuk merobohkan benteng yang dibangun mengelilingi Konstantinopel. Sebenarnya perang ini tidak seimbang, bayangkan saja tentara Konstantinopel saat itu hanya berjumlah sekitar 7.000 tentara sedangkan kekuatan pasukan Turki Usmani mencapai 100.000 tentara. Walaupun sudah dikerahkan penduduk Konstantinopel yang berjumlah 50.000 orang tetap saja tidak bisa mengimbangi kekuatan pasukan Turki waktu itu. Namun kuatnya benteng menjadi masalah tersendiri hingga menyebabkan Sultan Mehmet II merencanakan penyerbuan yang lebih masif.
 
Pengepungan Konstantinopel dari seluruh penjuru tembok

Tanggal 28 Mei 1453, pengepungan kota oleh tentara Turki dimulai sejak tengah malam. Warga kota semakin menyadari bahwa kekalahan sudah di depan mata. Lonceng-lonceng gereja dibunyikan sepanjang malam, ribuan orang berkumpul di Katedral Agung Hagia Sophia untuk melakukan misa terakhir. Sebagian menyanyikan hymne suci, sebagian menangis dan sebagian yang lain saling bermaaf-maafan, rakyat Konstantinopel menyadari saat kematian akan segera tiba. Dalam prosesi malam itu, sang Kaisar juga berpidato di depan para panglima perangnya mengatakan bahwa dia akan ikut berjuang sampai titik darah penghabisan demi mempertahankan Konstantinopel.
 
Dini hari tanggal 29 Mei 1453, pertempuran besar terjadi sehingga menyebabkan benteng kota yang kokoh itu akhirnya mampu ditembus oleh pasukan Turki Usmani. Sultan Mehmet II memasuki kota yang telah luluh lantak, dia begitu bergembira pada waktu pasukan tempurnya berhasil menghancurkan pasukan yang masih setia kepada Kaisar Byzantium.Setelah kota itu berhasil takluk, Sultan turun dari kudanya dan bersujud; memerintahkan hari itu juga untuk mengubah Katedral Agung Hagia Sophia menjadi Masjid Aya Sofia; merusak patung-patung, ikon, altar, lonceng dan mimbar gereja yang sudah berusia ribuan tahun itu. Pada hari Jumat, Mei 1453 Sholat Jumat langsung diadakan di dalam bekas Katedral yang sudah diubah menjadi masjid itu. Menara masjid kemudian dibangun di samping kiri kanan bekas Gereja. Tahun 1937 Kemal Ataturk merubah masjid menjadi museum sampai sekarang. Kota itu kemudian diubah nama menjadi Istanbul (Kota Islam).

Hagia Sophia saat ini
  
Hagia Sophia Saat Ini

Ketika kekaisaran Ottoman jatuh pada Perang Dunia Pertama, Turki berada di bawah kepemimpinan sekuler Mustafa Kemal Ataturk. Pada tahun 1937, Mustafa Kemal Ataturk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Mulailah proyek "Pembongkaran Hagia Sophia". Beberapa bagian dinding dan langit-langit dikerok dari cat-cat kaligrafi hingga ditemukan kembali lukisan-lukisan sakral Kristen. Sejak saat itu, Gereja Hagia Sophia dijadikan salah satu objek wisata terkenal oleh pemerintah Turki di Istanbul. Nilai sejarahnya tertutupi gaya arsitektur Bizantium yang indah mempesona.
 
Masuk ke dalam bangunan masjid yang sudah menjadi museum sejak tahun 1934 ini kita harus membayar tiket seharga 25 TL dan gratis untuk anak-anak usia 0 -12 tahun. Boleh membawa kamera, tapi jika anda membawa tripod, harus dititipkan dibagian pemeriksaan, kita bisa mengambilnya lagi setelah keluar.
   
Tiket masuk museum Hagia Sophia
Bangunan megah ini terdiri dari 2 lantai. Lantai dasar yang juga merupakan main hall yang dulu digunakan sebagai tempat ibadah, ornamen-ornamen gereja seperti gambar Yesus masih ada dalam bangunan ini berdampingan dengan kaligrafi Islam seperti lafadz Allah dan Muhammad serta beberapa tulisan kaligrafi lainnya seperti halnya dalam sebuah masjid. Uniknya, bangunan Hagia Sophia ini sudah nyaris menghadap ke arah kiblat, jadi tidak perlu lagi merubah mihrab tempat imam, hanya sedikit saja menggeser arahnya beberapa derajat.

Untuk menuju lantai 2, anda akan melewati lorong berukuran tinggi orang dewasa dan lebar sekitar 1,5 - 2 meter. Jangan khawatir capek untuk naik ke atas karena jalan menuju ke sana bukan berupa tangga tapi ramp yang landai. Di lantai 2, terdapat gallery. Nuansa gereja masih kental di sini, ikon-ikon kuno bergambar Bunda Maria dan Yesus juga Kaisar Constantine dan istrinya bisa kita saksikan.

Interior Hagia Sophia

 

Beberapa kaligrafi Arab yang menghiasi Hagia Sophia
Beberapa ikon suci yang menghiasi Hagia Sophia

Mimbar untuk Khotbah
Ikon bergambar Yesus dengan tulisan Yunani kuno (lantai 2)
Ikon Theotokos dan kanak-kanak Yesus, di kanan dan kirinya adalah Kaisar Constantine dan Istrinya
Ikon Theotokos berdampingan dengan Kaligrafi Arab

*Sumber sejarah :
  • Istanbul, The Cradle of Civilitations, ARD Yayin ve Tic. Ltd. Sti
  • Wikipedia

Baca juga:

3 komentar:

  1. sejarah berkaata berbeda dalam akhirnya sultan membiarkan orang orang konstantin kristen, hidup damai tanpa di ganggu beragamanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya berbeda ? Di atas ditulis :

      "Sultan Mehmet II merusak patung-patung, ikon, altar, lonceng dan mimbar gereja yang sudah berusia ribuan tahun itu. Pada hari Jumat, Mei 1453 Sholat Jumat langsung diadakan di dalam bekas Katedral yang sudah diubah menjadi masjid itu. Menara masjid kemudian dibangun di samping kiri kanan bekas Gereja. "

      Lah, itu kan FAKTA. Apakah maksud anda Haggia Sophia tidak pernah jadi Masjid, properti di dalamnya tidak pernah dirusak/ditutupi ? Atau mungkin anda tidak merasa kalau tindakan PERAMPASAN seperti ini tidak mengganggu kehidupan beragama orang Kristen ? Coba dibalik, kalau tempat ibadah anda DIUBAH JADI Gereja, TERGANGGU NGGAK ?

      Hapus
  2. cuba ada ngk bukti sultan merusak bangunan kristen, tuh buktinya foto2 nya masi ada unsur kristiani

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...