Rabu, 16 Januari 2013

Walikota Blitar Ancam Penutupan 6 Sekolah Katolik


BLITAR - (Selasa, 15.01.2013) Sebanyak 6 sekolah swasta di kota Blitar, Jawa Timur terancam ditutup oleh pemerintah daerah karena menolak memberikan tambahan pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Walikota Blitar mengeluarkan aturan yang mewajibkan setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran.

6 sekolah swasta di kota Blitar yang diperingatkan oleh pemerintah kota Blitar karena tidak menerapkan pendidikan agama bagi siswanya yang beragama lain adalah SMA Katolik Diponegoro, STM Katolik, TK Santa Maria, SD Katolik Santa Maria serta SD Katolik dan SMP Yos Sudarso.

Baca juga: Di Blitar, Sekolah Katolik Dipaksa Ajarkan Agama Islam

Ke 6 sekolah tersebut tidak bersedia memberikan tambahan kurikulum atau pelajaran agama bagi siswanya yang beragama Islam. Pihak sekolah beralasan, penerapan kurikulum yang diberlakukan sekolahnya bisa diterima siswa ataupun wali murid.

Sementara peringatan Walikota Blitar terkait SK No.8 tahun 2012 yang mewajibkan setiap anak didik harus bisa membaca Al Quran mengacu pada Peraturan Pemerintah No.55 tahun 2007 tentang pendidikan agama.

Pemkot Blitar mewajibkan seluruh sekolah menjalankan kurikulum agama Islam hingga 19 Januari 2013, namun pihak sekolah masih menunggu hasil petunjuk dari pimpinan yayasan yang berada di Jakarta.

Kepala Seksi Madrasyah dan Pendidikan Agama Islam (kasi Mapenda) Kantor Kementrian Agama Kota Blitar Baharudin mengatakan, pihaknya sudah melakukan sosialisasi terhadap sekolah-sekolah yang berada di kota Blitar sejak akhir tahun 2012. Namun, hingga kini ada 6 sekolah swasta yang tidak bersedia memberikan pelajaran tambahan bagi anak yang beragama Islam.

Pihak kantor Kementrian Agama sudah tiga kali memberi peringatan. Jika hingga batas waktu 19 Januari 2013, pihak sekolah belum menyatakan kesiapan untuk memberikan tambahan pelajaran, maka pemerintah akan mencabut ijin operasional 6 sekolah tersebut.

Rencananya ke 6 pengelola sekolah swasta ini akan menggelar rapat tertutup membahas ancaman penutupan sekolah mereka melibatkan para pengurus yayasan, komite, alumni serta wali murid.

15 komentar:

  1. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sbg dasar adalah:
    1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
    2. PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang PendidikanA gama dan Keagamaan, Pasa4 dan pasal7 .
    3. Peraturan Menteri Agama No 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama pada Sekolah pasa 3 dan 4 .

    Perlu diketahui, masih ada PP No.17/2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN (yang dikesampingkan oleh pemerintah daerah)

    belum lagi bahwa UU. No.20/2003 (Sisdiknas), banyak yang dibatalkan oleh MK.

    UU tentang Otonomi Daerah, Pembagian Tugas dan Kewenangan Pemerintah PUSAT dan Daerah (yang dikesampingkan oleh pemerintah daerah)menyatakan bahwa Urusan Pendidikan, Agama adalah urusan Pemerintah PUSAT.

    Maka Akan jauh dari sempurna, Jika Keputusan ini diambil oleh Pemda.

    BalasHapus
  2. Neagara kita tidak didasarkan pada prinsip atau dasar kepercayaan serta agama manapun. Ini jelas2 suatu proyek islamisasi yang terang-terangan dilancarkan dengan bertopengkan dan berselubungkan peraturan pemerintah. Kapan bangsa kita bisa maju kalau yg dipersoalkan hanya menyangkut perbedaan agama, suku, ras, dsb. Semakin berpendidikan bukannya semakin arif dan bijaksana melainkan semakin bodoh, biadab dan banal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dy emang gk berpendidikan kok. dulunya anak jalanan terus dipungut makax otakx juga otak pungutan

      Hapus
  3. Walikota tergoblok di dunia. Pertanyaan saya: Apakah sekolah-sekolah Islam juga bersedia memberikan mata pelajaran agama bagi siswa-siswi yang non-Islam?

    BalasHapus
  4. Sebenarnya ini bukan keputusan PEMDA, melainkan keputusan perorangan yang tidak mengerti akan nilai2 NKRI.!
    Apalagi di Blitar ada Makam Proklamator RI, seharusnya dia faham bagaimana sosok Bung Karno.!
    Keputusan ini lebih bersifat INTIMADASI, silahkan anda ke Blitar, apakah yang sekolah kategori MOSLEM ada tambahan pelajaran agama lain.? ambil Hindhu / Budha saja...
    adakah..?
    Kalo kebijakan bersifat moral dan budaya yg di terbitkan oleh PEMDA, itu syah2 saja, contoh: "wanita dilarang ngangkang saat di bonceng sepeda motor, di kota Lhokseumawe, Aceh"
    Itu ndak masalah, selama masyarakatnya tidak mempermasalahkannya.
    Sedangkan kasus ini soal Pendidikan.!
    Tambah amburadul saja ini...
    Bupati Blitarnya KORUPTOR, Walikotanya bikin aturan yg bersifat intimidasi ke-agama-an.!

    BalasHapus
    Balasan
    1. BENAR,,, MEMANG PEMERINTAH DAERAH MAUNYA SEWENANG WENANG,,,,
      KOK SEORANG WALIKOTA BISA BERBUAT BEGITU,,, BERATI WALIKOTANYA EKSTRIM...
      PAK KLO ADA WAKTU JALAN - JALAN JUGA KE FLORES.... UNTUK MELIHAT BAGAIMANA KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DISINI....

      Hapus
  5. Bokongnya dipaksakan, ngapain walikota seperti itu d dukung? Justru itu tdk menghargai agama lain n menentang PANCASILA!
    Kalau hal itu di paksakan, mending UUD di bakar, PANCASILA di linggis, n pecahlah Indonesia menjadi negara kecil! Kalau tidak tolerir, maka para pemimpin yang seenaknya sendiri kita SETRIKA!
    Pake etika dikit! ini negara bukan agama ISLAM doang! Dukung walikota = PERANG.
    Walikota yang gak punya otak aja malah di dukung, dasar PAYAH!

    BalasHapus
  6. SUNGGUH MALANG NASIB KAUM MINORITAS,,,
    MASA DI SEKOLAH KATOLIK DISURUH AJAR PELAJARAN AGAMA ISLAM... COBA KLO SEBALIKNYA APAKAH MAU MENERIMAHNYA...

    BalasHapus
  7. Indonesia adalah negara KEBANGSAAN bukan negara agama, keputusan yang paling bijaksana adalah kembali kepada orangtua dan anak tersebut atas dasar hati nurani....

    BalasHapus
  8. saya alumni salah satu sekolah swasta d Blitar.
    saya orang Blitar beragama katolik.
    dan saya tahu persis bagaimana faktanya.
    soal isu penutupan memang benar adanya.
    dari pihak yayasan (Yohanes Gabriel) sudah mengupayakan agar tidak ada penutupan apapun untuk sekolah swata d blitar.
    namun dari pihak lawan (yang terus2an ngotot pelajaran agama islam wajib ada dan bla bla bla)tetap bersikukuh untuk mengadakan pelajaran islam.
    saya ingin berpendapat,
    memang tidak bsa dipungkiri sekolah2 swasta di blitar mayoritas siswa/siswinya beragama non katolik.
    namun perlu DIGARISBAWAHI,
    waktu mereka (calon siswa/siswi beragama non katolik) akan masuk k sekolah swasta tersebut,
    mereka telah diberitahu pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran agama katolik,
    dan mereka menyetujuinya.
    sekarang yang dipermasalahkan apa??
    mereka gak merasa keberatan dan tersinggung kok yang ngotot orang lain??
    soal pelajaran agama non katolik memang tidak ada dalam kurikulum sekolah swasta katolik.
    namun dari pihak sekolah selalu menghargai dan menghormati mereka sebagai pemeluk agama lain.
    contoh paling riil adalah sholat jumat.
    sekolah swasta pasti mengijinkan mereka untuk melaksanakan ibadatnya.
    jikalaupun ada tambahan pelajaran,
    sekolah memberikan waktu istirahat dari jam 11-13.
    lalu pelajaran dimulai lagi.
    apa kurangnya??
    jika pihak2 yang ngotot itu terus2an ngotot pelajaran agama islam harus masuk kurikulum sekolah swasta katolik pertanyaannya adalah:
    1. mau atau tidak guru pengajar agama lain mengajar disana?
    2. ciri khas apa yang dipunya dari sekolah katolik?
    dll
    seharusnyapun jika mengancam, janganlah sampai ancaman penutupan.
    emangnya itu sekolah yang diriin nenek moyang mereka apa???
    trus kalo ntar jadi ada,
    mungkin mereka minta dibangun masjid disana, atau mungkin sekolahnya jadi pindah nama
    dari SEKOLAH MENENGAH ATAS KATOLIK DIPONEGORO menjadi SEKOLAH MENENGAH ATAS KATOLIK NEGERI DIPONEGORO atau malah SEKOLAH MENENGAH ATAS ISLAM KATOLIK DIPONEGORO??
    hadeeeeehhh...
    ada2 aja nih Kota tercinta saya (mungkin)..
    hehehe...
    gak malu apa ma pak karno ya??
    hehehe..
    JAYA TERUS SMAK DIPONEGORO BLITAR..!!
    TETAP JAYA ALMAMATERKU..

    BalasHapus
  9. Saya seorang Agnostik, saya menghargai semua agama yg ada, tapi kepada Islam Saya betul2 tidak respect, menurut saya Islam tuh bukan agama tapi ideologi, jadi benar atau salah harus benar, apapun yg terjadi.....contohnya keputusan Bupati Blitar ini tentang kurikulum Agama Islam wajib di sekolah Katholik. Bukan hanya Bupati ini saja yg mempunyai pola pikir Islami seperti ini, hampir semua muslim (walaupun tidak menjalankan syariat agamanya), akan gila2an dalam membela keyakinanya tersebut, karena bagi mereka yg penting adalah kuantitas bukan kualitas. Biar saja alam yg akan menyeleksi apakah ajaran islam benar atau tidak. Terimakasih.

    BalasHapus
  10. Walikota tolol, muna'...

    pikiran cuma cupet gitu kok bisa jadi walikota ya, seenaknya mengancam.
    Ini bukan negara Islam bung, so jangan paksakan agamamu untuk orang lain...

    BalasHapus
  11. koplak,,, klo mau blajar Al-Qur'an ya ke skolah umum atau ke sekolah islam.
    Saya yg muslim pun tidak mendukung akan hal ini. Tidak ada toleransi sedikit pun klo sperti ini.
    Hnya krena hal spele ini skolah katholik mau di tutup,,,fikir donk pak.

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...