Senin, 28 Januari 2013

Patutkah Perempuan Berdoa Kepada Allah dengan Kepala yang Tidak Bertudung?



*Keterangan Gambar:
Atlet ice skating dunia Korsel dan pemenang medali emas Olimpiade 2010, seorang puteri Gereja Katolik, Yuna Kim, sesaat setelah menerima Sakramen Pembaptisannya.

Merupakan tradisi yang amat mulia, perempuan mengenakan penutup rambut seperti yang dilakukan Yuna Kim, pada saat perayaan misa Ekaristi walaupun kini tidak menjadi suatu kewajiban.

Di Korea Selatan dan di beberapa negara dengan tradisi Katolik yang tua sampai pada masa kini, sebagian besar perempuan masih mengenakan mantila (kerudung, penutup kepala) saat menghadiri misa.
=========

Bersama mari kita baca ayat 1 Kor 11:13 dari rasul St Paulus kepada umat di Korintus dan kepada kita di bawah ini:

"Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?" (1 Kor 11:13)
=========

Soal kerudung (veil) itu, aturan di Kitab Suci tidak semuanya berlaku untuk selamanya.

Apa dasarnya umat Kristen tidak mematuhi petuah rasul agar wanita berkerudung saat berdoa di Gereja (1 Kor 11:4-16)?
a. Gereja, punya kuasa mengikat dan melepas (Mat 16:19; 18:18).
b. Gereja punya otoritas untuk membuat aturan yang tidak dibuat Yesus. Termasuk di dalamnya membuat dan menghapus larangan.

Tentunya larangan yang tidak berkenaan dengan wahyu yang infallible (dogma, yang dijamin kebal-salah), Misalnya waktu puasa, jenis makanan yang dipantang, kalender liturgis, tata cara pemilihan Paus/Uskup etc.

Termasuk di dalamnya adalah aturan oleh Roh Kudus sekalipun
1. Dalam Kis 15:28-29 Roh Kudus memerintahkan agar umat Kristen tidak makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, tidak makan darah dan tidak makan makanan dari binatang yang mati dicekik.

Tapi toh tidak ada umat Kristen sekarang yang mematuhi apalagi diajarkan larangan tersebut [kecuali sekte tertentu].

Ini karena aturan yang dibuat Roh Kudus tersebut telah diubah oleh Gereja yang memang punya kuasa untuk mengubah aturan disiplin. Karena Gereja dalam kepemimpinannya juga disertai Roh yang sama. Gereja sendiri telah membuat banyak aturan demi kebaikan umat yang tidak dibuat Yesus.

2. Misalnya membukukan Kitab Suci (Yesus tidak pernah memerintahkan untuk membuat Kitab Suci), tapi Gereja Katoliklah yang oleh perintah dari Paus Damasus I akhirnya mengkanonkan Kitab Suci.

3. Menghapus sunat (Yesus sendiri bersunat) dengan baptisan.

4. Mengganti hari beribadah dari Sabtu menjadi Minggu (Yesus sendiri beribadah pada hari Sabbath alias Sabtu) dll.

Bukti hanya Gereja Katolik, satu-satunya gereja yang punya kuasa untuk MENGIKAT dan MELEPAS
"Paus Gereja Roma yang paling kudus, yang merupakan takhta apostolik, yang oleh Anak Allah yang berinkarnasi sendiri, dan juga oleh semua sinode kudus, telah menerima dominasi yang UNIVERSAL dan UNGGUL, otoritas dan kuasa untuk MENGIKAT dan MELEPAS, di atas semua Gereja Kudus Allah yang tersebar di seluruh dunia - di mana melalui hal ini Sang Sabda yang mengatasi semua kuasa di surga, juga mengikat dan melepas yang di surga."
~ St. Maximus the Confessor (650AD)

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...