Selasa, 26 Februari 2013

"Bubarkan Paroki!" teriak warga yang menolak pendirian Gereja Damai Kristus Paroki Kampung Duri

"Bubarkan Paroki!" teriak warga yang menolak pendirian Gereja Damai Kristus Paroki Kampung Duri

JAKARTA - Polda Metro Jaya menepis kabar adanya penyerangan yang dilakukan warga terhadap Sekolah Damai, di Duri Selatan, Tambora, Jakarta Barat, yang direncanakan diubah statusnya menjadi Gereja Katolik Damai Kristus.

Yang ada hanyalah kunjungan sekitar seratus warga yang didominasi ibu-ibu pengajian setempat yang mempertanyakan perubahan status bangunan itu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes pol Rikwanto, Jumat (15/2), mengungkapkan kabar soal penyerangan itu cuma pepesan kosong. Yang ada, hanyalah demonstrasi warga. Perwakilan warga sebanyak lima orang pun bertemu Pemimpin Gereja Katolik Damai Kristus Romo Matheus Widyolestari di sekolah itu. Mereka hendak menyampaikan aspirasinya yang menolak perubahan izin fasos (fasilitas sosial) sekolah itu menjadi izin pendirian gereja.

"Mereka cuma serahkan surat lalu bubar seperti biasa. Enggak ada penyerangan itu. ini juga terus dipantau sama Polsek (Tambora)," cetus Rikwanto, di Jakarta, Jumat (15/2).

Dikatakan, surat yang diberikan warga warga yang tergabung dalam Forum Rakyat Masjid dan Musholah Duri Selatan kepada pihak gereja itu adalah kertas berisi tanda tangan masyarakat setempat yang menolak pengubahan status bangunan sekolah itu menjadi tempat ibadah. Mereka mendesak pembangunan gereja--yang menggunakan aula Yayasan Bunda Hati Kudus--untuk dihentikan. Menurutnya, ini menyalahi SK Gubernur Tahun 1998.

Penolakan warga terhadap Gereja Damai Kristus Paroki Kampung Duri itu sebenarnya sudah berlangsung sejak November 2007. Rangkaian pembicaraan dilakukan antara pihak gereja dan masyarakat, dengan melibatkan tokoh masyarakat, pihak Kelurahan dan Kecamatan setempat. Namun, belum juga hadir kata sepakat. Pihak gereja berargumen, penggunaan aula ini sudah dilakukan sejak tahun 1968. Sebab, tidak ada lagi tempat lain yang memungkinkan untuk beribadah.

"Masyarakat hanya minta jika itu (didirikan) sebagai bentuk gereja jangan terlalu mencolok. Gereja di dalam sekolah boleh," kata Rikwanto menyitir surat tuntutan warga. Ditambahkannya, aksi demonstrasi itu berlangsung damai. "Pada dasarnya berlangsung baik," tutupnya.

2 komentar:

  1. Mengapa ya , membangun gereja , tidak boleh, dipersulit. Kalau begitu ijin pembangunan mesjid jg tidak boleh sembarangan donk. Biar adil. Tapi kalau seperti itu, sama saja kita menghambat sesama manusia untuk berdoa, memuji dan memuliakan Tuhannya, termasuk mengutarakan keinginan, harapan, dan mengutarakan kepedihan hati kita kepada Tuhan. Kalau kita ingat dengan Tuhan, apa ya Tuhan mengijinkan umatnya menghambat keinginan umatnya yang lain untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan.

    BalasHapus
  2. biar adil, semua agAma dibubarkan aja..agama nggarai rame ae..

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...