Selasa, 11 Maret 2014

Mengenal Pembaruan Karismatik Katolik Dari Dekat

Mengenal Pembaruan Karismatik Katolik Dari Dekat (02/08/2006)

Narasumber: Sr. Helene, MASF dan Bapak Richie Handoko (Abun). Host: Carolline Silka & David Constantiyn Senduk.


Silka: Sr. Helene, bagaimana sejarah singkat Pembaruan Karismatik Katolik? 

 
Sr. Helene: Pembaruan Karismatik Katolik dilahirkan tepatnya pada bulan Februari 1967 ketika mahasiswa/i dari Universitas Dequesne (AS) mengalami Pencurahan Roh Kudus dalam sebuah retret di kota Pittsburgh, AS. Setelah mengalami Pencurahan Roh Kudus, mereka mulai mengalami Karunia-karunia Roh Kudus dan mempunyai hubungan pribadi yang lebih dekat dengan Yesus. Sejak tahun 1967 itu, berjuta-juta orang Katolik dari kurang lebih 120 negara di dunia ini telah mengalami pembaruan rohani yang luar biasa dalam hidup kristiani mereka, disertai dengan banyak karunia-karunia karismatis dari Roh Kudus.
Paus Yohanes Paulus II, 11 Desember 1979, dalam audiensi dengan para pimpinan Pembaruan Karismatik Katolik seluruh dunia mengatakan: “Saya yakin, bahwa gerakan ini adalah tanda karya Roh Kudus. Dunia masa kini sangat membutuhkan karya Roh Kudus dan orang-orang yang dipakai oleh Roh Kudus. Situasi dunia adalah sangat gawat. Materialisme adalah penolakan terhadap hal-hal yang rohani, maka kita sangat membutuhkan peranan Roh Kudus. Sebagai akibatnya saya yakin, bahwa Pembaruan Karismatik Katolik ini merupakan sebagian yang sangat penting di dalam keseluruhan pembaruan Gereja!”


Silka: Bagaimana dengan perkembangan Karismatik di negara Indonesia sendiri, Suster?


Sr. Helene: Di Indonesia, Pembaruan Karismatik Katolik dimulai pada tahun 1975 dengan berdirinya sebuah kelompok doa yang pada mulanya beranggotakan 12 orang di Malang. Lalu pada tahun 1976, secara independen juga dimulai di Jakarta dan dari keduanya ini akhirnya menyebar ke seluruh Indonesia.


Silka: Bagaimana kondisi umat Karismatik di Indonesia dan di Kalimantan khususnya?


Sr. Helene: Di Balikpapan, Pembaruan Karismatik Katolik sudah masuk sejak 1987. Namun, dua tahun yang lalu perkembangan karismatik di Balikpapan sangat berkembang, mereka berani untuk memberi renungan, kendati masih jatuh bangun, tapi keberanian cukup membanggakan. Persekutuan Doa Karismatik Katolik juga memberi ruang para anggotanya untuk sharing kesaksian iman.


Silka: Apa itu Pembaruan Karismatik Katolik?


Sr. Helene: Kardinal Suenens mengatakan: Pembaruan Karismatik Katolik tidak ingin hanya menjadi salah satu dari beberapa gerakan-gerakan rohani, tetapi Pembaruan Karismatik Katolik dapat dilukiskan sebagai “suatu aliran rahmat”:
  • berlaku bagi setiap orang Kristiani,
  • tidak pandang “gerakan” atau asosiasi dimana mereka menjadi anggotanya,
  • tidak pandang apakah orang itu seorang awam, religius (biarawan-biarawati), seorang imam atau seorang uskup.
  • Kita tidak “masuk” ke dalam Pembaharuan. Tetapi Pembaruan Karismatik yang masuk ke dalam diri kita, bila kita menerima rahmat-Nya”.
Pembaruan Karismatik Katolik tidak bermaksud membawa Gereja ke dalam gerakan Karismatik. Pembaruan Karismatik Katolik menemukan kembali mutlak pentingnya peranan kuasa Roh Kudus dalam kehidupan Gereja. Gereja lahir, tumbuh, berkembang dan berbuah hanya oleh kuasa Roh Kudus. Lewat pembaruan hidup kristiani dalam segala aspeknya, baik hidup umat secara keseluruhan maupun secara pribadi dalam Roh Kudus, Gereja dapat diperbarui.
Pembaruan Karismatik Katolik ingin menghadirkan bagi kita kehidupan Gereja perdana, dimana kita jumpai unsur-unsur hakiki dari kehidupan Gereja :
  1. Hidup yang berpusat pada Allah dan Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat kita, dimana Yesus sungguh diakui dan dialami sebagai Yang Hidup, oleh kuasa Roh Kudus.
  2. Keyakinan yang mendalam, bahwa memang memungkinkan orang hidup dalam Roh, dimana orang mengalami kehadiran, kuasa dan bimbingan nyata Roh Kudus, seperti yang dialami para murid Yesus dalam gereja perdana.
  3. Keterbukaan terhadap semua karunia Roh Kudus seperti yang kita jumpai dalam Gereja perdana dan seperti yang antara lain disebutkan dalam 1 Kor 12 dan 14.
  4. Keyakinan yang mendalam, yang diperkuat oleh pengalaman, bahwa memang mungkin sekali memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus, dengan tanda dan kuasa, seperti yang antara lain disebutkan dalam Injil Mrk.16:17-18.

Silka: Tadi disebutkan bahwa Pembaruan Karismatik Katolik ini ingin menghadirkan Kehidupan Gereja Perdana, apakah artinya itu Suster? Apakah Gereja jaman kini sudah mengalami perubahan dan modernisasi sehingga arti ”Gereja” itu sendiri menjadi kabur?


Sr. Helene: Sebetulnya kita sudah hidup di dalam gereja perdana, dan memang setelah ada pembaharuan karismatik, dunia mengalami kelengkapan. Karismatik bukan menghapus yang lama, tapi membaharui, melengkapi apa yang sudah ada. 


Abun: Benar sekali, dan lewat pembaruan yang dilakukan oleh Roh Kudus, kita dapat benar-benar mengalami Trinitas yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sebagai Yang Hidup di dalam diri kita. Bukan hanya sekedar mengetahui saja, tapi juga membarui hidup rohani kita yang sudah mengalami kekeringan dimana seakan-akan hal-hal yang berbau rohani tidak lagi dibutuhkan.


Silka: Sr. Helene, apa Visi Pembaharuan Karismatik Katolik atau yang kita sebut sebagai ”PKK”?


Sr. Helene: Visi dari Pembaruan Karismatik Katolik adalah sama dengan visi dari Gereja Katolik ialah membangun Tubuh Kristus (efesus 4:12). Dan Tubuh Kristus adalah kita semua umat Katolik dan kita masing-masing adalah anggota Tubuh Kristus (1 kor 12:27). Maka kita masing-masing perlu dibangun.


David: Tadi di sesi sebelumnya sudah disebutkan bahwa Visi Pembaruan Karismatik Katolik adalah: membangun Tubuh Kristus. Lalu, apa Tujuan dan Misi dari Pembaruan Karismatik Katolik ini?


Sr. Helene: Tujuan dan Misi dari Pembaruan Karismatik Katolik adalah :
1.  Menolong orang-orang Katolik mengalami suatu “Baptisan dalam Roh Kudus”       (KIS 2). Maksudnya : pengalaman pribadi rahmat pemuridan Kristus, yaitu :
  • Kasih yang berkobar dan komitmen yang besar kepada Yesus sebagai Juru Selamat dan Tuhan Pribadinya,
  • Kepercayaan seperti anak-anak kepada Allah Bapa,
  • Keterbukaan terhadap bimbingan dan karunia-karunia Roh Kudus, dan
  • Komitmen yang hangat kepada Tubuh Kristus, yaitu Gereja.
2.  Menolong orang-orang Katolik memahami, mendapatkan, dan mempergunakan karunia-karunia karismatis (Lumen Gentium Bab I No. 12), yang merupakan sumber kekuatan bagi orang-orang Kristiani dalam melaksanakan tugas perutusan mereka dan dalam perjalanan mereka menuju kekudusan.
3.  Menolong orang-orang Katolik menemukan keindahan dan kuasa doa, baik doa kolektif maupun doa pribadi, dengan tekanan khusus pada doa pujian, doa syafaat yang penuh iman, dan ikut serta dalam pertemuan doa mingguan bersama-sama dengan saudara-saudara seiman.
4.  Menolong menumbuhkan dan mengembangkan karya evangelisasi dalam Kuasa Roh Kudus, dengan mewartakan Injil dalam kata dan perbuatan dan dengan memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus melalui kesaksian pribadi dan karya-karya iman serta keadilan. 
5.  Memupuk pertumbuhan yang terus menerus dalam kekudusan melalui pengintegrasian hal-hal yang penting dalam karismatik ini dengan kehidupan yang penuh dari Gereja, melalui partisipasi dalam kehidupan sakramental dan kehidupan liturgis, penghargaan terhadap tradisi doa dan spiritual Katolik, pendidikan yang terus menerus dalam doktrin Katolik, dan partisipasi dalam rencana pastoral Gereja lokal.


David: Apa itu Karunia-karunia Karismatis Roh Kudus? Dan apa saja yang disebut sebagai Karunia-karunia Karismatis tersebut?


Sr. Helene: Karunia Roh Kudus = Kebijaksanaan, Pengertian, Nasihat, Kekuatan, Pengetahuan, Kesalehan, Takut akan Tuhan. Karunia Karismatis Roh Kudus = bahasa roh, nubuat, penafsiran bahasa roh, penyembuhan, penyembuhan batin, pelayanan pelepasan, berkata-kata dengan pengetahuan (sabda pengetahuan), sabda kebijaksanaan, karunia membuat mukjizat, karunia iman, membedakan roh-roh, resting in spirit, penumpangan tangan. 


David: Berangkat dari visi dan misi Pembaruan Karismatik Katolik tadi, akhirnya melahirkan suatu kegiatan yang disebut Persekutuan Doa (PD). Abun, mungkin bisa dijelaskan apa yang dimaksud dengan Persekutuan Doa? 


Abun: Persekutuan Doa atau sering disebut “PD” merupakan sekelompok orang yang bertemu pada waktu-waktu tertentu yang mencoba menghayati hidup Kristiani yang bersemangat dalam dunia modern. 
Maksud dari Pembaruan Karismatik Katolik adalah membawa hidup baru dalam Roh ke dalam Gereja. Persekutuan doa merupakan pelengkap Misa Kudus (bukan pengganti). Tujuan utama dari persekutuan doa adalah memuji dan menyembah Allah (Ef 5:18-20). Dengan nyanyian, karunia bahasa Roh, doa-doa, tepuk tangan, menari, mengangkat tangan, bermacam-macam alat musik, kesaksian-kesaksian pribadi yang berhubungan dengan berkat Allah dan karya-Nya dalam hidup mereka.
Tujuan kedua dari persekutuan doa adalah menerima makanan dari Firman Allah, dari karunia-karunia (nubuat, sabda pengetahuan, dan sabda kebijaksanaan), dari pengajaran dan kesaksian.   Menjelang akhir persekutuan doa biasanya ada waktu untuk doa permohonan baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri dan ada waktu juga untuk mendoakan orang lain dengan penumpangan tangan atau pelayanan secara lain bagi mereka yang membutuhkannya.


David: Menurut Abun, hal-hal apa yang ditawarkan Persekutuan Doa Karismatik Katolik bagi kehidupan Gereja?


Abun:
  • Suasana dimana orang dapat bertumbuh dalam kehidupan rohaninya
  • Suasana dimana orang bisa membawa orang lain kepada Tuhan
  • Suasana dimana orang ingin melewatkan waktu cukup lama untuk berdoa, sharing, dan belajar tentang kerohanian
  • Kesempatan untuk mendapatkan ajaran atau bimbingan rohani yang lebih dalam.
Persekutuan Doa Karismatik Katolik memainkan peranan yang sangat penting dalam Pembaruan Karismatik Katolik sehingga Pembaruan Karismatik Katolik tak mungkin berlangsung tanpa persekutuan doa tersebut.


David: Saya sering mendengar pengumuman di Gereja, diadakannya Misa Karismatik, kalo tidak salah pada tiap-tiap bulan di hari Senin. Sebetulnya apa bedanya Misa Karismatik dengan Misa Kudus biasanya?


Abun: Misa karismatik tidak berbeda dengan misa biasanya. Mulai dari pembukaan sampai selesainya. Hanya lagu-lagunya saja yang tidak semua menggunakan lagu-lagu madah bakti. Tetapi menggunakan lagu-lagu yang umumnya dijual di toko-toko kaset rohani. Jadi bukannya mengubah atau mengurangi atau menambahkan tata perayaan Ekaristi.
Penyembahan bisa dilakukan di awal – sebagai pengantar Pastor masuk ke Altar atau pada bait pengantar Injil.


Silka: Abun, mungkin boleh dishare dengan rekan setia di rumah, bagaimana pengalaman iman seorang Abun menerima Yesus Kristus dalam hidup Abun dan mengapa tertarik dengan  Karismatik Katolik?


Abun: Saya mengalami hidup baru bersama Kristus pada tahun 1996. Sebelumnya saya hanya mengenal agama Kristen dan tidak tahu sama sekali tentang agama Katolik. Dan hidup saya sebagai orang Kristen biasa-biasa saja. Doa, baca Firman, dan ke gereja itu kalo ingat saja. Saya pun bukan termasuk orang yang tertarik akan hal-hal yang berbau rohani, sama sekali. 
Tetapi pada tahun 1996, Puji Tuhan hidup saya berubah 180 derajat. Saya melihat sendiri bagaimana dahsyatnya Kuasa Allah mengalahkan roh-roh jahat dalam diri seseorang dalam pelayanan pelepasan. Saya pun tidak tahu kalo itu adalah kumpulan orang-orang Katolik. Sejak itu muncul kerinduan saya untuk mengalami kasih Alllah dalam hidup saya secara pribadi. Hati saya mulai terbuka, dan jam 24 malam saya didoakan pencurahan Roh Kudus oleh tim pelayanan. Sejak itu, hati saya berkobar-kobar dan selalu dipenuhi kerinduan untuk benar-benar mengenal dan mengalami secara pribadi Kasih Allah tiap hari, saya seperti hidup baru/dilahirkan kembali di dalam Kristus. Contohnya, dulu baca Firman ya sekedar baca saja, ga ada rasanya. Tetapi setelah Roh Kudus membarui, Firman itu menjadi hidup; mulailah saya membeli kaset-kaset rohani yang saya pakai untuk memuji dan menyembah sebelum berdoa; ikut terlibat aktif dalam pelayanan persekutuan doa karismatik. Saya bersyukur, Pembimbing saya tidak juga memaksa untuk masuk Katolik tapi membiarkan saya memilih mau katolik atau kristen. Namun saya akhirnya memilih Katolik. 
Saya memilih terlibat aktif melayani di Karismatik Katolik karena disitulah saya mengalami hidup baru dalam Roh, dan karena Roh Kudus-lah saya diijinkan untuk terus melayani sampai saat ini. Itu bukan karena kuat dan gagah saya, tetapi semata-mata oleh kasih karunia Allah saja.


Silka: Sr. Helene, apa keistimewaan Karismatik Katolik dibanding Karismatik lainnya?


Sr. Helene: Ada adorasi (saat hening),……………dan puncaknya pada Perayaan Ekaristi.


Silka: Saat ini anda menjabat sebagai Ketua II PDKK Firdaus, program kegiatan apa saja yang ada di PDKK Firdaus untuk tahun 2006 ini?


Abun:
  1. Kegiatan rutin:PD setiap Senin jam 7-9pm di Aula Prapatan Sta. Theresia dan setiap senin pertama ada misa karismatik
  2. Non rutin:
  • Koor, Lektor dan Tatib
  • Seminar (seminar SHBDR, Pertumbuhan, Penyembuhan Luka Batin, Leadership, dll)
  • KRK 


Silka: Lalu bagaimana tanggapan atau dukungan Pastor Paroki terhadap kegiatan ini?


Abun: Sangat mendukung, tempat diberikan, waktu diberikan.


Silka: Kalau ada umat yang ingin bergabung dalam PD setiap hari Senin itu, gimana caranya? Bisa langsung datang saja atau harus daftar dulu?


Abun: Langsung datang dan silakan menikmati


David: Sr. Helene/Abun, mengapa dalam memuji dan menyembah Allah, PDKK menggunakan ekspresi seperti tepuk tangan, menari, mengangkat tangan, memakai bermacam-macam alat musik. Bagi kebanyakan umat Katolik merasa hal tersebut terlalu gaduh/ramai, kurang khidmat, mengganggu konsentrasi dan sebagainya. Bisa dijelaskan mengapa Pembaruan Karismatik Katolik berlaku demikian? 


Sr. Helene: Benar, tetapi ekspresi itu bukan merupakan keharusan/wajib untuk dilakukan. Untuk beberapa orang, mengekspresikan pujian penyembahan kepada Allah cukup sulit untuk dilakukan. Mengapa? Mungkin ada pendapat malu jika dilihat dan dinilai orang atau dianggap terlalu berlebihan (over acting) atau berada dalam lingkungan yang tidak lazim melakukan ekspresi semacam itu. Tetapi saat kita berbicara tentang ekspresi dalam memuji dan menyembah Allah, hal ini berkaitan dengan respon tubuh jasmani kita. Sangatlah tidak mungkin jika roh dan jiwa kita merasakan sesuatu (senang, gembira, sedih, bangga dan sebagainya), sementara tubuh jasmani kita tidak memberi respon sama sekali. 
Contoh: Saat koor gereja menyanyi dengan indah, roh dan jiwa kita merasa senang, bangga, sukacita, respon tubuh jasmani kita: bertepuk tangan. Saat roh dan jiwa merasa sedih/berbeban berat, bisakah respon tubuh jasmani kita: bertepuk tangan? Ataupun sebaliknya saat roh dan jiwa merasa gembira, bisakah respon tubuh jasmani kita: seperti orang yang lagi patah hati? 


Abun: Bagi saya pribadi, yang menjadi pertanyaan adalah Apakah nyanyi sambil tepuk tangan, berdosa? Apakah nyanyi sambil angkat tangan, berdosa? Apakah nyanyi sambil menari, berdosa? Prinsipnya: selama perbuatan itu tidak berdosa, lakukan. Apalagi lagu-lagu yang dipakai juga lagu-lagu rohani. Kita melakukannya karena kita tidak akan pernah berhenti melihat / mendengar / merasakan keagungan, kemurahan, kebesaran, kekuatan, kasih, kuasa, anugerah dari Tuhan kita Yesus Kristus. Lakukanlah itu karena saudara mengasihi, menghormati dan mengagungkan Tuhan. Bukan karena paksaan atau tidak enak.


David: Apakah ada usaha-usaha khusus dari Pengurus PDKK Firdaus untuk merangkul umat untuk bergabung/berpartisipasi atau setidaknya memberi ruang bagi kegiatan PDKK?


Abun: Ya, kami sebagai pengurus PDKK Firdaus, kami hanyalah hamba/pelayan dari Allah yang sudah mengasihi dan kami sudah menyediakan sarana untuk pertumbuhan rohani umat. Apa yang menjadi bagian kami sudah kami kerjakan, hasilnya biarlah Tuhan yang mengaturnya.


David: Pertanyaan terakhir sebelum kita mengakhiri program malam hari ini, apakah ada pesan-pesan khusus dari Suster atau Abun untuk para Umat Katolik kita di Balikpapan, khususnya di wilayah Paroki Sta. Theresia, sehubungan dengan keberadaan Karismatik ini?


Abun: Bagi kita umat Katolik, kita perlu menjadi 100% karismatik, tetapi tidak terpisah dari Gereja. Kita juga perlu menjadi 100% Katolik, tapi tanpa tertutup terhadap oikumene dan setia dan taat pada ajaran dan hierarki Gereja. Kita tidak boleh kehilangan identitas kita. Kita tidak perlu mendengar yang negatif-negatif ttg karismatik dari orang lain tetapi alangkah baiknya selidiki sendiri seperti apa kegiatan karismatik. Baru kita mengambil kesimpulan.


Referensi: Buku Pembaharuan Karismatik Katolik (PKK) oleh Pastor Fio Mascarenhas, SJ

Sumber: http://www.carmelia.net/index.php/artikel/karismatik/593-mengenal-pembaruan-karismatik-katolik-dari-dekat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...