Jumat, 11 April 2014

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?

Buku baruku, The Protestant's Dilemma, memperlihatkan banyak sekali gagasan mengapa protestantisme tidak dapat dipercaya (sukar untuk dipercaya). Aku menyaring dari banyak gagasan untuk meringkas buku itu ke dalam yang paling esensial. Beberapa bab tidak memiliki ringkasannya tetapi cukup bagus untuk dibagikan. Di bawah ini adalah salah satunya.

1. FALLIBILITAS UNIVERSAL


JIKA PROTESTAN BENAR,
Tidak ada cara untuk tahu apakah anda sedang menyetujui/mengiyakan pewahyuan ilahi atau melulu opini manusia tentang wahyu ilahi.

Protestan dan Katolik sama-sama percaya bahwa Allah telah mewahyukan diri-Nya kepada manusia di sepanjang sejarah manusia, dan memuncakinya dalam pewahyuan diri-Nya yang paling utama dan terakhir dalam diri Yesus Kristus. Katolik percaya bahwa Kristus telah mendirikan Gereja yang kelihatan (visible) – yang hidup dan bertahan dalam Gereja Katolik – dan telah melindungi doktrin-doktrin Gereja dari kekeliruan, tapi sebaliknya protestan menolak ide infalibilitas gerejani itu, dengan mempertahankan bahwa tak ada orang, gereja atau denominasi manapun yang terlindungi dari kekeliruan dalam pengajarannya. Ini berarti, setiap orang dapat salah, dan tak ada orang atau institusi apapun yang dapat dipercaya sedang berbicara tentang kebenaran wahyu ilahi tanpa kekeliruan.

“Tak satupun yang tidak dapat keliru (infallibel).” Jika protestan memiliki keyakinan universal, itulah yang terjadi. Luther mempelopori ide ini ketika dia menegaskan bahwa para paus dan konsili-konsili Gereja telah keliru/salah. Jika mereka telah keliru/salah, itu berarti Allah tidak membimbing mereka kepada seluruh kebenaran; sebaliknya Allah membiarkan mereka jatuh dalam kekeliruan dan, makin buruk, menyatakan kekeliruan sebagai kebenaran. 

Dan terlebih lagi, yang dapat dilakukan seorang protestan, adalah mengiakan sementara saja semua pernyataan doctrinal yang dibuat oleh Gereja, pendeta atau denominasinya, karena pernyataan pernyataan itu, selalu dapat keliru, sehingga sebenarnya secara substantif (mendasar) dapat diubah-ubah pada suatu waktu di masa mendatang. Kami menyaksikan ini di sepanjang masa dalam protestantisme. Yang paling umum kelihatan adalah ketika seorang protestan meninggalkan satu gereja ke yang lainnya karena alasan ketidaksetujuan terhadap ajaran gereja itu. Ini terjadi terutama setelah gereja mengubah posisinya terhadap suatu persoalan yang dia pandang penting.

Anggaplah persoalan tentang “perkawinan” sesama-jenis. Sebelum ini, semua denominasi protestan mengajarkan ada suatu kekeliruan contradictio in terminus. Tetapi sekarang banyak (denominasi) telah memodifikasi bahkan secara keseluruhan memutar balik ajaran mereka. Protestan yang menerima pengajaran baru ini percaya bahwa ajaran yang lama itu salah – suatu opini manusiawi yang keliru yang diabadikan dalam pernyataan iman gereja mereka. Mereka dapat melakukan ini dengan sangat percaya diri, karena mengetahui bahwa tak seorangpun dari pengikut gereja mereka secara masuk akal dapat mengklaim bahwa hal itu bertentangan atau berlawanan dengan suatu dogma yang tidak dapat dibentuk ulang yang secara infalibel diwahyukan oleh Allah.

Kemudian, pada akhirnya, seorang protestan (yang tetap protestan) mempelajari sumber-sumber yang relevan – Kitab Suci, sejarah, tulisan dari tokoh-tokoh otoritatif dalam tradisi mereka – dan memilih denominasi protestan yang paling sejalan dengan penilaiannya. Tetapi kemudian mereka mengatakan/berpandangan, orang Katolik juga melakukan hal yang sama: mempelajari sumber-sumber dan memilih Gereja Katolik berdasarkan penilaian mereka. Jadi mereka tidak melihat perbedaan berkaitan dengan soal ini.

KARENA KATOLIK BENAR,
Orang Kristen dapat mengetahui pewahyuan ilahi, sebagai yang berbeda dari melulu opini manusia, karena Allah melindunginya dari setiap pengajaran otoritatif yang keliru.

Bagaimana penilaian Katolik berbeda dari seorang protestan, jika keduanya sama? Perbedaannya terletak dalam kesimpulan atau titik akhir dari pencarian yang mereka buat. Protestan pada akhirnya dapat menyampaikan hanya penilaiannya sendiri, yang ia tahu dapat keliru, sebaliknya, Katolik dapat secara meyakinkan menyetujui secara penuh akan pernyataan Gereja yang kelihatan (visible) yang Kristus dirikan dan selalu bimbing. Sehingga orang Katolik akan menyerahkan penilaiannya (tunduk) pada penilaian Gereja seperti ia tunduk pada Kristus.

Dan juga seorang Katolik dapat mengetahui pewahyuan ilahi, sebagai yang berbeda dari opini manusiawi belaka, dengan melihat pada Gereja, yang berbicara dengan suara Kristus dan tidak berdusta. Bagi seorang protestan, hanya Kitab Suci sendirilah kata-kata yang tidak dapat keliru karena diilhami Allah, sehingga dia akan menyetujui Kitab Suci saja. Tetapi karena Kitab Suci harus diinterpretasikan/ditafsirkan oleh seseorang, yang paling mungkin baginya untuk menyetujui pengajaran Kitab Suci adalah meyakini interpretasinya sendiri terhadap Kitab Suci, yang ironisnya dapat keliru juga. Menyetujui penilaian diri sendiri sama sekali bukanlah sebuah kebenaran, kebenaran bukanlah apa yang dibenarkan oleh diri sendiri.

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar, kita semua dapat keliru. Jadi protestan harus bersandar pada penilaiannya sendiri daripada penilaian gerejanya. Dan ortodoksi gereja itu dipandang dalam konteks interpretasinya sendiri terhadap Kitab Suci. Sehingga menjadi tidak mungkin membedakan apa wahyu ilahi itu sesungguhnya dan apa yang manusia pikirkan tentang wahyu ilahi itu.

Fakta ini membuat Gereja Katolik, katakanlah secara filosofis, lebih baik (preferable) daripada protestan, karena kebenaran Allah dapat diketahui – dan diketahui dengan suatu kepastian.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?
Paus Benediktus XVI

2. KEPAUSAN


JIKA PROTESTAN BENAR,
Setelah berabad-abad keberadaannya, Allah memutuskan untuk mencabut jabatan kepausan

Gereja memiliki seorang paus, kepala yang nampak, sejak awal. Kenyataannya, kita tahu nama dan kira-kira masa hidup semua paus itu. Semua dapat dilacak sampai pada abad pertama: Petrus, yang pertama, kemudian Linus, Anacletus dan Klemens I. Tetapi beberapa waktu antara abad-abad pertama Gereja dan Reformasi Protestan di tahun 1500-an, kepausan sebagai sebuah jabatan telah menjadi korup, dan Allah mencabut kembali otoritas kepausan itu.

Tak perlu ada Paus, Terima kasih

Protestan berbeda dalam banyak ajaran, tetapi untuk satu persoalan mereka sungguh tersatukan: mereka menolak ide bahwa paus memiliki otoritas dari Allah. Mereka tidak membutuhkan seorang paus; mereka tidak menginginkan seorang paus, dan, kata mereka, Allah juga tidak (membutuhkan paus).

Paus tidak dibutuhkan karena protestan memiliki Kitab Suci. Mereka akan lebih percaya akan dokumen tertulis yang tidak berubah daripada kepada pribadi-pribadi manusia yang bisa berganti-ganti dan juga berubah-ubah pikiran. Bagi mereka nampak lebih masuk akal bahwa Allah akan menetapkan suatu standar (lain). Seperti seorang komentator mengatakan padaku:

Manusia tidak dapat dipercaya; manusia akan korup terhadap apapun yang dia sentuh. Bertahannya naskah-naskah Kitab Suci adalah (tanda) bertahannya batu uji yang bagi para rasul bertindak sebagai suatu standar yang tidak berubah. Ini sesuatu yang perlu; ini adalah preservasi; ini adalah kehendak Allah.

Paus adalah manusia belaka dan karena itu bisa salah. Allah tidak akan mengandalkan sebarisan pria-pria seperti itu untuk memimpin Gereja-Nya. Sebaliknya, Ia telah menghendaki para rasul mencatat kebenaran ilahi dalam Kitab Suci, di mana semua umat Kristen dapat menemukan kebenaran itu dan mengetahui bahwa itu adalah “batu uji” bagi para rasul sendiri (dan karena itu bagi Kristus). Suatu batu uji (standar) adalah sesuatu yang digunakan untuk menguji kebenaran dan kemurnian suatu substansi. Protestan percaya bahwa inilah tepatnya apa yang Allah berikan kepada kita sebagai satu-satunya kaidah iman yang tidak dapat salah. Tak perlu ada paus.

KARENA KATOLIK BENAR
Kepausan didirikan oleh Kristus, berlangsung terus menerus dan mempertahankan otoritas yang dipercayakan padanya oleh Kristus, bahkan sampai hari ini

Fakta historis dari kepausan sepanjang masa kekristenan membuat suatu alasan yang kuat bahwa kepausan dimaksudkan untuk menjadi suatu jabatan abadi dalam institusi yang Kristus bangun. Paus memimpin dan mengirim legatus-nya untuk konsili-konsili Ekumenis dan mengkonfirmasi (atau menolak mengkonfirmasi) keputusan-keputusan mereka, dan anggota-anggota Gereja menerima keputusan ini sebagai sesuatu yang mengikat.

Tetapi apa buktinya bahwa Petrus ada di Roma dan mendirikan Gereja di sana? Pertama, sementara Kitab Suci tidak secara eksplisit mengatakan bahwa “Petrus adalah uskup Roma”, surat pertamanya yang Rasul Petrus akhiri dengan berkata, ““Dia (she) yang ada di Babilon yang juga terpilih, mengirim salam kepadamu dan juga dari anakku, Markus.” (1 Pet 5:13). Kita tahu dari penggunaannya dalam kitab Wahyu bahwa Babilon adalah kata kode untuk Roma, dan dia, pemimpinnya, harus berhati-hati. Walaupun ini tidak membuktikan bahwa Petrus ada di Roma, ini adalah bukti biblis untuk klaimnya.

Beberapa umat Kristen awali memberi kesaksian akan keberadaan uskup Roma, dari Petrus dan seterusnya. Dalam tahun 100-an, Iraeneus berbicara tentang Gereja di roma yang didirkan oleh Rasul Petrus dan Paulus dan melanjutkan menggambarkan suksesi uskup dari sana:

Para rasul yang terpuji, setelah mendirikan dan membangun Gereja, menyerahkan ke tangan Linus jabatan episkopat. Tentang Linus ini, Paulus menyebutnya dalam surat kepada Timotius. Digantikan Anacletus, dan setelah dia, di tempat ketiga dari para rasul, Klemen diserahi keuskupan.

Klemen yang disebutkan pada bagian akhir ini adalah pengarang dari surat kepada Gereja di Korintus di abad pertama. Klemens memulai suratnya dengan mengatakan bahwa dia menulis dari Gereja di Roma, memperkuat klaim bahwa garis uskup ini berdiam di Roma dan dimulai oleh Petrus. Ignatius dari Antiokia, Tertulianus, Eusebius, Hironimus, Yohanes Krisostomus, di antara lainnya, memberikan kesaksian akan kenyataan historis Petrus yang menetap dan menjadi martir di Roma. Suatu pengujian yang tidak berat sebelah untuk bukti historis, dipasangkan dengan kata-kata Petrus dalam suratnya yang pertama, memberi alasan yang kuat untuk jabatan uskup pertama Roma yaitu Petrus dan garis itu terus berlanjut dengan suksesi yang tidak terpatahkan.

Tetapi bagaimana tentang Kitab Suci sebagai batu uji/standar bagi para rasul? Seorang Katolik dengan gembira dapat menyetujui bahwa sungguh demikian. Tetapi itu tidak berarti Kitab Suci adalah sola (satu-satunya) standar bagi para rasul. St. Paulus mengatakan kepada kita dalam suratnya kepada Gereja di Efesus bahwa Allah membangun Gereja-Nya pada manusia:

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (Ef 2:19)

Kristus adalah fondasi utama dan Ia memilih para rasul sebagai lapisan fundasional bagi Gereja. Mereka ini  adalah manusia dan karena itu, ini benar, terbuka pada kemungkinan korup. Tetapi Allah dengan kekuatan-Nya melindungi pria-pria ini dari kekeliruan dalam pengajaran-pengajaran mereka, yang bahkan protestan percaya – karena mereka percaya bahwa nas-nas Kitab Suci ditulis oleh pria-pria ini. Allah menyiapkan bagi kita batu uji ganda bagi Kristus: para rasul dan penerus-penerus mereka (Magisterium), Tradisi Apostolik dan Kitab Suci.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka setelah 1500 tahun memiliki seorang uskup di Roma yang dipanggil pangeran para rasul, pengganti Petrus yang padanya Kristus memberikan kunci untuk Kerajaan Surga (Mat 16:19), Allah mencabut jabatan kepausan. Gereja-Nya tidak akan lagi memiliki seorang pemimpin, seorang “hamba dari para hamba Allah.”

Sebaliknya, Allah meninggalkan Gereja-Nya mengikuti para pemimpin manapun. Mereka ini menyatakan diri mereka sebagai pemimpin atas gereja-gereja yang mereka bangun atas dasar otoritas mereka sendiri atau pewahyuan pribadi.

3. KONSILI EKUMENIS


JIKA PROTESTAN BENAR,
Konsili-konsili ekumenis tidak lagi memiliki kuasa seperti yang dulu penah dimiliki.

Untuk beberapa abad pertama keberadaan Gereja, para uskup berkumpul dalam konsili-konsili dan menetapkan doktrin-doktrin yang benar dan mengutuk heresi-heresi, dengan mengeluarkan ketetapan yang diakui sebagai mengikat bagi semua orang beriman. Tetapi pada titik tertentu dalam sejarah, konsili-konsili ini semestinya tidak lagi memiliki otoritas pengajaran yang universal itu.

Sebaliknya, konsili-konsili itu melulu menjadi pertemuan seremonial para uskup Gereja – atau paling buruk, komplotan rahasia dari Gereja yang berkianat yang telah diambil alih oleh tradisi-tradisi manusia.

The Protestant Conception of Ecumenical Councils Protestants berpendapat bahwa tidak ada konsili Gereja, bahkan yang secara tradisional dianggap ekumenis (universal), membawa suatu otoritas – kecuali sejauh konsili itu secara akurat menafsirkan Kitab Suci yang dalam kasus ini otoritasnya adalah dari Kitab Suci bukan dari konsili.

Jadi 4 konsili pertama Gereja yang sebagian besar menjawab persoalan-persoalan trinitarian dan kristologis, dianggap “otoritatif” hanya sejauh konsili itu adalah deduksi akurat dari sabda-sabda Allah dalam Kitab Suci. Namun, banyak protestan menduga bahwa bahkan konsili-konsili awal ini mengandung kekeliruan. Sebagai contoh, hanya sedikit yang rela menerima bahwa Maria adalah “Bunda Allah,” seperti yang dinyatakan dalam konsili ekumenis ketiga di Efesus. Bahkan Martin Luther yang tidak memiliki persoalan dengan gelar ini, menentang (berpendapat) bahwa konsili Gereja secara umum mengandung kekeliruan, seperti yang dinyatakannya dalam pernyataan penutupnya yg terkenal di The Diet of Worms:

Jika aku tidak diyakinkan oleh kesaksian Kitab Suci atau oleh akal budi yang jernih (karena aku tidak percaya baik paus maupun konsili-konsili, karena telah diketahui dengan baik bahwa mereka sering keliru dan bertentangan dalam diri mereka sendiri), aku diikat oleh Kitab Suci yang telah aku kutip dan hati nuraniku tertangkap oleh sabda Allah.

Luther di sini menghadirkan kepercayaan protestan yang umum bahwa konsili-konsili ekumenis telah keliru dan “bertentang satu sama lain” karena menyimpang dari arti sebenarnya dari sabda Allah seperti yang ditemukan dalam Kitab Suci. The Westminster Confession of Faith, dokumen konfesional paling penting dari protestantisme Calvinis mengaungkan kembali ketidakpercayaan Luther terhadap konsili-konsili Gereja:

Semua sinode atau konsili sejak jaman para rasul, apakah umum (ekumenis) atau khusus, dapat keliru dan banyak telah keliru; karena itu sinode dan konsili itu tidak harus dijadikan kaidah iman atau praktis, tetapi digunakan sebagai bantuan untuk keduanya. Sebaliknya, Kitab Suci sendiri adalah satu-satunya kaidah otoritatif atas iman dalam protestantisme. Inilah ajaran yang dikenal dengan Sola Scriptura, yang akan kita eksplorasi lebih mendalam kemudian.

Namun, Protestan-protestan yang lebih tradisional seperti Anglikan dan komunitas-komunitas Reformasi memandang empat konsili pertama bersifat otoritatif. Mereka berpendapat bahwa suatu konsili untuk dianggap ekumenis (karena itu, otoritatif), haruslah dihadiri oleh semua lima patriark utama (uskup untuk kota atau wilayah-wilayah penting): Roma, Konstantinopel, Antiokia, Aleksandria, dan Yerusalem. Mereka mengklaim bahwa empat konsili pertama ini memenui kriteria. Tetapi mereka berargumentasi, karena pemisahan yang terjadi dalam Gereja sejak – khususnya sejak skisma Koptik dan Ortodoks Timur – menjadi tidak mungkin lagi kelima patriark hadir dalam satu konsili, sehingga secara praktis tidak mungkin menjadi konsili ekumenis sampai hari ini.

KARENA KATOLIK BENAR,
Konsili-konsili Gereja memiliki otoritas mengikat yang sama sampai hari ini seperti yang dimiliki sejak abad-abad pertama.

Gereja telah menyelenggarakan konsili-konsili ekumenis sejak jaman para rasul (abad pertama). Kita melihat contoh dan pola untuk konsili-konsili ini dalam Kis 15, Konsili Yerusalem. Gereja dihadapkan dengan persoalan apakah bangsa-bangsa lain yang menerima iman Kristiani harus disunat supaya selamat. Permulaan konsili adalah, Paulus dan Barnabas “dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka (orang-orang Yahudi yang datang dari Yudea ke Antiokia), sehingga mereka “ditunjuk untuk pergi ke Yerusalem kepada para rasul dan tua-tua untuk membicarakan hal itu (sunat)” (Kis 15:2).

Setelah perdebatan lama di antara para rasul dan tua-tua, Petrus berdiri dan menjelaskan bagaimana Allah menganugerahkan Roh Kudus kepada bangsa-bangsa lain, dan bahwa keselamatan berasalah dri rahmat melalui iman – bukan dengan menaati hukum Musa. Para rasul kemudain membuat draft sebuah surat untuk dikirim ke gereja-gereja, yang di dalamnya orang-orang mengajarkan hal yang menggoyahkan dan mengelisahkan umat tanpa otoritas dari para rasul. Keputusan yang dibuat oleh konsili, yang dimulai dengan rumusan otoritatif, “adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami.” Protestan mengakui otoritas konsili ini karena para rasul sendiri yang memimpinnya. Juga, konsili ini tercatat dalam Kitab Suci, jadi keputusannya bersifat otoritatif untuk alasan itu.

Konsili ekumenis pertama yang disidangkan adalah di Nicaea pada tahun 325. Dihadiri lebih dari 300 uskup, termasuk Hosius, Uskup Kordova dan utusan/legatus Paus Silvester. Tujuan utama dari konsili itu adalah untuk menentukan apakah pengajaran Arius, diakon dari Aleksandria yang menyangkal ke-Allah-an Kristus dan relasi yang sehakekat dengan Bapa, adalah kesesatan. Kebenaran-kebenaran ke-Allah-an Kristus dan ke-sehakekat-an-Nya dengan Bapa sebagai konsekuensinya dinyatakan sebagai dogma. Protestan menerima ketetapn konsili ini bahakn menunjuk padanya sebagai standar untuk ortodoksi Trinitarian. Banyak protestan saat ini masih mengucapkan Kredo Nicaea, bagian pertama yangdirumuskan di Nicaea. Mereka juga menerima konsili ekumenis kedua yang diselenggarakan di Konstantinopel tahun 381, yang secara dogmatis menegaskan kebenaran tentang Keilahian Roh Kudus, dengan mengutuk kesesatan Makedonius. Bagian kedua dari Kredo didaptkan pada konsili ini, dan mayoritas terbesar protestan dengan bangga mendeklamasikannya sebagai suatu pengakuan dari kepercayaan-kepercayaan mereka yang paling fundamental.

Konsili Efesus I dalam tahun 431 adalah konsili ekumenis ketiga yang mengutuk ajaran Nestorius bahwa Maria hanyalah ibu untuk hakekat kemanusiaan Kristus. Ajaran seperti itu telah sangat melukai teologi yang benar dari misteri Inkarnasi, yang membuat tidak mungkin mengatakan bahwa “Allah mati di salib untuk dosa-dosa kita.” Konsili ekumenis keempat diselenggarakan di Kalsedon pada tahun 451, yang menolak monofisitisme – kepercayaan bahwa Kristus hanya memiliki satu kodrat – dan menegaskan bahwa Yesus memiliki 2 kodrat dalam satu pribadi.

Konsili-konsili ini membangun dasar untuk ortodoksi Trinitarian dan Kristologis yang diikuti oleh hampir semua protestan. Dalam kenyataannya, protestan percaya bahwa setiap orang, yang menolak kebenaran-kebenaran tersebut, menempatkan dirinya sendiri di luar (alasan utama menagapa mereka menganggap Mormon sebagai non-Kristen). Jadi protestan ingin mengafirmasi konsili-konsili ini sebagai konsili yang otoritatif. Namun konsili di Efesus juga mengajarkan bahwa Maria adalah Bunda Allah, suatu gelar yang membuat banyak protestan tidak tenang. Kita akan mengangkat persoalan itu dalam satu bab kemudian, tetapi poin pokoknya di sini adalah bahwa konsili-konsili ini menetapkan baik ortodoksi maupun, dalam pandangan protestan, juga ketetapan yang mengandung kekeliruan dan perlu dipertanyakan.

Banyak problem tersisa bagi protestan yang berusaha untuk menerima empat konsili pertama, sementara menolak yang lainnya. Konsili ekumenis kelima, Konstantinopel II, menyatakan Maria tetap perawan seumur hidupnya, suatu kepercayaan yang sangat ditolak oleh sebagian besar protestan. Namun, konsili berikutnya, diadakan dalam abad ke-7, mengutuk kepercayaan monothelite bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak. Konsili itu menentapkan bahwa Kristus memiliki dua kehendak, Ilahi dan manusiawi. Ini adalah suatu kebenaran yang protestan percayai sebagai komponen esensial untuk ortodoksi Kristologis.

Menjawab Keberatan-keberatan Protestan

Apakah masuk akal, seperti protestan nyatakan, bahwa konsili ekumenis adalah otoritatif sejauh konsili itu secara akurat merepresentasikan kebenaran biblis? Ketika kita melihat pada Konsili Yerusalem, kita melihat bahwa Gereja memutuskan bahan yang dipersoalkan dengan referensi pada otoritas para rasul yang Allah berikan dalam Gereja dan tidak bergantung pada PL (yang adalah satu-satunya “Kitab Suci” yang ada pada masa itu, dengan hanya sedikit surat telah ditulis waktu itu dan kanon yang ditetapkan masih beberapa tahun kemudian). Sesungguhnya, PL tidak cukup jelas untuk persoalan itu, baik perlunya sunat dan pratanda keselamatan Bangsa-bangsa lain. Jadi klaim bahwa konsili-konsili hanya otoritatif ketika sesuai dengan Kitab Suci – yang dengannya para reformator memaksudkan baik PL maupun PB – hanya sedikit masuk akal ketika diaplikasikan pada konsili contoh pertama.

Tetapi ada problem kedua dengan teori ini. Siapa yang memiliki otoritas untuk secara akurat menginterpretasi teks-teks Kitab Suci (dan karena itu mengatur apakah suatu konsili mengafirmasi atau menentang kebenaran-kebenaran Kitab Suci)? Luther percaya bahwa dia memilikinya (otoritas itu). Protestan-protestan lain mengklaim bahwa Luther keliru dan bahwa mereka memiliki kunci yang benar untuk pemahaman dari teks Kitab Suci itu. Problem beragamnya interpretasi protestan terhadap kebenaran Kitab Suci bertahan sampai hari ini. Tanpa suatu standar untuk menafsirkan Kitab Suci, sesuai dengan ujian ini, tidaklah mungkin untuk mengatakan dengan kepastian apakah konsili tertentu mengajarkan secara otoritatif. Bagaimana dengan teori 5-Patriark (yang dikenal dengan “Pentarchy”): bahwa kehadiran patriark-patriark utama adalah kriteria yang perlu untuk suatu konsili ekumenis? Kaisar Justinianus I  menyukai model pengaturan kekristenan ini, di mana 5 patriark dari jabatan uskup utama akan menjadi milik dari satu kekaisaran. Di akhir tahun 600an, Konsili Trullo (yang tidak pernah diterima sebagai otoritatif oleh Gereja Katolik) berusaha memberikan kepercayaan kepada teori pentarchy dengan memberi rangking pada 5 keuskupan patriarkal.

Tetapi menggunakan teori ini sebagai kriteria untuk mengakui konsili ekumenis pertama adalah problematis. Tidak ada patriark Konstantinopel di tahun 325 selama konsili Nicaea I, jd teori ini tidak dapat dipakai. Lebih lanjut, konsili ekumenis di Efesus tahun 431 mengutuk Nestorius, yang adalah patriark Konstantinopel. Sama halnya, konsili ekumenis di Kalsedon tahun 451 yang mengutuk Dioscorus, Patriark Aleksandria sebagai heretik. Tetapi Dioscorus menolak ekskomunikasi dan diakui oleh Gereja Koptik sebagai paus. Ketika patriark-patriark jatuh ke dalam skisma, teori Pentarchy tidak menyediakan kaidah untuk mengetahui pihak mana yang ortodoks dan mana yang skismatik.

Sebenarnya, teori ini adalah suatu kecocokan historis yang ditemukan oleh kaisar Byzantin dengan harapan menjaga keteraturan di kekaisarannya. Protestan modern telah mengumumkan teori itu sebagai jalan obyektif untuk mengidentifikasikan konsili-konsili yang otoritatif; tetapi seperti yang kita lihat, teori itu tidak dapat bekerja.

Kriteria Katolik untuk suatu Konsili Ekumenis

Jika tidak satupun teori protestan masuk akal, apa yang membuat suatu konsili tiu ekumenis, dan karena itu otoritatif? Sederhana saja: paus.

Uskup Roma adalah pengganti Petrus, yang padanya Kristus memberikan “kunci Kerajaan Surga” sekaligus otoritas untuk mengikat dan melepaskan (bdk. Mat 16:18-19). Jadi, selama konsili-konsili awal ini kita menemukan patriark-patriark lain memperlihatkan rasa hormat yang besar terhadap paus. Sebagai contoh, ketika memimpin Konsili Kalsedon (451) – yang menetapkan Kristus sungguh Allah sungguh manusia – Flavianus, Patriark Konstantinopel, menulis surat untuk paus tentang ekstremitas konflik religio-politis dan meminta intervensi paus:

Ketika aku memohon kepada Tahta Apostolik, Tahta Petrus, Pangeran Para Rasul, dan kepada seluruh anggota sinode suci, yang taat pada Yang Mulia, sekali kerumunan pasukan mengelilingi aku dan menghalangi jalanku ketika aku hendak mencari perlindungan ke altar suci... Karena itu, aku memohon kepada Yang Mulia untuk tidak mengijinkan hal-hal seperti itu diperlakukan dengan biasa saja... tetapi pertama-tama mengangkat atas nama perkara iman ortodoks kita, yang sekarang dihancurkan oleh tindakan-tindakan yang tidak sah... lebih lanjut mengeluarkan suatu instruksi otoritatif... sehingga iman seperti itu dapat diwartakan di mana saja oleh sidang sinode yang dipersatukan dari para bapa baik Timur maupun Barat. Jadi, hukum-hukum para bapa dapat berlaku dan semua yang telah dilakukan keliru dibuat nol dan kosong. Bawalah penyembuhan untuk luka yang mengerikan ini.

Demikian juga tindakan-tindakan dari konsili Kalsedon berbicara dengan penuh kuasa untuk primat dan otoritas Paus Leo:

Karena itu, Yang Mulia dan Terberkati, Leo, Uskup Agung Roma, melalui kami, dan melalui sinode tersuci yang hadir di sini bersama-sama dengan yang diberkati dan dimuliakan Petrus Rasul, yang adalah Batu Karang dan fondasi Gereja Katolik, dan fondasi iman yang ortodoks, telah melepaskannya [Dioskorus, Patriark Aleksandria] dari jabatan episkopatnya dan mengasingkan dari dirinya semua kelayakan imamatnya.

Uskup Roma adalah, dengan Rahmat Allah, penjamin terakhir atas ortodoksi. Bahkan ketika uskup-uskup dari keuskupan utama lain jatuh dalam heresi (sebagai contoh, selama krisis Arian di abad ke-3 dan ke-4), paus tetap setia. Satu-satunya kriteria untuk suatu konsili disebut ekumenis yang masuk akal secara historis adalah persetujuan dari paus. Bahkan dalam konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa Petrus adalah yang pertama berbicara dan menyatakan iman yang ortodoks, suatu pratanda dari peran uskup-uskup Roma dalam konsili-konsili berikutnya.

Gereja Katolik adalah satu-satunya Gereja atau komunitas Kristen yang masih mempertahankan konsili-konsili ekumenis sampai hari ini. Tak ada kelompok lain yang berani mengklaim bahwa mereka memiliki satu konsili ekumenis. Bisa dimengerti karena jika anda menyadari bahwa tidak ada kelompok lain yang dipimpin oleh uskup Roma.

DILEMA PROTESTAN
Protestan mengklaim mereka tanpa ragu menerima otoritas dari empat konsili ekumenis pertama, yang menyatakan kebenaran-kebenaran dasar Kristianitas. Namun, mereka menolak ketetapan tertentu dari konsili-konsili itu, dan menerima ketetapan-ketetapan tertentu dari konsili-konsili yang  kemudian sementara menolak yang lainnya. Dan mereka tidak memiliki kaidah untuk menentukan mengapa empat konsili pertama adalah ekumenis tetapi satu yang kemudian tidak. dengan asumsi Gereja Katolik keliru tentang apa yang membuat suatu konsili itu ekumenis, (kita bisa bertanya) mengapa Allah merencanakan Gereja-Nya sedemikian, selama berabad-abad, konsili-konsili ini adalah jalan utama yang di dalamnya pokok-pokok iman yang paling penting dan vital  dipertajam dan secara otoritatif dinyatakan, tetapi kemudian mencabut otoritas-Nya dari konsili-konsili itu sehingga konsili-konsili itu tidak lagi dapat dipercaya?

[Tambahan: Jika protestan benar, berarti Allah keliru karena selama berabad-abad membiarkan Gereja-Nya jatuh dalam kekeliruan yang menyesatkan tanpa suatu kuasa otoritatif untuk menentukan pokok-pokok iman yang benar]

4. EMPAT CIRI GEREJA


JIKA PROTESTAN BENAR,
Pengertian dari empat ciri Gereja secara mendasar berubah sejak Reformasi

Berdasarkan janji yang diberikan oleh Kristus, Empat Ciri Gereja disarikan dalam Kredo Nikea abad keempat: “Aku percaya akan Gereja satu, kudus, Katolik dan apostolik.” Para reformator protestan merasa canggung untuk mengakui kredo kuno ini – yang dipahami sebagai ukuran eklesiologi Kristen – sementara masih tetap mempertahankan konsepsi baru mereka tentang Gereja. Satu-satunya cara protestantisme dapat memperdamaikan keduanya adalah menegaskan bahwa empat ciri Gereja itu tidak lagi sama maknanya dengan yang dulu-dulunya.

Interpretasi Protestan tentang Empat Ciri Gereja

Protestan memahami Gereja sebagai “satu” dalam arti bahwa kumpulan semua orang Kristen yang membentuk satu kelompok dan menjadi Gereja yang invisible (tak nampak). Karena Roh Kudus berdiam dalam setiap orang Kristen, secara bersama mereka membentuk satu kelompok kaum percaya yang benar (sejati). Dalam pengertian ini, Gereja bukanlah satu badan yang tersatukan dan nampak, tetapi suatu kumpulan yang tak nampak dari bagian-bagian yang tak berhubungan (walaupun protestan melihat suatu penyatuan masa depan dari sang tubuh saat kedatangan Kristus kembali).

Berkaitan dengan ciri kedua – Gereja yang Kudus – doktrin protestan tradisional menyatakan bahwa kekudusan datang dari Kristus yang mempertalikan kebenaran-Nya kepada orang-orang Kristen. Jadi Bapa secara legal menyatakan seorang Kristen kudus atas nama kebenaran Kristus, tetapi Ia tidak sungguh-sungguh membuat Gereja menjadi kudus. Pemahaman protestan tentang kekudusan untuk Kristen individual ini kemudian diaplikasikan pada Gereja secara umum: melalui Kristus, Gereja dinyatakan kudus karena kebenaran-Nya dipertalikan pada Gereja secara kolektif.

Martin Luther mengungkapkan konsepsi protestan tentang dua ciri pertama ini ketika mendiskusikan interpretasinya tentang bagian pararel yang ditemukan dalam Kredo Para Rasul: jika kata-kata ini telah digunakan dalam Kredo:


“aku percaya bahwa ada seorang umat Kristen yang kudus,” itu akan mudah untuk menghindari semua kesengsaraan yang muncul karena pengertiannya yang samar-samar dari kata “gereja” yang kabur. Karena terminus “Kristen, umat kudus” akan membawa bersamanya, secara jelas dan berdaya, baik pemahaman dan penilaian akan pertanyaan “apa itu  suatu gereja dan apa yang bukan?” Orang yang mendengar kata-kata “Kristen, umat kudus” akan dapat memutuskan dengan mudah, “paus bukanlah seorang umat, kurang dari seorang umat Kristen yang kudus.” Jadi, juga, para uskup, para imam, dan para rahib bukanlah umat Kristen yang kudus, karena mereka tidak percaya pada Kristus, tidak memimpin kepada hidup yang kudus, dan mereka adalah orang-orang jahat, orang-orang yang memalukan.”16

Luther menunjukkan penghinaannya atas konsepsi tradisional tentang Gereja dan memberikan opini pribadinya sendiri sebagai sesuatu yang pantas dipilih: Gereja adalah melulu orang-orang yang percaya akan Kristus, dan sehingga mereka kudus karena iman mereka.

Sepintas lalu, nampak pengakuan bahwa Gereja adalah “katolik” akan menjadi kesulitan yang sangat besar bagi protestan. Tetapi sebenarnya ciri ini dijelaskan secara gampang dari paradigma protestan. Karena, mereka berkata, akar pengertian katolik  adalah “universal,” dan karena mereka percaya bahwa Gereja Kristus adalah universal dalam arti jangkauannya – terbuka pada setiap pribadi di dunia ini – mereka dengan gembira menyatakan bahwa mereka percaya Gereja adalah katolik dengan huruf “k” kecil.

Untuk tanda keempat, banyak komunitas protestan mengklaim sebagai apostolik dalam hal bahwa mereka mengajarkan kebenaran yang sama dengan yang Allah berikan kepada para rasul di abad pertama. Karena (kata mereka) interpretasi komunitas mereka atas Kitab Suci adalah sama dengan interpretasi para rasul, maka gereja mereka adalah “apostolik.”

KARENA KATOLIK BENAR,
Empat ciri Gereja saat ini memiliki pengertian yang sama dengan pengertian yang diformulasikan oleh orang Kristen awali dalam Kredo.

Ciri pertama, Gereja adalah satu, berarti disatukan secara nampak dan mengakui iman yang sama. Tubuhmu adalah satu kesatuan yang nampak, lebih daripada melulu satu kumpulan dari bagian-bagian yang ditempelkan bersama, dan demikian juga Kristus. St. Paulus menasihatkan bagi kita kesatuan seperti itu dalam suratnya kepada umat di Efesus:

Sebab itu, aku menasihatkan kamu, aku orang yang dipenjarakan demi Tuhan, supaya hidupmu,  sebagai orang-orang  yang telah dipanggil, berpadanan dengan panggilan itu... tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan roh oleh ikatan damai: satu tubuh dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan dalam semua.17

Protestantisme, dengan suara-suara dan komunitas-komunitas yang saling bersaing, tidak dapat mengklaim mengakui “satu iman,” tetapi Gereja Katolik dapat. Magisteriumnya bisa mendeklarasikan apa yang benar dan apa yang salah, yang menarik batas-batas kepercayaan ortodoks. Beberapa konsili pertama Gereja, yang merumuskan Kredo ini, melalui keberadaannya mendemonstrasikan cara kerja dari otoritas mengajar ini untuk mendekritkan satu iman Gereja, yang padanya semua orang Kristen harus taat menerima (jika tidak berarti ada dalam kesesatan).  Konsili-konsili mengadakan rapat untuk membicarakan ajaran-ajaran baru yang muncul dan bertentangan dengan satu Iman yang diakui oleh Gereja sejak jaman apostolik, dan konsili-konsili itu diatur untuk mengoreksi kekeliruan-kekeliruan itu sehingga umat beriman dapat tetap disatukan dalam kebenaran.

Karena untuk ciri kedua, bahwa Gereja adalah kudus, Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang-orang Kristen benar-benar  kudus karena Allah memberi mereka rahmat, yaitu kehidupan ilahi. Sekali lagi, kita mendapatkan bukti kepercayaan ini dari surat kepada Umat Efesus:

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi gereja dan telah menyerahkan diri-Nya sendiri baginya, untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan membasuhnya dengan firman, sehingga Ia menempatkan gereja di hadapan diri-Nya sendiri dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya gereja kudus dan tidak bercela.18

Perhatikan bahwa tak ada di manapun, St. Paulus mengklaim bahwa Allah hanya menyatakan Gereja sebagai kudus tetapi lebih daripada itu, bahwa Kristus benar-benar membersihkan, menguduskan dan menghadirkannya tanpa cela bagi diri-Nya sendiri. Dalam teologi Katolik, yang mengikuti pola biblis ini, Kristus telah mempersunting Gereja-Nya, sehingga Ia benar-benar memurnikannya. Kristus tidak memberikan diri-Nya sendiri hanya supaya Allah dapat menyatakan suatu fiksi/rekaan legal bahwa Gereja adalah kudus. Sebaliknya, pengorbanan kasih-Nya cukup berkuasa untuk benar-benar memurnikan Gereja dalam kebenaran.

Ciri ketiga, Gereja adalah Katolik, sesungguhnya berbicara tentang universalitasnya, tetapi bukan dalam cara yang lebih superfisial seperti dimengerti oleh protestan. Seperti Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

Kata "katolik" berarti "merangkul semua" (Universal), maksudnya "seluruhnya" atau "lengkap". Gereja itu Katolik dalam arti ganda: Gereja disebut Katolik karena di dalamnya ada Kristus. "Di mana Yesus Kristus ada, di situ ada Gereja Katolik" (Ignasius dari Antiokia, Smyrn. 8,2). Di dalam Dia, Tubuh Kristus yang dipersatukan dengan Kepalanya terlaksana sepenuhnya. Dengan demikian Gereja menerima dari-Nya "kepenuhan sarana keselamatan" (AG 6), yang Ia kehendaki: pengakuan iman yang benar dan utuh, kehidupan sakramental yang lengkap dan tugas pelayanan yang tertahbis dalam suksesi apostolik. Dalam arti yang mendasar ini Gereja sudah "Katolik" pada hari Pentakosta dan akan tetap demikian sampai pada hari kedatangan kembali Kristus.19

Pengertian yang penuh akan kata Katolik  ini dipahami dalam awal tahun 100-an, seperti dibuktikan melalui surat St. Ignatius, Uskup Antiokia kepada jemaat di Smirna:

Lihatlah bahwa kamu tunduk pada uskup, bahkan seperti Yesus Kristus tunduk pada Bapa, dan tunduk pada para penatua seperti tunduk pada para rasul; dan menghormati para diakon sebagai suatu institusi dari Allah. Janganlah ada seorangpun melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja tanpa [sepengetahuan] uskup. Hendaklah dipandang sebagai Ekaristi yang benar yang [dirayakan] oleh uskup atau orang yang padanya uskup mempercayakannya. Di mana pun uskup berada, biarlah berlipat ganda umat juga berada; bahkan seperti di mana pun Yesus berada, di sana ada Gereja Katolik. Adalah bertentangan dengan hukum, tanpa uskup membaptis atau merayakan perjamuan cinta kasih. Tetapi apapun yang disetujui oleh uskup, ini juga menyenangkan Allah, apapun yang dilakukan akan terjamin dan valid.20

Dalam bab dari suratnya ini, kita melihat penegasan tentang hirarki tiga lapis dari uskup, imam dan diakon, sekaligus konteks yang tepat untuk perayaan Ekaristi dan Pembaptisan. Gereja awali melihat aspek-aspek ini sebagai yang esensial bagi katolisitas Gereja, suatu universalitas yang benar yang mencakup pemimpin-pemimpin tertahbis dan sakramen-sakramen.

Ciri keempat, apostolisitas, mengindikasikan bahwa Gereja dibangun atas dasar para rasul dengan Kristus sebagai batu penjurunya: “demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi dengan Kristus Yesus sendiri sebagai batu penjurunya.” (Ef 2:19-20). (“Anggota keluarga Allah” adalah Gereja: lih Ibr 3:4-6). Memiliki suatu Gereja yang dibangun atas dasar apostolik berarti tidak melulu berada dalam kesamaan doktrinal (yang diduga) atau kesatuan moral dengan para rasul. Apostolisitas berarti mengambil bagian dalam otoritas para rasul. Allah meneruskan otoritas itu dari para rasul kepada pengganti-pengganti mereka, para uskup, melalui penumpangan tangan – dan demikian juga pada gilirannya para pengganti mereka meneruskan dengan cara yang sama (bdk. 1 Tim 4:14). Melalui suksesi apostolik ini, para uskup tetap menjadi dasar dari Gereja apostolik.

Kita menemukan pemahaman ini sekitar abad kedua dalam tulisan Irenaeus, uskup Lyons:

Adalah wajib untuk mematuhi para presbiter (imam) yang ada dalam Gereja – mereka yang telah aku tunjukkan, memiliki suksesi dari para rasul. Mereka yang, bersama dengan pengganti para episkopat (penatua, uskup), telah menerima karunia kebenaran tertentu, seturut kehendak Bapa. Tetapi [juga adalah suatu kewajiban] untuk mencurigai orang lain yang meninggalkan suksesi awali ini dan mengumpulkan diri mereka bersama di suatu tempat manapun, [pandanglah mereka] baik sebagai heretik dengan pikiran yang suka melawan atau sebagai skismatik yang congkak dan suka menyenangkan diri sendiri, atau juga sebagai orang munafik, yang bertindak demi uang dan kemuliaan diri yang berlebihan. Karena semua mereka itu telah terlepas dari kebenaran.21

Idea protestan tentang apostolisitas separuh benar. Itu berarti kesatuan kepercayaan dengan pengajaran apostolik. Namun jalan yang kita ketahui apa yang para rasul ajarkan bukanlah untuk memberikan penilaian personal melainkan untuk melihat pada pengganti-pengganti mereka, yang pada mereka iman dan otoritas apostolik telah diserahkan.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka para reformator protestan memiliki otoritas untuk mengubah pengertian dari empat ciri untuk menyesuaikannya dengan doktrin-doktrin baru mereka tentang Gereja. Tindakan mereka memperlihatkan betapa mudahnya umat dapat merasionalisasikan beragam inkonsistensi antara kepercayaan mereka dan bukti-bukti historis dengan menciptakan definisi-definisi baru untuk beragam pernyataan. Apakah yang bisa menghentikan seorang lain dari menginterpretasikan ulang bagian-bagian lain dari Kredo untuk menyesuaikan pada idea-idea baru-nya sendiri?

Catatan:
16. Martin Luther, On the Councils and the Church, Part II.
17. Ef. 4:1–6.
18. Ef. 5:25–27.
19. Katekismus Gereja Katolik, 830.
20. Ignatius dari Antiokia, Surat kepada Umat di Smyrna, 8.
21. Irenaeus, Contra Heresy, IV, 26.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


5. PANDANGAN PROTESTAN TERHADAP GEREJA KATOLIK


JIKA PROTESTAN BENAR,
Katolik sungguh-sungguh keliru, atau sekurangnya dapat disebut hanya sebagai penyembah non-kristiani.

Protestan-protestan secara doktrinal berbeda satu sama lain, dan beberapa lebih liturgis daripada yang lainnya, tetapi tidak ada satu pun komunitas protestan mendekat untuk merangkul tata aturan dari doa-doa, praktek dan ajaran-ajaran “ekstrabiblis” Katolik. Karena hal ini, jika protestan konsisten dengan kepercayaan mereka, mereka tidak dapat memandang Katolik sebagai saudara-saudara Kristen yang berjuang dalam perjuangan kebaikan. Mereka mestinya menyimpulkan bahwa Katolik adalah orang-orang murtad yang musyrik (penyembah berhala).

Perspektif Protestan tentang Katolik

Beberapa kelompok fundamentalis sungguh mengidentifikasikan paus sebagai Anti-Kristus dan Gereja Katolik sebagai “Pelacur Babel” yang disebutkan dalam Wahyu 17 dan 18. Namun sebenarnya bukan hanya kelompok protestan ekstrem yang berujung pada pandangan seperti itu. Dalam bagian Kepausan (bagian 2), kita melihat bahwa The Westminster Confession of Faith—dokumen paling penting untuk Gerakan Reformasi Protestan—menyebut paus sebagai Anti-Kristus.

Dikatakan juga bahwa banyak protestan moderen termasuk Bible-believing Evangelicals, memiliki pandangan yang lebih halus terhadap Katolik. Mereka memandang Katolik sebagai suatu bentuk yang sedikit korup dari kekristenan biblis, tetapi tetap iman Kristen yang sah yang anggota-anggotanya sungguh percaya akan Yesus. Pengarang dan pembicara protestan, John Armstrong, menggambarkan dengan hangat pandangannya tentang Gereja Katolik:

Jika Kristus sungguh-sungguh pusat... itu berarti aku tidak dapat lagi menjadi anti-Katolik.... Dengan keyakinan mendalam, aku mendesak untuk memandang orang katolik dan Gereja Katolik dengan penuh kasih dan penghargaan. Komitmen personal untuk kesatuan ini telah memampukan aku untuk menemukan berkat-berkat luar biasa dari tradisi Katolik dan mengembangkan relasi persahabatan mengagumkan dengan saudara-saudari Katolik dalam Kristus.[22]

Tetapi semua garis protestan akan mengamuk ketika berhadapan dengan perayaan orang-orang Katolik yang berlutut di hadapan Hosti komuni yang telah dikonsekrasi dalam ibadat. Tak seorang protestan pun akan membenarkan penyembahan roti dan anggur. Mereka akan protes karena mempercayai Yesus yang hadir dengan cara demikian. Mereka akan menyimpulkan bahwa orang katolik melakukan dosa penyembahan berhala.

Walaupun Katolik percaya akan Trinitas, protestan akan tetap menolak keras terhadap pengagungan Perawan Maria melebihi semua makhluk lain, terutama untuk ajaran Maria Diangkat ke Surga, Tak Bernoda. Mereka percaya bahwa hanya Yesus saja yang menghidupi kehidupan tanpa dosa. Jadi ketika Maria dikatakan mencapai kondisi yang sama dengan Yesus, tidak lain daripada mencuri kemuliaan dari Allah, yang hanya bagi Dialah segala kemuliaan dan pujian.

Kepercayaan-kepercayaan Katolik yang berbeda seperti itu berakar dari pengakuan akan Tradisi Suci sebagai suatu sumber pewahyuan ilahi yang sama dengan teks-teks Kitab Suci. Hal ini juga akan sangat menganggu setiap protestan, yang bagi mereka hanya Kitab Suci sajalah kata-kata otoritatif dari Allah. Setiap “tradisi” di luar Kitab Suci hanyalah tradisi manusia.

KARENA KATOLIK BENAR,
Katolik adalah Kristen dalam arti yang paling penuh.

Suatu paradoks hadir ketika mencoba menandingkan Gereja Katolik melawan karikatur dan tuduhan yang dilemparkan padanya. Di satu sisi, mereka yang saat ini menyebut paus sebagai anti-Kristus bisa memberi kesaksian bahwa para paus (yang baru-baru ini) secaa heroik membela prinsip inti dari Kristianitas melawan serangan moderen yang mematikan. Murid yang dikasihi, St. Yohanes, mengatakan kepada kita bagaimana cara mengetahui siapakah Anti-Kristus itu: “Siapakah pendusta itu? Bukanlah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Itulah anti-Kristus, dia yang menyangkal Bapa dan Anak.” (1 Yoh 2:22). Tetapi kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri contoh-contoh paus yang tidak pernah berhenti mewartakan bahwa Yesus adalah Kristus, penyelamat kita, Putera tunggal Bapa. Jadi, dengan menggunakan definisi dari Kitab Suci, paus tidak bisa dikatakan sebagai anti-Kristus.

Demikian juga, Gereja Katolik dipandang mengagungkan Maria secara berlebihan, namun Para reformator protestan, seperti akan kita lihat dalam bagian berikutnya, mempertahankan ajaran-ajaran tentang Maria dan membelanya melawan pengikut protestan sendiri. Mereka menyadari bahwa kepercayaan-kepercayaan ini sungguh memiliki dasar dalam Kitab Suci dan iman Gereja awali. Di sepanjang buku ini kita akan menguji bidang-bidang khusus secara lebih detil yang di dalamnya Gereja diperlihatkan menyatakan kepenuhan iman Kristiani. Tetapi fakta dasar yang harus diingat di sini adalah bahwa ketika dihadapkan pada keputusan mempertahankan iman awali atau mengadopsi ajaran baru, dalam setiap kasus Gereja Katolik telah memilih untuk mempertahankan iman awali. Alih-alih melihat dalam Gereja tanda-tanda khas iblis yang akan menyebabkan “terombang-ambing oleh rupa-rupa angin pengajaran” (Ef 4:14) dan mengadopsi praktek-praktek dan kepercayaan berhala, kita justru mengakui betapa Gereja telah mempertahankan ajaran-ajaran yang benar dari Kristus dan Para Rasul.


DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, kekatolikan hanya dapat dipandang sebagai pemuja berhala yang serius, bahkan diabolis (pemuja setan). Namun, tanda-tanda yang Kitab Suci tunjukkan pada kita justru tidak memperlihatkan adanya kekeliruan dan penipuan dalam Gereja Katolik. Sebaliknya, tanda resmi dari kekatolikan adalah bahwa Gereja Katolik adalah saksi tegas akan Yesus Kristus.

Endnote:
22 Armstrong, John H. (2010-03-04). Your Church Is Too Small: Why Unity in Christ’s Mission Is Vital to the Future of the Church (Kindle Locations 867–872). Zondervan. Kindle Edition.

6. RELIABILITAS DOKTRINAL


JIKA PROTESTAN BENAR,
Kita berdiri tanpa ada suatu pedoman iman Kristen yang pantas dipercaya.

Gereja Katolik membuat klaim aneh bahwa semua pengajarannya tentang iman dan moral adalah benar – tak ada satupun yang keliru. Sebagai seorang protestan, ketika aku mempelajari klaim ini, aku mencium aroma darah di dalam air. Aku tahu itu tidak mungkin benar. Yang harus aku lakukan adalah menemukan satu contoh dari ajaran yang keliru/salah, maka seluruh bangunan Katolik akan runtuh. Mengapa aku demikian yakin bahwa klaim Gereja Katolik salah? Sederhana saja: aku tahu dalam pengalaman manusiawi bahwa setiap pribadi dan institusi manusia pasti memiliki kekurangannya.

Setiap pribadi dan “Gereja” dapat salah

St. Paulus menulis, “Semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah” karena “tak ada seorangpun yang benar, tidak seorang pun” (Rom 3:23). Karena itu, setiap organisasi dan institusi penuh dengan orang-orang berdosa. Tak terkecuali Gereja-gereja: berapa banyak pastor didapati tidak setia, melakukan penggelapan uang dan bejat? Jika berdosa, mereka dapat keliru juga. Sebagai seorang protestan, meskipun aku berpikir apa yang pastorku ajarkan kebanyakan benar, aku tidak perlu setuju dengan setiap hal yang dia ajarkan. Mengapa? Dia hanyalah seorang berdosa yang lain, manusia yang dapat salah sama seperti aku.

Lebih lagi, sebagai protestan aku percaya bahwa Kitab Suci mengajarkan bahwa tidak mungkin kita berharap untuk selamanya benar. Melalui iman, kebenaran Kristus dihubungkan dengan kita oleh Bapa sedemikian sehingga kita nampak kudus, tetapi di kedalamanannya, diri kita tetaplah orang berdosa dan dapat berbuat salah. Teman-teman protestan dan mentorku menyukai Yesaya 64:6, yang berbicara mengenai bangsa Israel. Nabi Yesaya berkata, “Kita semua telah menjadi seperti orang najis, dan semua kesalehan kami seperti kain yang kotor.”

Kain yang kotor dan pakaian yang tercemar: itulah kebaikan manusia. Mengingat kebobrokan universal dalam manusia dan institusinya, percaya diri macam apa yang dimiliki Gereja Katolik sehingga berani mengklaim bahwa pengajarannya tidak salah? Gereja-gereja protestan, aku pikir, sekurangnya cukup jujur untuk mengakui falibilitas mereka. Mereka tahu Kitab Suci adalah benar dan mereka mencoba mengajar dari Kitab Suci – jika kadang-kadang mereka mengajar hal yang bertentangan dengan Kitab Suci, yah, itu adalah hasil dari kekurangan mereka. Protestan harus memberi Gereja-Gereja mereka hanya persetujuan qualified  atau kondisional, dengan mengetahui bahwa kapan saja mereka dapat menemukan seseorang yang ajaran-ajarannya memiliki kekurangan paling kecil.

KARENA KATOLIK BENAR,
Gereja adalah institusi manusia dan masyarakat supranatural dengan Kristus sebagai kepalanya.

Infalibilitas adalah keniscayaan praktis bagi Kristianitas, karena infalibilitas melindungi ajaran-ajaran iman yang diberikan oleh Kristus kepada para rasul dan umat Kristen awali. Bayangkan jika Allah tidak memproteksi Gereja dari kesalahan: kita akan dibiarkan bersandar pada piranti diri sendiri untuk mengidentifikasikan dan dan memelihara apa yang Yesus ajarkan. Setelah 2.000 tahun aktivitas manusia yang dapat salah, dan tak terhitung perpecahan dan perselisihan pendapat  tak terelakan [selama masa itu], yang tersisa pada kita hanyalah harapan yang sangat kecil bahwa apa yang telah diwariskan kepada kita adalah kebenaran asli dari pewahyuan ilahi.

Permohonan terang-terangan akan bantuan Roh Kudus pun tidak menyelesaikan masalah itu, karena cara yang di dalamnya Roh Kudus bekerja tidak dapat kita ketahui. Bagi protestan, Roh Kudus pertama-tama berkarya dalam orang Kristen individual; tetapi perpecahan di mana-mana di antara mereka tidak memungkinkan untuk menyimpulkan bahwa Roh Kudus sedang memimpin semua mereka itu kepada kebenaran. Roh Kudus dapat bekerja secara infalibel untuk membimbing seseorang ke dalam kebenaran penuh atas pewahyuan, tetapi tidak ada jalan yang pasti bagi protestan untuk mengatakan di mana hal itu terjadi. Apa keuntungan praktis dari bimbingan [Roh Kudus] itu jika kita tidak dapat mengidentifikasikannya?

Tetapi protestan tanpa sadar mengakui perlunya infalibilitas, melalui pengakuan mereka bahwa, dengan mengilhami manusia-manusia yang dapat salah untuk menulis teks-teks Kitab Suci, Allah memastikan bahwa apa yang tertulis itu bebas dari semua kesalahan/kekeliruan. Tanpa kepercayaan itu, tidak akan masuk akan menyebut teks-teks Kitab Suci sebagai aturan iman bagi orang Kristiani, karena [tanpa kepercayaan akan infalibilitas] teks-teks Kitab Suci hanyalah presentasi dari ide-ide manusia [yang dipandang] sebagai kebenaran ilahi. Tetapi mereka tidak sampai pada pengakuan akan bimbingan infalibel untuk menginterpretasikan teks-teks Kitab Suci. Sehingga, setiap protestan yang dapat keliru harus menginterpretasikan sebaik yang bisa mereka lakukan, dengan membuat sekumpulan doktrin-doktrin yang infalibel sampai dapat dipercaya.

Ketika aku terus bertumbuh dalam imanku dan berusaha menemukan kesalahan dari klaim liar Katolik tentang infalibilitas, aku diganggu oleh kurangnya kesatuan di antara orang-orang kristiani, yang sangat jelas itu berarti bertentangan dengan perintah Kristus dan Rasul Paulus. Aku meneliti di mana-mana dalam Kitab Suci dan melihat pada persoalan moral seperti kontrasepsi di mana Gereja Katolik bertentangan dengan protestan. Aku menemukan jawaban-jawaban masuk akal atas penolakan-penolakan lamaku dan menantang sahabat-sahabat Evangelisku dengan jawaban itu (argumenku menentang kontrasepsi mengenai mereka bagaikan petir yang menyambar dari langit), dan mereka gagal untuk menanggapi dengan jawaban-jawaban yang meyakinkan.

Aku ingat hari saat aku dapat melihat bahwa klaim Gereja Katolik terhadap infalibilitas sungguh benar. Hal itu mirip dengan saat ketika aku masih sebagai seorang ateis dansuatu hari menyadari bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh seperti apa yang Ia katakan mengai diri-Nya. Saat itu sangat menggembirakan! Itu berarti Allah tidak akan membiarkan kita sendirian berkubang dalam kekeliruan. Itujuga berarti bahwa aku benar-benar bisa menjadi kudus! Walaupun “semua” orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah, Yesus tidak. Itu berarti kita juga dapat hidup dalam kebebasan sejati dari perbudakan dosa. Demikian juga, meskipun Gereja terbentuk dari manusia-manusia berdosa, Roh Kudus dapat menjadikan Gereja bukan hanya tidak dapat salah tetapi juga kudus.

Sebagai seorang protestan aku percaya bahwa Allah membimbing manusia berdosa menulis kebenaran ilahi dengan terbebas dari kekeliruan. Itulah Kitab Suci. Itu hanyalah satu langkah lebih jauh lagi untuk mempercayai bahwa sepanjang masa alllah terus menerus membimbing manusia yang dapat keliru ke dalam semua kebenaran.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, Gereja-gereja Kristen tidak lebih terpercaya daripada institusi manusia lainnya. Karena itu, setiap keyakinan diri yang kita tempatkan dalam serangkaian ajaran sangatlah goyah. Kita pastinya akan selalu berdiri dengan satu kaki di luar pintu. Tanpa kepastian bahwa Allah menjaga fidei depositum dari kekeliruan dan melalui Roh-Nya, membimbing manusia dari setiap jaman untuk mempertahankan kebenaran itu, kita yang hidup dua milenium setelah Kristus tidak dapat percaya dengan pasti tentang apa yang diajarkan kepada kita tentang Dia. Kita akan dibiarkan mengayak-ayak serpihan-serpihan dokumen-dokumen yang [menurut kata orang] adalah historis dan menyatukan potongan-potongan puzzle untuk menjadi sesuatu yang [sebenarnya] gambaran penuhnya tidak pernah kita miliki. Kita sungguh-sungguh yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan demikian. Tetapi jika protestan benar, maka itulah yang terjadi [Allah membiarkan kita tidak tahu tentang kebenaran wahyu ilahi].

Tambahan:
Kita tidak perlu menjadi takut, ragu ataupun rendah diri di hadapan seorang protestan atau pun pendeta mereka. Apapun yang mereka sampaikan bisa keliru karena mereka tidak memiliki “kekebalan” terhadap kekeliruan (mereka tidak akan mengelak hal itu). Bahkan kalaupun mereka memiliki beberapa ajaran yang benar, itu hanyalah copas dari ajaran yang Katolik miliki sebagai warisan dari para rasul dan Gereja awali. Jadi, banggalah sebagai orang Katolik yang ajaran iman dan moralnya dilindungi Allah dari kekeliruan dan kesesatan.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?
Martin Luther


7. MARTIN LUTHER DAN KANON


JIKA PROTESTAN BENAR,
Tidak masalah membuang kitab-kitab dari Perjanjian Baru jika kita menilai kitab itu bukan yang dilihami [Roh Kudus].

Kanon Kitab Suci Perjanjian baru secara perlahan mendapat bentuknya setelah 300 tahun pertama masa kekristenan. Beberapa kitab, seperti keempat Injil, telah diterima secara luas lebih awal, sedangkan kitab lainnya diragukan oleh banyak orang untuk waktu yang cukup lama. Tetapi pada abad ke-5, kanon Perjanjian Baru yang terdiri dari 27 kitab telah ditetapkan dengan pasti. Meskipun demikian, setelah ribuan tahun kemudian, Martin Luther membuang empat dari 27 kitab itu ketika menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman.

Empat [Kitab] di atas Talenan

Martin Luther diekskomunikasi pada tahun 1521.[23] tahun berikutnya, ia mempublikasikan Perjanjian Baru terjemahannya dalam bahasa Jerman, tetapi menyingkirkan 4 dari kitab-kitab itu pada bagian akhir pengantar untuk terjemahannya itu: “Sampai pada titik ini, kita harus menentukan dengan benar dan pasti kitab-kitab utama dari Perjanjian Baru. 4 kitab yang berasal dari jaman yang kuno memiliki kualitas yang berbeda.” [24] Ibrani, Yakobus, Yudas dan Wahyu adalah kitab-kitab yang ditolak Luther karena dianggap tidak diilhami Roh Kudus.

Di sini ada kutipan dari introduksinya untuk Surat Yakobus dan Yudas:

Aku tidak menganggapnya sebagai tulisan dari seorang rasul; dan penalaranku adalah seperti berikut. Di tempat pertama, dengan tepat ia bertentangan dengan Paulus dan semua teks Kitab Suci dalam hal pembenaran yang dianggap berasal dari perbuatan... karena itu, kesalahan ini membuktikan bahwa surat ini bukan karya dari rasul manapun... tetapi surat Yakobus ini bukanlah apa-apa kecuali mengarahkan kita pada hukum dan perbuatan-perbuatan [berdasarkan hukum itu]... dia merusak teks-teks Kitab Suci dan karena itu bertentangan dengan Paulus dan seluruh teks Kitab Suci... karena itu, aku tidak memasukkannya dalam Kitab Suciku, di antara kitab-kitab utama yang benar. Berkaitan dengan Surat Yudas, tak seorangpun dapat menyangkal bahwa itu adalah suatu sari/kutipan atau salinan dari surat kedua Rasul Petrus. Sangat mirip dalam semua katanya. Dia juga berbicara tentang para rasul seperti seorang murid yang muncul setelah mereka dan mengutip perkataan-perkataan dan peristiwa-peristiwa yang tidak ditemukan di manapun juga dalam teks-teks Kitab Suci.[25] 

Jadi, Luther menyesuaikan kitab-kitab dari Kitab Suci dengan ajarannya sendiri dan menemukan kitab-kitab itu tidak cocok dengan ajarannya.[26] Dia juga menilai bahwa Surat Yudas melulu suatu salinan yang dimodifikasi dari 2 Petrus, dan menambahkan opininya bahwa perkataan-perkataannya yang unik adalah alasan lebih lanjut untuk menolaknya. Luther mencela kitab Wahyu juga, menyangkal bahwa kitab itu ditulis oleh seorang rasul atau bahwa Roh Kudus mengilhami kitab itu.[27] Empat kitab ini ditempatkan dalam suatu tambahan (appendix) dengan maksud untuk mencoretnya dari Perjanjian Baru secara keseluruhan.

KARENA KATOLIK BENAR,
Allah membimbing Gereja awali untuk memilah Perjanjian Baru, dan tak seorangpun setelah itu dapat mengubahnya

Pertama-tama, nampaknya Luther melulu mencoba mengakuratkan secara historis ketika menolak 4 kitab itu, karena 3 dari 4 kitab itu tidak diterima secara universal pada awalnya dalam Gereja. Namun, juga jelas bahwa Luther menyangkal ilham [Roh Kudus] atas kitab-kitab ini karena suatu alasan teologis, bukan melulu historis. Pastinya, keraguan-keraguan awal tentang kitab-kitab ini membuat klaim-klaimnya lebih cocok. Tetapi sebenarnya, kitab-kitab ini juga berisi pengajaran-pengajaran yang secara langsung bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang telah ia ajukan (seperti sola fide), atau mungkin dia hanya tidak berpikir banyak tentang ajaran-ajaran itu. Jika ia menolak kitab-kitab itu melulu karena alasan historis, dia juga mestinya menolak 2 Petrus dan 2-3 Yohanes, yang juga tidak secara universal didukung pada abad-abad pertama Gereja. Tetapi ia tidak menolak surat-surat itu, karena ia tidak menemukan apapun dalam surat-surat itu yang bertentangan dengan opini-opini teologisnya. Solusinya adalah mengesampingkan sepenuhnya perhatian pada hal historis dan tidak menyerahkan pada otoritas manapun kecuali pada discermen pribadinya sendiri. Meskipun penegasan khusus dari Luther ini tidak berpengaruh pada saat ini, mayoritas opininya tersangkut dengan Reformasi Protestan secara keseluruhan dan membentuk basis bagi doktrin-doktrin umum protestan.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, tidak ada alasan bahwa seseorang sekarang ini tidak boleh membuang sejumlah kitab dari Perjanjian Baru dan menyatakan bahwa dia telah menetapkan Kitab Suci yang sejati/benar, yaitu yang disusun dari kitab-kitab mana saja yang sesuai dengan keyakinannya sendiri. Bagaimanapun, bapa Reformasi Protestan telah melakukan itu terhadap kanon kuno yang berusia ribuan tahun.

Endnote:
[23]  Ini tidak berarti bahwa Gereja “mengutuknya masuk neraka.” Ekskomunikasi adalah suatu disiplin penyembuhan yang dimaksudkan untuk mendorong orang yang terkena ekskomunikasi secara kritis dan dalam doa menguji kembali ajaran-ajaran dn tindakan-tindakan mereka sehingga mereka dapat kembali dalam persekutuan penuh dengan Gereja Kristus. Lih. Mat. 18:15–20 and 1 Kor. 5:1–13.
[24] Dari Perjanjian Baru Terjemahan Luther dalam bahasa Jerman, Edisi Pertama: http://www.bibleresearcher.com/antilegomena.html
[25] Luther’s Works, vol. 35 (St. Louis: Concordia, 1963), 395-399.
[26]  Syukurlah, Protestan jaman moderen cenderung menggunakan pendekatan yang bertentangan, dengan menundukkan ide mereka pada teks Kitab Suci, tetapi inipun hanya setelah penerimaan kanon yang dibuat oleh para reformator, dan dipengaruhi melalui opini-opini mereka.
[27] http://www.bible-researcher.com/antilegomena.html

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


8. KITAB-KITAB DEUTEROKANONIKA


JIKA PROTESTAN BENAR,
Allah membiarkan Gereja awali menempatkan 7 kitab yang [sebenarnya] tidak menjadi bagian dari Kitab Suci 

Seperti telah kita lihat dalam bagian sebelumnya, Martin Luther tidak takut untuk meragukan kanon teks Kitab Suci. Meskipun perubahannya terhadap Perjanjian Baru pada akhirnya tidak diadopsi oleh semua gerakan protestan, perubahannya terhadap Perjanjian Lama dipakai, dan pada akhir masa Reformasi, protestantisme telah menyingkirkan 7 kitab (deuterokanika) dari kanon Perjanjian Lama.

Penolakan Protestan terhadap Kitab-kitab Deuterokanonika

Protestan menolak kitab-kitab itu karena dua alasan utama. Pertama adalah perikop problematis dalam 2 Makabe dan kedua adalah hasrat mereka sendiri untuk “kembali kepada sumber-sumber,” yang dalam kasus ini berarti menggunakan kitab-kitab yang pada akhirnya ditetapkan oleh bangsa Yahudi. 2 Makabe mencantumkan suatu referensi berisi pujian untuk doa-doa kepada orang yang telah meninggal – suatu pengajaran yang telah didukung dalam Gereja Katolik bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Ingat kembali tentang protes Luther terhadap penjualan indulgensi untuk menghapus hukuman temporal untuk dosa-dosa yang telah diampuni – hukuman yang harus dibayar sebelum jiwa dapat pantas memasuki surga. Luther dan para reformator menolak purgatorium, sehingga semua yang berkaitan dengan ajaran itu juga harus disingkirkan: Indulgensi, doa bagi mereka yang telah meninggal, persekutuan para kudus (yang mencakup mereka yang hidup maupun telah meninggal dalam Kristus).

Para reformator menunjukkan bahwa 7 kitab ini tidak termasuk dalam Kitab Suci berbahasa Ibrani dari bangsa Yahudi. Beberapa apologet protestan mencoba untuk mendukung klaim ini dengan menyebutkan teori bahwa, sekitar tahun 90-an, sebuah konsili orang-orang Yahudi di sebuat kota yang disebut Yamnia secara eksplisit menolak kitab-kitab ini [28]. Yang juga menunjukkan bahwa beberapa Bapa Gereja menolak satu atau lebih dari kitab-kitab ini. Mereka memperkuat argumen ini dengan kesaksian dari Yosephus dan Philo – dua sejarawan Yahudi dari abad pertama – yang juga tidak menerima kitab-kitab deuterokanonika.

KARENA KATOLIK BENAR,
Gereja Kristus, dan bukan orang Yahudi, yang memiliki kuasa dan tuntunan ilahi untuk memilah kanon Perjanjian Lama.

Latar belakang historis singkat diperlukan di sini. Terjemahan bahasa Yunani pertama dari Perjanjian Lama berbahasa Ibrani, yang digunakan selama jaman Yesus, disebut Septuaginta. Itu adalah serangkaian kitab yang ditambahkan dari abad ke-3 S.M. sampai pada jaman Kristus. Itu berupa terjemahan paling kuno dari Perjanjian Lama yang kita miliki sekarang, dan digunakan untuk mengoreksi kesalahan yang muncul pelan-pelan dalam teks berbahasa Ibrani, contoh-contoh yang ada dan paling tua waktunya hanya dari abad ke-6. Septuaginta digunakan secara ekstensif di Timur Dekat oleh para rabi, dan dalam abad pertama para rasul mengutip nubuat-nubuat dari kitab-kitab itu yang menjadi Perjanjian Baru. Septuaginta diterima sebagai otoritatif oleh orang yahudi di Aleksandria dan kemudian oleh semua orang Yahudi di wilayah-wilayah yang berbahasa Yunani.

Sebelum jaman Kristus, Septuaginta berisi kitab-kitab deuterokanonika. Bukti-bukti historis juga memperlihatkan bahwa ada banyak kitab, kanon yahudi yang berkonflik pada jaman Kristus. Bagaimana bisa orang-orang Yahudi menutup kanon mereka ketika mereka sendiri masih menantikan kedatangan Elia baru (Yohanes Pembaptis) dan Musa baru (Yesus)? Jadi argumen bahwa orang-orang Kristen harus mendasarkan Perjanjian Lama mereka pada Kitab Suci berbahasa Ibrani daripada Septuaginta yang berbahasa yunani adalah meragukan [29].

Namun, beberapa mengatakan, haruskah kita menganggap sebagai kanon pada Kitab Suci Ibrani jika kitab-kitab itu tidak ditulis dalam bahasa Ibrani? Beberapa dari tujuh kitab deuterokanonika aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani dan hanya kemudian diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan bahasa lain. Kitab Putera Sirakh dan beberapa bagian dari Barukh adalah dua kitab yang seperti itu dan satu versi bahasa Aram dari kitab Tobit ditemukan dalam Gulungan Laut Mati [30]. Di abad ke-19 dan ke-20, manuskrip-manuskrip berbahasa Ibrani dari Kitab Sirakh ditemukan kira-kira 2/3 dari seluruh kitab itu, termasuk satu manuskrip pra-Kristen [31]. Manuskrip-manuskrip ini tidak ditemukan pada masa Reformasi Protestan, dan orang mungkin berharap Luther akan menerima kitab ini. Namun, penemuan mereka berikutnya melarang pengikutnya menerima kitab deuterokanonika dengan dasar penolakan bahwa tujuh kitab deuterokanonika harus diekslusi karena aslinya tidak ditulis dalam Bahasa Ibrani.  Beberapa problem lain muncul dari penerimaan keputusan konsili Yahudi di Yamnia pada akhir abad pertama (yang katanya) bersifat otoritatif. Pertama, banyak para ahli sekarang meragukan bahwa konsili seperti itu pernah terjadi. Bahkan jika pernah, akankah para pemimpin Yahudi memiliki otoritas untuk membuat sautu keputusan yang mengikat bagi Gereja Kristiani? Orang-orang yahudi yang telah menerima Kristus telah menjadi orang Kristiani. Orang yahudi yang lain tidak memiliki otoritas yang sah untuk memutuskan apapun tentang kebenaran ilahi, karena otoritas itu telah diserahkan pada mereka yang telah dipenuhi Roh Kudus (seperti Para Rasul). Hal yang sama berlaku untuk opini Josephus dan Philo.

Akhirnya, haruslah ditunjukkan bahwa protestan berusaha mempertahankan kanon mereka yang didasarkan pada bukti historis. Bahkan jika mereka yakin telah menemukan bukti yang memadai, akan sampai juga pada problem bahwa tidak ada di manapun dalam teks Kitab Suci dikatakan bahwa ini adalah cara untuk mengetahui kitab mana yang termasuk kanon. Kriteria untuk memilih kanon seperti itu pada kenyataannya bertentangan dengan sola scriptura, karena itu adalah prinsip ekstrabiblis (di luar Kitab Suci). Argumen protestan yang konsisten untuk pemilihan kanon Kitab Suci, mestinya dari sendirinya berasal dari teks Kitab Suci (yang akan menciptakan argumen berputar saja). Sayangnya (sebenarnya sih mujur), tidak pernah ada instruksi seperti itu dari Allah. Otoritas adalah satu-satunya aplikasi kita untuk memutuskan.

Berkaitan dengan beberapa Bapa Gereja yang meragukan kitab-kitab deuterokanonika, memang benar beberapa menolak satu atau lebih dari kitab-kitab itu atau menempatkannya pada level yang lebih rendah daripada teks Kitab Suci lainnya. Tetapi banyak, termasuk mereka yang ragu, mengutipnya seperti teks Kitab Suci tanpa memberikan pembedaan dengan kitab-kitab lain. Fakta yang lebih luas adalah bahwa testimoni para Bapa Gereja tidak seluruhnya sepakat tentang kanon Perjanjian Lama. Bahkan Yeremia, ahli Kitab Suci yang agung, pada awal karirnya memilih kanon berbahasa Ibrani, tetapi kemudian mengubah pikirannya dan tunduk pada kebijaksanaan Gereja, yang menerima kitab-kitab deuterokanonika sebagai teks Kitab Suci[32].

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar, selama 1500 tahun semua kekristenan menggunakan Perjanjian Lama yang berisi tujuh kitab yang seluruhnya bisa dibuang, atau mungkin kitab-kitab tipuan yang tidak diilhami oleh Allah. Namun, Allah mengijinkan Gereja awali untuk menandakan kitab-kitab ini sebagai teks Kitab Suci dan menarik dari isi Kitab Suci itu, suatu pengajaran keliru seperti tentang purgatorium. Pada akhirnya, reformator pilihan Allah, Martin Luther, mampu meluruskan kembali kekeliruan tragis ini, bahkan meskipun tindakkannya yang sama yaitu mengurangi kitab dalam Perjanjian Baru adalah sebuah kesalahan (juga).

Endnote:
28 Pendapat para ahli tentang apakah Konsili Yahudi di Yamnia ini benar-benar ada, dan jika ada, menentukan kanon bagi Yahudi telah bergeser dari dekade-dekade lampau, dan sekarang kebanyakan ahli menolak teori itu. Konsensusnya sekarang adalah bahwa orang Yahudi menutup kanon mereka menjelang akahir abad kedua masehi.
29 Vander Heeren, A. (1912). Septuagint Version. In The Catholic Encyclopedia. New York: Robert Appleton Company. Retrieved September 20, 2009 dari New Advent: http://www.newadvent.org/cathen/13722a.htm
30 http://www.thesacredpage.com/2006/03/loose-canons-development-of-old.html
31 http://www.usccb.org/nab/bible/sirach/intro.htm
32 Dia memutuskan untuk mengikuti “penilaian dari gereja-gereja”: http://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf203.vi.xii.ii.xxvii.html

9. A SELF-AUTHENTICATING BIBLE?


JIKA PROTESTAN BENAR,
Kanon Kitab Suci tunduk pada setiap pertimbangan pribadi orang Kristen.

Para reformator bukan tidak sadar akan teka-teki yang kita bicarakan dalam bab sebelumnya, dan beberapa dari mereka – John Calvin adalah pendukung paling berpengaruh atas teori ini – memberi suatu alternatif: penentuan keotentikan kanon berdasarkan pertimbangan pribadi (self-authenticating canon). Teori itu mengatakan bahwa seorang Kristen yang benar dapat membaca kitab tertentu dan dengan mudah mengatakan apakah itu diilhami oleh Allah atau tidak. Roh Kudus yang berdiam dalam orang Kristen akan memberi kesaksian atas kitab-kitab yang diilhami.

Calvin’s Confident Theory

Teori ini menghapus perlunya mempercayai Gereja awali yang korup atau untuk meneliti sejarah rumit dari perkembangan kanon. Sebaliknya, kita sebagai seorang Kristen yang beriman cukup hanya mengambil Kitab Sucimu, membaca kitab-kitabnya, dan mendengarkan kesaksian batin tentang apa yang Roh Kudus katakan kepadamu bahwa kitab-kitab itu dilhami oleh Allah. Sama pula, kamu dapat secara teoritis mengambil satu surat rasul atau Injil yang non-kanonis dari abad pertama atau kedua, membacanya, dan memperhatikan ketiadaan konfirmasi dari Roh Kudus tentang ilham-Nya. Calvin mengambarkannya sebagai berikut:

Tetapi satu kekeliruan paling merusakkan yang beredar secara luas adalah bahwa teks-teks Kitab Suci hanya memiliki bobot seperti yang diberikan padanya melalui persetujuan gereja.... Maka, sungguh sia-sia, menganggap bahwa kuasa untuk menilai teks-teks Kitab Suci terletak pada gereja dan kepastiannya bergantung pada persetujuan gereja. Jadi, sementara gereja menerima dan memberi meterai persetujuannya pada teks-teks Kitab Suci,  gereja tidak bisa memandang otentik apa yang sebaliknya meragukan atau kontroversial... pertanyaanya—bagaimana kita bisa diyakinkan bahwa ini berasal dari Allah jika kita tidak memiliki jalan lain daripada keputusan gereja?—itu adalah seolah-olah seseorang bertanya: Dari mana kita akan belajar membedakan terang dari kegelapan, putih dari hitam, manis dari pahit? Sesungguhnya teks Kitab Suci memperlihatkan secara penuh bukti jelas dari kebenarannya sendiri seperti hal-hal putih dan hitam dengan jelas terbedakan dalam warna atau hal-hal manis dan pahit dalam rasa… Mereka yang dalam batin telah diajar oleh Roh Kudus sungguh-sungguh bersandar pada Kitab Suci, dan kitab Suci sesungguhnya jelas dari dirinya sendiri (self-authenticated).[33]

Calvin membuat dua klaim di sini: pertama, bahwa Gereja tidak memberi otoritas pada Kitab Suci, tetapi sebaliknya Kitab Suci memiliki otoritas karena Allah mengilhaminya. Kedua, bahwa seorang Kristen dapat mengetahui dari kesaksian Roh Kudus di dalam dirinya, bukan dengan mempercayakan keputusan dari Gereja. Lagipula, seorang Kristen dapat mengetahui dengan cukup mudah apa yang diilhami dan apa yang tidak, semudah membedakan “putih dari hitam, manis dari pahit.”

KARENA KATOLIK BENAR,
Allah membimbing Gereja-Nya, bukan membimbing setiap orang Kristen individual, untuk secara benar memilah kanon.

Klaim pertama Calvin – bahwa Gereja tidak memberi otoritas kepada Kitab Suci – tidak pernah ditentang oleh Gereja Katolik, gereja-gereja Ortodoks, ataupun orang Kristen. Gereja mengajarkan bahwa ia menerima teks-teks yang diilhami dari Allah (melalui pengarang-pengarang manusia), dan bahwa Allah membimbingnya dalam memilah dan memberi penilaian mana di antara banyak teks yang benar-benar diilhami. Jadi Gereja adalah pelayan dari pewahyuan yang tertulis dan bukan tuannya.

Klaim kedua Calvin telah menjadi jawaban umum dari protestan yang tidak dapat mengakui bahwa suatu Gereja yang korup memilih kanon itu. Ada satu elemen kebenaran padanya: sesungguhnya Roh Kudus sungguh memberi kesaksian pada jiwa-jiwa kita (pengarang) ketika kita (pengarang) menulis Kitab Suci. Tetapi Calvin menempatkan satu dikotomi yang keliru di sini: baik Gereja, dengan membedakan kanon, membayangkan dirinya sendiri berkuasa atas Kitab Suci maupun kanon terbukti dengan sendirinya (self-evident) pada setiap orang Kristen. Calvin mengganti kepercayaan bahwa Allah membimbing Gereja dalam memilih kanon dengan kepercayaan bahwa Allah membimbing aku atau kamu untuk memilih kanon. Dia memaksa pembacanya untuk memilih antara pilihan-pilihan ini, tetapi kenyataanya keduanya keliru.

Tidak ada alasan yang mendasar, dalam teks KS atau di mana pun, untuk percaya bahwa untuk memilah mana yang termasuk kanon, Allah akan membimbing aku dan kamu dan bukannya Gereja. Lebih lagi, kriteria subyektif Calvin untuk pemilahan kanon sangat tidak praktis dan tidak realistis.
Bagaimana seseorang mencari kebenaran tetapi belum dipenuhi Roh Kudus mengetahui mana buku yang harus dibaca untuk menemukan kebenaran? Bagaimana dengan orang Kristen baru yang belum belajar bagaimana membedakan suara Roh Kudus dalam batinnya sendiri? Pada titik mana setelah konversinya seorang Kristen dianggap siap untuk membantu menentukan kanon? Jika dua orang Kristen saling bertentangan, penilaian mana yang digunakan untuk menengahi pertentangan mereka dan mengidentifikasikan kanon yang benar?

Problem lain dari klaim Calvin adalah fakta sejarah dengan mutlak mengkontradiksikannya. Seperti telah kita lihat, pemilihan kanon bukanlah sesuatu yang mudah, yang bebas dari perdebatan yang berakhir dengan penutupan pewahyuan tertulis pada awal abad kedua.

Lebih dari itu, kanon muncul secara perlahan melalui suatu proses yang susah payah, dengan perbedaan kanon yang diajukan oleh banyak Bapa Gereja selama abad-abad itu. Jika kanon sudah jelas dan terbukti dengan sendirinya, Roh Kudus akan membimbing masing-masing mereka pada kanon yang sama. Namun demikian, orang-orang beriman yang dipenuhi Roh Kudus dan dekat dengan masa para Rasul dan Kristus sendiri, saling mengajukan kanon yang berbeda. Tidak sampai menjelang tahun 400 A.D. kanon telah diputuskan dan berisi 73 kitab dari Kitab Suci Katolik. Ketika, lebih dari 1100 tahun kemudian, para reformator mengubah kanon dengan menolak 7 kitab Deuterokanonika (dan Luther gagal dalam upayanya membuang yang lain), itu adalah bukti lain dari orang Kristen yang terpelajar dan pintar yang menentang soal kanon yang “jelas dengan sendirinya” (self-authenticated).

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar, maka kitab-kitab dari kanon akan jelas dengan sendirinya hanya dengan membacanya—sekurangnya bagi orang Kristen sejati yang cukup terpelajar untuk membedakan hitam dari putih. (Rupanya Martin Luther, pendiri Reformasi Protestan harus diekslusi [disingkirkan], karena ia ingin membuang empat kitab dari Perjanjian Baru). Tentu saja ini akan membuat kanon tergantung (kontingen) pada opini subyektif dari berjuta-juta individu Kristen, yang masig-masing dari mereka akan memiliki gambaran pribadi tentang apa yang semestinya. Itu hanya akan menciptakan lingkaran setan, jika: a) Orang Kristen sejati dapat mengatakan dalam hati mereka manakah kitab yang termasuk Kitab Suci, tetapib) Kitab Suci adalah satu-satunya yang bisa menjelaskan pada kita apa itu Kristen sejati.Tanpa suatu kanon yang dapat dipercaya untuk menjelaskan pada kita apa itu Kristen sejati, bagaimana kita dapat tahu kita adalah seorang Kristen sejati yang mampu untuk membeda-bedakan kanon?

Note:
33  John Calvin, Institutes of the Christian Religion, I, vii.1, 2, 5, John T. McNeill, ed., trans. Ford Lewis Battles, Philadelphia: Westminster Press, pp. 75–76, 80.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


10. PENGIDENTIFIKASIAN KANON


JIKA PROTESTAN BENAR,
Kitab Suci adalah sebuah “koleksi yang dapat keliru (yang terdiri) dari kitab-kitab yang tidak bisa keliru”

Kenyataan historis dari kanon Kitab Suci menimbulkan suatu kesulitan bagi protestan. Bagaimana mereka bisa tahu dengan pasti bahwa 66 kitab dalam Kitab Suci mereka adalah kumpulan yang benar dari kitab-kitab yang dinspirasi (oleh Roh Kudus)? Mereka perlu tahu sepasti mungkin karena mereka memegang prinsip sola scriptura  - bahwa dari Kitab Suci sajalah diketahui semua kebenaran yang menyelamatkan yang Allah wahyukan kepada manusia untuk dipercaya dan dihidupi. Tetapi jika mereka tidak bisa pasti bahwa kitab-kitab yang terkandung dalam Kitab Suci mereka semuanya dinspirasi oleh Allah, maka kebenaran-kebenaran itu terbuka untuk diperdebatkan. Dan juga, jika mereka tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa mereka tidak meninggalkan/membuang beberapa kitab yang diinspirasi, maka mereka menghadapi kemungkinan bahwa beberapa kebenaran yang menyelamatkan telah (di)hilang(kan).

Seorang pemimpin protestan modern yang berpengaruh telah memberikan suatu jalan baru untuk mengatasi dilema ini. Adalah pendeta protestan, R. C. Sproul, yang terkenal pertama kali menggambarkan Kitab Suci sebagai “koleksi yang dapat keliru (yang terdiri) dari kitab-kitab yang tidak bisa keliru.” [34] Karena hanya proses atau agen (orang dan sekelompok orang) yang bisa keliru, Sproul menegaskan bahwa Allah tidak melindungi proses yang di dalamnya kanon dipilah-pilah.[35] Jadi kanon adalah hasil dari suatu proses manusia yang sangat bisa keliru – kitab-kitab yang keliru dimasukkan dan atau kitab-kitab yang diinspirasi disingkirkan.

Apakah Kepastian yang Masuk Akalmencukupi?

Sproul secara internasional dikenal sebagai pendeta Kalvinis, pengarang dan pembicara yang telah menerbitkan sejumlah buku dan yang program-program radionya disiarkan di seluruh dunia. Karena pengaruhnya, banyak protestan reformasi menerima pernyataannya tentang kanon, dengan argumentasi bahwa cukuplah mengetahui kanon dengan kepastian yang masuk akal, bukan absolut. Demikianlah, setiap gereja Kristen dan denominasi menerima Perjanjian Baru; itu ssaja (cukup) jadi bukti bahwa itulah yang benar, terlepas dari bagaimana konklusinya dicapai.

Orang Yahudi Perjanjian yang Lama (Old Covenant) tidak memiliki magisterium yang tidak dapat salah untuk menyatakan kepada mereka mana kitab yang termasuk dalam kanon mereka. Namun mereka tetaplah Umat Allah dan nampaknya tidak ada masalah pada pewahyuan ilahi. Jadi, beberapa protestan mengatakan, tuntutan Katolik agar kita harus mengetahui kanon dengan kepastian ‘yang tak dapat keliru’ adalah tidak berdasar. Sederhananya adalah tidak perlu kepastian seperti itu; sebaliknya, penggunaan yang tepat atas akal budi yang Allah berikan dapat memberi kita cukup kepercayaan diri akan kanon Kitab Suci dan membantu kita mengetahui kehendak Allah.

KARENA KATOLIK BENAR,
Allah memastikan bahwa semua orang Kristen dapat memiliki kepastian yang mengikat akan kanon.

Protestan lain[36] tidak merasa nyaman dengan pernyataan Sproul bahwa proses untuk menentukan kanon dapat keliru. Mereka sadar bahwa jika kanon Kitab Suci tidak bebas dari kekeliruan, maka tidak ada gunanya mengklaim bahwa kitab itu sendiri bebas dari kekeliruan.

Sproul sendiri mengakui bahwa dia tidak punya alasan kuat untuk percaya dengan pasti bahwa semua Gereja awali (yang dapat salah) telah dengan benar memilih kitab-kitab untuk Kitab Suci, atau bahwa juga Reformator protestan (yang dapat salah) di abad 16 telah memilih kitab-kitab yang benar. Karena itu, rumusannya yang sangat tidak memuaskan, telah menjadi suatu tenggeran yang tak nyaman bagi protestan yang mencoba menemukan sandaran untuk jawaban atas persoalan kanon.

Kesulitan utama dari posisi ini adalah bahwa bahkan ketika posisi itu dengan benar mengidentifikasikan problem dengan menerima discermen dari gereja “yang murtad” atau reformator yang dapat keliru,  atau penaksiran internal subyektif dari orang Kristen, tetap saja posisi itu menerima konklusi mereka secara borongan. Pada kenyataannya, Sproul dan protestan lainnya percaya bahwa kanon protestan mereka bebas dari kekeliruan, dan bahwa daftar kitab-kitab itu sungguh benar, meskipun mereka dengan mutlak menolak kepercayaan bahwa Allah melindungi dari kekeliruan setiap orang yang telah memilah kanon itu. Mereka mencoba untuk menghasilkan suatu kepastian dari berbagai sumber yang dapat salah ini yang bagaimanapun juga lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya; tetapi itu hanyalah khayalan belaka. Hal itu bukanlah persetujuan/keyakinan iman yang didukung oleh penalaran yang solid melainkan sekedar suatu loncatan fideistik dengan pijakan yang tak stabil.

Seperti pada orang-orang Yahudi, meskipun benar bahwa mereka tidak memiliki magisterium yang infalibel dan bahwa kanon mereka bertumbuh seiring waktu ketika Allah mengutus banyak nabi kepada mereka, adalah benar juga bahwa Perjanjian Baru (New Covenant) lebih besar daripada Perjanjian Lama (Old Covenant) dalam tiap aspeknya.

Orang Israel makan manna di padang gurun, tetapi umat Allah yang baru diberi makan oleh Kristus sendiri dalam Ekaristi. Orang Yahudi diberi Hukum Taurat untuk membantu mereka mengenal dan mengikuti kehendak Allah, tetapi anggota-anggota Gereja dikarunia Roh Allah untu membantu mereka hidup dalam kemerdekaan Kristus. Tambahan pula, Allah melangkah melampaui Perjanjian Lama ketika sampai pada kanon Kitab Suci, dengan membimbing gereja-Nya dalam Perjanjian Baru untuk memilah mana kitab-kitab yang Ia inspirasikan dan mana yang tidak.

Pemilahan kanon adalah suatu proses yang morat-marit yang terjadi berabad-abad, yang selama masa itu Gereja harus menyaring dari beragam alernatif yang diajukan. Dan kemudian, sekitar 1000 tahun kemudian Reformator Protestan muncul dan mengedit daftar kitab-kitab Perjanjian Lama. Sproul, salah seorang apologet terkemuka Protestantisme, telah mengambil posisi yang tidak masuk akal bahwa meskipun proses pencarian yang sangat manusiawi ini tidak dibimbing oleh Allah, proses itu telah menemukan kitab-kitab yang sungguh benar dari Kitab Suci. Saya akan menyampaikan bahwa keyakinan Sproul adalah suatu materi iman jauh lebih liar (dan sangat tak mungkin) daripada suatu keyakinan sederhana bahwa Katolik memilah kanon dalam suatu Gereja yang dibimbing Roh Kudus.

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar, maka basis untuk semua kepercayaan Kristen, Kitab Suci, mungkin akan berisi kitab-kitab yang tidak diilhami oleh Allah, atau mungkin meninggalkan kitab-kitab yang Ia ilhami. Yang paling baik, kita dapat agak pasti bahwa banyak dari kitab-kitab dalam Kitab Suci adalah mungkin  diilhami Allah. Menurut suara Protestan yang berpengaruh, Sproul, kanon tidak diseleksi secara infalibel. Karena itu, bisa mengandung kekeliruan.  Itu adalah suatu pemikiran yang goyah, karena jika protestantisme benar, hanya Kitab Suci (yang salah) itulah semua yang kita miliki.

Note:
34     R. C. Sproul, “Now That’s a Good Question!” (Nelson, 1996), p. 81–82. (Perhatikan bahwa beberapa orang menghubungkan ide ini John Gerstner, yang padanya Sproul berguru).
35     Sproul mengakui poin ini dan mencoba menjelaskan bagaimana ia mendamikan kepercayaannya di website the Ligonier, yang adalah suatu organisasi yang ia dirikan untuk menyebarkan pemahaman Reformasi Protestan tentang Injil: http://www.ligonier.org/learn/qas/we-talk-bible-being-inspired-word-god-would-men-wh/
36     Beberapa sahabatku, protestan dan mantan Protestan (sekarang Katolik), telah mengungkapkan kebingungan mereka atas pernyataan Sproul, seperti nampak dari banyaknya komentar dalam blog-blog ekumenis. Mereka sadar betapa anehnya idea Sproul, karena kepastian tidak bisa disandarkan pada keraguan.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


11. SOLA SCRIPTURA DAN KESATUAN KRISTIANI


JIKA PROTESTAN BENAR,  
Protestant seharusnya bersatu dalam interpretasi mereka tentang Kitab Suci. 

Protestant berpegang pada doktrin sola scriptura: hanya Kitab Sucilah sumber otoritatif bagi kebenaran Kristen. Hasil wajar dari doktrin ini adalah kepercayaan bahwa pengaajran-pengajaran Kitab Suci itu jelas (dengan sendirinya) – sekurangnya bagi seorang Kristen sejati, yang Allah bimbing dalam pembacaan mereka atas nas-nas Kitab Suci. Lalu, dalam teorinya semua kelompok protestan yang menganut sola scriptura harusnya satu dalam kepercayaan, karena mereka semua menarik ajaran-ajaran mereka dari satu Kitab Suci yang jelas dan dibimbing ke dalam kebenaran oleh Roh Kudus yang sama. Namun, gereja-gereja protestan ternyata bertentangan satu dengan yang lainnya dalam banyak doktrin.

Protestant agak setuju 

Untuk menjelaskan ketidaksepahaman yang nyata menjadi sandungan, beberapa protestan bersikukuh bahwa kepercayaan-kepercayaan mereka secara substansial sama satu dengan yang lain, sekurangnya pada soal-soal penting: bahwa Yesus adalah Allah, sebagai contoh, dan bahwa Dia mati demi dosa-dosa kita dan bangkit lagi. Dan jika itu adalah tiang untuk mencapai kesatuan kepercayaan, aku mengakui bahwa mereka menyapu bersih itu.

Tetapi bagaimana mengatakan mana yang adalah doktrin-doktrin “penting”? Beberapa akan menjawab dengan mengatakan “doktrin  yang mempengaruhi keselamatan kita” – suatu tempat yang masuk akal untuk mulai. Karena Yesus dan Para Rasul tidak membuat suatu daftar eksplisit tentang pengajaran-pengajaran itu, protestan menjelajahi Kitab Suci (karena, menurut sola scriptura dalam Kitab Sucilah jawabannya mesti berada) mencari nas-nas tentang keselamatan dan berusaha keras menginterpretasikan apa yang sedang dikatakan oleh para pengarang yang terilhami. Sayangnya, ini menghasilkan konklusi yang bertentangan bahkan tentang poin-poin esensial tentang pembenaran, pengudusan dan keselamatan.

Perjamuan Tuhan adalah suatu contoh sempurna tentang pertentangan itu dan bagaimana protestan mengklaim memecahkannya. Lutheran percaya bahwa Yesus secara substansial hadir “bersama” roti dan anggur. Gereja Reformasi percaya bahwa Yesus hadir secara spiritual. Baptis percaya bahwa roti dan anggur hanyalah suatu simbol. Dan beberapa protestan lain, didasarkan pada pembacaan mereka atas Kitab Suci, tidak merayakan Perjamuan Tuhan.

Apakah perbedaan-perbedaan ini punya makna? Apakah Perjamuan Tuhan adalah suatu area penting, area yang mempengaruhi keselamatan? Ketika ditanyakan tentang perbedaan-perbedaan yang jelas itu, beberapa protestan yang telah aku surati telah mengatakan Perjamuan Tuhan adalah penting dan mempertahankan bahwa kepercayaan partikular gereja mereka tentang soal ini adalah benar. Yang lainnya mengangkat bahu dan mengatakan bahwa karena nas-nas biblis yang relevan dapat memuat interpretasi yang berbeda, perbedaan doktrinal atas soal ini bisa diterima. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan bahwa jenis kebebasan menafsirkan ini menghasilkan “Big Tent Christianity” (tambahan: mirip-mirip indiferentis) yang pantas dipuji yang tidak menyingkirkan beragam kepercayaan.

Pendeknya, protestan bertentangan bukan hanya pada pengertian doktrin-doktrin spesifik, tetapi juga pada apakah pertentangan itu penting atau tidak. Bagi beberapa setuju untuk saling bertentangan adalah kesatuan, satu-satunya jenis kesatuan yang mungkin di dunia ini.

KARENA KATOLIK BENAR,
Sola scriptura tidak membawa ada kesatuan tetapi perpecahan tanpa akhir.

Jika, seperti klaim protestan, para reformator menghidupkan kembali doktrin sola scriptura maupun merestorasi kanon yang benar, pada akhirnya dengan mendasarkan kepercayaan mereka hanya pada Kitab Suci yang tidak dinodai oleh tradisi-tradisi yang dibuat oleh manusia, kita akan berharap  menemukan kesatuan doktrinal yang sempurna, atau sekurangnya level kesatuan yang tinggi di antara mereka. Namun realitas historis sangat berseberangan dengan harapan itu. Pertentangan doktrinal meletus di setiap tempat protestan dibangun: Melancthon, teman seperjuangan Luther, melepaskan diri dari kepercayaan ekaristisnya yang lebih literal; rekan–rekan reformator radikal (Anabaptist) menentang semua pengajaran para reformator tentang pembaptisan bayi; Calvin menentang Luther dalam hal pemerintahan gereja; dan Anglikan menginkorporasi ide-ide campur aduk dari para reformator Eropa ke dalam paduan unik mereka sendiri yang membentuk pengajaran Katolik-Protestan, yang menghasilkan suatu teologi yang menjijikkan bagi kaum puritan.

Walaupun anggota-anggota dari kelompok protestan ini semua percaya bahwa mereka menerima Roh Kudus, dan dengan jujur melakukan yang terbaik untuk mengikuti apa yang mereka pikir sedang Allah katakana dalam Kitab Suci, mereka toh sampai pada interpretasi yang berbeda juga dalam hampir setiap persoalan penting. Sebagai contoh, Anabaptists dengan benar telah menunjukkan bahwa tidak ada penyebutan eksplisit dalam Perjanjian Baru tentang Baptisan bayi, suatu praktek yang mulai muncul pada permulaan Gereja dan yang Luther dan Zwingli terima sebagai ajaran ortodoks. Bahwa praktek ini adalah bagian dari tradisi Kristiani tidak cukup bagus bagi Anabaptis, sehingga mereka menolak baptisan bayi dan membaptis ulang semua orang Kristen yang bergabung dalam kelompok mereka (Anabaptis berarti “baptisan-ulang”).

Anabaptist tidak berhenti di situ: didasarkan pada pembacaan mereka akan Kitab Suci, mereka mengisolasi diri mereka sendiri, menolak kepemilikan pribadi atas tanah karena Kitab Suci mengatakan Kristen awali menjadikan semua sebagai milik bersama. Banyak Reformator radikal juga menolak dogma Trinitas dengan argumentasi bahwa dogma itu tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, tetapi hanya penemuan para teolog yang kemudian. Bagi Anabaptist, sola scriptura berarti tidak bersandar pada tradisi dari aba-abad awali Kristianitas (selain daripada tradisi kanon Kitab Suci, suatu inkonsistensi yang rupanya tidak mereka pertimbangkan). Para reformator berpikir bahwa Anabaptist telah melangkah terlampau jauh. Sungguh pasti, Bapa-bapa Gereja dan konsili-konsili awal dapat secara umum menjadi sandaran untuk menginterpretasi Kitab Suci dengan penuh iman dan kesetiaan. Tetapi berkaitan dengan kepastian pengajaran esensial tentang pembaptisan dan kodrat ilahi, siapa bisa mengatakan pihak manakah yang benar?

Perselisihan paling terkenal dari Luther dan Zwingli di Marburg[37] atas pemaknaan Komuni suci memperlihatkan bahwa para reformator, apapun masalahnya, tidak berpikir bahwa interpretasi yang berbeda atas Perjamuan Tuhan itu tidak signifikan atau tidak hakiki. Sebaliknya, mereka beradu argumen dengan sengit atas persoalan itu, dan menolak untuk menerima interpretasi lainnya.

Waktu tidak bersahabat bagi perpecahan-perpecahan itu, dan hanya menimbulkan perpecahan baru lainnya. Khususnya terhadap persoalan modern seperti perkawinan sejenis dan tahbisan wanita. Tetapi tetap saja doktrin-doktrin lama menjadi subyek perselisihan. Gerakan The Oneness Pentecostal, yang mengklaim ada puluhan juta pengikut, menolak doktrin tradisional tentang Trinitas, sebaliknya mengadopsi suatu posisi yang dekat dengan kesesatan modalisme.[38] Soal-soal itu adalah sama esensialnya yang telah memecah para reformator, tetapi tetap tidak ada metode yang efektif untuk menjadi resolusi, tak pernah ada sampai hari ini, dan perpecahan kian meningkat. Tak ada satupun dari sejarawan religius yang dapat menyangkal bahwa hasil dari sola scriptura telah menimbulkan kekacauan doktrinal.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka Allah memang bermaksud agar semua orang Kristen mendasarkan iman mereka hanya pada Kitab Suci. Roh Kudus akan bekerja dalam hati dan pikiran mereka – bahkan akan mengatasi kekurangan yang disebabkan oleh dosa – untuk menyatukan mereka dalam interpretasi yang benar atas teks suci, mengabulkan kesatuan sempurna yang Kristus mohonkan dalam Yoh 17. Namun setiap orang yang menguji pertunjukan pengajaran yang bertentangan bahkan dalam persoalan yang esensial, yang hadir dalam protestan sejak kemunculannya sampai hari ini, dapat melihat bahwa eksperimen protestan tidak mencapai kesatuan itu atau tidak akan pernah sampai pada kesatuan itu.

Note:
37   Disebut  Marburg Colloquy, suatu pertemuan di Kastil Marburg, Hesse, Jerman di awal Oktober 1529. Transkrip dari pertemuan itu dapat ditemukan di sini: http://divdl.library.yale.edu/dl/OneItem.aspx?qc=AdHoc&q=3163
38   Modalisme adalah pemikiran bahwa Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah cara (moda) yang berbeda dari satu Allah yang sama. Pemikiran ini berasal dari abad ketiga oleh Sabelius yang sesat.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


12. PRINSIP PENILAIAN INDIVIDUAL


JIKA PROTESTAN BENAR, 
Kita semua memutuskan apa arti pewahyuan Tuhan untuk diri sendiri. 

Allah mengilhami kitab-kitab dari Kitab Suci untuk menyampaikan, dalam bentuk tulisan, pewahyuan-Nya yang menyelamatkan bagi kita. Puncaknya adalah pewahyuan Diri-Nya sendiri,  dalam diri Yesus Kristus. Seperti yang protestan percaya, jika Kitab Suci adalah satu-satunya sumber iman yang infalibel, Allah harus memastikan bahwa maknanya, sekurangnya dalam persoalan esensial tentang keselamatan, akan menjadi jelas [tambahan: begitu saja] bagi setiap orang Kristen yang membacanya. Allah tidak boleh membiarkan Kitab Suci penuh dengan misteri, kabur, atau bahkan agak samar-samar—bahkan bagi orang-orang yang tidak fasih berbahasa Yunani dan Ibrani. Kejelasan akan memastikan kesatuan doktrin sepanjang masa di antara semua orang Kristen yang percaya pada Kitab Suci. Namun, seperti yang kita saksikan, kesatuan seperti itu tidak terjadi, tidak ada. Ini semua terjadi karena ketiadaan otoritas yang menafsirkan. Setiap pribadi dibiarkan memutuskan sendiri bagi dirinya apa makna yang terkandung dalam nas Kitab Suci.

Perikop-perikop Kitab Suci (sudah) Jelas?

Nas-nas Kitab Suci penuh dengan tantangan dalam hal penafsiran. Baiklah kita mencoba melihat dua perikop dalam 1 Yoh. “Jika berkata, ‘Kita tidak berdosa,’ kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada dalam diri kita.” (1:8). Kemudian, kita membaca Rasul Yohanes mengatakan: “Setiap orang yang tetap berada dalam Dia [Yesus], tidak berdosa lagi, setiap orang yang tetap berbuat dosa tidak melihat dan mengenal Dia.” (3:6)

Suatu kontradiksi yang sangat jelas muncul di sini. Pada perikop pertama, jelaslah bahwa mengklaim kita tidak berdosa adalah sebuah dusta, karena kita memang berdosa. Tetapi pada perikop kedua nampaknya dikatakan bahwa jika kita tetap berada dalam Yesus, kita tidak berdosa. Apa yang sedang terjadi? Karena sebagian besar protestan (sejalan dengan orang-orang Katolik) percaya bahwa Kitab Suci bebas dari kekeliruan, kontradiksi inilah yang mestinya menjadi satu-satunya yang paling jelas. Lalu bagaimana dua perikop ini dapat diperdamaikan?

Banyak protestan yang membaca perikop ini memutuskan bahwa dalam perikop kedua St. Yohanes pastilah memaksudkan “berkanjang dalam dosa” atau “berdosa dan tidak bertobat.” Sebaliknya, itu akan berarti bahwa jika kita melakukan dosa, yang sejujurnya banyak dari kita sering berbuat dosa, kita tidak mengenal Yesus. Kedengarannya cukup kasar. Namun jika kita menggunakan interpretasi ini untuk menyelesaikan kontradiksi yang nampak itu, kita secara mental sedang menyisipkan kata-kata baru ke dalam Sabda Allah.

Mari kita lihat perikop lain dalam 1 Yoh: “sebab bagi kamu, pengurapan yang kamu terima dari Dia tetap ada dalam dirimu, sehingga tidak perlu lagi seseorang mengajarmu. Tetapi pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaran-Nya itu benar dan tidak keliru.” (2:27).

Interpretasi paling sederhana dari perikop ini akan berarti bahwa kita, orang Kristen, tidak membutuhkan seseorang lain untuk mengajar kita, karena kita menerima pengurapan dari Roh Kudus, yang akan mengajar kita tentang semua hal yang perlu kita ketahui. Deduksi logis dari perikop ini, dikombinasikan dengan yang satu ini yang mengatakan bahwa kita semua adalah imam [39],  menyatakan bahwa kita tidak membutuhkan suatu imamat ministerial dan mungkin juga tak perlu ada pastor apapun.

Beberapa komunitas Quaker sungguh-sungguh menunjuk pada perikop ini untuk membuktikan bahwa kita tidak membutuhkan otoritas atau pengajar manusia apapun, dengan mengklaim bahwa Roh Kudus mengajar kita secara langsung. Para anggota Quakers bertemu dalam sebuah kebaktian tanpa seorang pemimpin apapun, dan hanya ketika seorang dari mereka “digerakkan oleh Roh Kudus,” dia akan bangkit dan berkata-kata kepada yang lainnya. Sebagian besar protestan tidak sampai pada ekstrem itu dan [masih] rela menerima otoritas manusia, sekurangnya selama mereka dipilih dengan baik atau memperlihatkan level pengetahuan spiritual yang dapat diterima. Tetapi mereka akan tetap menggunakan perikop ini untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri semacam “intuisi tersucikan,” [40] yang dengannya pikiran-pikiran atau idea-idea mereka sendiri semuanya berasal dari Roh Kudus dan bahkan lebih hebat/berkuasa daripada ide-ide para pemimpin mereka. Apapun itu, gagasan bahwa kita tidak membutuhkan seorang pun untuk mengajar kita nampaknya membingungkan, karena perikop-perikop lain [41] dalam Perjanjian Baru meminta kita untuk belajar dari orang-orang bijak.

Ketika dikonfrontasikan dengan perikop sulit seperti itu, protestan sering merekomendasikan agar kita “menggunakan teks Kitab Suci untuk menafsirkan teks Kitab Suci,” dan menjanjikan bahwa ayat-ayat yang tidak jelas atau nampaknya bertentangan akan menjadi jelas dan terselesaikan dengan melihat pada ayat-ayat lain. Ini adalah suatu usul yang masuk akal, dan sungguh banyak terjadi ketika satu perikop memperjelas perikop lainnya. Mungkinkah ini kunci untuk menafsirkan perikop-perikop Kitab Suci yang sulit?

KARENA KATOLIK BENAR,
Kitab Suci tidak dimaksudkan untuk dipelajari terpisah dari Tradisi Apostolik dan terlepas dari otoritas pengajaran Gereja Kristus. 

Kita baru saja melihat beberapa perikop yang nampak bertentangan atau tidak jelas. (banyak lagi yang dapat diberikan dengan mudah, perikop-perikop yang membawa pada perbedaan-perbedaan dalam protestantisme tentang pembaptisan, Ekaristi, tahbisan wanita, struktur dan pemerintahan gerejawi, justifikasi, bahkan Trinitas). Kita telah melihat pada bagaimana protestan mencoba menyelesaikannya. Bagaimana dengan Katolik?

Berkaitan dengan dua ayat pertama, tentang apakah orang Kristen berdosa atau tidak, Katolik membuat distingsi antara dua macam dosa: berat/mematikan (mortal) dan ringan (venial).[42] Dosa mematikan ini sedemikian berat sehingga orang Kristen kehilangan kehidupan ilahi dalam jiwanya, sehingga terpisah dari keadaan rahmat yang menguduskan. Dosa ini menempatkanya dalam bahaya kutukan kematian kekal. Dosa ringan levelnya lebih rendah dan tidak menyebabkan orang Kristen kehilangan rahmat pengudusan. Dengan distingsi ini, menjadi mudah untuk memahami kata-kata Rasul Yohanes yang berarti bahwa orang Kristen yang tetap berada dalam Yesus tidak lagi berbuat dosa yang mematikan, karena dosa yang mematikan berarti menolak Allah secara tegas, yang nampak dari penolakannya untuk tinggal dalam Yesus. Protestan menolak pemikiran ini, dengan percaya bahwa semua dosa adalah sama, sehingga mereka harus menafsirkan perikop itu secara berbeda. Ironisnya, mereka yang mengakui sola scriptura justru memaksakan suatu distingsi ekstra-biblis ke dalam Kitab Suci.

Bagaimana dengan 1 Yoh 2:27? Apakah kita membutuhkan orang lain selain Allah untuk mengajar kita? Katolik melihat ayat ini perlu dipahami dalam konteks Gereja, yang di dalamnya Yohanes adalah seorang pemimpin agungnya. Gereja Kristus adalah satu-satunya pengajar yang orang Kristen butuhkan – kita tidak perlu diajar oleh orang jahat [anti-Kristus] yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Mungkin itulah yang disinggung oleh Rasul Yohanes ketika berkata mereka tidak perlu pengajar-pengajar lain.

Bahkan 1 Yohanes, yang adalah surat yang pendek dan relatif tidak rumit, berisi banyak perikop yang di dalamnya interpretasi yang benar tidak langsung jelas. Dalam seluruh nas Kitab Suci ada banyak hal lain yang tidak jelas juga.
Mungkin, seperti yang beberapa protestan katakan, nas Kitab Suci menafsirkan nas Kitab Suci. Mungkin mereka yang secara keliru menginterpretasi perikop-perikop seperti yang kita lihat di atas, cuma gagal mengaplikasikan perikop-perikop lain yang mengungkapkan pengertian yang jelas.

Nas Kitab Suci memang menafsirkan nas Kitab Suci—sejauh kebenaran yang Allah wahyukan saling terkait. Namun, menggunakan ide ini sebagai aturan untuk menafsirkan Kitab Suci hanya mendorong persoalan interpretasi kembali pada ayat-ayat sebelumnya. Dan ini menjadi lebih rumit oleh persoalan ayat mana yang mesti digunakan untuk menafsirkan satu teks problematis. Dengan Perjanjian Baru sendiri yang berisi ribuan ayat, bagaimana kita tahu ayat mana yang harus dipilih? Kitab Suci tidak menyediakan bagi kita suatu indeks referensi-silang. Dan bagaimana jika kita justru pertama-tama menginterpretasi teks-teks referensi itu secara keliru? Maka kita akan berada dalam situasi yang menyedihkan karena menggunakan interpretasi yang keliru untuk menginterpretasikan ayat lain. Akhirnya ini hanya akan membawa pada kekliruan lebih besar lagi.

Seorang protestan temanku adalah anggota komunitas yang disebut the Plymouth Brethren. The Brethren itu adalah para dispensasionalis, yang percaya bahwa mukjizat-mukjizat besar, bahasa “roh” dan nubuat-nubuat telah berhenti pada akhir Era Para Rasul, karena kitab-kitab Perjanjian Baru telah ditulis semua pada masa itu. Mereka mendasari kepercayaan ini pada pernyataan singkat Rasul Paulus bahwa “nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti” (1 Kor 13:8). Mayoritas denominasi protestan menafsirkan ayat ini bahwa anugerah ini akan berakhir ketika Kristus kembali dalam kemuliaan, bukan berakhir ketika rasul terakhir meninggal. Tetapi the Brethren ini tetap tidak mengubah penafsiran mereka tentang perikop ini, dan ini adalah satu dari karakteristik primer mereka yang membedakan dengan yang lainnya. Siapa yang benar? Kita tidak bisa menanyakan Rasul Paulus apa yang dia maksudkan, maupun interpretasi mana yang cocok dengan teks itu.

Pendiri the Plymouth Brethren, yang gagal memahami eksistensi karunia-karunia karismatis, memilih perasaan mendalamnya bahwa karunia-karunia itu harus berakhir dan menemukan suatu ayat yang nampaknya mendukung instingnya. Jadi, satu ayat saja, yang diberikan interpretasi baru oleh seseorang, 1800 tahun setelah Kristus, menyebabkan protestan makin terpecah dan menghasilkan denominasi baru lainnya.

Gembala dan profesor Evangelis, John Armstrong, mengungkapkan kebingungannya akan perbedaan-perbedaan yang nampaknya tak pernah berakhir dalam komunitas Evangelis; semuanya membaca Kitab Suci yang sama dan penuh semangat mencari tuntunan dari Roh Kudus yang sama: persoalan terbesar adalah bahwa bahkan umat protestan evangelis sendiri tidak saling setuju…terhadap banyak doktrin penting yaitu pandangan kita tentang inspirasi atas Kitab Suci; bagaimana kita mendefinisikan iman, pembaptisan, dan Perjamuan Tuhan; doktrin tentang masa depan; karunia-karunia Roh Kudus; doktrin tentang kehendak manusia; dan tentang hakikat bagaimana rahmat Allah bekerja dalam keselamatan. Semakin aku mempelajari perdebatan internal Evangelis ini, semakin panjang daftar perdebatan itu bisa dibuat.

Ada sesuatu yang keliru…tetapi aku masih belum bisa melihat dengan pasti apa itu. [43] problemnya adalah tentang bagaimana cara protestan mencoba untuk mengenal kebenaran ilahi. Allah tidak memberi kita (hanya) Kitab Suci untuk ditafsirkan secara subyektif oleh setiap individu Kristen yang didasarkan pada pendidikan, pemahaman, kepentingan, kepribadian dan suasana hatinya sendiri yang selalu berubah. Skema seperti itu akan membuat setiap orang Kristen menjadi satu-satunya otoritas bagi dirinya sendiri, melebihi Gereja yang telah didirikan dan dituntun oleh Kristus. Tetapi sayangnya—dan secara tak sengaja—itulah prinsip-prinsip protestan yang diwariskan kepada kita.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka bagian-bagian yang sulit dari teks-teks Kitab Suci harus dapat dipahami melalui suatu kajian yang hati-hati, dibawa dalam doa, dan dan diaplikasikan untuk perikop lain dari Kitab Suci yang nampaknya (pura-pura) lebih jelas. Namun ketika anggota-anggota umat beriman protestan belajar dengan keras, penuh doa mencari pencerahan dari Allah, dan dengan pandai mengaplikasikannya pada perikop lain dari Kitab Suci, mereka tetap saja sampai pada interpretasi yang berbeda. Bahkan sering menyebabkan munculnya komunitas atau denominasi baru. Bagi seorang protestan, sola scriptura menjadi otoritas finalnya, bukan Kitab Suci.

Note:
39   lih. 1 Ptr 2:5–9
40   aku pertama-tama menemukan ide tentang akal sehat (atau intuisi) yang dikuduskan dalam tulisan seorang ahli Evangelis, Mark Noll’s, khususnya The Scandal of the Evangelical Mind, Eerdmans, 1994.
41   Secara khusus lihat Ibr. 13:17 dan juga beberapa perikop yang di dalamnya Rasul Paulus dan Rasul lain mengajar secara otoritatif (contohnya, Kis 15) dan membuat keputusan yang diharapkan agar umat Kristen lainnya mengikuti keputusan itu.
42   Pembedaan ini ditarik dari surat yang sama dengan dua perikop itu, yaitu 1 Yoh 5:16–17.
43   John Armstrong, Your Church is Too Small, Ch. 3, Zondervan, 2010.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


13. OTORITAS PENAFSIRAN


JIKA PROTESTAN BENAR,
Semua yang kita miliki adalah opini-opini yang dapat salah tentang kitab-kitab yang tidak dapat salah

Akar perpecahan endemis dalam protestan terletak pada ketiadaan (pada dasarnya, tidak mungkin ada) otoritas interpretatif untuk teks-teks Kitab Suci yang mengatasi interpretasi yang melulu individual. Protestan tidak menerima bahwa seseorang atau sekelompok orang memiliki kuasa ini, karena Kitab Suci sajalah sebagai otoritas akhir. Idealnya, protestan akan bersatu dalam interpretasi mereka tentang Kitab Suci, tetapi seperti kita saksikan, sejak awal kelahiran protestantisme, kesatuan ini tidak pernah terjadi. Ketiadaan kesatuan ini secara tak terelakkan mengantar pada prinsip penilaian pribadi, yang membuat setiap orang Kristen menjadi penafsir akhir atas teks-teks Kitab Suci. Dan sama tak terelakannya adalah kemungkinan kekeliruan dalam penafsiran setiap protestan, karena tak seorangpun yang infalibel (tidak dapat salah).

A Catch-22 (Situasi paradoks yang untuknya tidak ada solusi yang mudah atau mungkin karena adanya aturan yang saling bertentangan)

Sebuah pertanyaan yang bisa kita ajukan kepada protestan adalah: bagaimana kamu tahu bahwa interpretasimu atas Kitab Suci adalah benar, [sementara] berlawanan/bertentangan dengan interpretasi protestan lain? Jawaban singkatnya adalah dia tidak tahu pasti. Dan dia mungkin akan menyadari akan cukup berbahaya untuk mengklaim yang sebaliknya [tambahan: mengklaim interpretasinya yang benar]. Tetapi mengapa Roh Kudus akan membimbing orang-orang Kristen yang berbeda menuju pada penafsiran yang berbeda pula?

Ingatlah bahwa Martin Luther dan Ulrich Zwingli mengajarkan interpretasi-interpretasi yang saling bertentangan atas Kitab Suci berkaitan dengan Perjamuan Tuhan dan bagaimana, tepatnya, Kristus “hadir” dalam Ekaristi. Luther percaya bahwa Kristus benar-benar hadir dalam Ekaristi, sementara Zwingli berpikir bahwa kehadirany-Nya hanya figuratif. Seorang ahli dari Anglikan, Alister McGrath, menganalisa situasi ini dan problemnya bagi Protestantisme:

Menjadi jelas bahwa semua itu merepresentasikan pembacaan yang secara keseluruhan berbeda atas teks yang sama. Interpretasi Luther adalah yang lebih tradisional dan Zwingli yang lebih radikal. Mana yang benar? Dan mana yang Protestan? Di sini kita melihat kesulitan fundamental yang dihadapi Reformasi: ketiadaan satupun otoritas penafsir atas teks-teks Kitab Suci yang dapat memberi keputusan atas materi-materi yang bertentangan dari suatu penafsiran biblis. Persoalannya tidaklah sesederhana siapakah yang benar di antar Luther dan Zwingli. Persoalannya adalah gerakan protestan yang muncul tidak memiliki sarana-sarana untuk menyelesaikan persoalan-persoalan atas interpretasi biblis. Jika Kitab Suci adalah otoritas terakhir, siapa yang punya kuasa untuk menginterpretasi Kitab Suci? Ini bukanlah persoalan iseng-iseng. Persoalan itu berada tepat pada jantung relasi kompleks dari protestantisme. Untuk menjawab persoalan ini, suatu aturan atau prinsip otoritatif harus diajukan dan berdiri di atas teks Kitab Suci. Ide ini adalah yang paling haram bagi Protestantisme. Tiga pemimpin Reformasi—Luther, Zwingli, dan Calvin—semuanya mengakui pentingnya persoalan itu; dengan mantap, masing-masing mengajukan jawaban yang berbeda. [44]

Kita melihat dari sejarah Reformasi oleh McGrath bahwa karena gerakan-gerakan reformasi yang terpotong-potong itu secara independen muncul di negara-negara berbeda pada tahun 1520an, Protestantisme muncul dalam keterpecahan, ketiadaan otoritas yang dapat memutuskan mana interpretasi biblis yang benar. Bukan hanya itu, tetapi yang paling fundamental adalah protestantisme tidak mungkin memformulasi suatu aturan yang dapat menyelesaikan dilema ini.

Solusi yang diusulkan oleh kebanyakan protestan adalah bahwa dosa atau keburukan manusia menyebabkan, bahkan orang Kristen yang dipimpin oleh Roh Kudus, keliru memahami Sabda Allah. Tetapi, seperti telah kita lihat, mereka berargumentasi bahwa karena kebanyakan protestan sampai pada kepercayaan yang secara umum mirip dalam persoalan-persoalan penting, Roh Kudus telah mengatur untuk menciptakan suatu konsensus dasar di tengah-tengah kebingungan itu. Bayangkanlah banyak anak panah sedang ditembakkan pada satu target. Meskipun para pemanah tidak memiliki bidikan yang sempurna, Roh Kudus akan membenarkan tembakan-tembakan mereka di udara dan mereka kebanyakan berkumpul di sekitar target. Kita berhenti pada interpretasi personal, dan interpretasi itu dapat keliru, tetapi Allah memastikan bahwa bersama kita akan mendapatkan persoalan-persoalan besar tepat pada akhirnya.

KARENA KATOLIK BENAR,
Allah menginginkan semua orang Kristen mengenal kebenaran yang menyelamatkan, sehingga Dia secara infalibel membimbing Gereja dalam pengajaran tentang iman dan moral.

Tidak semua protestan menolak ide tentang otoritas penafsir. Beberapa melihat pada fakta dan mengakui bahwa itu adalah suatu kebutuhan praktis. Keith Mathison, seorang pengarang dari Protestan Reformasi telah menulis sebuah buku yang cukup berpengaruh, The Shape of Sola Scriptura, mengajukan suatu wawasan yang jujur tentang subyek ini: Semua perkara atas teks Kitab Suci adalah perkara atas interpretasi terhadap teks Kitab Suci. Satu-satunya persoalan yang real adalah: interpretasi siapa? Orang dengan interpretasi berbeda-beda tidak dapat meletakkan Kitab Suci pada satu meja dan berdiskusi untuk menyelesaikan perbedaan-perbedaan mereka. Agar teks-teks Kitab Suci berfungsi sebagai suatu otoritas, teks-teks Kitab Suci itu harus dibaca dan diinterpretasi oleh seseorang.[45]

Sesungguhnya teks Kitab Suci tidak dapat ditanyai. Kita tidak bisa menempatkan Kitab Suci pada kursi saksi dan memintanya untuk mengatakan kepada kita semua kebenaran dan bukan yang lain. Dalam protestantisme, siapakah “seseorang” itu yang membaca dan menginterpretasikan Kitab Suci dengan otoritatif? Mathison mengatakan itu adalah “Gereja.” Dan “Gereja” ditemukan di manapun Injil secara benar diwartakan. Tetapi protestan menetapkan pengertian Injil melalui interpretasi personal mereka sendiri (yang infalibel) atas teks Kitab Suci, dengan menciptakan suatu argument berputar: Gereja memiliki otoritas di atas individu untuk menginterpretasikan teks Kitab Suci, dan kamu menemukan Gereja itu dengan pertama-tama menemukan injil, tetapi kamu menemukan injil melalui interpretasi indvidualmu atas teks Kitab Suci.[46] Dan karena semua protestan mengakui falibilitas interpretasi mereka, seluruh skema itu dibangun dalam ketiadaan dan pasti segera runtuh.

Beberapa protestan mencoba melepaskan diri dari dilema ini dengan menekankan bahwa karena Kitab Suci tidak dapat salah, kita memiliki saksi sempurna yang bisa diandalkan. Tetapi ini tidak bisa melepaskan mereka dari ikatan, seperti McGrath katakan:

Sangatlah mungkin untuk sebuah teks yang tidak bisa salah diinterpretasikan secara keliru. Menegaskan infalibilitas suatu teks hanyalah memberi penekanan pada pentingnya penafsir atas teks tersebut. Jika sang penafsir juga tidak dipandang infalibel—suatu pandangan yang protestantisme tolak, berkaitan dengan pandangan Katolik atas Gereja dan Kepausan—persoalan menentukan arti “yang benar” dari Kitab Suci tidaklah terselesaikan, atau bahkan tidak kesampaian, hanya dengan menyatakan bahwa teks yang suci itu tidak dapat keliru. [47]

Seorang Katolik dapat dengan pasti menyetujui bahwa, terlepas dari apakah ada seorang penafsir yang infalibel, memiliki suatu kitab yang tidak dapat keliru adalah lebih baik daripada memiliki suatu kitab yang terisi dengan kekeliruan. Seorang penafsir yang infalibel, orang yang dapat dimintai jawaban dan dapat mengklarifikasi pernyataannya, adalah jauh lebih superior—khususnya ketika berurusan dengan perikop-perikop dari Kitab Suci yang menimbulkan interpretasi yang bertentangan. Dan tepat, inilah yang kita miliki dalam Magisterium Katolik.

Keith Mathison percaya bahwa kita harus melihat pada Gereja untuk bagaimana menafsirkan Kitab Suci dengan benar, tetapi dia gagal untuk mengidentifikasikan secara benar Gereja yang mana. Dia menginginkan magisterium, tetapi protestan tidak memberikannya.

Gereja Katolik memberikan (apa yang Keith Mathison harapkan). Kristus mendirikan Gereja, menetapkan para rasul sebagai pemimpin-pemimpinnya yang benar,[48] dan berjanji mengutus Roh-Nya untuk membimbing mereka sampai kedatangan-Nya kembali.[49] Bahkan dalam abad pertama, kita melihat para rasul bertindak dengan otoritas, menafsirkan teks Kitab Suci dan mengikat umat beriman pada keputusan-keputusan mereka.[50] Hanya jika telah ditetapkan oleh otoritas ilahi, mereka akan memiliki kuasa seperti itu; Perjanjian Baru mencatat bahwa mereka sungguh-sungguh memiliki kuasa itu.[51] Magisterium yang sama ini ditemukan dalam Gereja Katolik, yang telah secara terus menerus menjalankan otoritas yang Kristus berikan kepadanya. Karena Gereja sepenuhnya dilindungi dari kekeliruan oleh kuasa dan rahmat Allah,[52] kaum beriman dapat sepenuhnya yakin pada hal itu, dan percaya bahwa dengan benar magisterium mengajarkan kebenaran Allah yang menyelamatkan.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka tak ada seorangpun penafsir yang tidak dapat salah, dan karena itu tak ada penafsiran yang dapat diterima sebagai tafsiran otoritatif. Paling mungkin, kita terpaksa beriman bahwa melalui suatu karya misterius Roh Kudus, semua falibilitas kolektif kita akan membimbing kita pada interpretasi yang benar atas kebenaran-kebenaran biblis.

Note:
44 McGrath, Christianity’s Dangerous Idea, 69–70.
45 Keith Mathison, “Solo Scriptura: The Difference a Vowel Makes” 25–29, http://www.modernreformation.org/default.php?page=articledisplay&var1=ArtRead&var2=19&var3=authorbio&var4=AutRes&var5=17
46 untuk suatu sanggahan yang komprehensif atas argumen Mathison, lih. Artikel dari the Called to Communion: http://www.calledtocommunion.com/2009/11/solo-scriptura-sola-scriptura-and-the-question-of-interpretiveauthority/
47 McGrath, Christianity’s Dangerous Idea, 221.
48 Mat. 16:18.
49 Yoh 14:26, 15:26.
50 Lih. Kis 15, Konsili Yerusalem.
51 Luk 10:16, Mat 28:18–20, Mat 10:1.

14. SALAH PENAFSIRAN ATAS AMANAT AGUNG


JIKA PROTESTAN BENAR,
Hari ini para misionaris Protestan sedang keliru menafsirkan Amanat Agung (Kristus)

Ribuan orang protestan bekerja sebagai misionaris full-time di daerah-daerah terpencil. Namun, selama masa reformasi dan abad-abad setelah itu, tidak ada satupun orang protestan yang bermisi. Ini karena para pendiri protestantisme percaya bahwa Amanat Agung—perintah Yesus untuk mewartakan injil kepada semua bangsa—hanya berlaku untuk para rasul.

Tidak perlu para Misionaris?

Amanat Agung diceritakan dalam ayat-ayat terakhir Injil Matius. Ketika akan naik ke surga, Yesus memberi perintah kepada para rasul pergi kepada segala bangsa untuk membaptis dan mengajar mereka. Protestan saat ini dengan yakin menunjuk pada ayat-ayat itu sebagai motivasi biblis untuk aktivitas misioner mereka, tetapi banyak dari mereka tidak menyadari bahwa interpretasi ini adalah sebuah hal yang sangat baru dalam kelompok mereka.

Sesungguhnya, beberapa ratus tahun setelah reformasi, protestan memahami perikop ini sebagai perkataan Yesus [yang ditujukan] hanya bagi para rasul untuk pergi dan menyebarkan Kabar Gembira, dan mereka percaya bahwa karya ini telah diselesaikan secara mencukupi pada era para rasul. Kitab Suci adalah satu-satunya kaidah iman, dan Kitab Suci tidak meyebutkan apapun tentang amanat Pengutusan yang diperluas melampaui era para rasul. Seperti seorang sejarawan menulisnya:
Baik teolog-teolog Reformasi maupun Lutheran di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, seperti Theodore Beza dan Johann Gerhard, menyatakan bahwa amanat Pengutusan berakhir dengan berakhirnya era para rasul.

Mengingat permusuhan terhadap misi dalam protestantisme klasik ini, kebangkitan aktivitas misioner selama abad ke 18 adalah sungguh-sungguh hal yang luar biasa…. Sampai pada tahun 1830an sebagian besar gereja protestan aliran utama di Barat tidak menganggap misi sebagai “hal yang baik.” [53]

Protestan awali percaya bahwa kedatangan kedua Kristus sudah sangat dekat, jadi mengapa perlu mengembangkan misi evangelisasi? Lebih lanjut mereka percaya bahwa Allah akan mengurus orang-orang Non-Kristen yang bertobat pada masanya nanti. Dasar dari ide itu adalah kepercayaan bahwa dalam kenyataannya Allah tidak membutuhkan bantuan apapun untuk mempertobatkan orang. [54]

Kalvin dan Luther percaya bahwa “misi” utama yang perlu adalah mereformasi Katolik. Kalvin juga berargumentasi bahwa adalah tugas Negara atau propinsi Kristen untuk mewartakan kabar gembira kepada non-Kristen, bukan tugas orang percaya individual atau gereja-gereja mereka. Kepercayaan ini membenturkan kebanyakan protestan masa kini pada kekeliruan yang menyedihkan, tetapi mereka konsisten terhadap prinsip-prinsip para pendiri protestan. McGrath menjelaskan bahwa pemutarbalikan penafsiran ini bukan hal yang mengejutkan jika kita mengerti hakekat protestan:
Peralihan penting ini sebagian dijelaskan oleh suatu fitur klasik dari perkembangan protestantisme: interpretasi yang berubah-ubah atas teks-teks inti Kitab Suci. Interpretasi definitif dari teks-teks itu diberikan dan diterima oleh satu generasi, hanya untuk dijungkirbalikkan oleh generasi lainnya; jadi suatu pemahaman akan identitas dan misi dari protestantisme muncul sebagai sesuatu yang terbukti benar dengan sendirinya.[55]

Dengan menafsirkan teks Kitab Suci, terpisah dari magisterium Gereja dan Tradisi Suci, para reformator membangun suatu tradisi baru bagi diri mereka sendiri yang pengaruhnya sangat kuat atas semua protestantisme selama ratusan tahun. Tradisi tidak-perlu-misionaris ini mewarnai kaca mata yang melaluinya protestan lain membaca Kitab Suci. Dan baru setelah beberapa abad tradisi ini diuji secara mendalam dan pada akhirnya dihapus.

KARENA KATOLIK BENAR,
Gereja selalu memahami bahwa Amanat Agung berlaku bagi orang Kristen di setiap jaman.

Sementara para reformator berdekam di rumah mereka dengan penafsiran baru atas ayat-ayat itu, orang-orang Katolik menerobos keluar dari Roma. Satu dari misionaris besar sepanjang masa, St. Fransiskus Xaverius, meninggalkan pantai Eropa menuju Asia untuk mewartakan Injil kepada orang-orang yang belum pernah mendengarnya yaitu di Jepang, Borneo [tambahan: barangkali ini termasuk Sulawesi dan kepulauan Maluku] dan India. Misi bagi orang Katolik untuk mewartakan Injil bukan hanya tugas para misionaris agung. Itu adalah panggilan bagi kita semua dan telah ada sejak awal Gereja. Di abad ke-20, Paus Paulus VI menegaskan kembali bahwa “tugas evangelisasi kepada semua orang merupakan misi esensial dari Gereja.” [56] Beliau juga menjelaskan, “karena itu, pada semua orang Kristen terletak tanggung jawaw yang mencolok untuk bekerja memperkenalkan pesan keselamatan ilahi dan supaya diterima oleh semua manusia di seluruh dunia.”[57] Sejarah Gereja Katolik, bahkan sebelum ada reformasi, menunjukkan komitmen yang konsisten untuk mewartakan injil Kristus sampai akhir jaman.

Tentu saja, kita beruntung karena melalui peninjauan kembali kita tahu bahwa akhir jaman tidak terjadi sekitar tahun 1500an. Dan ide negara harus bertanggungjawab untuk evangelisasi nampak tidak masuk akal bagi kita. Tetapi pada masa reformasi, ketika negara dan gereja saling terjalin secara mendalam, ide ini yang paling kredibel.  Bagaimanapun, Gereja Katolik— yang melampaui negara-negara, filosofi-filosofi politis dan waktu—selalu mengetahui bahwa kewajiban untuk evangelisasi adalah milik Gereja dan setiap anggotanya.

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar, para pendiri protentantisme telah membuat blunder berbahaya dalam penafsiran Amanat Agung, dengan membangun preseden selama berabad-abad bahwa protestan tidak bermisi. Dan jika mereka juga benar, misionaris protestan jaman ini sedang membuang-buang waktu untuk suatu aktivitas tanpa arti dan tidak biblis.

Note:
53   McGrath, Christianity’s Dangerous Idea, 177.
54   Ibid. p. 176. Untuk mendukung klaim-klaim ini, McGrath mengacu pada penelitian Gustav Warneck di akhir tahun 1800an, yang tidak pernah dibantah.
55   Ibid., p. 177.
56   Dikutip dari Evangelii Nuntiandi, 14, dari “ The Declaration of the Synod Fathers,” 4: L’Osservatore Romano (27 October 1974), p. 6.
57   Apostolicam Actuositatem, 3.

15. BERAKHIRNYA PEWAHYUAN PUBLIK


JIKA PROTESTAN BENAR,
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa pewahyuan publik berakhir dengan kematian rasul terakhir.

Hampir semua orang Kristen setuju bahwa pewahyuan publik berakhir dengan kematian rasul terakhir. “Depositum fidei” yang diberikan oleh Allah kepada manusia untuk keselamatan kita, yang dipertentangkan dengan wahyu privat yang diberikan Allah kepada individu-individu untuk suatu maksud khusus. Karena hal ini, kita tahu bahwa semua kebenaran yang perlu untuk keselamatan telah diberikan kepada kita, meskipun kita bisa memperluas atau memperdalam pemahaman kita atas kebenaran itu seiring waktu.

Protestan percaya bahwa hal ini bahkan walaupun tidak ada satu perikop pun dalam Kitab Suci menyatakan kapan (atau apakah) pewahyuan publik berakhir atau akan berakhir. Ini menempatkan mereka pada posisi canggung untuk mengafirmasi sola scriptura sementara juga mengakui kepercayaan akan kebenaran yang mengikat ini tidak ditemukan di mana pun dalam teks Kitab Suci.

Satu Pewahyuan Ekstra Dibutuhkan 

Pemahaman popular protestan tentang berakhirnya pewahyuan publik digambarkan dalam Westminster Confession of Faith (Pengakuan Iman Westminster):

Seluruh maksud Allah berkaitan dengan semua hal yang perlu bagi kemuliaan-Nya, penebusan umat manusia, iman dan kehidupan, telah terpapar dalam Kitab Suci atau oleh konsekuensi yang baik dan perlu dideduksi dari Kitab Suci: yang padanya tidak ada apapun lagi dan dalam waktu kapanpun ditambahkan, apakah itu oleh pewahyuan baru oleh Roh Kudus, atau oleh tradisi manusia.[58]

Teolog-teolog Westminster meminjam dari pemahaman yang telah lama dipegang oleh gereja bahwa tidak ada kitab lagi yang diilhami oleh Allah. Tetapi tidak ada ayat-ayat Kitab Suci yang secara eksplisit mendukung pernyataan ini.

Bukan berarti protestan tidak mencoba menemukannya. Karena kitab Wahyu umumnya ditempatkan di akhir Kitab Suci, beberapa dari mereka menunjuk pada Why 22:18[59] sebagai bukti bahwa tidak ada lagi kitab yang dapat ditambahkan setelah itu. Tetapi ayat paling kuat yang dapat ditafsirkan untuk mendukung kepercayaan bahwa pewahyuan publik berakhir dengan kematian rasul terakhir adalah Yudas 3: “aku merasa terdorong untuk menulis kepada kamu untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.” Protestan mengasumsikan bahwa iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus adalah sama dengan kitab-kitab dalam Kitab Suci. Jadi jika iman itu telah “disampaikan sekali dan semua,” tidak ada kitab lagi yang akan diilhami.

Sola scriptura karena itu mensyaratkan pewahyuan publik berakhir. Jika tidak, kitab-kitab bisa ditambahkan pada Kitab Suci, dan kitab-kitab itu bisa berisi pernyataan yang tidak dapat salah yang akan baik menambah kebenaran baru pada pewahyuan yang telah ada maupun, dan lebih buruknya, seketika itu juga menyangkal interpretasi protestan atas ayat-ayat lain. Secara intuitif protestan memahami prinsip ini, yang menjelaskan tidak ada satu alasan kuat pun mengapa mereka sedemikian ngotot menentang Mormonisme, yang mengklaim sebagai agama Kristen tetapi telah menambahkan kitab-kitab pada Kitab Suci.

KARENA KATOLIK BENAR,
Tradisi Suci juga berisi pewahyuan Allah kepada manusia, dan Tradisi itu mengatakan kepada kita kapan pewahyuan itu berakhir.

Perikop dari Kitab Wahyu yang memperingatkan agar orang tidak menambah atau membuang kata-kata dari kitab itu secara jelas mengacu hanya pada kitab itu (karena pada saat penulisannya, tidak ada satu “kitab” yang berisi seluruh Kitab Suci). Sebenarnya, perikop-perikop yang sama ada dalam Ulangan 4 dan 12, namun tentu saja, banyak kitab ditambahkan pada Kitab Suci setelah kitab Ulangan.

Yudas 3 adalah kemungkinan yang paling menarik, dan dalam teologi Katolik, adalah masuk akal untuk menafsirkan ayat itu sabagai dukungan (tetapi bukan bukti) atas kepercayaan bahwa pewahyuan publik ditutup. Satu problem untuk usaha protestan menggunakannya sebagai satu-satunya teks pembuktian adalah mungkin masalah waktu penulisan surat Yudas tersebut. Jika Yudas bukan kitab paling akhir dari kumpulan Kitab Suci yang ditulis, tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa pengarang yang diilhami itu memaksudkan kata-katanya bahwa tidak ada kitab lain lagi yang akan ada setelah dia. Para ahli memandang kemungkinan besar 2 Petrus berasal dari Yudas, yang menunjukkan penulisan yang lebih awal daripada surat itu, mungkin dalam tahun 50 atau 60-an. Problem lain adalah bahwa status Yudas sebagai teks Kitab Suci tidak didukung secara universal – ingat kembali bahwa Luther sendiri dalam prolognya menolak 4 kitab Perjanjian Baru, termasuk surat Yudas. Karena Gereja menunggu berabad-abad untuk menerima surat Yudas sebagai teks Kitab Suci, tidak mungkin satu dari pernyataannya akan digunakan untuk membuktikan penutupan pewahyuan publik.

(Sebagai catatan pinggir, Yudas 3 dan kepercayaan bahwa pewahyuan publik berakhir dengan kematian rasul terakhir juga tidak menolong kita berurusan dengan satu kitab seperti 1 Klemen, yang ditulis oleh St. Klemen yang mungkin sekali ditulis sebelum kematian para rasul. Banyak orang dalam Gereja awali menerima 1 Klemen sebagai kitab yang diilhami, dan surat itu dibacakan di gereja Korintus dan gereja-gereja lain selama berabad-abad. Pengarang adalah rekan dekat dari para rasul dan karena itu, seperti kitab-kitab lain yang kita terima sebagai kitab yang diilhami, dapat saja ditulis oleh dirinya sendiri.)

Jika kepercayaan tentang berakhirnya pewahyuan publik ini tidak datang dari teks Kitab Suci, lalu dari mana datangnya? Jawabannya adalah Tradisi Suci: kebenaran kristiani yang diwahyukan yang tidak tertulis sebagai bagian dari teks Kitab Suci tetapi diwariskan secara lisan dan dipertahankan oleh Gereja. Seperti dinyatakan dalam Konstitusi Dogmatik tentang Wahyu Ilahi KV II:

Maka Yesus Kristus…dengan segenap kehadiran dan penampilan-Nya, dengan sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizatnya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemuliaan dari maut, akhirnya dengan mengutus Roh Kebenaran, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut, dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal. Adapun tata keselamatan kristiani, sebagai perjanjian baru dan tetap, tidak pernah akan lampau; dan sama sekali tidak boleh dinantikan lagi wahyu umum yang baru, sebelum Tuhan kita Yesus Kristus menampakkan Diri dalam kemuliaan-Nya (lih. 1Tim 6:14 dan Tit 2:13). [60]

Protestan seringkali menyerang kebenaran Katolik yang terutama berasal dari Tradisi Suci (seperti Maria Dikandung Tanpa Dosa), sering menyindir ide Tradisi sebagai suatu permainan “Telefon”,  di mana pesan asli telah rusak ketika pesan itu melewati sepanjang barisan rantai manusia sampai pada orang terakhir yang mendengarnya, pesan itu tidak mirip lagi dengan aslinya. Tetapi mereka tidak punya kesulitan menerima penilaian Tradisi tentang penutupan pewahyuan publik, karena mereka kebetulan mempercayai yang satu itu (untuk tidak menyebutkan bahwa penutupan kanon biblis adalah juga pra-kondisi yang perlu untuk soal scriptura).

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar, tidak ada alasan untuk mengatakan dengan pasti bahwa pewahyuan telah berakhir (karena tidak ada di teks Kitab Suci manapun disebutkan soal itu). Dan karena itu akan tetap ada kemungkinan pewahyuan publik masa depan—seperti kitab Mormon—yang menyebabkan kebingungan dan kekacauan di antara umat Allah.

Note:
58   Westminster Confession of Faith, I.VI.
59   “Aku memperingatkan setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat ini: ‘jika seseorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis dalam kitab ini’”
60   Dei Verbum, 4.


Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?

16. PERAN SEJARAH DAN TRADISI


JIKA PROTESTAN BENAR,
Orang-orang Kristen bahkan tidak perlu memahami sejarah atau tradisi mereka sendiri.

Sesuai dengan sola scriptura dan prinsip penilaian pribadi, protestan percaya mereka dapat menemukan sendiri kebenaran Kristiani yang menyelamatkan, hanya dengan menggunakan Kitab Suci dan Roh Kudus. Pemahaman ini secara khusus secara umum dianut oleh aliran Evangelis—yang mungkin berasal dari pengaruh Reformator Radikal, yang tidak dipengaruhi oleh Luther, Zwingli dan Kalvin dan sebaliknya mengambil ide-ide reformator yang sedang berkuasa sebagai tujuan logis mereka. Akibatnya, banyak kaum Evangelis saat ini mengetahui sedikit saja mengenai tradisi dan sejarah, termasuk sejarah kepercayaan mereka sendiri.

Ketidakpercayaan terhadap Sejarah dan Tradisi

Satu dari banyak peristiwa yang mengantar pada tekad anti-tradisi para Evangelis adalah kebangkitan kembali Great Awakening Pertama dan Kedua di Amerika Serikat 200 tahun yang lalu. Mark Noll, seorang sejarawan Protestan Evangelis, menggambarkan fenomena ini:

Problem dengan kebangkitan kembali persis terletak dalam sikap anti-tradisionalismenya. kebangkitan-kebangkitan itu memanggil orang-orang pada Kristus sebagai suatu jalan untuk melarikan diri dari tradisi, termasuk pembelajaran tradisional. Mereka memerintahkan tiap-tiap individu untuk mengambil langkah iman bagi diri mereka sendiri. Dengan melakukan itu, mereka sering mengarah pada pemahaman bahwa orang-orang percaya individual tidak mendapat apa-apa dari orang lain.

Semua nilai dalam hidup orang Kristen harus datang dari pilihan individu itu sendiri—bukan hanya iman personal tetapi setiap kepingan kebijaksanaan, pemahaman dan keyakinan iman. Penolakan atas tradisi ini tidak ada yang lebih baik diilustrasikan daripada dalam suatu komen mengesankan oleh dua Revivalis Kentucky di awal abad 19. Ketika kutipan-kutipan [John] Calvin digunakan untuk mendebat Robert Marshall dan J. Thompson, mereka menjawab, “Kami secara pribadi tidak mengenal tulisan-tulisan John Kalvin, kami tidak tahu juga bagaimana kami bisa hampir sepakat dengan pandangannya mengenai kebenaran ilahi; kami juga tidak peduli akan hal itu.”[61]

Bahkan meskipun kaum Evangelis menerima banyak kepercayaan penting mereka dari pengaruh John Kalvin, karena semangat anti-tradisionalisme itu, banyak yang menyangkal setiap koneksi dengan Kalvin dan bahkan tidak memiliki pemahaman dasar mengenai siapa Kalvin itu. Terus sampai hari ini, situasinya hampir sama persis. Seorang sahabatku dari aliran Evangelis mengatakan hal yang hampir sama: “Aku tidak peduli apa yang Luther dan protestan lain ajarkan,” tentu saja juga tidak peduli pada apa yang dikatakan oleh orang Kristiani abad ke-2—bahkan jika dia adalah murid dari Yohanes Penginjil. Mengapa dia dan Evangelis lainnya tidak peduli akan apapun yang Luther atau orang lain katakan? Karena Roh Kudus berdiam dalam dirinya, dan dia memiliki Kitab Suci, sehingga dia percaya dari itu semua dia secara individual dapat sampai pada kebenaran ilahi. 

Bukan hanya “Protestan-protestan di bangku gereja” yang memiliki pandangan yang rendah mengenai sejarah dan tradisi. Ingat William Webster seorang apologet protestan ternama, yang bukunya The Church of Rome at the Bar of History mencoba mendiskreditkan Gereja Katolik. Di bab mengenai St. Thomas Aquinas, Webster “meringkas” Summa Theologiae hanya dalam 6 kalimat, Aquinas mengajarkan bahwa iman kepada Yesus Kristus tidak vital bagi keselamatan.[62] Bagi seorang evangelis seperti Webster, bahkan seorang beriman yang paling brilian dan setia yang hidup di abad-abad sebelumnya tak berguna untuk “perjalanan kita bersama Allah.”

KARENA KATOLIK BENAR,
Adalah penting untuk belajar dari kebijaksanaan mereka yang telah mendahului kita dalam iman.

Seorang Anglikan sahabatku ingin membeli sebuah buku karangan St. Agustinus, seorang Bapa Gereja yang dikenal sebagai “Doctor of Grace.” Dia kebetulan dekat dengan satu took buku Kristen popular, jadi ia berhenti di sana dan melihat-lihat. Ketika tidak menemukan buku itu, ia mendekati seorang yang bekerja di toko itu dan bertanya di mana dia dapat menemukannya: “Permisi, di manakah buku-buku karangan St. Agustinus?” Pegawai itu menatapnya dengan tatapan kosong dan menjawab, “Agustinus siapa?” 

Kisah singkat ini menunjukkan suatu problem endemis atas protestan evangelis: Mereka sebagian besar melupakan pria dan wanita yang sebelum mereka telah beriman Kristiani, tokoh-tokoh besar yang sekarang pada bahu dan doa-doa [mereka], kaum evanglelis bisa berdiri. Kristianitas tidak berhenti di tahun 100 ketika Kitab Suci telah selesai ditulis dan diresume lagi 1.500 tahun kemudian ketika orang yang telah dibaptis pertama mendirikan suatu komunitas eklesial. Tetapi ketika pergi ke toko Kristen, orang kesulitan menemukan sebuah buku yang ditulis antara  Masa Kitab Suci dan abad 20. Satu dosis kerendahan hati adalah obatnya. Sama seperti kita tidak mencoba untuk mendapatkan kembali semua rumusan matematis dan ilmiah baru di setiap generasi, demikian juga kita berdiri di sandaran tokoh-tokoh teologis kudus yang telah beriman mendahului kita. Alasan terbaiknya adalah bahwa pria dan wanita yang paling dekat dengan era para rasul dapat memberi kita wawasan yang tak ternilai harganya berkaitan dengan ajaran-ajaran mereka [para rasul]. Dan, sesungguhnya, inilah yang kita lihat ketika kita membaca karya-karya mereka.[63]

Tepatnya, inilah pola yang diikuti dalam Perjanjian yang Lama, yang di dalamnya orang Israel memuji dan belajar dari pria dan wanita, Umat Allah yang agung, yang mendahului mereka—sedemikian banyak sehingga pahlawan-pahlawan [iman] ini dimuliakan dalam Perjanjian Baru dalam Ibr 11. Pengarang yang diilhami Roh Kudus ini memerintahkan kita untuk belajar dari contoh Habel, Enokh, Nuh, Abraham, Yusuf, Musa, Rahab, Daud dan wanita kudus dalam 2 Makabe 7. Maka, bukankah betapa lebih lagi kita harus belajar dari orang-orang kudus Kristen yang agung yang hidup 2000 tahun yang lalu? Daripada mesti menemukan roda baru (dan secara tak terelakan juga mendesain satu yang lebih buruk), kita mestinya bersandar pada kebijaksanaan pria dan wanita agung yang telah Allah angkat dalam Gereja sejak Kristus mendirikannya.

Bahkan kebijaksanaan sekular menginformasikan pada kita bahwa dengan melupakan sejarah, kita dikutuk untuk mengulanginya. Banyak dari kesesatan masa kini bukanlah sesuatu yang baru. Kesesatan itu tanpa disadari didaur ulang dari abad-abad lampau. Seringkali itu berasal dari orang Kristen yang dengan  maksud baik yang menafsirkan Kitab Suci terpisah dari Tradisi dan kesaksian historis Gereja. Katolik percaya bahwa Tuhan kita menuntun gereja-Nya ke dalam semua kebenaran dalam setiap abad. Ini memberi kita keyakinan bahwa kita dapat mempercayai para pendahulu kita dalam iman.

DILEMA PROTESTAN
Jika Protestan benar,  maka orang Kristiani di setiap generasi memutuskan semua kebenaran bagi diri mereka sendiri, tanpa apapun kecuali Kitab Suci sebagai panduan. Namun, mungkinlah bahwa orang Kristiani yang telah ada sebelum kita melakukan kesalahan, bahkan tentang doktrin-doktrin penting, dan bahwa Allah sedang mengangkat suara-suara baru hari ini untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan mereka. Tetapi bagaimana kita bisa tahu mana yang mengajarkan kebenaran dan mana yang sedang membangkitkan kembali kesesatan-kesesatan lama? 

Note:
61 Mark Noll, The Scandal of the Evangelical Mind (Grand Rapids: Eerdmans, 1995), 63.
62 William Webster, The Church of Rome at the Bar of History (Carlisle, Pennsylvania: Banner of Truth, 1997), 134.
63 Satu pengantar yang sangat menarik untuk Bapa-bapa yang lebih awal ini dapat ditemukan dalam buku mengagumkan dari Rod Bennet, Four Witnesses: The Early Church in Her Own Words, Ignatius Press, 2002.

17. MELAKUKAN APA YANG KITAB SUCI KATAKAN


JIKA PROTESTAN BENAR,
Orang Kristen harus mengikuti bahkan perintah-perintah yang nampaknya absurd dalam teks Kitab Suci.

Protestan-protestan menunjuk Kitab Suci sebagai satu-satunya aturan iman mereka. Tetapi Kitab Suci berisi begitu banyak perintah, dan beberapa dari perintah itu nampak sangat aneh. Tetapi perintah-perintah itu diungkapkan dengan sangat sederhana, sehingga mereka dengan pasti harus mengikuti perintah itu. Namun, protestan-protestan tidak mengikuti semuanya. Sebaliknya mereka menggunakan beberapa saringan di luar Kitab Suci untuk membantu mereka mengambil dan memilih perintah mana yang diterima dan perintah mana yang ditolak. 

Sabda Allah Berkata

Mari kita lihat pada beberapa perintah biblis dan berpikir tentang apakah protestan-protestan mengikutinya secara konsisten. Dalam Lukas 14:12–13, Yesus berkata: 

"Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta."

Aku tidak ingat kapan terakhir kali teman-teman protestanku melakukan hal ini.  Kenyataannya, aku tidak berpikir satupun dari mereka pernah melakukannya. Namun Yesus tidak memberi satu pengecualian pun. Yesus sudah sangat jelas mengatakan bahwa orang harus mengundang orang-orang yang terbuang untuk pesta [makan] dan bukan sahabat, kenalan, keluarga ataupun orang-orang kaya. 

St. Paulus cukup popular di antara Protestan-protestan, sekurangnya dengan beberapa hal yang ia [St. Paulus] katakan. Namun, kata-katanya, untuk wanita-wanita ini, kurang popular [bagi protestan], yaitu 1 Kor. 11:5–6: 

“Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.”

Meskipun ada beberapa aliran Protestan yang para wanitanya mengunakan tudung kepala, itu hanyalah sangat sedikit. Kapan terakhir kali kamu masuk ke gereja Protestan dan melihat lautan tudung menutupi kepala para wanita [di sana]? Cukup mengejutkan bahwa perintah oleh St, Paulus ini, yang diinspirasikan oleh Allah, hampir secara universal diabaikan oleh protestan-protestan. 

Ketika berbicara tentang perkawinan dalam Lukas 16:18, Tuhan kita berkata, “setiap orang yang menceraikan isterinya dan kawin dengan wanita lain, telah berbuat zinah, dan dia yang mengawini wanita yang bercerai dari suaminya, telah berbuat zinah. Namun, banyak gereja protestan mengijinkan perceraian dan perkawinan kembali tanpa suatu pengujian atas perkawinan yang asli [sebelumnya]. Kristus berbicara sangat jelas di sini (dan juga dalam Mat 19:6) bahwa tidak ada perceraian dan perkawinan kembali, yang ada hanyalah perzinahan ketika seseorang bercerai dan “kawin” dengan wanita lain. Ini adalah satu ajaran keras lainnya yang dengan diam diabaikan oleh sebagian besar denominasi protestan. 

Dalam satu perikop yang paling terkenal dalam Kitab Suci, Yesus memberi perintah bagaimana kita harus menanggapi ketika seseorang bersalah kepada kita. Dia berkata dalam Matius 5:38-39: 

Kamu telah mendengar firman, “mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 

Sekarang, banyak dari protestan akan setuju bahwa ini adalah hal yang baik untuk dilakukan, sekurangnya dalam teori. Tetapi bagaimana banyak orang melakukannya, secara literal atau bahkan kiasan? Sedikit saja yang melakukannya sudah sangat baik. Namun, lagi, Yesus tidak membuat pengecualian dan tidak menambahkan kata-kata persyaratan atau pembatasan.

KARENA KATOLIK BENAR,
Kita memiliki penafsir atas Kitab Suci yang ditahbiskan secara ilahi untuk membantu kita memahami perikop-perikop yang sulit.

Nampak jelas bahwa setiap ayat Kitab Suci tidak bisa ditafsirkan secara hurufiah: kalau tidak kita semua sedang merusak perintah tegas Kristus setiap kali mengadakan sebuah pesta dengan sahabat-sahabat kita! Sebuah buku atau perikop tertentu bisa berisi puisi, perumpamaan, gambaran apokaliptis, atau hiperbola, masing-masing menuntut prinsip-prinsip penafsirannya sendiri-sendiri. Tetapi Kitab Suci sendiri tidak mengatakan kepada kita kapan kita menggunakan prinsip mana untuk contoh tertentu; tidak semua para ahli dan teolog juga sepakat tentang itu. Seorang protestan, yang diikat oleh sola scriptura, tidak dapat mengacu pada suatu magisterium atau Tradisi Suci, atau bahkan prinsip-prinsip yang masuk akal dalam ilmu Kitab Suci, karena semua hal itu berasal dari luar Kitab Suci. Ketika menemui kesulitan dan bahkan suatu data biblis yang nampaknya absurd, dia (protestan itu) hanya bisa membuat penilaian dari dirinya sendiri tentang apakah akan menerima secara hurufiah atau akan menafsirkan secara lain.

Ini tidak menjadi suatu persoalan bagi Katolik, karena Gereja Katolik dilindungi oleh Roh Kudus  dari segala kekeliruan. Orang Katolik memiliki magisterium Gereja yang akan membimbingnya.

Jadi, sebagai contoh, dalam perikop ketika Yesus menasihatkan para pengikut-Nya untuk tidak mengundang sahabat-sahabat untuk pesta makan, atau ketika Ia memerintahkan mereka untuk memberikan pipi yang lain, Gereja memberikan interpretasi yang pasti [64] bahwa dalam contoh ini Kristus sedang mengajarkan prinsip-prinsip penting (memberi makan kepada yang miskin dan mengasihi musuh adalah hal yang berfaedah), bukan sedang memberikan perintah-perintah moral yang absolut dan hurufiah.

Di sisi lain, Gereja mengajarkan secara otoritatif bahwa kata-kata Kristus yang kedengaran sulit tentang perceraian dan perkawinan kembali sungguh-sungguh dihitung sebagai perintah moral yang tegas. Demikian juga, bahwa Kristus memaksudkan untuk ditafsirkan secara hurufiah ketika Ia mengatakan kepada para pengikut-Nya untuk memakan daging-Nya, dan kemudian pada Perjamuan Terakhir berkata, “Inilah Tubuh-Ku.” Perintah St. Paulus tentang tutup kepala wanita adalah juga suatu instuksi. Kebanyakan protestan akan mengatakan bahwa pernyataan ini dikondisikan secara kultural; bahwa itu terikat pada waktu dan tempat tetapi pada satu titik sudah tidak berlaku lagi. Namun tidak ada dalam ayat-ayat itu sendiri mengatakan demikian [tambahan: terikat kultur]atau bahkanmenyatakan secara tak langsung mengenainya. Prinsip lain harus dibawa dari luar teks Kitab Suci (dan karena itu bagi protestan, dari hakekatnya dapat salah) untuk menginformasikan kepada pembaca apakah ayat itu harus digunakan atau tidak.

Ini adalah pernyebab utama dari perpecahan protestan: ketidaksepakatan atas apa yang ayat Kitab Suci maksudkan, bagaimana ayat-ayat itu harus diaplikasikan, apakah esensial atau tidak, dan seterusnya. Satu protestan siap menebaskan pedangnya atas wanita-wanita yang menudungi kepala mereka, sementara yang lain berpikir sudah sangat jelas bahwa perikop itu tidak lagi diaplikasikan bagi orang Kristen. Satu kelompok melihat/mengingatkan kurangnya instrumen musik yang disebutkan dalam Perjanjian Baru dan menafsirkan bahwa pelayanan peribadatan hari Minggu haruslah menggunakan a cappella, sementara yang lain berpikir ogan atau gitar tidak masalah.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka kita harus menaati Kitab Suci saja, bahkan ketika perintah-perintahnya nampak tidak bisa dipraktekkan, atau bahkan absurd, karena kita menolak setiap penafsir otoritatif di luar teks Kitab Suci itu sendiri. Namun dalam prakteknya protestan-protestan tidak melakukan ini. Sebaliknya mereka mengisi kekosongan interpretatif dengan secara diam menerima beragam prinsip dan ide yang membentuk suatu lensa yang dengannya mereka membaca sabda Allah.

Note: 64 Lih. KGK par 2262–2267.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


18. PERSEKUTUAN PARA KUDUS


JIKA PROTESTAN BENAR,
Memohon doa-doa dari para kudus di surga adalah suatu jenis penyembahan berhala

Protestan sependapat bahwa kita dapat dan harus saling mendoakan,  tetapi tidak sepakat bahwa kita harus memohon permohonan yang sama kepada orang Kristen yang telah berpulang mendahului kita. (dalam terminologi mereka “para kudus” mengacu pada orang Kristen yang masih hidup di dunia saat ini, bukan orang Kristen yang telah mati dalam Kristus dan yang jiwa-jiwa mereka sekarang bersama Allah.) mereka mendasarkan kepercayaan ini pada larangan dalam Kitab Suci atas necromancy (pemanggilan roh-roh biasanya melalui sihir) dan pada ketiadaan testimoni langsung (tapi itu dalam kitab suci mereka) tentang persekutuan antara orang Kristen yang di bumi dan yang di surga.

Persekutuan yang Terpisah

Luther dan Protestan-protestan awal menolak bukan hanya doa-doa bagi orang-orang yang telah meninggal (karena mereka menolak kepercayaan akan purgatorium), tetapi juga ide bahwa para kudus di surga dapat berdoa bagi kita. Demikian juga protestan-protestan masa kini percaya bahwa mereka yang telah mati, apakah mereka yang ada di surga atau di neraka, sepenuhnya terpisah dari kita yang ada di dunia ini. Ini nampaknya masuk akal. Orang yang kamu kasihi mati, demikian juga dengan semua relasimu dengan dirinya, sekurangnya sampai Kristus kembali dalam kemuliaan dan kita dibangkitkan.  Kita secara tegas dilarang untuk mengingat-ingat/memanggil roh-roh yang telah mati, dan dan itu nampaknya tidak berbeda dengan meminta doa-doa dari orang yang telah meninggal – bahkan dari mereka yang telah mati dalam Kristus.

Devosi Katolik kepada para kudus melukai/mengganggu protestan juga: mereka percaya hanya Allah harus dimuliakan dan penghormatan kepada para kudus telah mencuri kemuliaan [milik] Allah. Mereka percaya bahwa sekurangnya beberapa Katolik beralih dari penghormatan kepada penyembahan dan karena itu adalah suatu dosa. Adalah dosa menyembah seorang pribadi selain Allah atau (lebih buruk lagi), menyembah patung yang mempresentasikan seorang pribadi. Akhirnya, relikui duniawi yang terdengar menakutkan – tulang-tulang dan pakaian para kudus, sebagai contoh – menimbulkan reaksi sangat memuakkan dari mereka. Bagi protestan, bahaya-bahaya penghormatan orang Kristen seperti itu yang bisa sampai pada ekstrem tahayul adalah alasan yang cukup untuk menjauhkan diri dari praktek semacam itu, seperti yang Martin Luther gambarkan dalam satu dari kotbah hariannya tentang penghormatan kepada Maria:

Pertama-tama, Kristus berkurang nilainya oleh mereka yang lebih menempatkan hati mereka pada Maria daripada Kristus sendiri. Dengan melakukan itu, Kristus didorong ke latar belakang dan sepenuhnya terlupakan…. [Para rahib] telah menggunakan Maria sebagai alasan (pembenaran) untuk menciptakan semua jenis kebohongan yang dengannya Maria dapat dipergunakan untuk membangun omong kosong mereka. Mereka telah menggunakan teks Kitab Suci untuk menjambak rambut Maria dan memaksanya pergi ke tempat yang tidak ia kehendaki. [65]

Luther tidak menentang penghormatan bagi Maria, tetapi dia merasa bahwa rahib-rahib tertentu telah melangkah terlalu jauh sehingga membawa umat pada kesesatan. Protestan masa kini menggaungkan ketakutan Luther tetapi melangkah lebih jauh dengan menolak penghormatan bagi semua orang kudus.

KARENA KATOLIK BENAR,
Allah adalah Bapa yang penuh kasih yang memberi kemungkinan bagi anak-anak-Nya saling bertukar anugerah

Gereja Katolik mengajarkan suatu doktrin yang disebut persekutuan para kudus, yang Catholic Encyclopedia sebut sebagai 

Solidaritas spiritual yang mengikat menjadi satu orang beriman di bumi, jiwa-jiwa di purgatorium, dan para kudus di surga dalam kesatuan organis dari tubuh mistik yang sama dengan Yesus sebagai kepalanya…. Mereka yang ambil bagian dalam solidaritas itu disebut para kudus karena alasan tujuan mereka [surga] dan karena mereka ambil bagian dalam buah-buah Penebusan. [66]

Kepercayaan kuno ini memiliki akarnya dalam referensi Kitab Suci bahwa Gereja adalah “anggota-anggota keluarga Allah” (lih Ef 2:19), yang anggotanya adalah orang-orang yang beriman Kristiani. Karena kita tahu bahwa mereka yang telah mati dalam Kristus tidak dapat mati secara kekal tetapi malahan hidup dalam Kristus, yang sedang menunggu kebangkitan badan. Kaum beriman yang telah mati dalam persahabatan dengan Allah tetap bersatu dengan Gereja, yang adalah tubuh Kristus (bdk. Ef 4:4-13). Dan juga Gereja sebagai sosietas supranatural meluas melampaui mereka yang saat ini hidup di Bumi. Didasarkan pada kebenaran ini, karena kita orang Kristiani berdoa satu sama lain di Bumi, kita juga menerima rahmat dari doa-doa para kudus di surga dan dapat berdoa bagi para kudus yang sedang dimurnikan dalam purgatorium. Meskipun kita tidak bisa melihat mereka, kita tahu bahwa mereka ada bersama Allah dan adalah anggota-anggota Gereja-Nya, seperti kita (di bumi). Untuk keberatan bahwa mereka yang telah mati dalam Kristus adalah mati dan karena itu tidak ada kemungkinan persekutuan dengan mereka, kisah tentang Transfigurasi merupakan bantahan yang solid. Tokoh agung Perjanjian Lama, Musa dan Elia, menampakkan diri di hadapan Yesus – dan Petrus, Yakobus dan Yohanes: “Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia” (Mat 17:1-8). Meskipun seorang protestan mungkin menunjukkan bahwa Elia telah diangkat ke surga sebelum kematiannya, Musa sungguh-sungguh mati (lih. Ul 34). Namun Musa jelas-jelas hidup, karena ia menampakkan diri dan berbicara dengan Yesus di hadapan para rasul.

Padukan kisah tentang dua “orang mati” yang sedang berbicara bersama Yesus dengan pewahyuan yang Yesus gunakan untuk membuktikan kesalahan kaum Saduki yang menolak kebangkitan orang mati: “Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” (Luk 20:37-38). Mereka yang telah meninggalkan dunia ini masih hidup bagi Allah, dan bahkan dapat berkomunikasi dengan mereka yang di Bumi, karena Allah menghendaki itu dan memungkinkannya. 

Persekutuan para kudus adalah suatu keluarga spiritual, dan kematian tidak dapat memisahkannya, karena kita disatukan pada Kristus yang telah mengalahkan kematian. Jadi, kita memohon kepada para saudara di Bumi ini berdoa bagi kita, karena tahu bahwa mereka ada dalam Kristus, dan kita melakukan hal yang sama bagi mereka yang telah beristirahat dalam Dia. Allah adalah Bapa yang penuh kasih yang, esperti bapa-bapa duniawi, bersuka ketika anak-anak-Nya dengan benar dipuji karena kebaikan yang mereka lakukan sebagai upaya untuk menjalankan perintah-perintah-Nya.

Berkaitan dengan penghormatan kepada para kudus dan relikui, pertama-tama haruslah jelas  bahwa adalah dosa bagi siapapun menyembah seseorang atau sesuatu selain daripada Allah. Gereja Katolik mengajarkan bahwa, dan jika beberapa orang Katolik tidak mengetahui hal itu, mereka harus diberitahu.  Jadi penyembahan terhadap seorang kudus adalah salah dan menyembah patung orang kudus adalah salah—surga melarang. [67] Apakah kita mencuri kemuliaan dari Allah ketika kita menghormati satu dari anak-anak-Nya? Sebaliknya, dengan mengakui bahwa perbuatan-perbuatan baik dan kehidupan suci para kudus adalah hasil dari rahmat Allah, dan dengan berusaha menyamai mereka, kita memuliakan Allah.[68]

Bagaimana dengan relikui-relikui? Aku mengakui bahwa sebagai seorang protestan, relikui-relikui itu menjijikkan bagiku. Tetapi belakangan aku menyadari bahwa perasaan-perasaan itu sebagian besar disebabkan oleh bias yang telah terbentuk dalam diriku dari kehidupan dalam suatu kultur eklesial protestan. Banyak protestan tidak menyadari bahwa dukungan untuk relikui-relikui bahkan terjadi dalam Perjanjian Lama, ketika Allah membangkitkan seorang yang mati melalui tulang-tulang nabi Elisa: Pada suatu kali orang sedang menguburkan mayat. Ketika mereka melihat gerombolan datang, dicampakkan merekalah mayat itu ke dalam kubur Elisa, lalu pergi. Segera setelah mayat itu menyentuh tulang-tulang Elisa, hiduplah ia kembali, dan bangun berdiri. [69]

Dalam Kisah Para Rasul, kita membaca bahwa “Melalui Paulus, Allah mengadakan mukjizat-mukjizat yang luar biasa, bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat” (Kis 19:11-12). Jadi apakah kita mendapati relikui menjijikan atau tidak, preseden-preseden yang jelas dari sabda Allah yang diilhami menunjukkan dukungan atas relikui-relikui itu.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka individualisme dari protestantisme modern-duniawi juga meluas pada mereka yang telah beristirahat dalam Kristus. Kita tidak memiliki hubungan dengan saudara-saudara yang telah menerima pahala dalam Kristus, karena Allah membuat kita terpisah satu dengan yang lain, meskipun Gereja disebut sebagai keluarga-Nya. Praktek kuno Gereja yang meminta para kudus mendoakan mereka di mana-mana telah menjadi kejahatan berat necromancy atau berhala.

Note:
65 Joel R. Baseley, penerjemah, Festival Sermons of Martin Luther (Mark V Publications, 2005), 157–158.
66 J. Sollier, “The Communion of Saints,” dalam The Catholic Encyclopedia. (New York: Robert Appleton, 1908). Diambil pada 28 November, 2009 from New Advent, http://www.newadvent.org/cathen/04171a.htm.
67 Bagaimanapun Protestan harus menyadari bahwa ketika Katolik berlutut di hadapan suatu lukisan atau patung seorang kudus, mereka tidak sedang menyembah orang kudus atau lukisan, tetapi hanya melakukan suatu sikap kesalehan untuk membantu merka dalam doa-doa, baik secara langsung kepada Allah atau juga sedang meminta orang kudus itu mendoakan mereka pada Allah. 
68 Lih. Mat 5:16.
69 2 Raja-raja 13:21.

19. BAPTISMAL REGENERATION (Kelahiran Kembali melalui Pembaptisan)


JIKA PROTESTAN BENAR,
Tak seorangpun yang tahu pasti maksud dan pengertian pembaptisan.

Sejak awal sekali, Gereja telah mengajarkan doktrin baptismal regeneration: bahwa melalui pembaptisan orang dibenarkan dan dipersatukan dengan Kristus. Roh Kudus berdiam di dalam mereka, dan kemudian mereka dikatakan berada dalam keadaan rahmat yang menguduskan (ada dalam persahabatan dengan Allah). Kesaksian dari tulisan-tulisan Kristen awali dengan suara bulat sepakat dengan pemahaman ini. Tetapi protestan-protestan masa kini sebagian besar berbeda pemahaman tentang sakramen ini, yang semuanya berasal dari ajaran-ajaran yang saling bertentangan dari para reformator sendiri.

Spektrum Protestan tentang Pembaptisan

Reformator Swiss, Ulrich Zwingli, adalah tokoh pertama  yang mengusulkan pemikiran bahwa pembaptisan hanyalah suatu simbol yang menandakan perjanjian Allah dengan kita. Pemikiran baru ini sejalan dengan pemikiran teologis lainya dari Zwingli (terutama interpretasi figuratifnya atas Ekaristi), dan itu adalah poin lain dari dirinya yang berbeda dengan Luther, yang mempertahankan baptismal regeneration.

Bagi kebanyakan protestan, khususnya Evangelis, pembaptisan adalah sesuatu yang mereka lakukan bagi Allah. Itulah pendirian yang mereka ambil dan mereka sampaikan kepada gereja dan masyarakat mereka. Mereka membuat keputusan untuk menyerahkan hidup mereka bagi Yesus. Mereka dibaptis untuk menunjukkan secara lahiriah kepada gereja apa yang telah Yesus lakukan dalam diri mereka secara batiniah. Mereka percaya bahwa Allah tidak memberikan rahmat apapun melalui pembaptisan. Mereka lebih percaya bahwa mereka telah menerima Roh Kudus dalam hati mereka ketika mereka memintanya kepada Yesus, dan mereka menempatkan iman mereka kepada Dia sebagai Tuhan dan penyelamat. Semua hal yang penting, satu hal yang protestan percayai perlu untuk keselamatan, telah lengkap/terpenuhi, jadi dengan dibaptis mereka hanya menunjukkan ketataan mereka kepada Yesus dan membuat pernyataan publik tentang iman mereka akan Dia agar disaksikan semua orang.

Luther dan Calvin, di lain pihak, mempertahankan pemahaman bahwa pembaptisan lebih daripada sekedar simbol, dengan menghubungkannya secara langsung pada pembenaran. Tidak pula mereka membuang kepercayaan kuno akan baptismal regeneration. Calvin mengajarkan bahwa pembaptisan adalah sarana normatif bagi keselatamatan, ketika menulis: “benarlah bahwa, dengan mengabaikan pembaptisan, kita disingkirkan dari keselamatan.” [70]. Tetapi Calvin terkait dengan orang-orang yang percaya bahwa pembaptisan adalah seperti suatu ritual magis. Sehingga ia mempertahankan bahwa seorang yang keras kepala, atau seseorang yang menerima pembaptisan dengan pemikiran tahayul, tidak akan dilahirkan kembali melalui pembaptisan. [71]

Luther percaya bahwa janji fundamental untuk keselamatan ditemukan dalam perintah Yesus kepada para rasul-Nya untuk membaptis, yang ditemukan dalam Matius 28. Dia mengajarkan, seperti Gereja Katolik ajarkan, suatu pemahaman pembaptisan yang sakramental: yaitu sebagai sesuatu yang Allah lakukan bagi kita. Seseorang menempatkan imannya akan Yesus Kristus, yang membaptisnya dan berjanji padanya melalui sakramen ini. Seperti Alister McGrath mengutip, “bagi Luther, pembaptisan adalah causa fidei”[72]—bukan melulu suatu tanda publik atas iman, seperti dipercayai Evangelis. Bagi Luther obyek iman yang menyelamatkan adalah apa yang Allah lakukan bagi kita melalui pembaptisan. Luther membela kepercayaan ini terhadap Anabaptis, yang mengklaim pembaptisan adalah melulu tindakan simbolis eksternal:

…. [S]emangat-semangat baru menegaskan bahwa iman saja yang menyelamatkan, dan bahwa perbuatan dan hal-hal eksternal tidak memberi manfaat apa-apa, kami menjawab: sesungguhnya memang benar bahwa tidak ada apapun dalam diri kita yang bermanfaat kecuali iman, seperti akan kita dengarkan lebih lanjut. Tetapi penuntun yang buta tidak sudi melihat hal ini, yaitu, bahwa iman harus memiliki sesuatu yang dipercayai, yaitu, yang padanya iman itu berpegang, dan yang di atasnya ia berdiri. Jadi iman berpegang pada air, dan percaya bahwa itu adalah pembaptisan yang di dalamnya ada suatu keselamatan dan kehidupan yang murni; bukan melalui air, tetapi melalui fakta bahwa pembaptisan dibubuhkan dalam Sabda dan institusi Allah, dan nama Allah melekat di dalamnya. [73]

Jadi, sekarang ini protestan memandang pembaptisan sebagai sesuatu hal yang sangat berbeda: dari sebuah kenangan opsional, melulu simbolis tetapi tindakan yang penting, atau suatu aturan yang berkaitan dengan iman, dan sampai pada suatu sakramen kelahiran kembali sebagai causa fidei yang harus ditanamkan.[74]

KARENA KATOLIK BENAR,
Allah melahirkan kita kembali melalui pembaptisan, suatu kebenaran yang diajarkan oleh para rasul dan kemudian diwariskan tanpa suatu kesalahan kepada para pengganti mereka.

Bukti-bukti berlimpah dari Bapa-bapa Gereja, Gereja awali sendiri, dan dari Kitab Suci bahwa pembaptisan memberi hidup baru. Sekitar tahun 150, Yustinus Martir menulis:

Banyak orang diyakinkan dan percaya bahwa apa yang kita [orang Kristen] ajarkan dan katakan adalah benar, dan berusaha menghidupinya…  [mereka] dibawa oleh kami ke tempat yang ada airnya, dan dilahirkan kembali dalam cara yang sama yang di dalamnya kami sendiri dilahirkan kembali. Karena, dalam nama Allah, Bapa dan Tuhan seluruh alam semesta dan Penebus kita Yesus Kristus dan Roh Kudus, mereka menerima pembasuhan melalui air. Karena Kristus juga berkata, “jika kamu tidak dilahirkan kembali, kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga.” [75]

Yustinus sedang merujuk pada perikop dari Injil Yohanes tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus:

Yesus menjawabnya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali,  ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “bagaimana mungkin seorang dilahirkan kembali jika ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam Rahim ibunya dn dilahirkan kembali?” Jawab Yesus, “aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Yoh 3:3–5). Yustinus menjelaskan bahwa dalam perikop ini Yesus sedang berbicata tentang pembaptisan. Kaum evangelis akan berkata bahwa Yustinus keliru. Dilahirkan “dari air” berarti kelahiran natural seseorang. Jadi, untuk diselamatkan, kamu harus dilahirkan secara natural dan kemudian dilahirkan kembali melalui Roh Kudus (melalui suatu pengalaman pertobatan). Namun terlepas dari ketidakmasukakalannya (mengapa Yesus menyebutkan kelahiran natural sebagai prasyarat untuk keselamatan?), interpretasi ini secara langsung bertentangan dengan semua Bapa Gereja yang menulis tentang pembaptisan.[76]

Pembaptisan juga secara eksplisit disebutkan dalam Kredo Nikea: “Aku mengakui satu pembaptisan akan pengampunan dosa.” Menarik, kredo ini diafirmasi bukan hanya oleh Katolik dan Ortodoks, tetapi juga oleh banyak komunitas protestan. Namun protestan tidak percaya bahwa Allah mengampuni dosa melalui pembaptisan! Jadi protestan berada dalam posisi tidak konsisten karena mengafirmasi kredo kuno ini tetapi sekaligus secara mental menyingkirkan kata-kata “satu pembaptisan akan pengampunan dosa.” Itu terjadi karena mereka menafsirkan kata-kata itu sebagai “satu pembaptisan akan pernyataan simbolis lahiriah yang seseorang lakukan karena imannya akan Yesus.

Teks Kitab Suci berisi banyak perikop yang mendukung kelahiran kembali melalui pembaptisan. Satu yang paling jelas adalah 1 Ptr 3:20–21:

[K]etika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang yang diselamatkan oleh air bah itu. Juga sekarang kamu diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan – maksudnya bukan untuk membasuh kenajisan jasmaniah, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus.

Sama seperti Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya melalui bahtera, Kristus memberi kita kehidupan baru melalui pembaptisan, yang membersihkan kita dari dosa dank arena itu memberi kita “hati nurani yang baik.”

Pada hari Pentakosta, Petrus menasehati orang-orang agar dibaptis: “Bertobatlah, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38). Protestan suka untuk menekankan bagian “pertobatan” untuk meniadakan bagian “dibaptis,” tetapi keduanya adalah esensial. Paulus juga kemudian dalam Kisah para Rasul, memperkuat peran esensial pembaptisan ketika ia berkata: “Sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!” (Kis 22:16).

Karena protestan telah terbenam dalam suatu tradisi yang menolak kelahiran kembali melalui pembaptisan, ketika kamu memperlihatkan nas-nas ini pada mereka, kamu akan hampir dapat melihat selaput gugur dari mata mereka. Mereka bertanya-tanya bagaimana mereka tidak pernah menyadari bahwa teks Kitab Suci menghubungkan pembaptisan dengan pengampunan dosa dan kelahiran kembali secara rohani.


DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar, maka Gereja awali—bersama dengan Luther dan Calvin—telah salah karena mengajarkan doktrin baptismal regeneration, dan rumusan “satu pembaptisan akan pengampunan dosa” dalam Kredo Nicea memiliki arti yang lain selain daripada yang telah dimaksudkan dengan jelas. Atau mungkin kebalikannya adalah benar. Lebih jauh, interpretasi atas ayat-ayat Kitab Suci yang mendukung baptismal regeneration adalah keliru, yang membawa pada suatu penekanan yang miring dan salah tempat atas pentingnya pembaptisan terhadap iman. Atau mungkin itu benar. Satu hal yang protestan dapat katakan dengan pasti adalah bahwa Kristus memerintahkan para murid-Nya untuk membaptis semua bangsa karena pembaptisan adalah hal yang esensial bagi keselamatan. Jika Yesus tidak memerintahkan, itu tidak esensial.

Note:
70    Comm. Yoh 3:5; CO 47: 55.
71    Comm. Titus 3:5; CO 52: 431.
72    McGrath, Christianity’s Dangerous Idea, 262.
74    Untuk kisah yang menarik bagaimana teologi protestan berubah dari pandangan yang tinggi dari Kalvin atas sakramen-sakramen dan eklesiologi sampai pada konversionisme “dilahirkan-kembali” dari Evangelisme moderen, baca artikel ang sangat mendalam ini: http://www.calledtocommunion.com/2012/03/have-you-been-born-again-catholic-reflections-on-a-protestantdoctrine-or-how-calvins-view-of-salvation-destroyed-his-doctrine-of-the-church/
75    Yustinus Martir, Apology I, 61.
76    Untuk daftar yang komprehensif dari Tulisan-tulisan Kristen awali dan Bapa-bapa Gereja yang secara eksplisit mengajarkan doktrin tentang baptismal regeneration, lihat artikel berikut: http://www.calledtocommunion.com/2010/06/the-church-fatherson-baptismal-regeneration/

20. PEMBAPTISAN BAYI


JIKA PROTESTAN BENAR,
Kita tidak tahu pasti apakah bayi-bayi harus dibaptis-tidak hanya memecah gereja-gereja tetapi secara potensial mengancam jutaan jiwa 

Apakah bayi-bayi harus dibaptis? Pertanyaan sederhana itu memecah gerakan-gerakan dalam protestantisme sejak awal dan terus menjadi suatu persoalan divisif di antara mereka. Pengajaran dan praktek yang tidak berubah dalam Gereja Katolik, yang didasarkan pada Kitab Suci dan Tradisi, adalah bayi-bayi harus dibaptis. Semua protestan melihat pada Kitab Suci saja sebagai satu-satunya pedoman iman yang tidak dapat salah, namun satu kelompok sampai pada kesimpulan bahwa membaptis bayi-bayi adalah sesuatu yang terpuji, sementara kelompok lain mengutuk praktek itu. Gerakan-gerakan protestan dan Tradisi Anabaptis (secara hurufiah, “orang yang dibaptis kembali”) adalah gerakan radikal dalam Reformasi. Mereka membaptis kembali setiap orang yang jadi pengikut mereka karena menolak keabsahan pembaptisan bayi, dengan mengklaim bahwa Kitab Suci mengajarkan credo-baptism (“pembaptisan orang-orang yang percaya”). Bagi mereka, Sola Scriptura berarti bahwa setiap doktrin harus ditemukan secara eksplisit dalam Kitab Suci tanpa pengaruh dari tradisi-tradisi, bahkan tradisi-tradisi dari Gereja awali seperti yang kita temukan dalam tulisan konsili-konsili, Bapa-bapa Gereja dan orang Kristen awali lainnya. Jika suatu doktrin tidak eksplisit dinyatakan dalam Kitab Suci, itu berarti tidak diajarkan sebagai kebenaran. Dan mereka dengan tepat telah menunjukkan bahwa tidak ada di manapun dalam Perjanjian Baru secara eksplisit dikatakan bahwa seorang bayi harus dibaptis.

Jika inovasi-inovasi teologis mereka berakhir di sana, mungkin beberapa keserasian dapat dicapai di antara mereka dan gerakan-gerakan reformasi lainnya. Namun, Anabaptis melangkah terlalu jauh dan menegaskan bahwa doktrin Trinitas dan Keilahian Kristus juga tidak secara eksplisit ditemukan dalam teks-teks Kitab Suci dan karena itu tidak harus diterima. Klaim-klaim mengerikan ini didasarkan pada kepercayaan bahwa Kitab Suci dapat ditafsirkan secara akurat oleh setiap orang Kristen yang telah menerima Roh Kudus dan bahwa setiap penilaian individual dapat menjadi kartu penentu bagi penilaian Gereja.

Sokoguru Reformator—Luther, Zwingli, dan Calvin—dikejutkan oleh penolakan reformator-reformator radikal atas pengajaran-pengajaran Kristen yang fundamental. Bagi mereka adalah baik bahkan perlu untuk melihat pada tradisi-tradisi Gereja awali dan pada tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja – khususnya Agustinus – untuk merumuskan ajaran-ajaran yang benar. Sokoguru reformator percaya bahwa orang-orang Kristen masa lampau ini (untuk sebagian besar) telah mengembangkan teologi biblis melalui penafsiran yang benar terhadap teks Kitab Suci. Setiap kekeliruan yang mereka lihat dalam pengajaran Bapa-bapa Gereja tentu saja akan dikoreksi oleh mereka sendiri, pemahaman yang lebih bijak tentang teologi, tetapi inti dari doktrin-doktrin harus dipertahankan sejauh sejalan dengan Kitab Suci.

Dan, Trinitas, keilahian Kristus dan pembaptisan bayi tentu saja sangat sejalan dengan Kitab Suci.

Protestantisme saat ini telah mewarisi perpecahan yang terjadi berabad-abad lamanya dari para pendiri mereka. (situasi itu bahkan lebih memusingkan, jika melihat pada jumlah besar perpecahan denominasional yang telah terjadi sejak tahun 1500-an). Banyak tradisi protestan mempraktekkan pembaptisan bayi, tetapi kelompok yang lebih besar – terutama Baptis, Protestan Evangelis lainnya, dan komunitas Pentakostal yang sangat merakyat – menolaknya dengan alasan tidak alkitabiah.

KARENA KATOLIK BENAR,
Pembaptisan Bayi konsisten dengan kebenaran yang diwahyukan dalam Kitab Suci dan Tradisi. Lebih lagi, bayi-bayi harus dibaptis, karena melaluinya Allah menanamkan rahmat pengudusan yang menyelamatkan.

Meskipun tidak ada ayat Kitab Suci memerintahkan atau secara eksplisti menggambarkan pembaptisan bayi, beragam nas memberikan bukti kuat bahwa bayi-bayi dan anak-anak kecil menerima sakramen pembaptisan ini.  Sebagai contoh, ingat kembali kesaksian Petrus kepada orang banyak saat Pentakosta: “Bertobatlah, dan berilah dirimu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosa-dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu” (Kis 2:38-39). Di sini Petrus tidak menyebutkan pengecualian bagi anak-anak yang belum mencapai usia yang bisa berpikir dengan akal. Demikian juga di tempat lain dalam Perjanjian Baru (Kis 16:33, 1 Kor 1:16) kita membaca bahwa seluruh isi rumah dibaptis, dan ini pastilah termasuk pelayan-pelayan, anak-anak dan bayi-bayi.

Bapa-bapa Gereja juga memberi kesaksian tentang pembaptisan bayi. Di awal tahun 20a-an, Hipolitus menulis: “Pertama-tama, baptislah anak-anak, dan jika mereka bisa berbicara bagi diri mereka sendiri biarlah mereka memberi diri dibaptis. Jika sebaliknya, biarkan orang tua atau keluarga lain berbicara bagi mereka.” [77].

Dan diakhir abad itu, Siprianus dari Kartago, dalam suatu konsili membela praktek itu:

Berkaitan dengan soal bayi-bayi: kamu [Fidus] mengatakan bahwa mereka tidak harus dibaptis dalam hari kedua atau ketiga setelah lahir, bahwa hukum lama tentang sunat harus dipertimbangkan, dan bahwa kamu tidak berpikir bahwa orang harus dibaptis dan dikuduskan dalam hari ke delapan setelah lahir.  Dalam konsili kita, nampaknya diputuskan sebaliknya.  Tak seorangpun setuju akan hal yang kamu pikirkan. Malahan, kami semua menilai bahwa belaskasih dan rahmat Allah tidak boleh diabaikan bagi manusia yang baru dilahirkan. [78]

Kemudian, dalam surat yang sama, Siprianus menegaskan kembali dengan kepastian bahwa bayi-bayi, bahkan yang baru saja lahir, harus dibaptis tanpa suatu keraguan. [79] banyak dari Bapa-bapa Gereja memberi kesaksian yang sama bahwa pembaptisan bayi menjadi ajaran kuno dan mulia dari Gereja.

Kepercayaan Martin Luther akan pembaptisan bayi dan alasan-alasan untuk pembaptisan itu sangat berkaraktek Katolik. Ingatlah bahwa Luther percaya Allah mengkomunikasikan rahmat bagi seseorang yang sedang dibaptis dan bahwa Allah sendirilah yang membaptis melalui pelayannya.

Luther juga mengakui bahwa Gereja selalu membaptis Bayi, sampai dengan abad ke-16 ketika ia memulai reformasi. Dengan memadukan praktek universal Gereja ini dengan pemahaman sakramentalnya tentang pembaptisan, “Luther memandang pembaptisan bayi sebagai sarana yang dengannya Allah menganugerahkan iman kepada tiap-tiap individu.” [80]

Dengan kata lain, Allah menganugerahkan keutamaan iman (satu dari tiga keutamaan teologal) kepada seorang individu melalui sakramen pembaptisan. Luther memberikan suatu penjelasan yang sangat masuk akal tentang bagaimana kita tahu bahwa pembaptisan bayi menyukakan Allah:

Tetapi jika Allah tidak menerima pembaptisan bayi, dia tidak akan menganugerahkan Roh Kudus atau anugerah lain kepada setiap bayi itu. Pendeknya, sudah sejak lama sampai saat ini tak seorangpun di atas bumi dapat menjadi seorang Kristen. Sekarang, sejak Allah mengkonfirmasikan pembaptisan dengan anugerah-anugerah Roh Kudus-Nya seperti nampak jelas dalam beberapa Bapa Gereja, seperti St. Bernardus… dan yang lainnya yang dibaptis saat bayi, dan karena Gereja Kristen yang kudus tidak akan binasa sampai akhir jaman, mereka harus mengakui bahwa pembaptisan bayi itu menyukakan Allah [81]

Penalarannya berarti: jika pembaptisan bayi tidak sah, sebagian besar orang Kristen (yang dibaptis saat bayi) dibaptis secara tidak sah, karena itu tidak pernah menerima Roh Kudus atau keutamaan Iman, harapan dan Kasih. Karena itu mereka bukan anggota Gereja Kristus, sehingga bahkan tidak bisa disebut sebagai orang Kristen. Di lain sisi, jika pembaptisan bayi sah, kelompok protestan yang mempraktekkan credo-baptism sedang menyangkal pertolongan supranatural yang yang mereka butuhkan untuk diselamatkan.

Apakah para sokoguru reformasi benar dalam pengajaran pembaptisan bayi meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam Kitab Suci ataukah reformator radikal yang menolak pembaptisan bayi karena praktek itu tidak biblis yang padanya Gereja telah jatuh dalam kekeliruan sejak awal? Menerima interpretasi reformator radikal, seperti dilakukan banyak Evangelis, mengakibatkan suatu klaim yang kredibel terhadap interpretasi Kitab Suci sukar didapatkan, seperti nampak dalam penolakan Anabaptis terhadap Trinitas dan keilahian Kristus, yang hanya disetujui oleh sekelompok kecil protestan modern. Di lain sisi, pada sisi sokoguru reformasi juga  muncul persoalan sulit: jika menerima tradisi khusus dari gereja awali ini, bahkan meskipun itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam Kitab Suci, lalu atas dasar apa mereka menolak tradisi kuno lainnya seperti berdoa bagi orang yang sudah meninggal, Misa, Purgatorium, Primat Gereja Roma, dan baptismal regeneration. Semua itu bahkan memiliki dukungan alkitabiah lebih daripada pembaptisan bayi.

DILEMA PROTESTAN
Jika protestan benar,  kita berharap bahwa subyek yang penting seperti siapa yang harus dan tidak harus menerima pembaptisan harus jelas dalam teks-teks Kitab Suci. Namun nyatanya soal itu tidak jelas, dan kelompok beriman protestan telah jatuh dalam perpecahan karena persoalan ini selama hampir 500 tahun. Jutaan jiwa yang saat bayi dibaptis secara tidak sah atau ditolak menerima rahmat yang menyelamatkan berada dalam ketidakpastian akan keselamatan mereka.

Note:
77    Tradisi Apostolik, 21:16.
78    Surat-surat 64:2.
79    Ibid., 64:5.
80    McGrath, Christianity’s Dangerous Idea, 262.

Mengapa Gereja Katolik Lebih Baik daripada Gereja Protestan?


21. The Church of Christ - Divine Authority


JIKA PROTESTAN BENAR,
Kristus menarik kembali otoritas yang Ia berikan kepada Gereja ketika Ia mendirikannya

Kita tahu bahwa Kristus mendirikan suatu Gereja, yang nampak dan satu, yang padanya Ia memberi otoritas ilahi-Nya. Dalam Injil Matius kita membaca bahwa “Ia memanggil bagi-Nya 12 rasul-Nya dan memberi mereka kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan” (10:1). Tetapi menurut, protestan, otoritas/kuasa ini harusnya telah hilang ketika Gereja yang nampak itu menjadi korup/bobrok secara moral dan doktrinal.

Kejatuhan Gereja

Mayoritas protestan percaya bahwa Gereja yang nampak dalam kenyataanya telah sungguh kehilangan otoritas Allah pada satu titik dalam sejarah; dan bahwa Kristus menarik kembali kuasa itu ketika kerusakan/kekeliruan (corruption) telah masuk dalam pengajaran-pengajaran Gereja. Banyak fundamentalis protestan percaya bahwa saat Gereja menjadi korup dan kehilangan otorisasi ilahi adalah tahun 313, ketika Konstantinus mengumumkan Edik Milano, yang mengakhiri pengejaran terhadap orang kristiani di kekaisaran Romawi dan mulailah (kata mereka) percampuran pagan yang korup dengan Injil yang benar.

Tetapi secara umum protestan tidak pasti tentang perkiraan waktu itu, dan sebagai gantinya mengklaim bahwa kebobrokan masuk dalam Gereja dalam rentang antara abad 2 – 6. Waktunya beragam tergantung pada setiap protestan yang mempelajari bukti-bukti historis dan menemukan suatu doktri atau praktek Gereja yang mereka percaya sebagai heretik. John Calvin menggambarkan hakekat pervasif dari kerusakan Gereja:

Cahaya kebenaran ilahi telah padam, sabda Allah terkubur, keutamaan Kristus telah terlupakan, dan pelayanan pastoral runtuh karena keburukan moral. Pada saat yang sama, ketidakreligiusan muncul, sehingga hampir tidak ada ajaran agama yang bebas dari percampuran, tidak ada upacara yang bebas dari kekeliruan, bahkan semenitpun, tak ada bagian dari ibadah ilahi yang tidak ternoda oleh ketahayulan.

Namun, ide bahwa “Gereja” menjadi bobrok tidak disetujui oleh protestan, karena mereka juga percaya nas-nas Kitab Suci yang berbicara mengagungkan Gereja. Solusi mereka adalah memisahkan institusi historis yang semula dikenal sebagai “Gereja” – yang jatuh dalam kebobrokan – dari Gereja Kristus, yang tetap tanpa cela. Pada saat kebobrokannya, kapanpun itu, institusi yang nampak menjadi Gereja Katolik Roma, sementara Gereja Kristus yang benar menjadi tak nampak dan melulu spiritual. Karena itu, janji yang dibuat Kristus dalam Injil masih berlaku di dunia untuk semua “orang beriman yang benar”, yang membentuk Gereja yang tak nampak ini: Gereja yang bertahan selama abad-abad apostasy (pemurtadan) sampai reformasi hadir di bumi ini.

Tak masalah kapan waktu yang diberikan untuk saat kebobrokan itu, umumnya protestan menerima bahwa pada abad ke 15, Gereja Katolik jatuh ke dalam malapetaka tradisi manusia dan kekeliruan teologis. Solusi satu-satunya adalah pembersihan total: membuat pembedaan yang jelas antara Gereja Kitab Suci dan penipu ulung yang bobrok.

KARENA KATOLIK BENAR,
Gereja tidak pernah kehilangan Otoritas ilahi yang Kristus berikan padanya dan kebobrokan tidak pernah merusak ajaran Gereja.

Dalam Injil Lukas, Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku." (10:16). Perhatikan garis langsung dari otoritas itu: Bapa mengutus Putera, Putera mengutus Para Rasul dengan kuasa-Nya, yang mendengar mereka (yaitu Para Rasul dan juga orang yang kemudian mereka serahi kekuasaan) sama dengan mendengar Yesus dan Bapa. Kita juga melihat betapa dekatnya Yesus mengasosiasikan diri-Nya sendiri dengan Gereja, ketika Ia menjatuhkan Saulus (kemudian menjadi Paulus) dari kudanya:

Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis 9:1-5)

Perhatikan bahwa Yesus tidak mengatakan “Saulus mengapa engkau menganiaya pengikut-pengikut-Ku?” tetapi “mengapa engkau menganiaya Aku?” Karena dengan membunuh pemimpin-pemimpin Gereja Kristus, Saulus bukan saja menolak mereka tetapi menolak Kristus sendiri.

Dari sejarah kita melihat para rasul dan para pengganti mereka, para uskup, menjalankan otoritas ini dalam Gereja, dan Gereja bertumbuh subur di bawah kepemimpinan otoritatif ilahi mereka – bahkan di tengah penganiayaan yang mengerikan. Dari Kitab Suci dan tulisan-tulisan Kristen perdana, kita memahami bahwa otoritas yang Yesus berikan kepada para rasul sebagai pemimpin-pemimpin Gereja-Nya diteruskan kepada para pengganti mereka. Paulus berkata tentang otoritas ini dalam surat pertamanya kepada muridnya, Timotius: “Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua.” (4:14) Dalam bab berikutnya, ia memerintahkan Timotius untuk “tidak buru-buru menumpangkan tangan” untuk menghindari pentahbisan orang yang tidak layak untuk memimpin Gereja (5:22). St. Klement dari Roma dan St. Ignatius Antiokia, di akhir abad pertama dan awal abad kedua memberi kesaksian atas otoritas yang diberikan para uskup sebagai pengganti para rasul.

Demikian juga, janji yang Kristus buat untuk Gereja harus dimengerti sebagai janji permanen; tidak ada satu pun dikatakan bahwa pada suatu titik Ia akan meninggalkan Gereja-Nya sehingga maut menang atas Gereja (sesungguhnya Yesus mengatakan yang sebaliknya, “alam maut tidak akan menguasainya”) atau bahwa otoritas yang Ia berikan kepada para pemimpin akan ditarik kembali.

Klaim bahwa kaisar Kostantinus mendirikan Gereja Katolik (yang nampak dan bobrok) adalah suatu mitos kuno tanpa bukti kebenarannya yang valid. Edik Milano tidak membuat kristianitas sebagai agama resmi kekaisaran. Edik itu melulu memberikan suatu tolerasni resmi untuk kristianitas di batas-batas wilayah Romawi, sehingga orang Kristen dapat menyembah Allah tanpa dianiaya. Memang benar bahwa Konstantinus secara seremonial membuka konsili Nicea tahun 325, tetapi ia bertindak sebagai pemimpin temporal (sementara) berkaitan dengan stabilitas politik, karena heretik Arian telah menyebabkan konflik di daerah kekuasaannya. Dalam tiap kesempatan, konsili yang dia perintahkan menegaskan keilahian Kristus dan menghasilkan bagian pertama dari kredo Nicaea (yang keduanya justru juga protestan terima) – tidak ada ajaran Gereja yang bobrok dan heretik.

Karena banyak protestan tidak memberikan peristiwa dan tanggal yang spesifik untuk kapan dan bagaimana kebobrokan masuk dalam Gereja, tetapi sebagai gantinya menyebutkan rentang waktu berabad-abad yang tidak jelas, baiklah untuk dipandang secara umum klaim itu tidak masuk akal.

Menarik, hal ini berbeda dari teologi Mormon (Latter-Day Saints), satu-satunya yang menunjukkan waktu tertentu. Mormon percaya bahwa Gereja kehilangan otoritas yang Kristus berikan sekitar tahun 70 atau 100 A.D (itu adalah saat kematian Petrus dan Murid terakhir). Pada masa itu, mereka menyatakan, “apostasy (kemurtadan) besar” dimulai, yang bertahan selama 1.700 tahun sebelum Kristus membangun kembali otoritasnya dalam Gereja Mormon melalui Joseph Smith.

Apakah klaim Mormon masuk akal? Sabda menjadi daging, mencurahkan hidup dan kebijaksanaan-Nya ke dalam murid-murid-Nya, menginaugurasi era Gereja, Umat Allah yang baru. Kemudian Kristus memberi kita Roh Kudus, “Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Tim. 1:7), yang Ia janjikan akan membimbing Para Rasul (dengan demikian Gereja) ke dalam seluruh kebenaran (Lih. Yoh 16:13). Tetapi pernyataan Mormon berarti bahwa Roh Kudus sepenuhnya gagal membimbing Gereja ke dalam seluruh kebenaran.

Sesungguhnya, segera setelah rasul terakhir wafat, Gereja bangkrut selama lebih daripada 1.700 tahun! Maut menang atas Gereja, dan mengharuskan pembangunan barunya melalui pewahyuan baru. Kristus gagal mempertahankan Gereja-Nya sekaligus melindunginya dari pengajaran palsu bahkan untuk satu generasi melebihi hidup-Nya di dunia.

Klaim Mormon ini tidak kredibel, bahkan bagi sebagian besar protestan. Namun protestan secara substansial sama dengan Mormon, berbeda hanya pada angka tahun-tahun Gereja dan pengajarannya menjadi ternoda oleh kebobrokan dan dengan demikian juga sama tentang re-konstitusi Gereja yang “benar”.

Bahkan sebagai pengikut gereja Baptis (dulunya), aku menolak klaim Mormon tentang hilangnya otoritas Gereja saat kematian para rasul, tetapi ketika aku mempertimbangkan persoalan ini, aku harus mengakui bahwa kepercayaan protestanku tidaklah sangat berbeda (daripada Mormon). Sebagai  pengikut Kristen Baptis, kapankah aku berpikir kebobrokan masuk dalam ajaran-ajaran Gereja? Kebenaran adalah apa yang tak pernah banyak aku pikirkan. “Itu terjadi mungkin dalam 4 atau 5 abad pertama,” aku merenungkannya secara samar-samar.  Dan, sama seperti kebanyakan protestan, aku berpikir bahwa para reformator kurang lebih telah mengoreksi ajaran-ajaran yang keliru dan mengaturnya menjadi benar kembali. Apa yang kupikirkan terjadi pada Gereja selama ribuan tahun antara kebobrokan dan reformasi? Sejujurnya, aku sebenarnya tidak berpikir tentang hal itu – demikian juga dengan banyak umat protestan.

Karena Kristus mendirikan Gereja yang nampak pada abad pertama dan memberinya otoritas yang benar, beban pembuktian jatuh pada protestan untuk menunjukkan bahwa Yesus menarik kembali otoritas secara universal dari Gereja pada suatu titik dalam sejarah.  Peristiwa apa yang dapat mereka tunjukan yang menyebabkan Kristus mencabut otoritas-Nya, dan pemimpin Gereja mana yang tersangkut di dalamnya? Di manakah bukti historis dari klaim ini? Aku telah bertanya pada banyak apologet protestan yang handal dan para pendeta, dan belum juga mendapatkan jawaban yang pasti (definitif). Faktanya adalah tak ada peristiwa  atau bahkan masa seabad yang dapat menunjuk dengan tepat dan menjadi alasan kuat untuk klaim yang luar biasa itu. Jadi hasilnya adalah idea, bahwa ajaran yang keliru merangkak pelan-pelan dalam Gereja dan pada akhirnya menodai Injil, tidak pernah diakui.

Ada satu problem lain dengan versi protestan tentang peristiwa-peristiwa itu. Menyadari kenyataan pernyataan bahwa Gereja Kristus menjadi bobrok adalah suatu problematik, banyak orang protestan jatuh pada klaim bahwa Gereja yang benar tetap murni tetapi melulu menjadi invisibel (tidak nampak). Bagaimanapun kita tahu dari sejarah bahwa Kristus mendirikan suatu Gereja yang nampak, dan anggota-anggota Gereja-Nya ini dipersatukan sebagai tubuh mistik, dan Dia adalah kepalanya.  Suatu tubuh yang nampak sekaligus hidup. Jika anda menemukan sepotong tangan, kaki, lengan dan jari kaki tergeletak di tanah, anda tidak akan berkata, “ini adalah suatu tubuh,” tetapi anda akan berkata, “di sini ada bagian dari satu tubuh yang terpotong-potong.”

Sama juga, Gereja adalah satu kesatuan yang nampak yang dapat dilihat bertindak dalam sejarah, dengan kuasa Kristus, menjaga Tubuh Mistik dari anggota-anggota yang memberikan doktrin-doktrin yang keliru.  Vincent Lerins menunjukkan visibilitas Gereja ketika ia menulis di tahun 434:

Apa yang kemudian akan dilakukan seorang Kristen Katolik jika satu porsi kecil dari Gereja telah memotong dirinya sendiri dari persekutuan iman universal? Tentulah lebih memilih kesehatan seluruh tubuh daripada bahaya dan kebobrokan yang mematikan anggotanya.

Jika Gereja yang benar adalah tak nampak, menjadi tidak mungkin untuk menentukan siapa yang memiliki otoritas untuk mengekskomunikasi yang lainnya. Kristus mengarahkan Para Rasul, tentang bagaimana dan kapan harus mengekskomunikasi seseorang dari Gereja (lih. Mat 18:17), tetapi apa artinya ini jika Gereja itu tidak nampak dan tersebar dalam denominasi yang luar biasa banyak? Diekskomunikasikan dari Gereja hanya masuk akal jika Gereja adalah suatu kesatuan yang nampak yang darinya seseorang dapat terpotong/dibuang.

JIKA PROTESTAN BENAR,
  1. Kristus (harus) mencabut kembali kuasa yang Ia berikan kepada Gereja-Nya atau 
  2. Gereja berubah hakekatnya dari satu kesatuan, nampak, dan tubuh yang terorganisasi secara hirarkis, menjadi suatu Gereja yang tak nampak dan melulu suatu asosiasi spiritual.

Tidak ada bukti biblis untuk kemungkinan pertama, dan banyak bukti justru berlawanan dengan itu. Dan dalam kemungkinan kedua, menjadi tidak mungkin lagi mengetahui pada siapa Allah telah memberikan otoritas yang benar untuk memimpin Gereja. Protestan mungkin suka untuk berbicara tentang “Gereja,” tetapi sebenarnya semua yang dapat mereka tunjukkan adalah orang-orang percaya individual yang mungkin bertemu (atau tidak bertemu) dalam suatu jemaat lokal.

Tambahan
Jadi menurut saya sebuah kesimpulan yang bisa diambil adalah:
Demi membenarkan atau mempertahankan klaim  mereka, Protestan (dan Mormon) lebih suka memilih menjadikan Kristus (dan Roh Kudus) sebagai terdakwa (pesakitan), yaitu sebagai pribadi-pribadi “bodoh” yang gagal memenuhi janji-Nya sendiri (Lih. Mat 16:18) untuk melindungi Gereja yang Ia dirikan. Teologi Mormon bahkan lebih parah, hanya dalam waktu 40 tahun, hanya 10 tahun lebih banyak dari masa hidup-Nya di dunia, Kristus sudah gagal.
Saya bertanya-tanya bagaimana bisa mereka tetap mengimani Kristus (dan Roh Kudus) yang gagal? Bukankah dengan itu mereka menempatkan diri mereka sebagai orang-orang bodoh yang menyembah pribadi-pribadi yang gagal?

24 komentar:

  1. Terima Kasih sudah mengabadikan di blog... hehehehe

    BalasHapus
  2. Gak boleh gitu dong, saya aja yang islam risih liat artikel ini ..

    Kota Vatikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk suatu kebersamaan dan toleransi, sikap anda sangat bijak, tx.

      Hapus
  3. Mungkin sangat susah mendapat kebenaran pada pendapat yang mengkritik/menyalahkan yang mana pengkritik itu sendiri bukan bagian pemahaman itu. Tentu secara subjektif sedari awal sdh secara fundamental berbeda, jadi bgm seorang katolik melihat kebenaran dalam ajaran protestan, sangat sulit. Belum lagi hanya sebagian hal yang di olah, yg mungkin saja bila hal itu dipisah pembahasannya jadi sumir, karena ajaran tidak akan sempurna dipahami jika hanya sebagian kecil pemahaman itu yang coba di urai.

    BalasHapus
  4. Simbolon Bere Sihombing31 Mei 2014 07.56

    Fokus saja kepada iman kepercayaanmu. Menjelek-jelekkan suatu ajaran itu tidak baik. Syaloom !

    BalasHapus
  5. Sebagai umat percaya kepada Kristus Yesus, dan memegang Alkitab sebagai penuntun hidupnya, maka tidak sepatutnya menghakimi denominasi lain yang percaya bahwa Yesus adalah jalan keselamatan, dan saya belum melihat/membaca di Alkitab yang saya percaya ada kalimat/ayat yang menyatakan "Tidak ada keselamatan di luar Gereja (Protestan/Katolik/Bethel dll).....", tapi kalau kalimatnya seperti "Tidak ada keselamatan diluar Yesus Kristus..." saya 1000% percaya. Dan pertanyaan saya apakah penulis Blog ini pernah membaca Roma 2:16 di Alkitab atau dikitab suci yang diyakini.

    BalasHapus
  6. Masa pada percaya sama gereja????? Gereja itu bikinan manusia, m asa aturan manusia dipakai?? Ini bicara soal agama yg bersumber pada tuhan dan di berikan melalui nabi. Kenapa percaya aturan gereja???

    BalasHapus
  7. Anehnya lagi masa di kitab ada roma, emangnya yesus orang itali???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe...... ini seperti pertanyaan : "kenapa kok di Al-Quran ada ayat kursi?"

      Wes gak usah ribet lah....

      Hapus
  8. Kita percaya satu pribadi saja; Tuhan Yesus Kristus. Pedoman satu; Alkitab. Postingan ini meresahkan banyak orang. Kita sebagai ORANG KRISTEN; KATOLIK DAN PROTESTAN sebenarnya harus bersatu. Tata ibadah saja yg sedikit beda, tapi kita lihat kita ini sembayang pada siapa? Yesus kan? Jadi percuma. Umat beragama non-Kristen pun mengakui ORANG KRISTEN INDONESIA itu kompak dan satu. Kita rasa satu sebagai kaum minoritas. Jangan ada perpecahan. Tak ada guna. Postingan ini percuma. Postingan ini memang mengajak kita berpikir kritis, tapi kalau mengancam kesatuan sebagai UMAT YANG PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS ini tidak bisa ditolerir.. Kita ini satu, satu dalam TUBUH KRISTUS. Tuhan pun itu fleksibel. DIA tidak hanya ada di satu agama saja, DIA ada di semua agama. Yang terpenting adalah bagaimana menunjukkan ibadah terbaik kita kepada TUHAN. Gitu lho, mas e... Salam dari WAINGAPU, SUMBA TIMUR.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah ngga setuju deh kl nabi yang saya sangat cintai Isa AS/Yesus dibilang tuhan dan berada di agama Islam,,, iya nabi Isa AS sangant di cintai di agama islam tapi bukan jadi tuhan.. (semua mukjizatnya didapat dari ALLAH dan atas izin-Nya bukan penjelmaan/anak Allah) kl udah anggap dia tuhan di Islam balasannya kekal di neraka, karena menyekutukan Allah yang maha Tunggal! berdiri sendiri, tidak menjelma jd manusia, tidak beranak, tidak diperanak, dan tidak juga menebus dosa ciptaan-Nya. dan mudah2an semua terbukti di hari kebangkitan nabi Isa AS di bumi ketika dia solat bersujud ke ALLAH, mematahkan salib dll dan mudah2an masih bisa di terima taubat nya yang orang2 yang terbelokkan.. wasalam :)

      Hapus
    2. My brother. Klo kita mendebat agama atau membahasnya bahkan menyinggungnya, kita bagai semut yang mimpi meraih matahari.

      Hapus
  9. Sebagai katolik saya protes. Semua orang yang percaya bahwa Jesus adalah juruselamat, maka orang itu baik.

    BalasHapus
  10. Ini web fundamentalis katolik. Selamat kok krn gereja. Pelajari sana konsili vatikan II !!! Dasar goblogggg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali bro.... sy juga tdk setuju dengan tulisan ini...

      Hapus
  11. Mau dianggap sempurna atau gimana pun, sebagai manusia kita tetap tidak sempurna, karena hanya Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya. Mau ajarannya dibilang yang paling suci pun kalau penafsirannya salah kan sama saja. Karena itu, mau agamanya apa pun, tetap perbaikannya berasal dari diri sendiri, bukan dari agamanya. Agama hanya sebagai sarana mencari Jalan Terang.

    BalasHapus
  12. saya tahu sifat kekristenan adalah satu,kudus,katolik dan apostolik.Tetapi perlu digaris bawahi kata-kata bahwa keselamatan hanya diperoleh dari Gereja Katolik.Katolik maupun protestan sama didalam Kristus.Sudahlah memperdebatkan kedua agama ini menurut saya adalah hal konyol layaknya kura-kura menertawai penyu.Lagian saya tidak terlalu percaya dengan perkataan para paus.Mereka adalah pemimpin agama,lantas tidak mungkin pemimpin agama berbicara seceroboh itu.Mereka jelas menghargai perbedaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi menurut mereka, kata-kata "keselamatan hanya diperoleh dari gereja katolik" sudah diperbaiki pada konsili vatikan ke dua (kalo gak salah)

      Hapus
  13. Jika Kristen Protestan adlah benar, Karna Katolik Benar. "Jika" adalah bentuk pengandaian dan "karna" sudah pasti benar. Bacalah firmanNYA dengan seksama. tidak ada satu katapun yang terdapat dalam Alkitab bahwa Katolik adalah benar tetapi yang mendapat tempat dalam kerajaanNya adalah orang yang di sebut Kristen yakni yang percaya padaNya dan melakukanNYA.. Setiap orang yang membaca blog ini bisa melihat dengan bijak dan penuh hikmat apakah Blog ini isinya sesuai dengan firmanNYA?. Ayo teman-teman yang terkasih renungkan lah firmanNya bukan perkataan manusia "PAUS". Yesus sudah menjadi pengantara kita kepada BAPA tidak ada pengatara lain lagi. Terima Kasih teman sudah mau merenungkan firmanNYA dan semoga kita bisa untuk lebih bijaksana dan penuh hikmah memintaNYA untuk selalu mengiringi langkah hidup kita kepadaNYA. JESUS bless us

    BalasHapus
  14. Saya sebagai umat katolik, sangat tidak suka melihat blog ini, karena ini merupakan wujud dari fundamentalisme agama yang jelas-jelas keliru. Karena kita ini tinggal di Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" jadi nggak usah lah buat tulisan kayak begini yang memicu perpecahan. Saya juga sbg katolik percaya toh kita baik Protestan maupun Katolik sama2 percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya Juruselamat.

    BalasHapus
  15. For fuck's sake. Jesus Christ! We've been fine each other bitch, and now you clueless fuck are trying to stir the rift between Catholics and Protestans once again. Oi cunts, are you trying to bring back the Church to medieval ages' perspective again? Are you trying to bring back the old shite from the older days of the Church? Is that what you really want, huh? Is that the reason why did you cuck-face write this titsy-tits-of-all-tits on the blog? Fuck off mate! Seriously. Go fuck yourself!

    BalasHapus
  16. yang tulis blog ini tidak lebih pintar dari paus Leo X dan Para kardinalnya sejak awal Martin Luther merevormasi Gereja. 95 Dalil dan 41 ditujukan kepada Aturan Kepausan dan semunya tidak dapat ditemukan keslahan terhadap Luther. Taukan Anda jika bangsa yang mengejar dan membunuh Orang Kriten terbesar adalah bangsa Romawi.? dan taukah anda bahwa yang dijanjikan kota yang turun dari langit adalah Yerusalem? kenapa bukan Vatikan.? atau itali yg baru? lalu dasar apa sehingga Katolik Roma mengklaim bahwa mereka adalah ajalan yg benar.? atau pernahkah anda berpikir bahwa doktrin bisa diputarbalikan oleh pemuka agama untuk kepentingan mereka.? yakinkah anda bahwa para pejabat vatikan hingga Paus tdk bedosa.? ingat cerita Alkitab siapakah yg menjebak Yesu? bkankah mereka Ahli Taurat.? jika disejajarkan mngkin skarang adalah Paus dan KardinaL? ingat bung semakin membenarkan diri dihadapn Tuhan semakin anda berdosa.
    jadi urus saja imanmu. Toh nanti juga Tuhan yang menghakimi kita. bukan Paus, bukan Pstor atau pendeta. :-) SOLA SCRIPTURA VERBUM DEI

    BalasHapus
  17. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  18. Kalo kommentar saya, saya sangat setuju dengan sdr. Thomas F & SD INPRES LASIANA, mau Protestan mau Katolik tdk perlu untuk saling membenarkan dan menyalahkan. Saya penganut Protestan, tdk suka membaca blog ini krn menganggab hanya katolik yg benar, belum lg ada tulisan "tidak ada yg bisa sampai kepada bpk di Surga" kalo bukan org2 katolik.... emank pemilik surga itu org katolik.....??????

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...