Jumat, 12 Desember 2014

Umat Katolik Setuju Seorang Muslim Tak Perlu Pakai Topi Sinterklas

"Seorang muslim tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan nonmuslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri."
~ Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama)

Menanggapi pernyataan menteri agama yang menghimbau umat muslim tidak perlu menggunakan busana sinterklas, seorang umat katolik pun angkat bicara, melalui akun Facebook nya ia menyetujui dan berharap himbauan tersebut disebarluaskan. Berikut kutipan tulisan Hillary John Kristyo T :

Saya AMAT SEPAKAT dengan seruan Pak Menteri Agama Lukman Hakim mengenai tidak perlunya umat muslim mengenakan topi Sinterklas....

BAHKAN saya MENDESAK agar himbauan itu DIPERLUAS.... Tidak hanya umat muslim yang TIDAK USAH DITUNTUT untuk mengenakan topi Sinterklas tapi juga SEMUA UMAT BERAGAMA APAPUN TIDAK USAH DITUNTUT ATAU DIPAKSA mengenakan topi Sinterklas dalam rangka momentum Natal.

Sinyalemen Menag ini benar.... FAKTANYA memang ada hotel-hotel, bank-bank atau mall-mall yang MEWAJIBKAN pegawainya mengenakan topi Sinterklas dalam momentum seputar Natal. 

HANYA SAJA.......... ALASAN HIMBAUAN itu tak perlu dikaitkan dengan "kekuatiran" bahwa kemiripan memakai topi Sinterklas akan mengidentikkan orang yang memakainya menjadi memeluk iman Kristen.

Pemaksaan pengenaan topi Sinterklas yang diidentikkan dengan suasana Natal itu SUNGGUH SALAH!

SAMA SALAHNYA dengan pemaksaan pengenaan atribut yang diidentikkan dengan agama atau budaya lain dalam momentum yang berbeda. Salahnya adalah pada PEMAKSAAN itu.

Namun himbauan Menag itu amat saya dukung karena Sinterklas sendiri BUKAN BAGIAN DARI KEKRISTENAN YANG OTENTIK.

SINTERKLAS atau SANTA CLAUS atau BAPAK NATAL atau apapun sebutannya, TAK PUNYA URUSAN DENGAN KEKRISTENAN.

Perlu kita sadari dan pahami bersama bahwa tokoh tua berkumis & berjenggot lebat berwarna putih keperakan dan mengenakan piyama tebal serta topi piyama itu BUKANLAH MERUPAKAN TRADISI GEREJANI...!!

Tokoh yang sering ditampilkan menjelang Natal itu adalah HASIL KREASI KOMERSIAL dari THE COCA COLA COMPANY yang mendompleng suasana Natal.

Yang jarang disadari oleh umat beriman Kristen adalah bahwa JUSTRU SINTERKLAS merupakan PERENDAHAN & PENDANGKALAN NILAI KEKRISTENAN YANG OTENTIK menjadi sekedar sebuah IKLAN demi kepentingan BISNIS KOMERSIAL.

Penampilan tokoh Sinterklas adalah sebuah plesetan atau parodi dari penampilan busana Uskup atau Paus.

Topi hangat dan mantol hangat yang dikenakan oleh tokoh Sinterklas sebenarnya diinspirasikan dari CAMAURO (topi hangat) dan MOZZETA (mantol penghangat badan).... Dan memang FUNGSINYA tidak lebih adalah merupakan busana penghangat.... Jadi TIDAK PERLU ADA KEKUATIRAN bahwa jika seorang non Kristen mengenakan itu akan otomatis menjadi Kristen. Ada berbagai macam prasyarat untuk orang yang akan "memeluk" Kekristenan.... Dan topi Sinterklas serta Sinterklasnya sendiri TIDAK MASUK dalam persyaratan itu. Justru karena itulah saya sendiri selaku umat Gereja yang Satu, Kudus, Katholik dan Apostolik menyambut baik himbauan Menteri Agama sejauh ALASAN himbauannya tepat dan bukan sekedar dilandasi semangat Paranoid.
Busana Paus (dan uskup) seperti inilah yang dijadikan PARODI oleh Coca Cola Company dalam mendisain karakter Santa Claus a.k.a Kris Kringle.
WELCOME CHRISTMAS!!!
NO WAY SANTA CLAUS!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...