Jumat, 16 Januari 2015

Hukum Mati Bandar Narkoba, Gereja Katolik Kecam Presiden Jokowi

Jokowi dan Uskup Agung Mgr. Ignasius Suharyo, Pr

JAKARTA - Gereja Katolik Indonesia mengecam sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) menolak grasi yang diajukan 64 terpidana mati kasus narkotika dan obat terlarang (narkoba). Menurut Uskup Agung Jakarta Mgr Ignasius Suharyo, tak ada seorang pun yang berhak atas hidup orang lain.

"Ajaran gereja tak mengizinkan adanya hukuman mati," ujarnya dalam konferensi pers seusai memimpin misa di Gereja Katedral, Jalan Katedral 7B, Jakarta, Kamis, 25 Desember 2014.

Hal itu disebabkan bisa jadi terpidana mati kasus narkoba dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, sehingga orang yang tak bersalah harus menjalani hukuman mati.

"Seolah-olah bandar narkoba yang dijatuhi hukuman mati harus dieksekusi, padahal mereka belum tentu bersalah. Bisa jadi karena sistem pengadilan di negeri ini yang buruk, sehingga karena kebodohannya seseorang bisa dimanfaatkan oleh orang lain," kata Uskup Agung Jakarta ini.

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang mewadahi gereja-gereja Katolik di Indonesia menyatakan keprihatinan atas keputusan pemerintahan Joko Widodo yang akan melakukan eksekusi mati terhadap enam orang terpidana kasus narkoba. Eksekusi akan dilakukan Kejaksaan Agung pada  Minggu (18/1/2015) mendatang.

Pastor Siswantoko Pr dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengatakan setidaknya ada lima alasan Gereja Katolik menolak hukuman mati.

"Alasan pertama, siapa pun tidak punya hak mencabut nyawa orang lain karena hidup adalah anugerah dari Tuhan dan hanya Tuhan-lah yang berhak mencabutnya," kata Pastor Siswantoko yang akrab disapa Romo Koko dalam jumpa pers di kantor KWI, Cikini, Jakarta Pusat, Senin.

Hak untuk hidup adalah hak universal dan tidak dapat diperdebatkan lagi. Gereja menganggap, penegakan hukum di Indonesia masih diliputi persoalan. Mulai dari salah tangkap, salah hukum, hukuman yang tak sebanding dengan kesalahannya dan lain-lain. Penegakan hukum pun banyak diintervensi kepentingan politik dan mafia peradilan. Selain itu, Romo Koko menyampaikan keraguan Gereja Katolik akan sistem hukum di Indonesia yang menyatakan ke-64 terpidana mati tersebut benar-benar "gembong" narkoba.

"Kami menyangsikan apakah ke-64 orang itu sungguh-sungguh bandar narkoba karena sistem hukum di negara kita masih memprihatinkan. Contohnya saja, masih banyak kasus salah tangkap, hukum kita cenderung kuat di bawah tapi lemah di atas, apakah benar ke-64 terpidana itu bebas intervensi politik? Jangan-jangan di antara ke-64 terpidana mati itu ada yang cuma pengguna, apakah pemerintah bisa memastikan peradilan yang dilakukan sungguh-sungguh transparan?" katanya.

Lebih lanjut Romo Koko menyampaikan, jika hukuman mati digunakan pemerintahan Jokowi sebagai "shock therapy", maka Gereja Katolik menuntut penelitian yang membuktikan hukuman mati benar-benar mampu menurunkan tingkat kejahatan.

"Sampai hari ini sudah ada delapan orang yang dieksekusi tapi toh belum ada efek jera juga. Di Malaysia yang secara tegas menerapkan hukuman mati bagi kasus narkoba pun, kasus narkoba marak luar biasa di sana. Jangan sampai ini salah sasaran, inginnya menghentikan narkoba tapi malah bunuh anak negeri," katanya.

Tentangan keras terhadap hukuman mati didasarkan pada keyakinan gereja bahwa tidak seorang pun berhak menghilangkan nyawa orang lain, termasuk negara. Hak hidup adalah hak yang paling mendasar yang diberikan oleh Sang Pencipta. Oleh sebab itu, gereja selalu membela kehidupan. Dalam siaran pers itu disebutkan, gereja menilai, penjahat kelas kakap sekalipun mempunyai hak untuk hidup. Negara sebagai pelindung rakyat pun harus memberikannya.

"Hukuman mati bukanlah cara penegakan hukum yang bermartabat, hukuman mati malah untuk menghilangkan kehidupan. Apakah cara menyelamatkan jutaan orang harus mengorbankan ke-64 orang itu? Ini bukan upaya hukum yang bermartabat," katanya.

Menurut KWI, hukuman mati sebenarnya menggambarkan kegagalan suatu negara dalam membina narapidananya. Lembaga Pemasyarakatan yang seharusnya berfungsi agar napi menyesal dan menjadi orang baik, tidak terjadi.

"Berdasarkan hal-hal tersebut maka Gereja Katolik Indonesia mendesak pemerintah Jokowi agar menghapuskan hukuman mati karena tidak memiliki dampak apa-apa untuk terwujudnya penegakan hukum yang bermartabat dan keadilan sebagaimana yang diharapkan," katanya.

Sekitar 140-an negara, kata Romo Koko, telah menghapuskan hukuman mati.

"Kita usulkan agar hukuman mati diganti hukuman penjara seumur hidup tanpa ada pengurangan (remisi) atau pengampunan (grasi). Dengan demikian kita memiliki dua keuntungan: negara tak perlu mencabut nyawa dan negara memberi kesempatan manusia untuk berubah, dengan ini orang akan jera. Jangan sampai hanya karena ingin menyenangkan publik, Jokowi melakukan hukuman mati," katanya.

KWI sendiri telah memperjuangkan penghapusan hukuman mati sejak empat tahun lalu melalui "Koalisi Hati" atau gerakan koalisi Anti Hukuman Mati. Pendekatan terhadap para terpidana hukuman mati dilakukan oleh KWI melalui kegiatan pelayanan, termasuk di LP Nusa Kambangan.

Sumber :

19 komentar:

  1. Sudahlah pak pastor, sebaiknya rusi aja gereja, gak usah ikut2an masalah negara. Hukum mati itu harus dilakukan ut mengurangi gembong2 narkoba yg kecenderungan semakin meningkat. Masak demi kebaikan bersama koq dihalang2i sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya baca bung alasannya.Adakah Pemerintah mampu urusi semuanya? Sdh kewajiban Tokoh Rohaniwan berbicara atas nama Iman.Apakah anda berbicara krn iman anda memperbolehkan menghilangkan nyawa manusia dgn suatu alasan tertentu?

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Makanya baca bung alasannya.Adakah Pemerintah mampu urusi semuanya? Sdh kewajiban Tokoh Rohaniwan berbicara atas nama Iman.Apakah anda berbicara krn iman anda memperbolehkan menghilangkan nyawa manusia dgn suatu alasan tertentu?

      Hapus
  2. Yesus mengajarkan, berilah hak raja untuk raja ( pemimpin negara). Hak Allah Bapa utk Allah Bapa.
    Kitab suci dogmatis, itulah pedoman beragama dan ber Tuhan.
    kitab negara adalah undang2 n uud nya, itu bersifat mengikat n mengatur.
    dogmatis ganjarannya iman, sementara undang undang yang mengikat ganjarannya sanksi sesuai ketetapan undang2 tersebut.
    agama dan negara kedudukannya seperti rel, berhadap hadapan saling memandang, tapi tak pernah bertemu .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda salah kaprah...
      Yang benar adalah : "Berikanlah apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan yang wajib kamu berikan kepada Allah" (JIKA MASIH RAGU CARI DALAM ALKITAB). Dalam sabda tersebut juga yang dimaksudkan adalah persembahan (uang, dll) bukannya pelanggaran hukum.
      Manusia tidak mempunyai hak untuk menghilangkan nyawa! Yesus juga mengajarkan hanya satu pemimpin manusia yaitu Yesus sendiri!

      Hapus
  3. Saya juga kurang setuju hukuman mati... lebih baik dikubur hidup2 sampai Tuhan sendiri yang memberi hidup memberi mati... begitu kan romo... saya tetep bocahmu romo... biar seneng deh romo nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Comen an anda bodoh.menyiksa manusia lbh lebih berdosa mengulur2 kan wkt nyawa manusia itu hukum nya haram dan manusia itu pun dosa,anda tdkt tau hukum anda diem saja.saya sring kali meliat debat anda tp anda bisa nya mengulang2 pembicara an anda.tau kah hukum sbnr nya,apa yng tlah di tegak kan negara,menembak mati sekaligus nyawa hilang itu lah yang di tegak kan hukum di negara.kalo posting anda lbh kejam menyiksa dan mengubur hidup2 jasad manusia yang sedang sekarat,itu sama aja nyiksa anda tdk tau ap2.soal hukum

      Hapus
  4. OK...
    ada 1 point yang saya ambil disini..
    dan point itu adalah "siapa pun tidak punya hak mencabut nyawa orang lain karena hidup adalah anugerah dari Tuhan dan hanya Tuhan-lah yang berhak mencabutnya,"
    memang benar akan hal ini..
    tapi TUHAN punya banyak cara untuk mengambil hidup dan mati seseorang..
    Tuhan bisa menentukan kematian seseorang dengan sebuah bencana,kecelakaan dsb..
    jika hal ini dibenturkan dengan rencana Tuhan dalam hidup manusia..
    maka disisi manakah gereja saat itu???
    sebagai pendukung rencana Tuhan atau penilai rencana dan pengatur hidup manusia???
    aku memang orang bodoh mo dan tidak terlalu pandai dalam berteologi..>
    jika ke 64 orang itu benar2 salah dan mereka masih hidup..
    dan mereka sebagai pengendali narkoba yang mengakibatkan jutaan manusia mati..
    maka disisi manakah gereja saat itu???
    ini adalah sebuah dunia yang tercipta oleh TUHAN..
    hidup mati,tua muda, kaya dan miskin telah diatur oleh Sang Pencipta...
    dan didalam dunia ini ada sebuah hukum yang telah dibuat bersama..
    ada sebuah konsekuensi hukum yang telah dibuat jika melanggar hukum...
    sebagai sebuah gereja..
    alangkah baiknya jika tidak mengatur sebuah hukum dunia..
    tetapi lebih menelisik kedalam hidup kita sendiri dan mulai mengajarkan kebaikan dan kebenaran..
    sehingga setiap orang dan umat bisa mengikuti sebuah aturan dan hukum yang berlaku..
    dan kemudian mereka bisa menjadi para penegak hukum yang benar,,
    sehingga sebuah hukuman dapat diberikan kepada orang yang tepat dan benar2 melakukan kesalahan,,
    itulah menurut pendapatku..
    berkah dalem mo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka yg dihukum mati itu bukan pengendali narkoba, baca dulu pemberitaan di media yg benar, mereka itu kurir narkoba, bukan boss yg mengendalikan. http://www.tempo.co/read/news/2015/01/15/078635169/Kisah-Rani-Kurir-Narkoba-Menjelang-Dihukum-Mati

      Hapus
    2. ini bukan masalah mereka itu adalah pengendali narkoba atau bukan...
      kurir maupun boss narkoba..
      sebenarnya ini bisa menjadi pelajaran bagi semua orang..
      untuk lebih berhati2 ketika disuruh seseorang mengirimkan sesuatu oleh orang yang tidak dikenal..
      sebagai seorang kurir juga pasti telah mendapatkan kenikmatan dari pekerjaannya..
      entah kepuasan batin atau rohani maupun jasmani..
      karena mereka yang telah mendapatkan upah dari pekerjaannya..
      harus bertanggung jawab untuk setiap tindakannya..
      karena itu hendaknya seseorang menyadari tindakannya dan mengetahui akibat dari tindakannya..
      jangan asal bertindak maupun melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu..
      orang terkadang menyadari akibat dari tindakannya dan mengetahui apa yang terjadi dari apa yang dilakukan>>
      hanya saja setiap orang didunia ini selalu menutup mata dari tindakan yang mereka lakukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan hidup..
      demikian pendapat saya..

      Hapus
    3. Sekarang bukan soal siapa yang di kendalikan atau siapa yang mengendalikan... pada Prinsip nya semua orang juga pasti akan mati...
      Maaf om Mikhael....
      Saya ada sedikit Pertanyaan...
      Bagaimana kah bila anda menempatkan diri anda pada posisi dari salah satu terpidana mati tersebut... apakah anda akan diam dan pasrah bila akan di jatuhi hukuman mati...? atau anda akan terus berusaha meminta pengampunan...?
      Semua Manusia pasti pernah memiliki kesalahan... dan bilamana di berikan pengampunan tetapi masih tetap tidak bisa berubah maka yg di rugikan pasti diri nya sendiri... dan para korban yang sudah mati karna terjerumus narkoba bukan sepenuh nya salah pembeli ataupun gembong narkoba.... seperti hal nya makanan ataupun kebutuhan pokok... bila kita tidak membutuhkan nya tidak mungkin mereka memaksa untuk membeli.... begitupun juga rokok... sudah banyak yang mati akibat rokok... akan tetapi kenapa rokok masih di perjual belikan...? karena membayar pajak... dan kenapa juga narkoba masih beredar dan masih banyak yang membeli ..? itu di karenakan oknum2 kotor yang memang sengaja memberikan jalur untuk penyebaran barang haram tersebut. dan yang di jadikan korban adalah rakyat2 kecil yang di peralat untuk menjual dengan di janjikan sejumlah bayaran yg mungkin cukup besar... dan saya rasa bila anda mengalami kesulitan ke uangan untuk keluarga anda... bukan hal yang tidak mungkin bila ada yang menawarkan anda untuk mengantar dan anda di berikan sejumlah uang... satu hal saja yang perlu di kaji... sebenar nya orang yang pantas bertanggung jawab adalah orang2 yang memiliki pangkat dan kedudukan yang di jadikan topeng untuk mereka beraksi.... kalau memang oknum2 di negara kita benar2 bersih atas semua nya.... Saya Berani JAMIN tidak akan ada lagi yang berani menjual narkoba.... Dan OKNUM yg Tidak Bertanggung jawab tersebut 1000% bahkan 1 JT % Merekalah yang Memenag Kendali Atas Semua Itu dan Menjadikan Rakyat biasa yang tidak memiliki POWER yang di jadikan TUMBAL atas KEJAHATAN MEREKA... ....Coba Saja di fikirkan Dengan Matang...
      Salam... GBU :)

      Hapus
    4. Mari bedakan HUkum Tuhan dengan Hukum Negara sesuai Hotbah Yesus dengan mencontohkan dua muka mata uang? Mari kita menepatkan diri kita dengan tepat tanpa menambah ruwet

      Hapus
  5. Pastor yang terhormat. saya ini katholik. saya menganjurka kepada pastor agar tetap pada firman .masih ingatkan dua muka mata uang? Disana kita diajak untuk memahami mana Hukum Tuhan dan mana Hukum Negara. Terimakasih Pastor jangan ikutan mengurusi hukum negara biar jangan menambah ruwet

    BalasHapus
  6. To Hati yg Beku---→☆Taukah kamu... kalau mereka saat ini menangis.
    Taukah kamu... kalau mereka saat ini merasa sakit dgn ulahnya tangan baja. (Lo g usa tunjuk di dadah deh baca dan renung..)
    Taukah kamu kalau saat ini mereka tersenyum memandang kita...
    Sadarkah kita kalau mereka mati demi kita semua..
    Sadarkah kita.. kalau kita sering melawan Ibu dan Ayah... Apakah Ayah kamu mengambil golok memotong tangan kamu.Apakah Ibu kamu mencukil bola mata Kamu.. Tidak.. tidak Saudara..
    Tampa Kita sadari.. Iman dan cinta kasih kita uda hilang.
    Kita manusia bisa" yang tidak luput dari dosa..
    Bukan satu pujian atau kebanggaan kita mencabut nyawa org lain.
    Sungguh sadis ya... mereka berdiri tegak terus di dorrrr... tampa kita ketahui.. DALAM HATI MEREKA MENANGIS" MEREKA MENGATAKAN (TEGA YA...)
    Ya Tuhan" Ampunilah Dosa-Dosa Kami dan Mereka. Biarkan mereka tinggal bersama Bapa di Surga. Amin. GBU

    BalasHapus
  7. tau apa ajaran isi dalam greja itu lah,kalo dia emang bnr2 lurus mana bs dia bicara kaya gt,karna ya itu msh bengkok mana yang paling bnr gak bs di artikan,membunuh orang berdosa lbh dosa lg membunuh orang yang tdk berdosa contoh nya.sprt orang kaum kafir memerangi jalur gaza banyak orang2 yng meninggal karna serangan nya israel.bodoh aja ketua greja nya.

    BalasHapus
  8. Gereja Katolik mengecam Presiden Jokowi karena menolak grasi terpidana mati kasus penyalahgunaan narkoba. Gereja Katolik tidak menyetujui hukuman mati, karena tidak ada seorangpun yang berhak mencabut hak hidup orang lain kecuali Tuhan.
    Numpang tanya bagaimana sikap Gereja Katolik terhadap orang atau orang-orang yang dengan sengaja membuat narkoba dan kemudian mengedarkannya kepada orang lain yang lalu menggunakannya sehingga berakibat ketergantungan narkoba sehingga si pengguna itu hidup tidak matipun belum?

    BalasHapus
  9. Bila ditampar pipi kiri berikan pipi kanan... ... biar wajah negri ini bonyok semua. .. ..
    Coba pikir

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...