Jumat, 06 Februari 2015

Pengaruh Budaya Tionghoa dalam Gereja

Salah satu bentuk akulturasi Gereja Katolik dengan budaya Tionghoa
Beberapa gereja sekarang telah mengadopsi budaya Tionghoa di dalam ritual keagamaannya. Bahkan ada gereja yang sudah mengundang barongsai dalam kegiatan acaranya di gereja, seperti pada acara misa tahunan, pernikahan, dan sebagainya. Sebenarnya banyak yang masih berbeda pandangan mengenai tradisi budaya dalam suatu ritual keagamaan. Biasanya di sinilah timbul salah paham dari orang Tionghoa sendiri yang kebetulan berbeda agama.


Padahal, banyak dari tradisi budaya yang lumrah dalam kebudayaan Tionghoa bukan merupakan ritual agama itu sendiri. Sekarang, kita dituntut untuk berpikir secara bijak, apakah suatu tradisi budaya yang diadopsi dari sebuah agama lantas otomatis menjadi ritual keagamaan dan menjadi monopoli dari agama tersebut? Kebudayaan dan agama memang saling mempengaruhi, namun tidak langsung berarti bila ada kesamaan antara tradisi budaya dan ritual suatu agama, maka seluruh aksi budaya tersebut menjadi bernilai agama. Tanggalkanlah sebentar kacamata dan perspektif agama untuk melihat segalanya (budaya dan agama) secara objektif.
 
Penggunaan hio dalam berdoa
Banyak yang bertanya mengenai bolehkah orang Tionghoa yang telah pindah keyakinan untuk tetap memegang hio/dupa? Ada jawaban menarik dari seorang suster yang tinggal di sebuah gereja yang terletak di daerah China Town di Jakarta. Oleh suster tersebut dijawab bahwa selama hio tersebut digunakan bukan untuk menyembah setan dan berbuat yang tidak-tidak, tentu tidak masalah karena hio itu sendiri boleh dibilang hanya sebagai alat saja. Apalagi kalau digunakan untuk tujuan menghormati leluhur kita, itu baik karena kita memang harus selalu menghormati orang tua dan juga leluhur kita. Kalau mengenai ada beberapa orang Tionghoa sendiri yang masih enggan memegang hio, jangan memaksa mereka, yang penting kita jelaskan apa kegunaan dan tujuannya. Selanjutnya kembali kepada mereka sendiri untuk mau mengikuti atau tidak.

Orang Tionghoa yang pantang memegang hio/dupa mungkin adalah orang yang kurang membaca kitab sucinya. Mungkin juga karena hanya mendengar kotbah dari beberapa pendeta yang ekstrim saja. Pada kitab Wahyu sendiri dijelaskan bahwa dupa (xiang/hio) dan tempat dupa (xianglu/hiolo) digunakan untuk berdoa.
Wahyu 8 ayat 4 “Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah”
Wahyu 8 ayat 5 “Lalu malaikat itu mengambil pedupaan itu, mengisinya dengan api dari mezbah, dan melemparkannya ke bumi”

Sekarang semuanya kembali ke individunya masing-masing, apakah masih mau menghargai budayanya sendiri atau tidak, karena darah Tionghoa akan selamanya mengalir dalam diri kita, bahkan sampai ciri fisik seperti berwajah oriental, itu tidak dapat diubah. Kalau bukan orang Tionghoa sendiri yang melestarikan budayanya, terus siapa lagi yang akan melestarikannya karena pengaruh budaya luar atau terkena akulturasi budaya?

Arsitektur Gereja Katolik di Tiongkok

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...