Senin, 27 April 2015

Runtuhnya Katolik Jerman: Imam Mengaku Dosa Setahun Sekali, Bagaimana dengan Kesetiaan Iman?

Runtuhnya Katolik Jerman: Imam Mengaku Dosa Setahun Sekali, Bagaimana dengan Kesetiaan Iman?
Gereja Katolik Saint Adelaide di Geldern, Utara Rhine-Westphalia,
Keuskupan Münster - dihancurkan pada tahun 2008 untuk diserahkan ke senior center

Umat awam Jerman mengkonfirmasi keinginan mereka untuk melakukan evolusi dalam Gereja: menurut dokumen yang dibuat di situs Konferensi Waligereja, jawaban atas kuesioner antara Sinode menunjukkan bahwa umat Katolik dari Jerman mengharapkan keterbukaan besar dari Sinode tentang Keluarga. Terutama pada masalah paling sulit: "mereka meminta untuk diperbolehkannya bercerai dan menikah lagi dengan Ekaristi, sebuah perkembangan iman dan moral bagi pastoral untuk menerima orang homoseksual dan memberkati pernikahan keduanya."

Apakah permintaan ini merupakan ekspresi penegasan serius atau apakah mereka menunjukkan sikap yang lunak, iman katolik akan dikalahkan? Ini adalah pertanyaan yang wajar, terutama jika melihat apa yang muncul dari survei lain yang melaporkan pada Kamis lalu. Sekali lagi di situs Konferensi Waligereja, ada data juga hasil analisis lain yang dilakukan pada 8.000 pekerja pastoral dari seluruh Jerman. Sampel ini terdiri dari 48% dari para imam, 22% dari pimpinan paroki, 18% dari pembantu pastoral dan 12% dari diakon, harus memberikan informasi tentang tingkat kepuasan kehidupan mereka dan soal pekerjaan mereka. Survei dilakukan oleh beberapa akademisi dari pusat studi penting, diperoleh hasil bahwa mungkin membantu kita untuk menafsirkan jawaban atas kuesioner Sinode.

Para imam Katolik di Jerman, hanya setengah memilih kehidupan selibat lagi, seperempat tidak lagi ingin hidup selibat dan seperempat menyatakan diri "ragu-ragu". Tidak sedikit para imam berbicara tentang masalah yang berasal dari "perasaan kesepian" karena tidak memiliki hubungan jangka panjang dengan orang lain. Menurut apa yang dilaporkan, penyelidikan Tagesspiegel menunjukkan bahwa beberapa imam mengakui [mereka memiliki] "hubungan dewasa dengan seksualitas mereka, atau dengan orientasi seksual mereka."

Pengumpulan data dilakukan antara tahun 2012 dan 2014 dan memiliki hasil yang sangat luas. Studi ini dapat dibeli secara online, tetapi laporan yang luas tersedia di situs [dari Keuskupan Agung Cologne] domradio.de. Secara umum, para pekerja pastoral berada di tingkat kepuasan yang sama ditampilkan juga dalam kategori sosial lainnya, namun, pada saat yang sama, mereka menunjukkan masalah berupa stres dan ketidaknyamanan yang khas untuk zaman kita. Namun, beberapa data memberikan hasil untuk merefleksikan "kehidupan iman" dari masyarakat Katolik Jerman. Semacam keduniawian tampaknya telah mengakar terus selama menjadi imam, terlihat bahwa 54% dari imam menyatakan bahwa mereka melakukan pengakuan dosa hanya sekali setahun (atau bahkan kurang) dan hal itu sama untuk 70% dari diakon. Persentase tersebut naik mencapai 91% untuk para "pembantu pastoral". Hanya 58% dari imam mengatakan bahwa mereka "berdoa setiap hari atau beberapa kali sehari".

Untuk data ini, kita dapat menambahkan bahwa survei lain pada umat Katolik Jerman beberapa bulan lalu, kali ini dilakukan oleh Allensbach Institute. Untuk pertanyaan, "Mengapa kamu Katolik?", 68% umat Jerman menjawab "Karena itu memungkinkan kita untuk merayakan peristiwa penting dalam hidup", dan kemudian, "itu adalah tradisi keluarga". 60% orang beriman mengatakan mereka tidak percaya pada kehidupan setelah kematian, dan hanya sepertiga percaya dalam Kebangkitan Kristus. Satu dari empat orang di Jerman percaya bahwa jika seekor kucing hitam melintasi mereka, itu akan membawa kesialan. Kita harus ingat bahwa statistik Gereja di Jerman selama beberapa dekade telah menunjukkan penurunan terus menerus dalam data yang mengacu pada jumlah imam dan jumlah umat pada Misa Minggu.

Dari data dan ringkasan ini, cukup menunjukkan kesehatan Gereja Katolik di Jerman. Kita ingat kata-kata Kardinal Marx ketika ia menyatakan bahwa para uskup Jerman ingin membuat keputusan pastoral otonom pada tema Sinode ini. Kata Kardinal, "Gereja Jerman tidak hanya "cabang" dari Gereja Roma." Tanpa masuk ke pertanyaan tentang hubungan antara Vatikan dan Uskup Konferensi, namun keraguan tetap ada, apakah permintaan ini termotivasi oleh kearifan otentik atau oleh keinginan duniawi untuk menyelamatkan apa yang diselamatkan.

Sumber: http://rorate-caeli.blogspot.com/2015/04/the-german-catholic-collapse-priests.html 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...