Sabtu, 09 Mei 2015

Gereja Katolik di Pusat Kota Venesia Disulap Menjadi Masjid

Gereja Katolik di Pusat Kota Venesia Disulap Menjadi Masjid
Sebuah Gereja Katolik di kawasan Cannaregio, Santa Maria della Misericordia, Venesia difungsikan sebagai Masjid. Muslim di Venesia juga sudah menggunakannya sebagai tempat Shalat pada hari Rabu (6/5/2015) kemarin
VENESIA - Selama tujuh bulan ke depan, sebuah Gereja Katolik di kawasan Cannaregio, Santa Maria della Misericordia, Venesia akan difungsikan sebagai Masjid. Bangunan ini disulap hingga dinding ruangannya berhiaskan huruf arab, lantainya ditutupi sajadah yang menghadap ke kiblat serta tidak menghilangkan identias mosaik salib yang berada di balik mihrab.

Adapun hasil karya seniman Swiss-Islandia Christoph Buchel ini merupakan bagian dari Venice Bienalle yang akan dijadikan paviliun nasional selama Bienalle. Buchel sendri dikenal sebagai seorang seniman progresif yang kerap kali membuat karya yang menyita perhatian publik lantaran kerap kali mengangkat tema yang memiliki pro dan kontra.

Awalnya ia cukup kesulitan memilih lokasi yang tepat untuk dijadikan masjid, hingga akhirnya pilihan jatuh ke Gereja Katolik Santa Maria della Misericordia, yang sudah tak digunakan selama lebih dari 40 tahun.

Setelah menemukan tempat yang cocok, masalah lainnya pun datang. Dalam pertemuannya bersama dengan tokoh Venesia, polisi dan pejabat Bienalle, Buchel diingatkan untuk tidak mengubah eksterior gereja termasuk di antaranya tidak diperbolehkan memasang lafadz 'Allahu Akbar' di pintu masuk.

Bahkan pada bulan April kemarin, proyek ini terancam gagal setelah pemimpin tokoh Venesia mengirim surat ke Pusat Seni Islandia dengan peringatan bahwa ini bisa menjadi ancaman keamanan. Terutama setelah mereka mengaitkannya dengan isu-isu kekerasan di dunia internasional. Para pejabat Bienalle juga memberi jarak dengan proyek tersebut. Namun begitu, Buchel dan kurator seni Nina Magnúsdóttir tak menyerah.

Setelah mereka berkonsultasi dengan pengacara, mereka memutuskan untuk terus membangun proyek tersebut. Hingga pada hari Rabu (06/5/2015) kemarin, proyek ini nyaris rampung. Buchel berharap ini bisa menjadi simbol toleransi ditengah krisis Islamophobia di Eropa.

Gereja Katolik di Pusat Kota Venesia Disulap Menjadi Masjid
Gereja Katolik Santa Maria della Misericordia
Dua hari sebelum peresmian, diharapkan masjid ini sudah bisa digunakan untuk Shalat Jumat. Hamad Mahamed, seorang imam lokal juga sudah datang dan memimpin doa di masjid tersebut.

"Tidak masalah jika masjid berada di Gereja Katolik, ini juga bisa menunjukan bagaimana sebenarnya Islam, tidak seperti yang mereka kerap lihat di media," tandasnya.

Bagaimanapun, ini merupakan langkah berani di tengah meningkatkan islamophobia di Eropa. Pemimpin muslim di Venesia mengatakan, bahwa ini merupakan media yang tepat untuk mengkampanyekan hal yang sebenarnya tentang Islam. Terutama untuk mengimbangi isu yang sangat kuat mengenai pandangan barat soal islam dan kekerasan.

"Kadang-kadang anda harus memperlihatkan diri untuk menunjukkan bahwa anda cinta perdamaian dan menunjukkan diri untuk memperlihatkan bagaimana budaya anda pada orang-orang," jelas Mohamed Amin Al Ahdab, Presiden Komunitas Muslim Venesia, kepada New York Times, Kamis (07/5/2015).

Keberadaan masjid ini akan melengkapi masjid agung di Marghera yang selama ini dijadikan sebagai pusat komunitas Islam di Venesia. Umat Islam di Venesia sendiri sudah sejak lama memimpikan adanya masjid yang berada di pusat kota Venesia.

"Puluhan ribu muslim datang ke Venesia setiap bulannya, dan mereka bertanya-tanya, kenapa mereka tidak bisa menemukan masjid di kota ini," jelas Ahdab yang juga dikenal sebagai seorang arsitek kelahiran Suriah yang sudah tinggal di Venesia sejak tahun 1984 ini.

15 komentar:

  1. Anda sungguh sangat konyol dgn alasan yg seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika Gereja di jadikan masjid, umat kristen tidak apa2,
      karena kita punya toleransi yg cukup tinggi, jika
      sebaliknya masjid di jadikan gereja, seperti di Indonesia,
      pasti Muslim kebakaran jenggot, sambil berteriak Allahu
      Barbar pasti Gereja di bakar oleh ormas FPI (Preman Sorban berjubah).

      Hapus
  2. Anda sungguh sangat konyol dgn alasan yg seperti itu

    BalasHapus
  3. Kalau tidak bisa memenukan mesjid di Venetia tidak berarti harus ada mesjid...... apakah ada gereja di Arab Saudi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak orang Italia masuk Islam dengan kehendaknya sendiri dan ketika ada gereja yang sudah 40 tahun lamanya dibiarkan terbengkalai difungsikan menjadi masjid atas izin pemerintah setempat dan tidak ada yang keberatan kenapa tidak? Ini tidak hanya terjadi di Italia tapi juga di Inggeris dan negara Eropa lainnya.

      Hapus
    2. Arab Saudi sangat menentang pembangunan Gereja.
      Tidak boleh ada gereja di wilayahnya, banyak warga
      Philipina yg ingin beribadah di gereja tetapi kerajaan
      Arab Saudi tidak mengizikan tempat ibadah selain masjid.

      Hapus
    3. Arab Saudi sangat Rasis & Diskriminasi thd Non Muslim.
      Tempat ibadah Non Muslim sangat di larang di Arab Saudi.
      Arab Saudi satu2 negara yg memberi hukuman pancung bagi
      Muslim yg meninggalkan Islam alias Murtad.
      Arab Saudi negara yg terburuk dalam hal kebebasan
      beragama di Timur tengah.

      Hapus
  4. Sudah 40 tahun gereja itu 'ditinggalkan' oleh umat Katolik berarti mereka tidak memerlukannya. Jika kemudian umat Islam memerlukan lokasi itu untuk dijadikan masjid sementara umat Katolik di situ merelakan dan yang berwenang memberi ijin, Alhamdulillah. Bukankah pengikut Isa Almasih dan pengikut Muhammad berasal dari rumpun yang sama, Ibrahim? Ya Allah berilah kepada orang yang berbuat baik balasan yang setimpal sesuai dengan yang diniatkannya.

    BalasHapus
  5. saya sangat merasa berterimakasih kepada pegelola blog ini, bukan maksud apapun, karena dari hal ini saya dapat memahami penilaian" kalian semua :) tidak ada rasa marah ataupun benci yang saya dapatkan setelah membacanya dan memahami komentar anda, justru hal itu membuat saya untuk lebih berfikir realistis bahwa dasarnya semua manusia sama saja, namun didunia ini berbedan justru muncul karena pemetakan" itu sendiri. trimakasih~

    Salam cinta Bhineka Tunggal Ika :)

    BalasHapus
  6. saya sangat merasa berterimakasih kepada pegelola blog ini, bukan maksud apapun, karena dari hal ini saya dapat memahami penilaian" kalian semua :) tidak ada rasa marah ataupun benci yang saya dapatkan setelah membacanya dan memahami komentar anda, justru hal itu membuat saya untuk lebih berfikir realistis bahwa dasarnya semua manusia sama saja, namun didunia ini berbedan justru muncul karena pemetakan" itu sendiri. trimakasih~

    Salam cinta Bhineka Tunggal Ika :)

    BalasHapus
  7. bisakah itu terjadi di indonesia? jangan coba-coba merubah mesjid jadi gereja. merubah rumah jadi gereja saja bisa langsung dibakar oleh umat muslim yang katanya agama cinta damai itu....

    BalasHapus
  8. Di sinilah letak perbedaan agam Katholik dan Islam. Katholik penuh toleransi dan non-violence sementara Islam kerap tampil dengan wajah garangnya, membakar, menyembelih, membunuh orang-orang yang berbeda keyakinan. ISIS adalah personifikasi dari penghayatan akan nilai-nilai Islam.....

    BalasHapus
  9. Umat Hindu, Umat Budha, Umat Konghucu, Umat Katholik, umat Protestan, umat Islam dan umat selainnya adalah satu umat manusia yang hidup di bumi yang satu masihkah masing-masing umat menunjukkan kelebihan ajaran agamanya dari ajaran agama umat lain dan lebih menunjukkan kejelekan ajaran agama umat lain daripada berusaha bersama sebagai sesama umat manusia untuk memakmurkan dan melestarikan bumi yang didiami ini?

    BalasHapus
  10. Sekedar info, muslim banyak di Italia bukan karena convert atau muallaf tapi karena banyak imigran dari afrika utara. Itulah kelebihan Katolik mereka menerima semua orang tanpa pandang agama dan ras. Tidak seperti Islam yg hanya mau menerima dr satu agamanya saja

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...