Sabtu, 11 Juli 2015

Kenapa Kata "GEREJA" Tidak Ada di Alkitab Indonesia?

Kenapa Kata "GEREJA" Tidak Ada di Alkitab Indonesia?

Apakah anda pernah mencoba mencari kata “Gereja” di Alkitab? Kalau belum, kenapa tidak mencoba mencari kata tersebut dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21? Silahkan dicoba. Toh pasti bagi kebanyakan umat Katolik, Alkitabnya jarang dibuka. Jadi coba sekali-kali dibuka dan mencari satu kata saja, yaitu “Gereja”. Bagi anda yang punya Alkitab elektronik di handphone atau di komputer yang punya fungsi search, maka mungkin akan lebih gampang untuk mencari kata tersebut.

Baiklah, supaya tidak lama-lama, ini jawabannya: KATA “GEREJA” TIDAK DITEMUKAN DI ALKITAB INDONESIA!

Aneh kan? Kaget kan? Padahal yang namanya “Gereja” itu sering disebut-sebut oleh tokoh-tokoh Kristen (entah Katolik, Orthodoks atau Protestan). Yang namanya “Gereja” itu sering dibahas dalam buku-buku teologi. Yang namanya “Gereja” itu disebut dalam Syahadat Singkat maupun Syahadat Panjang. Ada apakah gerangan?

Oh, tapi mungkin kata “Gereja” itu seperti kata Trinitas yang tidak ada di Alkitab, tapi ada di Tradisi Lisan? Bukankah kita umat Katolik yang mengimani bahwa sumber iman itu tidak hanya Alkitab saja (sebagaimana diimani kaum Protestan) tapi juga Tradisi Lisan? OK, bisa jadi begitu. Tapi coba bagi anda-anda yang mempunyai Alkitab dalam bahasa Inggris, Jerman, Italia, Perancis, Spanyol dan Portugis membuka-buka Alkitab tersebut untuk menemukan kata ”Church, Kirche, Chiesa, Église, Iglesia, Igreja” yang merupakan terjemahan masing-masing bahasa untuk kata “Gereja”. Kali ini berapa kalikah anda menemukan kata tersebut? PASTI LEBIH DARI 100 KALI!

Ada apakah ini? 

Ok, pertama-tama sedikit etimologi (ilmu yang mempelajari asal muasal kata-kata), kata Indonesia “Gereja” berasal dari bahasa Portugis, ”Igreja”. Sedangkan kata ”Igreja” ini berasal dari kata Yunani “ekklesia”. Kata Yunani “ekklesia” ini mempunyai arti "sekumpulan orang yang dipanggil/dikumpulkan bersama untuk suatu tujuan." Ini adalah artian dasar dari kata “ekklesia”.

Di Alkitab sendiri kata Yunani “ekklesia” muncul sebanyak 114 kali di Perjanjian Baru (sementara Perjanjian Lama berbahasa Ibrani). Pertama kalinya kata ini muncul adalah di Matius 16:18, yaitu ketika Yesus berbicara kepada Petrus, "Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan 'jemaat'-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya."

Nah, kata “jemaat” yang dipakai di Alkitab Indonesia itulah yang merupakan terjemahan dari kata Yunani “ekklesia”! Oleh karena itu di Alkitab Indonesia kita membaca, misalnya, "supaya sekarang oleh ’jemaat’ diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga [Ef 3:10]." Begitu pula di ayat lain, "... yakni ’jemaat’ dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran [1Tim 3:15]." Dan lain-lain.

Di ayat-ayat tersebut dan di tempat lain, Alkitab Indonesia menerjemahkan “ekklesia” dengan kata “jemaat”! Padahal seharusnya kata dalam bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk menerjemahkan “ekklesia” adalah “Gereja” karena kata “Gereja” merupakan turunan dari kata Portugis ”Igreja” yang merupakan turunan dari kata “ekklesia”.

Menerjemahkan kata “ekklesia” dengan “jemaat” sebetulnya tidak salah-salah amat. Ini karena arti dasar dari kata “ekklesia” memang adalah "sekumpulan orang" yang bisa berarti “jemaat”. Namun penerjemahan ini kurang tepat karena membuat makna dan nuansa kata “ekklesia” tidak terwakilkan dengan sempurna. Faktanya hampir semua Alkitab non-Indonesia menerjemahkan kata “ekklesia” dengan “Gereja” bukan “jemaat”.

Lalu mengapa penerjemah Alkitab Indonesia menggunakan kata “jemaat”? Untuk menjawab ini perlu diketahui bahwa Alkitab Indonesia yang dipakai sekarang ini dan yang diakui Konferensi Wali-Gereja Indonesia (KWI) adalah Alkitab hasil terjemahan dari Lembaga Alkitab Indonesia. Lembaga Alkitab Indonesia sendiri adalah cabang dari organisasi Protestan yang bernama Bible Societies (berdiri pada 1779).

Bible Societies punya misi untuk membuat Alkitab bisa dibaca oleh semua khalayak sehingga mereka menerjemahkan Alkitab ke berbagai bahasa dan menyebarkan Alkitab ke berbagai belahan dunia. Misi ini konsisten dengan ajaran khas Protestan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber iman umat Kristen dan setiap umat dapat membaca Alkitab untuk mempelajari iman Kristen (sementara bagi umat Katolik sumber iman adalah Alkitab dan Tradisi Lisan sebagaimana kedua sumber ini diajarkan kepada umat oleh kuasa mengajar Gereja, bdk. Katekismus Gereja Katolik 77, 84-87).

Meski niat ini mulia, tapi strategi Bible Societies yang menyebarkan Alkitab kepada berbagai suku bangsa tanpa penjelasan yang mengandung ketidaknetralan/bias terjemahan dikecam banyak pihak. Baik dari pihak Protestan sendiri maupun Katolik. Kecaman dari pihak Katolik secara langsung terhadap Bible Societies dilakukan oleh Paus Leo XII (ensiklik Ubi Primum, 5 Mei 1824), Paus Pius IX (ensiklik Qui Pluribus, 9 November 1846), Paus Pius VIII (1829) dan Paus Gregorius XVI (1884) [sumber: Catholic Encyclopedia – Bible Societies].

Menerjemahkan kata “ekklesia” dengan “jemaat” merupakan salah satu bias Protestan dari terjemahan Bible Societies alias Lembaga Alkitab Indonesia. Ini karena bagi iman Protestan, “Gereja” hanyalah sekedar kumpulan “jemaat” yang percaya kepada Kristus tanpa ada kesatuan dan selalu terpecah-pecah. Berdasarkan interpretasi mereka atas 1Pet 2:9, mereka mengajarkan bahwa setiap umat bisa menjadi imam sendiri-sendiri (padahal, sebagaimana tertulis di Perjanjian Lama, meski semua rakyat Israel diangkat sebagai bangsa imamat [Kel 19:6], namun tetap saja ada imamat khusus bagi Israel [Kel 19:21-22]. Inilah juga yang diyakini Gereja Katolik, bahwa ada imamat umum dan imamat khusus). Sekalipun ada posisi pendeta namun setiap umat Protestan bisa tidak mematuhi pendeta tersebut dan pindah-pindah gereja atau bahkan mendirikan gereja sendiri dan menjadi pendeta. Si pendeta pun tidak kuasa menghentikan pembelotan dan perpecahan ini karena dia sendiri dulunya menjadi pendeta karena juga membelot dari pendeta lain. Tentu saja ini semua tidak sesuai dengan kesatuan Gereja yang diperintahkan Alkitab (Yoh 17:21; 1Kor 3:3-9; Ef 4:4) serta yang diimani dan dipraktekkan Gereja Katolik.

Nah, setelah mempelajari bahwa Alkitab Indonesia merupakan terjemahan Protestan yang mengandung bias Protestan, apakah kita harus membuang Alkitab kita? Tidak perlu. Ini karena agama Kristen sejati, yaitu agama Katolik, bukanlah “agama buku” [bdk. Katekismus Gereja Katolik 108]. Harus diingat bahwa di jaman awal kerasulan Kitab Perjanjian Baru belum ditulis lengkap sampai puluhan tahun, tapi iman berkembang subur. Ini tidak lain karena masih ada Tradisi Lisan dan bimbingan dari para gembala Gereja yang memang disediakan oleh Tuhan bagi kita (Ef 4:11-16). Oleh karena itu setelah kita tahu bahwa terjemahan Alkitab Indonesia agak bermasalah, marilah kita lebih kritis dan tidak segan untuk bertanya kepada gembala kita, para romo, bila kita menghadapi kesulitan dalam memahami Alkitab.

Sebagai penutup, kabarnya Gereja Katolik sedang membuat terjemahan Alkitab baru. Semoga karya ini segera selesai dan semoga di Alkitab baru nanti kita bisa membaca “Salam, hai penuh rahmat” bukannya “salam, hai engkau yang dikaruniai” di Lk 1:28.

Kenapa Kata "GEREJA" Tidak Ada di Alkitab Indonesia?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...