Jumat, 25 September 2015

Ponpes Al Qodir Undang Non-Muslim dalam Kegiatan Kurban di Yogyakarta

Ponpes Al Qodir Undang Non-Muslim dalam Kegiatan Kurban di Yogyakarta
Suster Dominika Winanda turut serta dalam penyembelihan hewan kurban.

Yogyakarta – Ibadah penyembelihan hewan kurban di Yogyakarta ini tidak hanya melibatkan umat Islam. Sejumlah umat agama lain juga turut berperan, sebagai wujud upaya mempererat persaudaraan.

Bagi Suster Dominika Winanda dari Kongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth, turut terlibat dalam kegiatan penyembelihan hewan kurban merupakan pengalaman pertama kali dalam hidupnya. Meski bukan penganut agama Islam, dia terlihat tidak canggung berbaur dengan ibu-ibu muslimah di Cangkringan, Yogyakarta.  Suster Dominika duduk bersimpuh beralas tikar sambil memotong-motong daging kambing yang baru saja disembelih.

Dia bahkan berharap, tahun depan masih punya kesempatan untuk terlibat langsung dalam prosesi penyembelihan hewan kurban umat Muslim. “Patut saya syukuri umat Kristiani boleh turut terlibat. Hadir bersama mereka merupakan hal yang sangat baik dan saya berharap ini tidak hanya berlangsung tahun ini.”

Hari Selasa siang, Pondok Pesantren Al Qodir di Cangkringan, Yogyakarta menyembelih 200 ekor kambing. Hewan kurban itu merupakan sumbangan masyarakat Muslim Singapura. Seluruh daging hewan kurban akan dibagikan untuk korban bencana letusan Merapi, yang tinggal di hunian sementara tak jauh dari lokasi pondok pesantren.

Kegiatan yang melibatkan umat agama lain, baik itu Kristiani, Hindu maupun Budha untuk berpartisipasi dalam acara tersebut, menurut pengasuh Pondok Pesantren Al Qodir, KH Masrur Ahmad MZ, merupakan upaya menjalin kebersamaan antar umat beragama. “Melibatkan lintas agama adalah (perwujudan) bentuk kebersamaan.  Salah satu tujuan dari kurban adalah bagaimana kita jadi bersaudara antara yang mampu berkurban dengan yang tidak mampu berkurban,” ujar Kyai Masrur.

KH Masrur Ahmad MZ mengatakan, salah satu tujuan penyembelihan hewan kurban adalah membagikan daging dari mereka yang berkurban kepada yang tidak. Dalam kerangka persaudaraan antar umat beragama sebagai sesama manusia, daging hewan kurban juga diberikan kepada mereka yang beragama selain Islam.

Pastor Paroki Gereja Babadan Yogyakarta, Romo Robertus Tri Widodo Pr, menyambut baik kebersamaan antar umat beragama dalam prosesi penyembelihan hewan kurban kali ini. Bagi umat Kristiani, keikutsertaan semacam ini adalah bentuk pelayanan kemanusiaan yang tidak mengenal perbedaan suku maupun agama.

Romo Robertus berharap persaudaraan antar umat beragama akan menjadi semakin erat. Dengan demikian kerja-kerja pelayanan kemanusiaan bisa terus dilakukan, khususnya terhadap korban letusan Gunung Merapi. “Membangun persaudaraan itu indah. Kalau begini kami tidak lagi ingat macam-macam  perbedaan daerah asal, suku, maupun agama”, demikian kata Romo Robertus. ”Ketika terbangun persaudaraan, dengan sendirinya sangat mudah ketika kita mau melayani kemanusiaan”, tambahnya.

Meskipun melibatkan umat beragama lain, proses penyembelihan hewan kurban tetap dilakukan sesuai aturan Islam. Para santri pondok pesantren menyembelih hewan dan mengulitinya. Sedangkan proses lanjutannya, seperti memotong daging dan membungkusnya ke dalam plastik sebelum dibagikan, dilakukan baik oleh umat Islam, Kristen maupun yang beragama lain.

Pondok Pesantren Al Qodir di Cangkringan, Yogyakarta merupakan salah satu pondok pesantren yang menjunjung tinggi toleransi antar agama. Sebelumnya, pondok pesantren ini pernah mengirimkan Karangan Bunga Papan yang mengucapkan selamat atas diresmikannya Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Cangkringan di Sleman, Yogyakarta. Berikut tulisan karangan bunga tersebut:

MAHARGYO
Peresmian Gereja Katolik
St. FRANSISKUS XAVERIUS CANGKRINGAN
PONDOK PESANTREN AL-QODIR
TANJUNG WUKIRSARI CANGKRINGAN SLEMAN

Ponpes Al Qodir Undang Non-Muslim dalam Kegiatan Kurban di Yogyakarta

Tidak hanya itu, para santri dari Ponpes Al Qodir juga turut hadir dalam peresmian Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Cangkringan yang diresmikan pada tanggal 28 November 2013. Kelompok Hadroh beranggotakan sektiar 30 santri dari Pesantren Al-Khodir tampil hampir enam puluh menit memeriahkan acara peresmian gereja. Lalu acara tersebut ditutup dengan doa lintas agama.

Ponpes Al Qodir Undang Non-Muslim dalam Kegiatan Kurban di Yogyakarta

5 komentar:

  1. Astaugfirllah hal 'adzim. Klo saya lihat photo ibu adalah muslimah segeralah taubatan nasuha, krn ibu dan suami telah menduakan/ menyekutukan Allah

    BalasHapus
  2. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga ia telah mengaruniakan anaknya yg tunggal supaya setiap orang yg percaya kepadanya tdk binasa melainkan beroleh hidup yg kekal. (yohanes 3 : 16).

    Siapa yg percaya & di baptis akan di selamatkan tetapi yg tdk percaya akan di hukum (markus 16 : 16)

    BalasHapus
  3. Semoga menjadi bahan instrupeksi bagi kita...hanya sebagian kelompok yang tidak suka kedamaian. Semoga kerukunan beragama semakin baik dan tidak ada prasangka Kristenisasi atau Islamisasi. karena hanya Tuhanlah harapanku....Ia yang memenuhi segala kebutuhanku, Trima kasih Tuhan ...Amin.... Edi, Akupuntur Panggilan Bandung- Cimahi. Hub. 0822 4009 5673 ; 0838 2067 4030. Melayani mulai th. 1991 , Semuanya karena kemurahan Tuhan. Berkah Dalem Gusti

    BalasHapus
  4. kalian telah salah paham, islam yang diterima di sisi Allah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lu kali yg omg... Go to hell sono nama lu nerakakan heheh

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...