Selasa, 29 Desember 2015

Inilah Dasar Kitab Suci Gereja Katolik Menetapkan 25 Desember Sebagai Hari Raya Natal

Inilah Dasar Kitab Suci Gereja Katolik Menetapkan 25 Desember Sebagai Hari Raya Natal

Umat Katolik Stasi Santo Fransiskus Xaverius Maumbi Paroki Santa Ursula Watutumou tampak terkesima mendengarkan renungan dari pastor Yonas Atjas dalam misa Vigili Natal, Kamis (24/12).

Mereka mendapatkan pengetahuan tentang dasar kitab suci hingga Gereja Katolik menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Hari Raya Natal yang kemudian sampai sekarang dipakai di seluruh dunia.

Menurutnya, Natal itu berasal dari kata Nasire atau Natus yang artinya kelahiran. Natal yang dimaksud ialah kelahiran Yesus Kristus.

"Bagaimana tanggal itu dihitung. Dalam tradisi Yahudi tanggal 24 September (nama bulan berbeda untuk Yahudi) merupakan hari silih pemulihan bangsa dan dalam tafsiran untuk Injil Lukas di saat itulah Zakharia membakar ukupan," katanya.

Zakharia, suami Elisabet, kata Pastor Yonas mendapatkan giliran pembakaran ukupan pada hari silih itu menurut Lukas 1:8 dan seterusnya. Waktu membakar ukupan, malaikat menjanjikannya agar memberikan seorang anak.

"Ketika Maria menerima kabar gembira menurut Lukas 1:35 dan seterusnya, malaikat mengatakan ini bulan keenam kehamilan bagi Elisabet yang disebut mandul itu. Jadi Maria mulai mengandung sejak Maret dan sembilan bulan sesudahnya Maria melahirkan pada tanggal 24 Desember malam. Itulah sebabnya 25 Desember (perhitungan hari Yahudi dimulai pukul enam sore sampai enam sore hari berikutnya) dirayakan sebagai hari raya Natal," katanya.

Natal dibutuhkan umat, kata Pastor Yonas, karena umat tidak bisa hidup di luar Kristus. Itu terjadi karena pada bacaan pertama dikatakan Kristus itu Raja Damai, dan Penasehat Ajaib.

"Ia ditentukan Allah menjadi raja surgawi. Ia mengangkat yang insani menjadi surgawi jika bersama dengannya," katanya.

Dikatakannya, karena itu Yesus harus diwartakan kepada siapa saja. Semua harus diwartakan dalam kejujuran, keterbukaan, dan maaf.

"Mari kita mengarahkan diri ke hidup yang kekal. Mari kita memupuk persaudaraan sejati dan membangun sikap solidaritas," ujarnya.

Ia juga membandingkan perayaan Natal di Indonesia dan Brunei. Menurutnya di Brunei ada pelarangan perayaan Natal.

"Mereka didenda Rp 234-237 juta jika merayakan Natal. Indonesia tidak seperti itu karena mengedepankan kebersamaan," katanya.

Perayaan Vigili Natal di stasi itu sendiri berlangsung hikmat. Dalam suasana itu, umat mengikuti perarakan kanak-kanak Yesus dan pembacaan maklumat kelahiran Yesus Kristus.

Semua lonceng pun dibunyikan saat lagu gloria. Suasana gembira tampak terasa dalam perayaan itu.

Dasar Kitab Suci 
Pada hari Raya Yom Kipur, tradisi Yahudi yang jatuh pada tanggal 24 September, malaikat Gabriel mendatangi Zakharia yang saat itu sedang bertugas membakar ukupan, Elisabet mengandung.

Lukas 1:8 Pada suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan.
Lukas 1:9 Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ.
Lukas 1:10 Sementara itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan.
Lukas 1:11 Maka tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan.
Lukas 1:12 Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut.
Lukas 1:13 Tetapi malaikat itu berkata kepadanya: "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.

Bulan keenam kandungan Elisabet, malaikat Gabriel mendatangi Maria. Maria mengandung dari Roh Kudus. Maria mengandung pada bulan Maret atau 6 bulan setelah Elisabet mengandung.

Lukas 1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
Lukas 1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
Lukas 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
Lukas 1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
Lukas 1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Lukas 1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Lukas 1:36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

Bunda Maria mengandung selama sembilan bulan (usia lazim bagi seorang perempuan untuk mengandung dan kemudian melahirkan), terhitung sejak bulan Maret hingga bulan Desember.

5 komentar:

  1. SUBUSSALAM, ACEH, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Subulussalam, Provinsi Aceh, mengimbau umat Islam agar tidak merayakan Tahun Baru 2016, karena hal tersebut bukan budaya Islam sehingga tidak perlu ditiru.

    "Itu bukan budaya Islam jadi tidak perlu dirayakan karena tidak ada manfaatnya bagi kita. Tahun Baru Islam itu adalah 1 Muharam," kata Ketua MPU Tgk H Qaharuddin Kombih kepadaa wartawan di Subulussalam, Rabu (30/12).

    Pernyataan itu, disampaikan MPU Kota Subulussalam menjelang berakhirnya tahun 2015 dan memasuki Tahun Baru 2016 pada Jumat (1/1) mendatang. Sudah menjadi kebiasaan sebagian warga di sana ada yang merayakannya, meski mereka beragama Islam, umumnya mereka muda mudi dan anak remaja.

    Untuk mengantisipasi hal tersebut, supaya tidak terjadi lagi, MPU bergerak cepat dengan mengimbau seluruh masyarakat di Bumi Sadakata itu, supaya tidak mengikuti budaya barat yang selalu merayakan setiap pergantian tahun.

    "Bagi umat Islam itu tidak penting, saya mengimbau kepada warga agar tidak ada yang merayakan tahun baru Masehi ini dengan membakar petasan saat menjelang pergantian tahun, itu mubazir," kata Qaharuddin.

    BalasHapus
  2. Arab Saudi Berlakukan Hukuman 10 Tahun Penjara Jika Merayakan Natal
    WOW...... WOW, sungguh rasis & diskriminasi thd minoritas Non Muslim.


    Dan kini, situs Screwlife memuat laporan pada Minggu (20/12) lalu, bahwa pengadilan syari’ah, kerajaan Arab saudi tersebut memperkenalkan sebuah hukum baru yaitu ancaman hukuman penjara selama 10 tahun bagi siapapun yang merayakan hari Natal di wilayah kerajaannya. Menyanyikan lagu-lagu natal atau apapun yang berhubungan dengan natal akan mendapat 1000 kali cambukan. Bahkan hanya dengan mengucapkan selamat natal juga bisa terkena hukuman

    BalasHapus
  3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali menegaskan agar umat muslim agar tidak memberikan ucapan Selamat Hari Raya Natal kepada umat kristiani apalagi mengikuti natalan bersama, karena hukumnya haram dan berdosa bagi umat Islam mengikuti perayaan Natalan bersama umat Kristen. Sebab dalam acara Natalan bersama itu mengandung unsur ibadah Kristiani.

    “Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, karena mengandung unsur ibadah, sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam. Bahkan ucapan Selamat Hari Natal, jangan sampai diucapkan oleh umat Islam. Adapun yang diperbolehkan ucapan Selamat Tahun Baru,” -- KH.Ma’ruf Amin (MUI)

    ~ Ternyata Islam tidak dapat hidup harmoni dengan Non Muslim
    ~ Islam agama teloransi ternyata Bull Shittt..
    ~ Islam agama damai ternyata Bull Shittt..
    ~ Islam agama yang terlalu sensitive, extreme..
    ~ Islam agama yang suka merendahkan & menghina agama lain
    ~ Islam agama Rahmatan Lil Alamin Bull Shit.

    BalasHapus
  4. Seingat saya(sekitar tahun 1965), ketika berumur belasan tahun, perayaan Natal di tempat saya (salah satu kampung di Yogyakarta) berjalan biasa saja karena tetangga sebelah rumah yang beragama Nasrani tidak merayakannya di rumah dan hanya memajang pohon cemara kecil di ruang tamunya. Tidak terlihat kesibukan pada sebelum, hari itu dan sesudahnya di rumahnya.(Entah kalau sudah melaksanakan kebaktian di gereja lebih dulu). Berbeda dengan saat Idul Fitri, tiga hari sebelum Idul Fitri orang tua di rumah sudah bersiap-siap menyambutnya biasanya dengan membuat ketupat dan lauk pauknya. Ternyata tetangga yang beragama Nasrani juga ikut menyambutnya yaitu dengan membuat kue kering. Setelah sholat Ied malam harinya kami anak-anak pada bareng-bareng ke rumah para tetangga untuk halal-bihalal juga ke tetangga yang Nasrani dan para orang tua tanpa kecuali. Biasanya disetiap orang tua yang kami datangi selalu dijamu minum dan kue dan juga diberi...uang. Duh senangnya. Hal itu berulang setiap tahun. Tidak terlihat ada maksud untuk mengajak masuk Islam karena ketika berkunjung itu tidak harus melakukan ritual tertentu lebih dahulu ya seperti bertamu biasa.
    Berbeda dengan hari Natal, dalam merayakannya umat Nasrani pasti mengadakan kebaktian khusus, di hari itu bisa ada 3-4 kali kebaktian.
    Bolehkan merayakan Natal tanpa disertai kebaktian?
    Toleransi tidak harus diukur hanya dengan mengucapkan selamat hari natal, namun jika selama hidup di dunia orang memberi manfaat kepada orang lain apapun agama maupun kebangsaannya apakah orang yang memperoleh manfaat itu akan mengabaikannya? Bukankah itu toleransi yang sebenarnya?

    BalasHapus
  5. 'mereka yang masih ingin hidup dalam kegelapan tentu tidak akan mau menerima ketika ada orang yang membawa lilin dan menyalakannya".

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...