Jumat, 25 Maret 2016

Rela Berperahu untuk Ikut Bangun Masjid dan Gereja

Rela Berperahu untuk Ikut Bangun Masjid dan Gereja
GOTONG ROYONG: Gereja St Fransiskus Xaverius Kota Tual dalam proses pembangunan. Masyarakat lintas agama bergotong royong membangun gereja itu.

Mereka datang dari berbagai kampung. Tua-muda, lelaki-perempuan, dewasa maupun anak-anak. Islam, Protestan, maupun Katolik. Semuanya meriung di satu titik: lokasi pembangunan Masjid Agung Tual.

Minggu lalu (28/2) itu ribuan warga berada di lokasi tersebut untuk menghadiri pengecoran dek lantai dua masjid yang dinamai Al Hurryah 45 itu. ”Itu contoh kearifan lokal di sini yang kami sebut maren,” kata Mashury Kabalmay, tokoh pemuda Tual.

Secara harfiah, terang Mashury, maren berarti gotong royong. ”Tapi, dalam penerapannya, bisa sangat luas,” tutur dia.

Yang pasti, maren menghapus sekat-sekat agama di Kota Tual dalam hal kemasyarakatan. Sebab, tradisi itu sudah melekat di antara warga jauh sebelum agama-agama samawi masuk mulai abad ke-16.”Desa Taar itu sampai mengerahkan 500 warganya untuk turun ke sini. Padahal, mayoritas warganya Protestan,” lanjut dia.

Warga pemeluk Protestan atau Katolik datang setelah pukul 10.00 WIT. Atau sesudah mereka beribadah di gereja masing-masing.

Penduduk dari pulau-pulau kecil di sebelah barat kota hasil pemekaran pada 2010 itu juga tak mau kalah. Di antaranya, Pulau Duroa dan Ubur. Dengan perahu motor, mereka menyeberang ke pesisir Desa Ngadi. Di situ, sudah ada truk yang disiapkan pemkot untuk mengangkut mereka ke lokasi masjid yang berjarak sekitar 8 kilometer.

Begitulah, di tengah Indonesia yang belakangan kian terancam gejolak sektarian, kepulauan nun di tenggara Maluku itu seolah menjadi cermin kebinekaan yang patut diteladani. Dua pekan sebelum acara di lokasi Masjid Agung Tual itu, penyambutan kedatangan Pastor Johanes Michael Wemay yang baru ditahbiskan menjadi imam Katolik di Desa Ngadi, Tual, juga menjadi viral di dunia maya.

Seluruh anggota keluarga besar Pastor Johanes dengan hangat turut menyambut. Sembari memunajatkan doa, sesuai dengan kepercayaan masing-masing, agar sosok kebanggaan mereka itu bisa menjalankan tugas dengan baik.

Di jantung Kota Tual, lokasi masjid tersebut, kebersamaan pada Minggu pagi tiga pekan lalu itu juga mewujud lewat yelim. Itu sebutan untuk bekal yang dibawa para perempuan buat keperluan logistik warga yang membangun masjid.

Pemerintah Kota Tual kemudian melengkapi sumbangan logistik tersebut. Dua gerobak bakso milik salah seorang warga yang tinggal di dekat masjid diborong untuk keperluan konsumsi.

Para penduduk laki-laki, apa pun agamanya, beramai-ramai membantu mengecor masjid. Tentu tidak semua kegiatan pembangunan masjid dilakukan beramai-ramai.

”Tapi, semangat kebersamaan itu yang kami jaga benar,” kata Mashury.

Pekerjaan teknis tetap dilakukan oleh tukang yang didatangkan dari Demak, Jawa Tengah. Seluruh bahan bangunan didatangkan dari Pulau Jawa. Mulai pasir, batu kali, semen, hingga batu bata.

Kamis (10/3) pekan lalu bahan-bahan bangunan itu baru saja didatangkan sebanyak lima kontainer. ”Yang dari Tual hanya kayu,” ujar Mashury sambil menunjuk deretan kayu ringan untuk tempat pijakan para pekerja.

Masjid berukuran 40x45 meter itu dirancang memiliki tiga lantai. Biaya pembangunannya mencapai Rp 26 miliar, yang sebagian besar ditanggung Pemerintah Kota Tual.

Beberapa kilometer saja dari masjid tersebut, sedang dibangun pula Gereja Katolik St Fransiskus Xaverius. Seperti halnya dengan masjid agung, gereja berukuran 42x32 meter itu juga dibangun dengan melibatkan masyarakat Kota Tual secara umum. Pengawas pembangunan gereja Ongen Ngutra menjelaskan, masyarakat dilibatkan saat pekerjaan pengecoran. Sama dengan masjid agung.

Sejumlah prajurit TNI juga ikut membantu pembangunan. ”Untuk bagian inti, yang mengerjakan tetap tukang profesional,” tuturnya.

Selain berasal dari Pemkot Tual, pendanaan pembangunan gereja itu menggunakan sistem swadaya masyarakat. Keseluruhan pembangunannya menghabiskan biaya sekitar Rp 6 miliar.

Menurut Ongen, mengumpulkan masyarakat yang akan membantu membangun gereja cukup mudah. ”Kami menemui tetua adat dan memberitahukan bahwa ada pembangunan gereja. Pengecoran tanggal sekian,” lanjut pria 46 tahun itu. 

Dari situ, para tetua sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka akan menyebarkan informasi kepada warga di daerah masing-masing. Tanpa diminta, masyarakat secara sukarela datang demi penghormatan terhadap tradisi maren.

Hal senada disampaikan Mashury. Untuk mendatangkan masyarakat, tidak perlu meminta. Cukup mengumumkan jadwal pengecoran bangunan masjid ke kampung-kampung.

Masyarakat dengan kesadaran sendiri datang sesuai jadwal. ”Jadi, ada rasa memiliki terhadap tempat-tempat ibadah itu. Meski, tentu yang menggunakan adalah para penganut agama masing-masing,” tutur pria 50 tahun tersebut.

Tradisi yang sama digunakan dalam pembangunan tempat ibadah di kampung-kampung. Contohnya di Desa Ngadi. Di desa itu, terdapat masjid dan gereja yang hanya terpaut sepelemparan batu. Lokasinya di perbatasan antara kampung muslim dan Katolik.

”Waktu membangun masjid, warga kampung Katolik terlibat. Begitu juga saat membangun gereja, warga kampung muslim terlibat,” tutur Yusuf Rengur, sesepuh di Desa Ngadi.

Solidaritas antar pemeluk agama di Tual itu juga lantas menular ke jalinan kerukunan antaretnis. Tidak sedikit pendatang dari berbagai daerah, termasuk Pulau Jawa, yang mengadu nasib di wilayah tersebut. Juga, mereka selalu disambut dengan tangan terbuka oleh warga setempat.

Tidak heran, Kepulauan Kei juga menjadi kawasan yang paling cepat pulih setelah kerusuhan sektarian pada 1999 di Maluku. ”Hanya butuh waktu dua minggu untuk menyatukan kembali masyarakat,” tutur Yusuf.

Caranya, para pemuka agama bertemu secara intensif untuk membahas rekonsiliasi. Di tataran bawah, tumbuh kesadaran bahwa mereka semua bersaudara. Khususnya bersaudara secara harfiah, yakni terikat pertalian darah. ”Masak mau bunuh paman sendiri?” tambah Yusuf, lalu tersenyum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...