Jumat, 29 April 2016

Buddha Myanmar Paksa Bangun Pagoda di Lokasi Gereja dan Masjid

Buddha Myanmar Paksa Bangun Pagoda di Lokasi Gereja dan Masjid

Para pendukung seorang biksu di Myanmar membangun paksa pagoda di dalam kompleks gereja dan di dekat masjid. Tindakan ini menyebabkan ketegangan dan dikhawatirkan memicu kembali bentrokan antar etnis di Myanmar.

Diberitakan AFP, Rabu (27/8), peristiwa ini terjadi pada bulan lalu di Hlaingbwe, negara bagian Karen. Menurut pemimpin umat Kristen Anglikan di Karen, Saw Stylo, para pendukung biksu Myaing Kyee Ngu tiba-tiba masuk ke kompleks gereja dan membangun patung serta menancapkan bendera Buddha.

Kemudian mereka datang lagi beberapa hari kemudian dan membangun pagoda. Para biksu ini, lanjut Stylo, juga mendirikan pagoda dekat sebuah masjid di desa mayoritas Muslim di Hlaingbwe.

Atas peristiwa ini, Stylo mengimbau warga untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. "Itulah sebabnya saya meminta para pemuda, baik Buddha, Muslim atau Kristen, agar tidak melakukan tindakan yang salah," kata Stylo.

Myamar yang berpuluh tahun berada di kekuasaan junta militer telah diwarnai dengan ketegangan antar agama, antara warga mayoritas Buddha dengan kelompok minoritas, seperti umat Kristen dan Islam.

Bentrokan terjadi pada tahun 2012 antara kelompok Buddha Rakhine dengan Muslim Rohingya, menyebabkan beberapa orang tewas. Puluhan ribu warga Rohingya kini masih hidup di pengungsian.

Sejak bentrokan tersebut, ketegangan masih terus terjadi. Kelompok ekstremis Buddha pimpinan biksu Wirathu menebar teror dengan menyampaikan slogan-slogan anti Islam.

Pemerintahan partai Aung San Suu Kyi saat ini dianggap tidak akan mampu mengatasi konflik agama di Myanmar. Suu Kyi sebagai peraih Nobel Perdamaian juga bersikap antipati terhadap umat Islam, salah satunya dengan penolakan adanya anggota parlemen Muslim.

Tidak diketahui dengan jelas alasan pendirian pagoda dekat gereja dan masjid di Karen. Namun pemerintah Myanmar menganggap hal ini sangat sensitif.

Anggota parlemen setempat, Saw Shit Khin, kepada AFP mengatakan bahwa otoritas Buddha Myanmar telah mengirim surat kepada para biksu di Karen agar menghentikan pembangunan pagoda yang kini menjadi tempat ibadah tersebut.

Komunitas Kristen yang merupakan minoritas di Myanmar telah bertahun-tahun mengeluhkan gangguan dari komunitas Buddha, terutama dengan dukungan dari militer.

Kristen dan Muslim memiliki porsi empat persen dari populasi Myanmar. Sensus terbaru tahun 2014, yang pertama kali dilakukan setelah tiga dekade, belum diumumkan hasilnya karena khawatir akan menimbulkan permusuhan.

"Saya ingin melihat bagaimana pemerintah baru membawa Myanmar menuju masa depan yang lebih cerah. Itulah alasannya mengapa saya meminta semua orang untuk tenang dalam kasus ini," ujar Stylo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...