Jumat, 15 April 2016

Kristen Irak Bentuk Milisi 'Brigade Babylon' untuk Melawan ISIS

Sekelompok orang-orang Kristen di Irak membentuk kelompok milisi melawan ISIS. Mereka menamakan diri kelompok Brigade Babylon.
Sekelompok orang-orang Kristen di Irak membentuk kelompok milisi melawan ISIS. Mereka menamakan diri kelompok Brigade Babylon.

Ada sebuah foto yang mencolok di dinding. Foto itu menunjukkan jalanan yang tidak diaspal, hangus oleh sinar matahari. Jalanan tersebut mengarah ke sebuah desa kecil dengan sebuah pegunungan berada di baliknya. Di sepanjang sisi jalan terpancang salib-salib dengan dengan tinggi 100 meter bahkan lebih tinggi dari tiang-tiang lampu.

"Desa orang-orang Kristen," gumam seorang penjaga bergumam. "Dekat Mosul."

Kami berada di markas kelompok milisi Kristen Irak di Baghdad. Para anggotanya menamai kelompok tersebut Brigade Babylon. Mereka adalah sebuah kelompok milisi, meskipun mereka lebih memilih untuk menyebutnya unit mobilisasi rakyat.

Apapun sebutannya, sekitar 30 kelompok bermunculan dalam beberapa tahun terakhir dan di antara mereka mereka memiliki 100.000 relawan bersenjata. Mereka dibentuk untuk menghadang gerakan ISIS ketika kelompok itu menyapu wilayah utara dan barat Irak pada tahun 2014, dan bahkan mengancam Baghdad.

Saat kekuatan tentara nasional Irak runtuh, kelompok milisi ini berdiri kokoh. Para pengikut Brigade Babylon berasal dari berbagai kalangan, ada yang Syiah, Sunni, dan Kristen.

Bendera Brigade Babylon
Bendera Brigade Babylon
Saat saya sedang berada di markas kelompok milisi tersebut, saya melihat foto-foto lainnya yang tergantung di dinding. Semuanya menggambarkan sosok pemimpin Brigade Babylon dan orang yang saya temui yaitu, Rayan Al-Kaldani. Ada Kildani dengan seragam militer, Kildani dengan bayangannya, Kildani yang tengah mengadakan pertemuan beberapa orang penting, Kildani terlihat merenung, Kildani terlihat tekun.

Lalu pria yang dalam foto-foto itu datang dengan rombongan kecil, sebagian besar dari mereka tampil dengan setelan seragam. Ada pula seorang pemuda berjenggot tipis dan berpakaian militer.

Saya belum yakin seserius apa menghadapi Kildani. Kelompok milisi ini membujuk pemerintah pusat untuk menanggung seluruh biaya mereka dan akhirnya kelompok ini menerima biaya sekitar US$1,4 miliar (atau sekitar Rp13 triliun) dalam setahun.

Untuk seorang pemimpin milisi seperti Kildani, dia harus menggaji satu anggota milisi sebesar US$600 (atau sekitar Rp7 juta) per bulan. Gaji yang besar. Ada banyak cerita tentang orang-orang yang menyewa sebuah rumah di Baghdad, mengumpulkan beberapa orang, mengumumkan mereka telah membentuk milisi dan mengajukan dana kepada pemerintah.

"Berapa banyak pria yang harus Anda rekrut?" tanya saya.

“Itu rahasia militer,” katanya.

Rayan Al-Kildani, pimpinan Brigade Babylon.
Rayan Al-Kildani, pimpinan Brigade Babylon.

Benarkah? Saya melihat pria lain dalam kelompok milisi tersebut pada hari sebelumnya dan dia cukup terbuka soal jumlah anggota yang ada di kelompok itu.

Saya sedikit terkejut ketika salah seorang anggota milisi meminta maaf karena bahasa Inggris-nya seharusnya lebih baik, mengingat dirinya berasal dari Wembley di London Utara.

"Wembley, sungguh? Lapangan bola itu?" kata saya.

"Ya, istri dan anak-anak saya masih berada di sana."

Dia tampak senang saat berbicara tentang jumlah anggota kelompok. Jadi saya kembali menekan Kildani untuk memberitahu jumlah anggota yang direkrut.

"Ratusan orang atau ribuan?"

“Banyak.”

“Persenjataan?”

"Roket-roket," katanya. "Ukuran sedang. Ini dipakai untuk berperang. Anda tidak dapat berperang hanya dengan senapan."

"Jadi, ini sebuah kelompok milisi Kristen," komentar saya.

"Apa yang kelompok ISIS lakukan terhadap orang-orang Kristen itu mengerikan," katanya. "Mereka adalah setan."

"Apakah milisi yang Anda pimpin sudah bertempur?"

"Kami berjuang berdampingan dengan milisi-milisi muslim," katanya. Dia pun mengaku: "Kami adalah kekuatan Kristen pertama dalam sejarah Irak"

Lalu dia berujar: "Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa jika pipi Anda ditampar sebelah kiri, maka berikan pipi kanan Anda. Tetapi sekarang kami mempunyai kekuatan pertahanan yang benar-benar baik.

Tak ada seorang pun yang bisa melakukan sesuatu yang buruk kepada orang-orang Kristen. Beberapa rumah milik orang Kristen diambil alih. Secara pribadi, saya berkunjung ke rumah-rumah mereka untuk mengatakan kepada orang-orang baru yang tinggal di sana untuk keluar. Penderitaan orang-orang telah berakhir. "

Salah satu dari empat ponselnya berdering. Dia melirik nomor yang masuk, dia bersungut-sungut dan memberikan ponsel itu kepada seseorang untuk menjawabnya.

Seorang anggota milisi Kristen tengah berpatroli di jalan-jalan yang ditinggalkan di wilayah Telskuf, November 2015.
Seorang anggota milisi Kristen tengah berpatroli di jalan-jalan yang ditinggalkan di wilayah Telskuf, November 2015.

"Bagaimana dengan perintah: Jangan membunuh?" tanya saya.

"Anda seorang Kristen?" tanya Kildani terlihat ragu-ragu.

"Gereja Inggris," kata saya.

Kildani mengangguk seolah-olah paham dengan penjelasan itu.

"Dia seorang Protestan," kata seseorang dengan nada ketidaksetujuan. "Sektarianisme sudah berjalan jauh di Irak," saya rasa. Tapi tentu saja saya tidak mengatakannya.

Kildani berbalik lagi ke saya: "Kami harus berjuang. Kita harus mempertahankan diri."

Dan kemudian, saya terkejut, saat dia menambahkan: "Yesus sendiri mengatakan kepada kita bahwa jika Anda tidak memiliki pedang, Anda harus pergi keluar dan membelinya."

Saya mengingat kembali hari-hari ketika mempelajari Alkitab di sekolah, tapi saya tidak ingat apakah Yesus memerintahkan orang-orang untuk mempersenjatai diri.

“Apakah Yesus benar-benar mengatakan hal itu?”

"Ada dalam Alkitab," Kildani kembali menegaskan.

"Injil Matius," kata seorang pria. "Injil Lukas," kata yang lain. "Matius dan Lukas," kata mereka. Saya memandang ragu.

Kildani melirik ke salah satu asistennya yang tengah bermain game di telepon genggamnya.

"Temukan!" perintahnya.

Seorang pria muda berjalan ke arah saya dengan telepon genggamnya. Dia lalu menunjukkan ayat dalam tulisan Arab yang muncul di layar telepon genggam.

Ini adalah Injil Lukas pasal 22, ayat 36: Kata-Nya kepada mereka, "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang."

Para ahli teologi telah memperdebatkan ayat itu selama berabad-abad. Apakah Yesus benar-benar menyuruh umatnya membeli sebilah pedang? Atau itu hanya kiasan? Kildani tidak meragukannya lagi. Dia mengatakan dirinya dan anak buahnya tengah keluar untuk berpatroli. Dan mereka bersenjata.

3 komentar:

  1. Duh, tolong jangan atas namakan AGAMA dong

    BalasHapus
  2. Lukas 22:35-38 (TB) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?"
    Jawab mereka: "Suatu pun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.
    Sebab Aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus digenapi pada-Ku: Ia akan terhitung di antara pemberontak-pemberontak. Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi." Kata mereka: "Tuhan, ini dua pedang." Jawab-Nya: "Sudah cukup."

    Bagian alkitab ini digunakan oleh kelompok milisi kristen di Irak dlm melawan ISIS, mereka mengatakan bahwa Yesus menyuruh membeli pedang, dan diartikan sebagai perintah untuk melawan.

    Banyak teolog menyatakan bahwa pedang yg dimaksud adalah pedang rohani yang dipakai untuk peperangan rohani selanjutnya yang akan dihadapi oleh para murid. Namun sy kurang puas dengan penjelasan ini, karena jika pedang disetarakan dengan pedang Firman, maka apa konotasi dari pundi2? Mengapa kedua benda ini disebut secara berdampingan?
    Interpretasi Wycliffe mengenai bagian ini yg sy rasa lebih dapat menjelaskan kisah ini. Di ayat 37 Yesus mengutip nubuat yang harus Ia genapi mengenai dirinya yang terhitung di antara pemberontak. Ungkapan Yesus ini mengikuti perintahNya untuk membeli pedang, maka seperti penjelasan Wycliffe, bagian ini lebih cenderung memiliki makna untuk situasi saat itu dan tidak bersifat transendental. Yesus ingin memastikan adanya pedang di antara kelompoknya sebagai penggenapan cap yang diberikan kepadanya sebagai pemberontak, sebagai makna simbolis dosa pemberontakan manusia yang akan ditanggungnya. Karena... mana mungkin 2 pedang saja sdh cukup untuk melawan sepasukan tentara???

    Mari belajar membaca Firman dengan terang Roh Kudus, minta hikmat agar kita bisa memahaminya secara utuh dan tidak terpenggal2 dan terlepas dari konteks. Tuhan memberkati kita sekalian.

    BalasHapus
  3. semoga mereka tidak tertipu dgn siasat islam atau terintimidasi oleh siasat isis/alqaeda

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...