Jumat, 27 Mei 2016

Ibu Muslim Berjilbab ini Senang Anaknya Jadi Pastor

Ibu Muslim Berjilbab ini Senang Anaknya Jadi Pastor
Mama Siti Asiyah bersama ayah angkat Pater Yanto, menumpangkan tangan ke atas kepala Pater Yanto pada pentabisan Imam di Ledalero, Maumere, Sabtu (10/10/2015).

MAUMERE - Mengenakan jilbab berwarna hitam, Siti Asiyah masuk dalam barisan para diakon (calon imam Katolik yang hendak ditahbiskan).

Dia mengapiti lengan putranya, diakon Robertus B Asiyanto, SVD, satu dari 11 calon imam serikat Sabda Allah (SVD) yang ditahbiskan di Ledalero, Maumere, Sabtu (10/10/2015).

Mata ribuan umat tertuju kepada ibu berjilbab itu saat bersama para calon imam memasuki altar gereja. Maklum ini merupakan pemandangan yang tidak biasa. Siti Asiyah, seorang muslimah mendampingi putranya untuk ditahbiskan menjadi imam dalam Gereja Katolik.

Mata Siti Asiyah berkaca-kaca saat memberi restu kepada anaknya, Robertus Asiyanto yang akrab disapa Yanto menjadi seorang imam dengan menumpangkan tangan di atas kepalanya.

Siti Asiyah, asal Cancar, Kabupaten Manggarai itu didampingi ayah angkat Pater Yanto saat memberi penumpangan tangan untuk putranya.

Selanjutnya Yanto bersama 10 rekannya ditahbiskan menjadi pastor oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota, Pr.

Siti Asiyah mengikuti perayaan misa dan prosesi pentahbisan dengan khusuk. Dia duduk tenang pada kursi barisan depan di gereja seminari tinggi terkemuka di Pulau Flores tersebut.

"Senang sekali. Saya sangat senang," ujar Siti Asiyah kepada Pos Kupang seusai misa pentahbisan. Hanya itu kata-kata yang keluar dari bibir Siti Asiyah. Wajahnya sumringah. Senyum terus mengembang di bibirnya.

Aryanti, adik bungsu Pater Yanto juga mengungkapkan rasa bangga karena kakaknya sudah ditahbiskan menjadi imam.

"Saya senang sekali hari ini," ujar Aryanti. Aryanti, bungsu dari tiga bersaudara. Kakak sulung Aryanti dan Yanto adalah perempuan, juga seorang muslim sama seperti ibu mereka Siti Asiyah.

"Saya baru bertemu kakak sulung saya delapan bulan lalu. Selama ini kami di rumah hanya mama, dan kakak pater," ujar Aryanti yang juga penganut Katolik.

Aryanti tidak menyesal kakak lelaki satu-satunya di rumah itu menjadi imam. "Saya tidak menyesal. Malah saya senang sekali," kata Aryanti semangat.

Aryanti berharap, kakaknya menjalankan tugas dengan baik dan setia dalam panggilan.

"Hari ini sungguh luar biasa semoga Tuhan selalu menyertai perjalanannya," kata dia.

Pater Yanto mengungkapkan perasaan hati yang sama. "Hari ini sangat istimewa bagi keluarga saya. Setelah 30 tahun tinggal berpisah, hari ini kami semua bersatu, saya senang sekali," kata Pater Yanto.

Pater Yanto mengungkapkan, ibunya Siti Asiyah sejak lama sudah tak sabar agar dirinya segera ditahbiskan menjadi imam Katolik.

"Tahun lalu saya memilih istirahat dulu. Tetapi mama protes. Mama mungkin khawatir saya tidak ditahbiskan. Hari ini, saya senang sekali," ujar Pater Yanto di sela menyambut ribuan umat yang menyapa dirinya.

Pater Yanto ditahbiskan bersama dengan 10 rekannya yakni, Eugenius Dwi Ardika Iryanto, SVD, Maximus Hali Abit, SVD; Kalixtus\Hartono,SVD, Christoforus Abjayandi Sans, SVD Ferdinandus Nuho, Roberto Arif Oula, SVD, Firminus Wiryono, SVD, Benediktus Obon, SVD, Aloysius Rabata Men, SVD dan Amandus Mare, SVD.

Ibu Muslim Berjilbab ini Senang Anaknya Jadi Pastor
Pastor Yanto bersama ibu dan kerabat serta para suster.

Ibunya yang Muslim Merestui Pastor Yanto Masuk Katolik Saat Kelas III SMP

Pater Yanto mengisahkan, dirinya menjadi Katolik sejak kelas III SMP, yakni di SMP Negeri Cancar. Keputusan itu mendapat restu 100 persen dari ibunya yang seorang Muslim.

"Tidak pernah sedikit pun penolakan dari ibu. Ibu sangat mendukung," ujar Pater Yanto dengan senyum.

Pater Yanto menyelesaikan studi teologi tahun 2015 di STFK Ledalero dan S1 filsafat tahun 2010 di STFK Ledalero. Pater Yanto adalah alumni SMAK St. Ignasius Loyola Labuan Bajo tahun 2004, SMPN Cancar, SDK Cancar 1 dan TK Bunda Maria Fatima Cancar.

Pater Yanto mengusung tema tabisan, "Jiwaku Memuliakan Tuhan" (Lukas 1:46). Kidung Maria ini bagi Pater Yanto mengungkapkan pujian dan rasa syukur Bunda Maria atas karya Agung Allah. Magnifikat ini juga menjadi permenungan kisah hidup dan panggilan Pater Yanto. Dia menyadari kebesaran kasih dan kuasa Allah sepanjang ziarah hidupnya.

Imam kelahiran Cancar, 13 Mei 1984 ini, mengungkapkan panggilan menjadi imam bukan kebetulan. Sebab dalam banyak hal dia mengalami dan merasakan jamahan kasih Allah melalui sosok seorang ibu yakni Maria.

"Bukan secara kebetulan saya dilahirkan 13 Mei, yang bertepatan dengan momen penampanakan ketujuh Bunda Maria di Fatima. Saya juga lahir, bertumbuh dan berkembang serta menjadi seorang Katolik 15 tahun lalu di Paroki Santa Maria Fatima Cancar," demikian Pater Yanto dalam refleksi tahbisan yang dipajang pada papan di depan gereja Ledalero. 

"Urusan Iman itu Berbeda, Tapi Sampai Kapanpun Kami tetap Satu Darah"

Paman Pastor Yanto, SVD, Sardama menjelaskan, ia datang dari Sidoarjo, Jawa Timur untuk menemani kakak perempuannya, Siti Aisyah yang mendampingi Yanto yang ditahbiskan menjadi pastor atau imam Katolik.

Baginya, perbedaan iman atau keyakinan bukan menjadi penghalangnya untuk melihat kebahagiaan dalam diri Yanto dan ibunya. Dan, bagi Sardam, peberdaan ia dan Yanto tidak bisa memisahkan mereka sebagai paman dan keponakan.

"Kalau saya tidak dukung pasti saya tidak datang. Urusan iman itu berbeda, tidak masalah. Sampai kapan pun kami tetap satu darah," kata Sardan.

Sardan mengungkapkan kebanggaannya karena ponakannya kini menjadi seorang pemimpin umat. Sardan lebih bangga lagi karena Pater Yanto, benar-benar total dengan pilihannya.

"Saya senang karena tidak tanggung-tanggung. Saya harap total, kalau mau yah maju. Saya senang sekali," ujar Sardan.

Sumber:

1 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...