Jumat, 29 Juli 2016

Sebelum Dibunuh, Pelaku Berteriak 'Allahu Akbar' dan Imam Gereja Prancis Dipaksa Berlutut

Sebelum Dibunuh, Pelaku Berteriak 'Allahu Akbar' dan Imam Gereja Prancis Dipaksa Berlutut

Dua orang pria melakukan aksi pembunuhan keji terhadap seorang imam gereja yang tengah menggelar misa di Gereja Katolik Normandia pada Selasa (26/7).

Menurut keterangan seorang Biarawati yang menyaksikan pembunuhan tersebut, kedua pelaku tiba-tiba saja masuk ke gereja saat misa pagi tengah digelar di Saint-Etienne-du-Rouvray, dekat wilayah Rouen Prancis.

Mereka kemudian mengambil sejumlah orang sebagai sandera, yakni imam gereja, dua biarawati dan dua jemaat. Kedua pria tersebut kemudian meneriakkan takbir "Allahu Akbar" dan memaksa Bapa Jacques Hamel berlutut sebelum membunuhnya dengan cara memotong tenggorokannya.

“Semua orang berteriak meminta untuk mereka berhenti. Namun mereka (pelaku) memaksa berlutut, ia ingin membela diri, dan saat itulah drama dimulai,” kata Danielle, salah seorang biarawati yang menjadi saksi mata. Ia melarikan diri saat pelaku melakukan aksi penggorokkan dan menelepon polisi.

“Mereka tidak melihat saya pergi. Mereka sibuk sibuk dengan pisau mereka dan merekamnya,” sambung biarawati itu.

Setelah membunuh imam gereja, kedua pelaku mencoba membunuh seorang biarawati dengan cara yang sama hingga ia terluka parah dan mengalami kondisi kritis. Aksi keji tersebut direkam oleh para pelaku.

Dua pelaku yang melakukan penyerangan keluar gereja dengan membawa tiga sandera. Para sandera, yakni dua biarawati dan seorang jemaat, kemudian keluar dari gereja diikuti dua penyerang. Seseorang membawa pistol sambil berteriak "Allahu Akbar" sebelum petugas melepaskan tembakan.

Polisi, yang kemudian masuk ke gereja untuk melakukan pembersihan, mendapati pastor Jacques Hamel, 84 tahun, meninggal dunia dengan luka sayatan di tenggorokannya. Polisi juga menemukan seorang biarawati yang menjadi sandera terluka parah, dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


Pada Selasa malam, jaksa Paris, François Molins, mengatakan salah satu penyerang telah diidentifikasi sebagai Adel Kermiche, 19, yang telah mencoba beberapa kali untuk melakukan perjalanan ke Suriah menggunakan paspor anggota keluarga.

Molins menyebut bahwa polisi sempat mencoba bernegosiasi dengan mereka, namun mereka menggunakan sandera sebagai benteng. 

4 komentar:

  1. Turut berduka cita, sad to hear that..

    BalasHapus
  2. Darah orang2 Kafir halal di bunuh sambil berteriak allahu akbar....inilah ideologi jihad = jahat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. belajar lg bos, kaya ga tau media barat aja

      Hapus
  3. Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan, Tuhan nyatakanlah kemuliaanmu kepada mereka yang belum mngenal dan percaya padaMu biarlah saudara-saudara kami ini juga dapat mengenal keselamatan yang datang dari pada-Mu . Amin

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...