Minggu, 21 Agustus 2016

Gereja Katolik Butuh Pelayan Umat

Gereja Katolik Butuh Pelayan Umat

DOGIYAI - Agar Gereja Katolik di Dogiyai tidak mengalami kekosongan pelayan umat pada beberapa tahun mendatang, paroki-paroki yang ada di Dekenat Kamuu-Mapiha (Kamapi), Keuskupan Timika, harus menyiapkannya dari sekarang. Dengan cara memberi semangat kepada anak-anak muda aktif dalam tugas-tugas gereja, pewarta dilatih menjadi akolit untuk melayani sesama umat.

Harapan ini diungkapkan Markus Auwe, penanggungjawab Quasi Paroki St. Petrus Mauwa, Jumat (12/8/2016) di Pastoran Sta. Agnes Mauwa, Dogiyai.

Diakon Auwe mengemukakan hal tersebut karena ada kekhawatiran suatu kelak bisa terjadi kekosongan tenaga akibat pelayan yang ada “menarik diri” masuk ke dunia birokrasi, politik ataupun perusahaan dan di sektor swasta lainnya.

“Ketika semua orang lari ke sana, maka gereja akan mengalami kekurangan tenaga pelayan. Nah, kami mengikat mereka dalam gereja dengan memberikan pembinaan lektor dan akolit,” ungkapnya menceritakan solusi yang sudah dan sedang dilakukan.

Selain itu, ia mengakui, Gereja Katolik di kampung-kampung yang ada di Dogiyai hingga kini tetap eksis karena kesetiaan para pewarta. “Kalau pewarta-pewarta tidak ada, dan jika adapun tidak aktif, pasti gereja-gereja di kampung mati,” tutur Auwe.

Baginya, para pewarta tersebut mestinya mendapat penghargaan dari gereja, juga pemerintah.

Katakan dari pemerintah dalam hal ini melalui instansi terkait yang punya program pembangunan rumah, ia berharap tidak lupakan petugas gereja. “Kalau bisa, kasih pada kami gereja 6 atau 10 kopel rumah. Itu nanti kami berikan kepada pewarta lama. Sebagai bentuk penghargaan kami kepada pewarta, kami mau memberikan rumah yang dikasih ke gereja,” katanya berharap.

Hal lain, sebut Auwe, Tim Pastoral juga perlu memerhatikan tenaga pelayan di masing-masing paroki. Perlu siapkan kader-kader pewarta, akolit, yang bertugas membantu Diakon ataupun Imam.

Yang kedua, menurutnya, sangat perlu pula persiapkan putra daerah menjadi pelayan umat.

“Lebih pada pembinaannya, agar gereja selalu hidup. Kekhawatirannya jika tidak menyiapkan kader, gereja bisa mati. Tidak akan berkembang lebih baik,” ucap jebolan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Abepura, Jayapura, ini.

Di Quasi Paroki St. Petrus Mauwa, pihaknya sedang menyiapkan tenaga, administrasi, bangunan fisik pagar, dan gedung pastoran. “Setelah siap semua, quasi menjadi paroki,” imbuhnya.

Menjadi pelayan bisa sebagai pewarta, akolit, lektor, yang dapat menjalankan tugas di Komunitas Basis (Kombas). Untuk itu, pembinaan harus diadakan di paroki.

“Gereja tidak boleh mengalami kekosongan tenaga, dalam hal akolit. Tugas akolit membantu Diakon atau Pastor. Pewarta hanya dua orang yang sudah dilantik sebagai akolit, sedangkan yang lain belum dilantik,” jelas Auwe.

Martinus Dogomo dan Agustinus Goo, pewarta di stasi Muniopa, mengaku pentingnya keterlibatan anak muda dalam kegiatan gereja.

“Kita kekurangan pelayan. Tidak ada minat dari anak-anak muda,” ujarnya agak kecewa.

Pieter Tebai, pewarta lama Mauwa, menegaskan, “Sampai hari ini kami mempertahankan gereja di kampung Mauwa hingga nanti menjadi paroki. Tetapi, kami membutuhkan tenaga.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...