Senin, 31 Oktober 2016

Dianggap Mengganggu, Ormas Islam dan Pemkot Turunkan Patung Buddha di Vihara

Dianggap Mengganggu, Ormas Islam dan Pemkot Turunkan Patung Buddha di Vihara

Patung Buddha Amitabha ini diturunkan pada Kamis lalu (27/10), setelah ada desakan dari ormas Islam yang didukung oleh pemerintah kota Tanjung Balai, MUI dan Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB).

Protes terhadap patung Buddha setinggi enam meter yang berada di Vihara Tri Ratna ini telah terjadi sejak patung ini dipasang pada 2009 lalu, dan diprotes oleh ormas Islam pada 2010 lalu karena menganggap masyarakat di seberang sungai Asahan secara tak langsung menghadap patung ketika salat.

Anggota FKUB Sumatera Utara Erwan Effendi mengatakan sejak enam tahun lalu sudah ada kesepakatan untuk menurunkan patung Buddha itu karena daerah itu dihuni mayoritas Muslim.

"Dari laporan masyarakat dan pengamatan kita, di sana itu kan mayoritasnya Muslim, kemudian lantas berdiri patung itu, dan kayaknya seperti ikon kota Tanjung Balai, jadi masyarakat Muslim merasa itu tak pantas, dan meminta itu diturunkan," jelas dia.

Erwan menganggap keberadaan patung Buddha itu juga merupakan salah satu yang memperburuk konflik antar umat agama di Tanjung Balai.

Dianggap Mengganggu, Ormas Islam dan Pemkot Turunkan Patung Buddha di Vihara

Demi Kerukunan, Umat Buddha 'Menerima' Penurunan Patung

Dalam pertemuan dengan pemerintah, MUI dan FKUB, pengurus Vihara Tri Ratna telah menandatangani kesepakatan untuk menurunkan patung Buddha pada 1 September lalu. Patung Buddha itu dipindahkan ke lokasi yang lebih rendah di halaman rumah ibadah yang sama.

Eddy Suyono Setiawan, ketua Majelis Buddhayana Indonesia, cabang Sumatera Utara yang menaungi Vihara Tri Ratna, mengatakan masyarakat Buddha menerima putusan tersebut demi menjaga kerukunan umat beragama.

"Dasar kita memindahkan itu adalah demi untuk melihat hal-hal yang lebih besar lagi yaitu untuk menjaga suasana yang lebih kondusif, suasana yang nyaman dan aman bagi umat Buddha dan Tanjung Balai pada umumnya.

"Dan kalau kita memindahkan ini ternyata bisa memberikan ketenangan, ketenteraman suasana di sana, toh itu kan hanya sebagai simbol representasi ketuhanan yang sebenarnya ada dalam diri kita masing-masing," kata Eddy.

Menanggapi penurunan patung Buddha di Vihara Tri Ratna Tanjung Balai, status Karma Zopa Gyatsho yang menjawab pertanyaan umat Buddha menjadi viral di media sosial.

Beberapa umat Buddha bertanya kepada saya ketika melihat patung Buddha yg terletak di lantai atas sebuah wihara di kota Tanjung Balai, Asahan, Sumatra Utara diturunkan: "Lama, kenapa rupang(arca/patung) di wihara diturunkan"? Saya jawab begini," tidak apa apa rupang Buddha turun, sing penting welas asihmu terhadap semua makhluk tidak ikut turun, semua makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Apabila dengan turun nya patung Buddha bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka bukankah doa khas umat Buddha yaitu "semoga semua makhluk hidup berbahagia" menjadi kenyataan?"

Agustus lalu, 8 Vihara di Tanjung Balai dibakar warga Muslim gara-gara permintaan seorang perempuan kepada imam untuk mengecilkan pengeras suara di masjid. Menurut catatan Setara Institute kelompok intoleran seringkali menolak atau bahkan merusak rumah ibadah kelompok minoritas.

Selain itu, kelompok yang mengatasnamakan agama juga beberapa kali memprotes pendirian patung di Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, dengan pembakaran Patung Arjuna Memanah yang terletak di tempat wisata Situ Wanayasa, Februari 2016 lalu.

Selain itu, patung wayang Gatot Kaca dan Semar juga dirusak. Sementara di Bekasi, Patung Tiga Mojang yang berdiri di dalam kompleks perumahan juga dirobohkan massa.

6 komentar:

  1. Toanya diganti pake HP can bisa kaya di perancis kalau begini ya memihak salah satu pihak…

    BalasHapus
    Balasan
    1. TOA Azan bikin teliga budeg

      Hapus
    2. Menurut Islam Patung Budha di anggap syrik,musyrik, berhala.

      Hapus
    3. Kalau patung Budha berhala, batu Hitam Hajar Aswad juga berhala....benda mati......Kabah di mekah buatan tangan manusia ..... berhala, syrik, musyrik.

      Hapus
  2. Di hadapan Hajar Aswad......Ya alloh kami datang memenuhi panggilan-Mu....batu hitam di bilang alloh.

    BalasHapus
  3. Maav guys kalian gagal paham,,hajar aswad tdk d sembah ap lagi kabbah..itu hanya sunna yg d anjurkan untuk berdoa menghadap kiblat

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...