Rabu, 05 Oktober 2016

Kisah Pemuda Katolik Mendapat Orang Tua Angkat Muslim

Kisah Pemuda Katolik Mendapat Orang Tua Angkat Muslim

Alek Sander Hendrik merasakan perhelatan Indonesian Youth Day (IYD) kali ini memiliki makna luar biasa. Bagaimana tidak. Alek yang beragama Katolik, diinapkan di rumah Keluarga Imam Bacharudin. Keluarga Muslim di Tomohon.

Imam Bacharudin bersama istri, Agustin Lolong adalah keluarga sederhana. Sehari-harinya, Imam berdagang sayur keliling Tomohon. Sementara istrinya hanya ibu rumah tangga. Namun, pasangan suami istri ini, patut diteladani.

Meski kondisi seadanya, pasutri ini lapang menerima Hendrik menginap di rumahnya. Menerima Hendrik di rumah itu, Imam bagaikan mendapatkan penghargaan besar.

“Terima kasih karena sudah menitipkan Hendrik di rumah kami,” kata Imam tulus.

Dia pun merasakan kegiatan IYD 2016 membawa berkat baginya dan keluarga. Seperti mendapatkan anak lelaki. Imam dan Agustin sebenarnya memiliki anak perempuan bernama Mutiara Hamda yang kini bekerja di Kementerian Perdagangan, Jakarta.

Sehari-harinya, Hendrik memanggil orang tua angkatnya itu dengan sebutan Aba dan Emak. Hendrik yang sudah kehilangan ayah sejak usia 11 tahun itu, kembali menemukan sosok kebanggaannya itu pada Aba Imam.

“Kami memang berbeda keyakinan. Namun, saya menemukan sosok ayah pada orang tua angkat saya, Aba Imam,” ucap abdi negara ini.

Bagi Hendrik, ayahnya yang sudah mendahului ke pangkuan Sang Khalik adalah sosok pelindung keluarga. Bila tak ada kegiatan bersama paroki, perawat muda ini akan melakukan pekerjaan rumah bersama aba dan emaknya. Tak ada rasa canggung di antara ketiganya.

Saat mengunjungi rumah sederhana di Kelurahan Wailan, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, Hendrik baru saja tiba dari kegiatan paroki. Sambil mengucapkan salam: selamat malam, aba dan emak, Hendrik mendatangi orang tuanya kemudian mencium tangan keduanya. 

Hendrik kemudian duduk bersama orang tuanya di ruang tamu. Imam lantas melanjutkan ceritanya. Di saat awal menerima Hendrik di kediamannya, salah satu kunci rumahnya langsung diserahkan.

“Anggap saja rumah sendiri,” ucap Imam yang sore itu mengenakkan kemeja koko.

Sejak awal, kata Imam, dia sudah mengatakan pada Hendrik agar tak perlu canggung.

“Kami sudah menganggap Hendrik sebagai anak sendiri,” tambahnya.

Sang istri yang duduk bersama, Hendrik tak berhenti tersenyum saat suaminya bercerita. Merasakan kehangatan aba dan emak, Hendrik tak merasa sendirian di perantauan.

Di rumah sederhana ini, Hendrik menemukan makna kasih seperti yang diajarkan Kristus. Dia salut dengan rasa toleransi tinggi yang ditunjukkan orang tua angkatnya.

"Awalnya canggung, mengingat di daerah saya sangat jarang ada situasi seperti ini. Antara umat Muslim dan Katolik jarang ditemui bisa sedekat ini di sana," lanjut pria berkacamata ini.

Nilai toleransi ini akan dibawa Hendrik ke kampung halamannya dan berharap agar hal serupa bisa terwujud di sana.

IYD 2016 adalah pertemuan orang muda Katolik se Indonesia. Even nasional yang kedua kalinya digelar ini juga diikuti peserta dari Kualanamu Malaysia dan Timor Leste.

Ada 2.500 peserta yang hadir. Semuanya diinapkan di rumah warga yang tersebar di Manado, Tomohon, Minahasa hingga Bolaang Mongondow. Masing-masing tinggal di satu rumah. Selama tinggal di rumah warga, para pemuda ini melakukan turut dalam aktivitas para orang tua angkat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...