Senin, 10 Oktober 2016

Pengebom Gereja St Yosep Divonis 5 Tahun 2 Bulan Penjara, Pengacara Minta Banding

Pengebom Gereja St Yosep Divonis 5 Tahun 2 Bulan Penjara, Pengacara Minta Banding

MEDAN - Pelaku teror bom di Gereja Katolik Santo Yosep, Medan, Sumut, bernama Ivan Armadi Hasugian (IAH), 18, divonis lima tahun dua bulan penjara di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur.

Dalam nota vonisnya, majelis hakim menyatakan IAH terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melawan hukum melakukan aksi terorisme. Dia terbukti telah melakukan perbuatan yang diatur dan diancam dengan UU Nomor 9 Tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana terorisme.

Sidang pelaku teror bom gereja di Medan ini berlangsung tertutup karena masih tergolong anak di bawah umur. Sehingga sidang digelar dengan sistem peradilan anak.

“Vonis yang digelar di PN Jakarta Timur pada hari Selasa, 4 Oktober 2016. Dengan vonis 5 tahun, dua bulan kurungan penjara,” sebut Rizal Sihombing selaku tim kuasa hukum IAH (9/10).

Rizal mengatakan, vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan menuntut terdakwa hukuman selama tujuh tahun penjara.

“Atas putusan itu, kita mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta,” sebut Rizal.

Selama persidangan di PN Jakarta Timur, IAH mendapatkan bantuan hukum dari Peradi Pusat di Jakarta. Sehingga upaya hukum untuk pembelaan dilakukan oleh Peradi Pusat.

“Kita juga sudah mendaftarkan banding tersebut di PT Jakarta,” jelasnya.

Dia mengungkapkan saat ini, pihaknya belum menerima salinan putusan vonis itu dari PN Jakarta Timur. Hal itu, membuat tim kuasa hukum IAH mengalami kesulitan untuk mempelajari hasil putusan tersebut untuk pertimbangan dan penilai pengacara membuat memori banding.

"Soal isi memori banding, kami juga sudah. Tapi, belum maksimal karena kami belum menerima salinan putusannya dari PN Jakarta Timur sehingga poin-poin khusus dalam memori banding belum kami buat‎," kata dia.

Saat ini, Rizal mengatakan, IAH masih ditahan di Lembaga Perlindungan Anak Sementara (LPAS) di Salemba‎. Dari informasi yang pihaknya dapatkan, Rizal menyebut, jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Timur juga menyatakan banding.

Rizal berharap IAH dihukum sesuai hukum perlindungan anak. Menurutnya, kejahatan apapun yang dilakukannya, ia masih anak-anak di bawah umur,

"IAH masih berusia di bawah umur dan perlakuan hukum juga sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, IAH melakukan aksi teror bom di Gereja Katolik Santo Yosep, Minggu pagi, 28 Agustus 2016, sekitar pukul 08.00 WIB. Ia diketahui membawa ransel berisi bom rakitan.

Saat kejadian, bom yang dibawa IAH gagal meledak. Tasnya hanya mengeluarkan percikan api. Karena itu, IAH pun mengeluarkan senjata tajam dan menyerang pastor yang bernama Albert Pandingan. Jemaat pun panik, beberapa berhamburan dan lainnya berupaya menghentikan perbuatan IAH. Beruntung bom tidak meledak dan IAH pun berhasil dilumpuhkan lalu diserahkan ke polisi.

2 komentar:

  1. Teroris kok di bela.......Nauzubillah Minzalik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami tidak percaya sama supranatural, mistik, perbuatan Iblis

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...