Senin, 14 November 2016

Intan, Balita Korban Ledakan Gereja di Samarinda Meninggal Dunia

Intan, Balita Korban Ledakan Gereja di Samarinda Meninggal Dunia

Intan Marbun, balita berusia 2,5 tahun korban ledakan bom di halaman Gereja Oikumene, Jalan Cipto Mangunkusumo, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur, akhirnya meninggal dunia. Intan menderita luka bakar cukup serius sehingga nyawanya tidak tertolong.

Keterangan diperoleh, Intan meninggal dunia sekitar pukul 05.00 WITA pagi tadi, dalam perawatan intensif medis RSUD Abdul Wahab Syachranie Samarinda. Balita perempuan itu dirujuk bersama korban ledakan balita lainnya, Triniti (3), sejak kemarin sore dari RSUD IA Moeis, rumah sakit milik Pemkot Samarinda.

"Benar, 1 orang korban meninggal dunia di rumah sakit ya," kata Kasubbag Humas Polresta Samarinda, Iptu Hardi, kepada wartawan, Senin (14/11).

Dirut RSUD AW Syachranie Samarinda dr Rachim Dinata menerangkan, kondisi balita Intan Marbun memang paling kritis, di mana luka bakarnya mencapai sekitar 78 persen. Saat masuk perawatan intensif RSUD AW Syachranie, dia langsung mendapatkan perawatan medis dari bermacam dokter ahli.

"Ditangani dokter bedah plastik untuk luka bakarnya, bedah umum, anastesi dan dokter anak. Tapi nyawanya tidak tertolong karena luka bakarnya sekitar 70 persen. Orang dewasa saja, di atas 45 persen sudah berat, apalagi ini anak bayi," kata Rachim saat ditemui wartawan pagi ini.

Balita Triniti, lanjut Rachim, juga terpantau tim medis menderita luka bakar sekitar 50 persen. Tim dokter, terus berupaya semaksimal mungkin, untuk memulihkan kondisinya.

"Sampai pagi ini (balita Triniti) masih bertahan. Masa kritis 10-12 hari. Kalau bisa melewati 12 hari, Insya Allah bisa terbantu," ujar Rachim.

"Dua pasien anak lainnya yang mengalami luka bakar, akan kita ambil dari RS Moeis. Keduanya itu menderita luka bakar sekitar 16 persen," tambahnya.

Juga dijelaskan Rachim, selain menderita luka bakar, korban ledakan juga mengalami trauma inhalasi di saluran pernafasan, sehingga menyebabkan pembengkakan paru-paru.

"Disamping terkena ledakan, korban anak ini juga terhirup asap setelah ledakan," demikian Rachim.

Diketahui, dua pasien anak korban ledakan lainnya yang akan dipindahkan ke RSUD AW Syachranie adalah Alfaro Sinaga (5) serta Anita (4). Tim medis tengah mempersiapkan proses pemindahannya dari RSUD IA Moeis di Jalan AM Rifaddin, Samarinda Seberang.

Diketahui, bom berjenis low eksplosive diduga bom buku, meledak sekira pukul 10.00 WITA, Minggu (13/11) pagi kemarin, di halaman gereja Oikumene, Samarinda. Di dalam gereja, jemaat usai melakukan ibadah Minggu.

Akibat ledakan, 5 korban menderita luka-luka, dimana 2 di antaranya mengalami kondisi kritis.

Pelaku ditangkap dalam kondisi luka, mengenakan kaos bertuliskan 'Jihad Way of Life'.

"Pakai kaos dengan tulisan Jihad. Sekarang dirawat di Polres," kata Kombes Setyo.

Setelah menangkap Johanda sebagai pelaku peledakan, Densus 88 terus mengejar jaringan lainnya. Sementara Kapolda Kalimantan Timur Irjen Pol Safaruddin memastikan, perbuatan pelaku adalah perbuatan seorang teroris. 

3 komentar:

  1. Saya muslim Dan Saya sedih sekali. semoga lekas sembuh nak. Tempat kerjaku tidak jauh dari greja itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mengapa kasus Ahok begitu di expose sedangkan korban bom Samarinda tidak mendapat perhatian dari pemerintah & masyarakat....di mana solidaritas kemanusian.

      Hapus
  2. Admin, tolonng tampiliin berita umat katolik yang ibadat dari rumah ke rumah atau bawah tanah secara sembunyi-sembunyi kayak di timurtengah atau yang lain

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...