Rabu, 08 Februari 2017

Hasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik

Hasil Survei: Hampir 100% Warga Pajangan Menerima Dipimpin Camat Katolik
Camat Pajangan Yulius Suharta sempat ditolak sejumlah warga 'dengan alasan' ia beragama Katolik sementara mayoritas warga di kecamatan yang ia pimpin beragama Islam.

Bupati Bantul, Yogyakarta, akhirnya memutuskan untuk mempertahankan Yulius Suharta sebagai camat Pajangan setelah menyimpulkan penolakan yang sempat disuarakan sejumlah warga 'tidak mewakili seluruh masyarakat' Kecamatan Pajangan.

"Tidak ada alasan untuk memutasinya," kata Bupati Suharsono, Rabu (07/02).

Ia menjelaskan pihaknya melakukan survei dengan mendatangi secara langsung tiga desa yang secara adminsitratif berada di Kecamatan Pajangan, yakni Desa Sendangsari, Desa Guwosari, dan Desa Triwidadi.

Survei dilakukan secara acak dengan bertanya langsung kepada masyarakat apakah benar masyarakat menolak Yulius Suharta sebagai camat Pajangan karena memeluk Katolik.

Hasilnya, kata Suharsono, masyarakat tidak tahu adanya penolakan tersebut dan tidak mempersamasalahkan Yulius sebagai camat Pajangan. "Jadi tiga orang yang menolak (Yulius) itu tidak mewakili masyarakat," kata Suhartono.

Setelah melakukan survei, Suhartono mengumpulkan sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Pajangan. Ada 65 orang diundang Suhartono untuk melakukan kordinasi dan musyawarah. Suhartono juga mengundang tiga orang yang melakukan penolakan terhadap Yulius.

Namun pertemuan hanya dihadiri sekitar 60-an orang, karena tiga orang yang menolak Yulius sebagai camat Pajangan tidak hadir walau kehadirannya mereka sangat diharapkan untuk mengetahui alasan penolakan, seperti dilaporkan wartawan di Yogyakarta, Yaya Ulya, untuk BBC Indonesia.

Hasil musyawarah memutuskan, hampir 100% tokoh agama dan tokoh masyarakat yang hadir menyetujui keputusan Suhartono dalam mengangkat Yulius sebagai Camat Pajangan dan tidak mempermasalahkan perbedaan agama.

"Kesimpulannya, mendukung keputusan saya," katanya. "Tokoh masyarakat dan tokoh agama yang mewakili masyarakat setuju dengan keputusan saya."

Suhartono menambahkan, sebelum menetapkan Yulius sebagai camat Pajangan pada Desember 2016, dirinya sudah melakukan penilian dan pengujian yang mendalam, ditambah dengan tes psikologi. "Jadi saya tidak ngawur, sudah sesuai prosedur," imbuhnya.

Pengangkatan Yulius sebagai camat di Bantul menjadi pembicaraan nasional setelah sejumlah warga mengakukan keberatan dengan alasan mayoritas warga di Kecamatan Pajangan adalah Muslim sementara Yulius adalah pemeluk Katolik. Para pemrotes mendesak bupati memindahkan Yulius ke kecamatan lain di Bantul.


Semua Fraksi DPRD Menolak Camat Katolik, Hanya PDI Perjuangan yang Mendukung

Keberatan disuarakan saat mendatangi kantor DPRD Bantul pada Jumat (06/01). Tiga hari kemudian, warga yang menolak Yulius bersama anggota DPRD Bantul dari Fraksi PKS, PPP, Golkar, PKB, PAN, dan Gerindra, mendatangi bupati untuk menyampaikan keberatan terhadap camat beragama Katolik.

Menanggapi keputusan bupati untuk tetap mempertahankan camat Pajangan, Suwandi, wakil ketua Komisi A DPRD Bantul dari Fraksi PPP, mengaku belum tahu. Ia mengatakan Komisi A akan membicarakan persoalan ini, karena yang menerima keluhan warga adalah Komisi A.

"Nanti akan kami bicarakan lebih lanjut," katanya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bantul, Timbul Harjana, menyatakan mendukung penuh keputusan bupati untuk tetap menetapkan Yulius sebagai camat Pajangan.

"Pancasila harga mati, Undang-Undang Dasar 1945 harga mati, kami sudah tidak mau diskusi lagi tentang itu. Pemimpin itu tidak memimpin golongan tertentu tapi memimpin semua yang ada di situ," jelasnya.

"Itu (penetapan Yulius sebagai Camat Pajangan) sudah benar, dan kami mendukung keputusan Bupati Bantul," katanya.

Camat Pajangan, Yulius, yang menjadi pusat polemik, saat dihubungi mengatakan tetap menjalankan aktifitas seperti biasanya. "Jadi sampai saat ini saya masih sebagai Camat Pajangan," katanya.

Bupati Bantul berharap masyarakat memahami keputusan pengangkatan Yulius berdasarkan uji kelayakan dan uji kompetensi, bukan berdasarkan agama.

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Islam satu2nya agama yg mengajarkan kebencian & permusuhan thd Non Muslim.

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...